JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa akhir pekan menjadi waktu penting bagi sebagian orang untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.
Banyak orang merasa harus selalu siap dihubungi lewat pesan, telepon, maupun email meskipun hari libur telah tiba.
Namun ada pula tipe kepribadian tertentu yang justru memilih menghilang sejenak dan menutup akses komunikasi ketika akhir pekan berlangsung.
Kebiasaan ini ternyata berkaitan erat dengan cara mereka membangun batasan diri terhadap lingkungan sekitar.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (3/10), berikut delapan ciri kepribadian orang yang sengaja tak bisa dihubungi saat akhir pekan demi batasan diri menurut psikologi.
1. Mandiri
Sepanjang hari kerja, banyak orang harus terus berinteraksi dengan atasan, rekan kerja, hingga keluarga tanpa jeda berarti.
Kondisi ini terasa berat bagi orang yang sebenarnya tidak nyaman bekerja sama terlalu intens dengan orang lain.
Ketika akhir pekan tiba, momen ini menjadi kesempatan ideal untuk melepaskan tekanan dan kembali fokus pada diri sendiri.
Riset menunjukkan bahwa orang yang cenderung mandiri jarang merasa kesepian saat menghabiskan waktu sendirian dan justru menikmatinya.
2. Egois saat diperlukan
Sikap egois sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif karena dianggap hanya mementingkan diri sendiri.
Padahal, sebagian orang menyadari bahwa ada situasi tertentu yang mengharuskan mereka mengutamakan kebutuhan pribadi lebih dulu.
Alih-alih terus siap membantu semua orang, mereka memilih tidak bisa dihubungi demi mendapatkan ruang yang benar-benar mereka butuhkan.
Sikap semacam ini justru dapat memberi manfaat bagi kesehatan mental karena seseorang tidak bisa terus memberi tanpa mengisi ulang dirinya sendiri.
3. Rentan mengalami stres berkepanjangan
Hari-hari kerja umumnya dipenuhi tekanan yang sulit dihindari oleh banyak orang.
Bagi sebagian orang, rasa tegang itu tidak serta-merta hilang begitu mereka meninggalkan kantor.
Seseorang yang benar-benar membutuhkan waktu untuk melepaskan diri di akhir pekan kemungkinan sedang mengalami stres yang berlangsung lama.
Kondisi semacam ini sering mendorong mereka melakukan detoks digital dengan menonaktifkan ponsel demi merasa lebih tenang dan meningkatkan kualitas hidup.
4. Selektif dalam memilih kegiatan
Sebagian orang memang secara alami sangat selektif dalam menentukan cara menghabiskan waktu mereka.
Mereka cenderung lebih berani menolak ajakan yang tidak sejalan dengan kebutuhan pribadinya dibandingkan kebanyakan orang lain.
Ketika merasa lelah setelah menjalani minggu yang panjang, mereka tidak segan menjauh sejenak dari ponsel maupun pertemuan sosial.
Sikap ini bukan berarti mereka tidak tertarik bersosialisasi, melainkan bentuk usaha menjaga diri dari kelelahan emosional yang berlebihan.
5. Menegakkan batasan yang kuat
Menetapkan batasan bukan hal mudah bagi kebanyakan orang, tetapi sebagian orang memang secara alami mampu melakukannya.
Mereka berani memperjuangkan kebutuhan pribadinya meskipun harus berhadapan dengan orang-orang terdekat sekalipun.
Batasan semacam ini dipertahankan secara konsisten karena mereka memahami bahwa tidak semua hal bisa mereka kendalikan sepenuhnya.
Dengan memilih tidak menjawab pesan atau telepon, mereka menunjukkan batasan tersebut secara jelas tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
6. Memiliki motivasi diri yang tinggi
Tidak semua orang mudah menghasilkan sesuatu yang produktif ketika berada di rumah, terutama saat akhir pekan tiba.
Namun sebagian orang justru memanfaatkan waktu libur untuk menyelesaikan berbagai hal penting bagi dirinya sendiri.
Gangguan seperti membalas pesan atau memeriksa media sosial dianggap dapat menghambat produktivitas yang ingin mereka capai.
Orang dengan motivasi diri tinggi umumnya ingin memaksimalkan waktu luang untuk mengejar target yang belum sempat diselesaikan selama hari kerja.
7. Menghargai waktu secara berbeda
Banyak orang cenderung mendahulukan kepentingan orang lain sehingga waktu pribadi mereka sering terkorbankan begitu saja.
Sebaliknya, orang yang memilih benar-benar menghilang saat akhir pekan memandang waktu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan.
Kebanyakan orang menilai waktu berdasarkan seberapa besar penghasilan yang bisa dihasilkan dari jam kerja yang dijalani.
Penelitian menunjukkan bahwa memperlakukan waktu selayaknya uang dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia dan lebih fokus mencapai tujuannya.
8. Hidup dengan penuh kesadaran dan tujuan
Orang yang hidup penuh kesadaran biasanya memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam kesehariannya.
Mereka berusaha menyelaraskan setiap tindakan dengan niat yang telah mereka tetapkan sejak awal.
Kebiasaan ini diyakini berkaitan dengan tingkat kesejahteraan emosional yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak menjalaninya.
Mereka pun cenderung lebih jarang merasa kesepian karena memahami dengan jelas apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari waktu sendirian tersebut.