← Beranda
Hanya Bikin Kesal, Ini 5 Perilaku Teman Toxic dalam Persahabatan Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Sabtu, 20 Juni 2026 | 15.42 WIB
Perilaku teman toxic dalam persahabatan menurut psikologi / foto : Magnific/ drobotdean

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa tidak semua persahabatan layak dipertahankan, terutama ketika teman toxic terus membuatmu merasa lebih buruk setiap kali bersamanya.

Persahabatan beracun tidak selalu mudah dikenali sejak awal, namun perilaku-perilaku tertentu dari teman toxic akan semakin jelas terlihat seiring berjalannya waktu.

Kamu berhak mengevaluasi persahabatan yang ada dalam hidupmu dan menentukan apakah hubungan itu benar-benar memberimu kebaikan atau justru menguras energimu.

Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (20/6), berikut lima perilaku nyata dari teman toxic dalam persahabatan beracun yang perlu kamu kenali berdasarkan sudut pandang psikologi.

Baca Juga: 11 Ucapan Pria EQ Rendah yang Mencerminkan Kecerdasan Emosional Buruk Menurut Psikologi

1. Terlalu keras dalam memberikan penilaian terhadapmu

Masyarakat sudah cukup mahir membuat seseorang membenci bagian-bagian dari dirinya sendiri, sehingga kamu tidak membutuhkan orang terdekat yang melakukan hal yang sama.

Teman sejati seharusnya mendorong dan mendukung, bukan merendahkan atau membuat kamu merasa buruk tentang dirimu sendiri secara berulang.

Jika ia adalah tipe yang gemar membicarakan kejelekan teman-teman lain di belakang mereka, kemungkinan besar ia juga melakukan hal yang sama terhadapmu.

Persahabatan yang sehat tidak dibangun di atas kritik yang tidak diminta dan penilaian yang terus-menerus melemahkan rasa percaya dirimu.

Teman yang benar-benar peduli akan memilih kata-kata mereka dengan hati-hati karena mereka sadar betul bahwa ucapan bisa membangun atau menghancurkan seseorang.

Jika kamu pulang dari setiap pertemuan dengannya dengan perasaan lebih kecil dan tidak berharga, itu adalah tanda serius yang tidak boleh diabaikan.

Kamu berhak dikelilingi oleh orang-orang yang merayakan siapa dirimu, bukan yang selalu menemukan celah untuk merendahkanmu.

2. Terlalu sering berbohong dalam berbagai situasi

Semua orang mungkin pernah berbohong tentang hal-hal kecil yang tidak berbahaya, namun ada perbedaan besar antara kebohongan sepele dan kebohongan yang benar-benar merusak.

Kebohongan yang dilakukan secara konsisten dapat menyebabkan drama serius dan kepedihan mendalam dalam sebuah persahabatan yang sebelumnya terasa kuat.

Seseorang yang kamu percaya seharusnya tidak perlu menyembunyikan kebenaran dari kamu, karena kejujuran adalah fondasi dari setiap hubungan yang bermakna.

Ketika seorang teman terus berbohong, mereka secara tidak langsung menyatakan bahwa perasaan dan kepercayaanmu tidak cukup penting untuk mendapatkan kebenaran.

Pola kebohongan yang terus berulang seharusnya menjadi alarm keras bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam dinamika persahabatan yang sedang kamu jalani.

Teman yang baik tidak perlu memanipulasi fakta atau memutarbalikkan kebenaran untuk melindungi diri mereka atau untuk mengendalikan situasi demi kepentingan mereka.

Kepercayaan yang sudah rusak sangat sulit untuk dibangun kembali, dan mengetahui hal ini seharusnya memberimu keberanian untuk bersikap lebih tegas dalam melindungi dirimu.

3. Menghianatimu di belakang dengan berbagai cara

Persahabatan yang baik dibangun di atas fondasi loyalitas dan kepercayaan yang tidak seharusnya dieksploitasi atau dimanfaatkan oleh siapapun.

Pengkhianatan bisa datang dalam banyak bentuk, dari menceritakan rahasia pribadimu kepada orang lain hingga melanggar kepercayaan yang sudah kamu berikan dengan tulus.

Seseorang yang mau menyebarkan rahasia atau menusukmu dari belakang bukan hanya bukan teman yang baik, mereka juga tidak layak mendapatkan tempatnya dalam hidupmu.

Kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun perlahan dan membutuhkan waktu, namun bisa hancur dalam sekejap karena satu tindakan pengkhianatan yang tidak bertanggung jawab.

Jika dia sudah membuktikan dirinya tidak bisa dipercaya, tidak ada jumlah permintaan maaf yang cukup untuk sepenuhnya memulihkan kepercayaan yang sudah patah.

Kamu tidak wajib mempertahankan seseorang dalam hidupmu hanya karena lamanya kalian berteman jika mereka telah terbukti berulang kali mengkhianatimu.

Menjaga jarak atau mengakhiri persahabatan yang beracun bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kamu cukup menghargai dirimu sendiri untuk memilih lebih baik.

4. Semua hal selalu harus tentang dirinya sendiri

Persahabatan yang sehat seharusnya bersifat dua arah, di mana kedua pihak saling mendengarkan dan memberi ruang untuk berbagi tanpa merasa diabaikan.

Ketika seseorang terus mengalihkan setiap percakapan kembali ke dirinya sendiri, kamu tidak pernah benar-benar mendapat kesempatan untuk didengar dengan sungguh-sungguh.

Mendengarkan keluhanmu tentang pekerjaan, hubungan, atau kehidupan pada umumnya adalah salah satu cara paling sederhana seseorang menunjukkan bahwa mereka peduli.

Jika dia tidak bisa atau tidak mau berpura-pura tertarik sekalipun dengan apa yang sedang kamu alami, dia tidak memenuhi perannya sebagai teman yang nyata.

Teman sejati bukan terapis, namun mereka seharusnya bersedia hadir dan memberikan perhatian yang tulus ketika kamu sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Persahabatan yang hanya berfokus pada satu orang secara terus-menerus menciptakan ketidakseimbangan yang akhirnya menimbulkan kelelahan emosional yang nyata dan berat.

Kamu berhak memiliki persahabatan di mana keberadaan dan pengalamanmu dianggap sama pentingnya dengan pengalaman orang lain.

5. Bertindak seperti manajer yang mengatur setiap aspek hidupmu

Ada perbedaan besar antara teman yang dengan tulus peduli dan memberikan pendapat saat diminta, dan teman yang merasa perlu mengatur setiap keputusan hidupmu.

Ketika seseorang secara konsisten memberikan nasihat tentang semua hal yang kamu lakukan, mereka telah melampaui batas persahabatan dan masuk ke wilayah yang tidak sehat.

Kamu tidak membutuhkan seseorang yang terus-menerus menilai pilihan hidupmu seolah-olah mereka lebih tahu tentang apa yang terbaik untukmu daripada dirimu sendiri.

Teman yang baik adalah orang yang mau ikut dalam petualangan spontan dan mendukungmu tanpa menghakimi setiap keputusan yang kamu buat di akhir hari.

Persahabatan yang sehat memberimu kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri tanpa merasa bahwa setiap langkahmu sedang diawasi dan dievaluasi secara terus-menerus.

Teman yang baik tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam, dan mereka selalu memilih kata-kata yang membangun bukan yang mempersulit hidupmu.

Lingkungan persahabatan yang sehat adalah di mana kamu merasa bebas, diterima, dan didukung, bukan merasa terkekang oleh ekspektasi yang tidak pernah kamu minta.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho