← Beranda
Kerap Tertawa untuk Menyembunyikan Rasa Sakit? 8 Tanda Ini Menjelaskan Perilaku Anda Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 21 Mei 2026 | 02.20 WIB
seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup./Magnific/egoitz_bengoetxea

JawaPos.com - Tertawa sering dianggap sebagai simbol kebahagiaan. Orang yang mudah bercanda biasanya dipandang santai, ramah, dan tidak punya banyak beban hidup. Namun dalam psikologi, tawa tidak selalu berarti seseorang benar-benar baik-baik saja.

Banyak orang menggunakan humor sebagai “topeng emosional”. Mereka tertawa di tengah tekanan, bercanda saat hati hancur, atau menjadi penghibur bagi orang lain justru ketika dirinya sendiri sedang paling terluka. Dari luar terlihat kuat, padahal di dalam mereka menyimpan kecemasan, kesedihan, bahkan rasa kesepian yang mendalam.

Fenomena ini bukan sekadar drama atau pencitraan. Psikologi mengenalnya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), yaitu cara alam bawah sadar melindungi seseorang dari rasa sakit emosional yang terlalu berat untuk dihadapi secara langsung.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (18/5), terdapat 8 tanda yang sering muncul pada orang yang tertawa untuk menyembunyikan rasa sakitnya.

1. Anda Selalu Menjadi “Penghibur” di Lingkungan Sosial

Di setiap pertemuan, Anda mungkin menjadi orang yang paling lucu. Anda cepat mencairkan suasana, membuat lelucon spontan, dan merasa tidak nyaman jika situasi terlalu serius.

Banyak orang mengira Anda bahagia karena energi positif yang Anda tampilkan. Padahal, menurut psikologi, sebagian orang menggunakan humor agar tidak perlu menunjukkan sisi rapuh mereka.

Ketika orang lain tertawa, perhatian mereka berpindah dari luka yang sedang Anda rasakan. Humor menjadi tameng agar tidak ada yang bertanya terlalu dalam tentang keadaan emosional Anda.

Ironisnya, orang yang paling sering membuat orang lain tertawa justru sering merasa paling sendirian ketika pulang ke rumah.

2. Anda Sulit Membicarakan Perasaan dengan Serius

Saat percakapan mulai menyentuh emosi pribadi, Anda cenderung mengalihkan topik dengan candaan.

Misalnya ketika seseorang bertanya:

“Kamu sebenarnya lagi baik-baik saja nggak?”

Alih-alih menjawab jujur, Anda mungkin berkata:

“Tenang, aku masih hidup kok.”

Lelucon seperti ini terlihat ringan, tetapi sering menjadi cara menghindari kerentanan emosional. Dalam psikologi, perilaku ini disebut emotional avoidance, yaitu kecenderungan menghindari perasaan yang dianggap terlalu menyakitkan atau tidak nyaman.

Anda mungkin takut dianggap lemah, takut merepotkan orang lain, atau takut jika emosi yang dipendam akhirnya meledak.

3. Anda Tertawa Saat Mengalami Situasi Menyakitkan

Sebagian orang justru tertawa ketika sedang sedih, malu, gugup, atau kecewa berat.

Ini bisa terjadi saat:

dimarahi,
dipermalukan,
mengalami konflik,
bahkan ketika menceritakan trauma masa lalu.

Secara psikologis, reaksi ini merupakan bentuk regulasi emosi otomatis. Otak mencoba meredakan tekanan dengan menciptakan respons yang lebih ringan, yaitu tawa.

Karena itu, tertawa dalam situasi menyakitkan bukan berarti seseorang tidak peduli. Kadang justru sebaliknya: rasa sakitnya terlalu besar sehingga tubuh mencari cara cepat untuk mengurangi ketegangan.

4. Anda Terlihat Kuat, Tetapi Cepat Lelah Secara Emosional

Menyembunyikan luka membutuhkan energi mental yang besar.

Orang yang terus-menerus tampil ceria sering mengalami:

kelelahan emosional,
sulit tidur,
overthinking,
kehilangan motivasi,
atau merasa kosong tanpa alasan jelas.

Mereka terbiasa menjaga ekspresi dan suasana hati di depan orang lain. Akibatnya, energi psikologis terkuras hanya untuk mempertahankan citra “aku baik-baik saja”.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan stres kronis dan membuat seseorang semakin jauh dari kebutuhan emosionalnya sendiri.

5. Anda Takut Menjadi Beban bagi Orang Lain

Banyak orang yang suka bercanda sebenarnya memiliki keyakinan tersembunyi seperti:

“Masalahku tidak penting.”
“Orang lain juga sibuk.”
“Kalau aku jujur, nanti suasana jadi buruk.”

Karena itu, mereka memilih tetap lucu dan menyenangkan agar diterima lingkungan.

Psikologi menyebut pola ini sebagai people-pleasing tendency, yaitu kecenderungan mengutamakan kenyamanan orang lain dibanding kebutuhan emosional diri sendiri.

Masalahnya, ketika seseorang terlalu lama memendam rasa sakit demi menjaga orang lain tetap nyaman, ia bisa kehilangan kemampuan memahami emosinya sendiri.

6. Anda Menggunakan Humor Gelap atau Sarkasme Berlebihan

Humor gelap sering menjadi cara aman untuk mengekspresikan luka tanpa harus mengakuinya secara langsung.

Contohnya:

bercanda tentang kelelahan hidup,
membuat lelucon tentang trauma,
atau terus menggunakan sarkasme untuk menutupi rasa kecewa.

Dalam beberapa penelitian psikologi, humor jenis ini memang dapat membantu seseorang menghadapi stres. Namun jika digunakan terus-menerus tanpa pemrosesan emosi yang sehat, humor hanya menjadi pelarian sementara.

Orang lain mungkin tertawa, tetapi rasa sakit yang mendasarinya tetap ada.

7. Anda Merasa Tidak Nyaman Saat Sendirian

Ketika bersama orang lain, Anda bisa tertawa dan terlihat penuh energi. Namun saat suasana sepi, emosi yang selama ini ditekan mulai muncul.

Karena itu, sebagian orang:

terus mencari distraksi,
sulit menikmati kesendirian,
terlalu sibuk,
atau selalu membutuhkan hiburan.

Keheningan membuat mereka berhadapan langsung dengan pikiran dan perasaan yang selama ini dihindari.

Psikologi menunjukkan bahwa emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk muncul kembali.

8. Anda Sering Merasa Tidak Ada yang Benar-Benar Mengenal Anda

Ini adalah tanda yang paling umum tetapi jarang disadari.

Orang-orang mungkin mengenal Anda sebagai:

pribadi lucu,
ceria,
santai,
dan mudah bergaul.

Namun jauh di dalam hati, Anda merasa tidak ada yang benar-benar memahami kondisi emosional Anda.

Mengapa?

Karena yang mereka lihat hanyalah versi “aman” yang Anda tampilkan. Ketika seseorang terlalu sering memakai humor sebagai pelindung, hubungan emosional yang mendalam menjadi sulit terbentuk.

Akhirnya muncul perasaan:

“Semua orang suka aku, tapi tidak ada yang benar-benar mengenalku.”

Mengapa Sebagian Orang Menyembunyikan Luka dengan Tertawa?

Menurut psikologi, perilaku ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup tertentu, seperti:

lingkungan yang tidak mendukung ekspresi emosi,
trauma masa kecil,
sering dihakimi saat sedih,
tuntutan untuk selalu kuat,
atau pengalaman ditolak ketika mencoba jujur tentang perasaan.

Seiring waktu, otak belajar bahwa menjadi lucu lebih aman daripada menjadi rentan.

Humor akhirnya berubah menjadi mekanisme bertahan hidup.

Apakah Ini Berbahaya?

Tidak selalu. Humor sebenarnya bisa menjadi cara coping yang sehat jika digunakan secara seimbang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tertawa dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

Namun masalah muncul ketika humor dipakai terus-menerus untuk menghindari emosi yang perlu diproses.

Jika rasa sedih, marah, kecewa, atau trauma tidak pernah dihadapi secara jujur, dampaknya bisa muncul dalam bentuk:

kecemasan,
burnout,
ledakan emosi,
kesepian mendalam,
bahkan depresi tersembunyi.
Belajar Jujur pada Diri Sendiri

Menjadi pribadi yang ceria bukan hal buruk. Membuat orang lain tertawa juga bukan kesalahan. Tetapi Anda tidak harus selalu menjadi “orang kuat” setiap saat.

Kadang, langkah paling sehat bukanlah membuat semua orang tertawa, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkata:

“Aku sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.”

Kerentanan bukan tanda kelemahan. Dalam banyak kasus, justru itulah awal dari pemulihan emosional yang nyata.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan orang yang tertawa bersama mereka—tetapi juga orang yang mampu memahami luka yang tidak terlihat.*

EDITOR: Hanny Suwindari