← Beranda
7 Kesalahan Umum Saat Mencoba Membaca Bahasa Tubuh Orang Lain Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 29 September 2026 | 21.03 WIB
seseorang yang keliru membaca tubuh orang lain./Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Pernahkah Anda melihat seseorang menyilangkan tangan lalu langsung berpikir, “Dia pasti tidak suka dengan saya”?

Atau ketika seseorang menghindari kontak mata, Anda menganggap bahwa ia sedang berbohong?

Cara seperti ini sangat umum terjadi. Kita sering berusaha memahami perasaan, niat, atau pikiran orang lain melalui ekspresi wajah, gerakan tangan, postur tubuh, arah pandangan, hingga cara mereka berdiri atau duduk.

Kemampuan membaca bahasa tubuh memang dapat membantu kita memahami komunikasi nonverbal. Namun, ada satu hal penting yang sering dilupakan: bahasa tubuh bukanlah sistem kode yang memiliki arti universal dan pasti.

Satu gerakan dapat memiliki banyak kemungkinan makna. Sebaliknya, satu keadaan emosional dapat muncul melalui berbagai bentuk perilaku nonverbal.

Karena itu, membaca bahasa tubuh membutuhkan konteks, pengamatan terhadap pola perilaku, serta kesadaran bahwa interpretasi kita bisa saja keliru.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (24/9), terdapat tujuh kesalahan umum yang sering terjadi ketika seseorang mencoba membaca bahasa tubuh orang lain.

1. Menganggap Satu Gerakan Tubuh Memiliki Satu Arti Pasti

Ini mungkin merupakan kesalahan paling umum.

Misalnya, seseorang menyilangkan tangan di depan dada. Banyak orang langsung mengartikannya sebagai tanda bahwa orang tersebut sedang defensif, tidak nyaman, atau tidak menyukai lawan bicara.

Padahal, menyilangkan tangan dapat terjadi karena berbagai alasan.

Orang tersebut mungkin merasa kedinginan. Bisa juga itu merupakan posisi duduk atau berdiri yang memang nyaman baginya. Dalam situasi tertentu, seseorang menyilangkan tangan karena sedang berpikir atau sekadar mengikuti kebiasaan tubuhnya.

Dengan kata lain, perilaku yang sama tidak selalu menunjukkan kondisi psikologis yang sama.

Kesalahan ini terjadi ketika kita menggunakan pola pikir yang terlalu sederhana:

Gerakan X = perasaan Y.

Padahal hubungan antara perilaku nonverbal dan keadaan psikologis jauh lebih kompleks.

Contoh lainnya adalah mengetukkan kaki. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai tanda gugup atau tidak sabar. Namun, bisa saja orang tersebut memiliki kebiasaan bergerak ketika duduk, sedang mengikuti ritme musik, atau hanya merasa nyaman melakukan gerakan tersebut.

Karena itu, jangan langsung menarik kesimpulan dari satu gerakan.

Lebih baik tanyakan:

Apakah perilaku tersebut memang tidak biasa bagi orang itu?
Apakah ada perilaku lain yang muncul bersamaan?
Apa konteks situasinya?
Apakah ada penjelasan lain yang sama masuk akalnya?

Semakin banyak konteks yang tersedia, semakin hati-hati pula kita seharusnya membuat interpretasi.

2. Menganggap Tidak Ada Kontak Mata Berarti Seseorang Sedang Berbohong

“Dia tidak berani menatap mata saya. Berarti dia bohong.”

Ini adalah salah satu mitos yang sangat populer dalam pembahasan bahasa tubuh.

Dalam kenyataan, hubungan antara kontak mata dan kebohongan tidak sesederhana itu.

Seseorang dapat mengurangi kontak mata karena merasa malu, gugup, tidak nyaman, sedang berkonsentrasi, atau karena norma budaya tertentu. Ada pula orang yang memang memiliki kebiasaan melakukan kontak mata dalam jumlah yang berbeda dibandingkan orang lain.

Sebaliknya, seseorang yang sedang berbohong juga tidak selalu menghindari tatapan.

Bahkan, seseorang dapat berusaha mempertahankan kontak mata justru karena ingin terlihat meyakinkan.

Artinya, kontak mata bukanlah “alat pendeteksi kebohongan” yang dapat digunakan secara sederhana.

Kesalahan ini sering muncul karena manusia cenderung mencari tanda yang mudah diamati untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih kompleks.

Padahal, menilai apakah suatu pernyataan benar atau salah membutuhkan lebih banyak informasi daripada sekadar melihat arah pandangan seseorang.

Jika seseorang tidak menatap Anda ketika berbicara, kesimpulan yang lebih aman adalah:

“Saya melihat dia mengurangi kontak mata.”

Bukan:

“Dia pasti menyembunyikan sesuatu.”

Perbedaan antara kedua kalimat tersebut terlihat kecil, tetapi secara psikologis sangat penting.

Kalimat pertama adalah pengamatan.

Kalimat kedua adalah interpretasi.

Mampu membedakan keduanya merupakan bagian penting dari cara berpikir yang lebih objektif.

3. Mengabaikan Konteks Situasi

Bahasa tubuh tidak terjadi di ruang kosong.

Gerakan seseorang dipengaruhi oleh situasi tempat ia berada.

Bayangkan seseorang duduk dengan tubuh sedikit membungkuk dan tangan terlipat. Apakah ia sedang sedih? Tidak nyaman? Marah? Atau hanya kelelahan setelah bekerja seharian?

Tanpa konteks, kita tidak tahu.

Perilaku nonverbal sebaiknya dilihat bersama dengan keadaan di sekitarnya.

Misalnya, seseorang terlihat diam dan tidak banyak tersenyum saat menghadiri sebuah acara. Kita mungkin menganggap ia tidak menikmati acara tersebut.

Namun, mungkin saja ia baru datang setelah menempuh perjalanan panjang. Mungkin ia sedang memikirkan pekerjaan. Mungkin ia sedang tidak mengenal banyak orang di sana. Atau mungkin memang kepribadiannya cenderung pendiam dalam kelompok besar.

Konteks dapat mengubah interpretasi secara drastis.

Karena itu, ketika mengamati bahasa tubuh seseorang, perhatikan setidaknya tiga hal:

Situasi

Di mana perilaku tersebut terjadi?

Perilaku seseorang ketika berada dalam wawancara kerja tentu tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan perilakunya ketika sedang berbicara dengan sahabat dekat.

Hubungan

Siapa lawan bicaranya?

Seseorang mungkin sangat ekspresif bersama teman dekat tetapi jauh lebih tenang ketika berbicara dengan orang yang baru dikenal.

Kondisi fisik dan lingkungan

Apakah orang tersebut sedang lelah, lapar, kedinginan, kepanasan, sakit, atau berada di tempat yang bising?

Faktor-faktor sederhana seperti ini dapat memengaruhi perilaku nonverbal.

Semakin kompleks situasinya, semakin tidak tepat jika kita hanya mengandalkan satu gerakan tubuh.

4. Mengabaikan “Baseline” atau Kebiasaan Normal Seseorang

Salah satu prinsip penting ketika mengamati perilaku adalah memahami baseline, yaitu bagaimana seseorang biasanya berperilaku dalam kondisi tertentu.

Misalnya, Anda memiliki teman yang memang jarang melakukan kontak mata. Jika hari ini ia kembali jarang menatap mata Anda, perilaku tersebut mungkin tidak memberikan informasi baru.

Namun, jika biasanya ia sangat aktif melakukan kontak mata dan tiba-tiba menjadi jauh lebih menghindarinya dalam situasi tertentu, perubahan tersebut mungkin lebih layak diperhatikan.

Perbedaannya terletak pada perubahan dari pola sebelumnya.

Ini jauh lebih berguna daripada menggunakan aturan universal seperti:

“Orang yang tidak menatap mata berarti gugup.”

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apa arti perilaku ini?”

Tetapi juga:

“Apakah perilaku ini berbeda dari kebiasaan orang tersebut?”

Misalnya, seseorang biasanya berbicara dengan cepat. Pada suatu hari, ia berbicara jauh lebih lambat dan berhati-hati ketika membahas suatu topik.

Perubahan tersebut mungkin menarik untuk diamati.

Tetapi bahkan di sini kita tetap harus berhati-hati.

Perubahan perilaku tidak otomatis membuktikan adanya emosi atau niat tertentu. Perubahan hanya memberi kita alasan untuk memperhatikan konteks lebih lanjut.

Dengan kata lain, baseline dapat membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih baik, bukan memberikan diagnosis instan.

5. Terlalu Percaya pada “Mikroekspresi” atau Tanda-Tanda Kecil

Internet penuh dengan klaim tentang mikroekspresi.

Sering kali kita menemukan konten yang mengatakan bahwa gerakan wajah tertentu selama sepersekian detik dapat membongkar kebohongan, ketertarikan, rasa takut, atau niat tersembunyi seseorang.

Masalahnya, manusia bukan mesin yang menghasilkan ekspresi dengan pola sesederhana itu.

Ekspresi wajah memang dapat memberikan informasi mengenai keadaan emosional. Namun, interpretasinya tetap dipengaruhi oleh konteks, individu, budaya, situasi sosial, serta faktor lainnya.

Kesalahan muncul ketika seseorang mulai melihat setiap gerakan kecil sebagai “petunjuk rahasia”.

Misalnya:

“Sudut mulutnya bergerak sedikit. Berarti dia sebenarnya tidak suka.”

Atau:

“Alisnya terangkat sepersekian detik. Berarti dia terkejut.”

Interpretasi semacam itu dapat membuat kita terlalu percaya diri terhadap sesuatu yang sebenarnya ambigu.

Ada bahaya lain: ketika seseorang sudah memiliki dugaan tertentu, ia cenderung lebih mudah melihat gerakan yang mendukung dugaan tersebut.

Jika kita sudah berpikir bahwa seseorang tidak menyukai kita, misalnya, ekspresi netral pun bisa terlihat seperti ekspresi tidak suka.

Inilah salah satu alasan mengapa kemampuan membaca orang membutuhkan bukan hanya kemampuan mengamati, tetapi juga kemampuan mengendalikan bias diri sendiri.

6. Menganggap Bahasa Tubuh Lebih Jujur daripada Kata-Kata

Ada ungkapan populer:

“Tubuh tidak bisa berbohong.”

Kedengarannya menarik, tetapi pernyataan tersebut terlalu mutlak.

Manusia dapat mengontrol perilaku nonverbal sampai tingkat tertentu. Kita belajar kapan harus tersenyum, bagaimana bersikap dalam situasi formal, bagaimana menunjukkan rasa hormat, bahkan bagaimana menyembunyikan ekspresi tertentu.

Sebaliknya, perilaku nonverbal juga dapat muncul secara otomatis tanpa memiliki makna tersembunyi.

Seseorang bisa tersenyum ketika sedang gugup.

Seseorang bisa terlihat tenang ketika sebenarnya sangat cemas.

Seseorang bisa berbicara dengan suara stabil ketika sedang menyembunyikan emosi.

Karena itu, tidak tepat jika bahasa tubuh selalu dianggap sebagai “kebenaran” sementara kata-kata dianggap sebagai kebohongan.

Komunikasi manusia jauh lebih kompleks.

Cara yang lebih sehat adalah menggabungkan beberapa sumber informasi:

apa yang dikatakan seseorang,
bagaimana ia mengatakannya,
konteks percakapan,
pola perilakunya,
dan informasi lain yang relevan.

Jika ucapan dan bahasa tubuh terlihat tidak selaras, jangan langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut berbohong.

Anggap ketidaksesuaian tersebut sebagai sesuatu yang perlu dipahami lebih lanjut.

Misalnya, seseorang mengatakan bahwa ia baik-baik saja tetapi terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Daripada langsung berpikir:

“Dia pasti berbohong,”

kita bisa menggunakan pendekatan yang lebih terbuka:

“Kelihatannya kamu agak berbeda hari ini. Kamu benar-benar baik-baik saja?”

Pertanyaan seperti ini memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk menjelaskan kondisinya sendiri.

7. Membaca Bahasa Tubuh untuk Membuktikan Dugaan yang Sudah Ada

Kesalahan terakhir mungkin justru yang paling sulit disadari.

Kadang-kadang kita sebenarnya tidak sedang “membaca” bahasa tubuh.

Kita sedang mencari bukti untuk membenarkan apa yang sudah kita percaya.

Misalnya, Anda merasa seseorang tidak menyukai Anda.

Kemudian orang tersebut menyilangkan tangan.

Anda berpikir:

“Nah, benar. Dia tidak suka saya.”

Beberapa menit kemudian ia tidak banyak berbicara.

“Benar lagi.”

Kemudian ia melihat ponselnya.

“Berarti memang dia tidak tertarik berbicara dengan saya.”

Masalahnya adalah setiap perilaku ditafsirkan melalui kesimpulan yang sudah dibuat sejak awal.

Perilaku yang sebenarnya ambigu akhirnya dianggap sebagai bukti.

Dalam psikologi, kecenderungan untuk lebih memperhatikan atau mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki sering dibahas dalam kaitannya dengan confirmation bias.

Karena itu, semakin kuat dugaan awal kita, semakin penting untuk mempertanyakan interpretasi sendiri.

Cobalah melakukan eksperimen sederhana dalam pikiran:

“Apa penjelasan lain yang mungkin?”

Jika seseorang tidak tersenyum, mungkin ia tidak senang.

Tetapi mungkin ia sedang lelah.

Jika seseorang tidak banyak berbicara, mungkin ia tidak tertarik.

Tetapi mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.

Jika seseorang menghindari kontak mata, mungkin ia merasa tidak nyaman.

Tetapi mungkin itu memang kebiasaan komunikasinya.

Tujuannya bukan untuk selalu berpikir positif atau menganggap semua perilaku memiliki penjelasan yang baik.

Tujuannya adalah tidak mengubah dugaan menjadi fakta sebelum ada informasi yang cukup.

Jadi, Bagaimana Cara Membaca Bahasa Tubuh dengan Lebih Akurat?

Jika kita ingin memahami bahasa tubuh dengan lebih baik, pendekatan yang paling aman bukanlah menghafalkan daftar “20 tanda seseorang berbohong” atau “10 gerakan yang menunjukkan seseorang menyukai Anda”.

Lebih berguna jika kita mengembangkan beberapa kebiasaan pengamatan.

1. Bedakan Pengamatan dan Interpretasi

Katakan:

“Dia melihat ke bawah ketika pertanyaan itu diajukan.”

Bukan:

“Dia merasa bersalah.”

Yang pertama adalah pengamatan.

Yang kedua adalah interpretasi.

Setelah membedakannya, kita dapat mempertimbangkan apakah ada bukti lain yang mendukung interpretasi tersebut.

2. Perhatikan Beberapa Sinyal Sekaligus

Jangan bergantung pada satu gerakan.

Perhatikan kombinasi ekspresi wajah, postur, suara, kata-kata, dan perubahan perilaku.

Namun, “banyak sinyal” juga bukan jaminan bahwa interpretasi kita benar. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada satu indikator yang ambigu.

3. Perhatikan Perubahan dari Baseline

Tanyakan:

“Apakah orang ini memang biasanya seperti ini?”

Perubahan dari pola perilaku yang stabil dapat menjadi informasi yang lebih berguna dibandingkan aturan universal tentang arti suatu gerakan.

4. Masukkan Konteks

Tanyakan:

Apa yang baru saja terjadi?
Di mana percakapan berlangsung?
Siapa saja yang hadir?
Bagaimana hubungan kedua orang tersebut?
Apakah ada faktor fisik atau lingkungan yang dapat menjelaskan perilaku tersebut?

Konteks sering kali memberikan penjelasan yang lebih masuk akal daripada asumsi psikologis.

5. Jangan Takut Mengakui Ketidakpastian

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Kemampuan membaca bahasa tubuh bukan berarti mampu mengetahui isi pikiran seseorang.

Orang yang benar-benar berhati-hati justru mampu mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Daripada:

“Saya tahu persis apa yang dia rasakan.”

Dalam hubungan sosial, pengakuan terhadap ketidakpastian dapat mencegah banyak kesalahpahaman.

Bahasa Tubuh Lebih Tepat Dipahami sebagai Petunjuk, Bukan Bukti

Bahasa tubuh memang merupakan bagian penting dari komunikasi manusia. Ekspresi wajah, gestur, postur, kontak mata, intonasi, dan perilaku lainnya dapat memberikan informasi tentang keadaan seseorang.

Namun, informasi tersebut biasanya bersifat probabilistik dan kontekstual, bukan kode rahasia yang memiliki arti tunggal.

Karena itu, tujuh kesalahan yang perlu dihindari adalah:

Menganggap satu gerakan memiliki satu arti pasti.
Menganggap menghindari kontak mata berarti berbohong.
Mengabaikan konteks situasi.
Mengabaikan kebiasaan normal atau baseline seseorang.
Terlalu percaya pada tanda-tanda kecil atau mikroekspresi.
Menganggap bahasa tubuh selalu lebih jujur daripada kata-kata.
Menggunakan bahasa tubuh untuk membuktikan dugaan yang sudah kita miliki.

Pada akhirnya, membaca orang lain dengan lebih baik bukan berarti menjadi “detektor kebohongan manusia”.

Justru sebaliknya.

Semakin kita memahami kompleksitas perilaku manusia, semakin hati-hati kita dalam membuat kesimpulan.

Alih-alih berpikir:

“Gerakan ini pasti berarti X,”

lebih baik berpikir:

“Gerakan ini mungkin memberikan informasi, tetapi saya perlu melihat konteks dan pola perilaku sebelum menarik kesimpulan.”

Pendekatan tersebut mungkin terdengar kurang dramatis dibandingkan klaim bahwa kita dapat mengetahui pikiran seseorang hanya dari tatapan mata atau posisi tangan.

Namun, justru sikap hati-hati itulah yang membuat pengamatan terhadap bahasa tubuh menjadi lebih masuk akal secara psikologis.

EDITOR: Hanny Suwindari