← Beranda
8 Hal Membuat Sebagian Orang Begitu Menyebalkan bagi Kita Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan Ferdiansyah• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 22.11 WIB
seseorang yang menyebalkan bagi banyak orang./Magnific/tirachardz

JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang benar-benar “jahat”, tetapi entah mengapa kehadirannya terasa sangat mengganggu?

Cara bicaranya membuat kesal. Cara bercandanya terasa menyebalkan. Kebiasaannya memotong pembicaraan membuat kita ingin pergi. Bahkan terkadang, baru melihat namanya muncul di layar ponsel saja kita sudah merasa malas.

Yang menarik, dalam psikologi, rasa “sebal” terhadap seseorang tidak selalu berarti bahwa orang tersebut memang memiliki kepribadian buruk. Ada kalanya perilaku mereka memang tidak menyenangkan. Namun ada kalanya juga reaksi kita dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan psikologis, ekspektasi, atau cara otak kita menafsirkan perilaku orang lain.

Dengan kata lain, ada dua sisi dalam setiap rasa kesal: apa yang dilakukan orang tersebut dan bagaimana kita memprosesnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (2/10), terdapat delapan hal yang dapat membuat seseorang terasa begitu menyebalkan bagi kita.

1. Mereka Terlalu Sering Membicarakan Diri Sendiri

Salah satu perilaku yang paling mudah membuat seseorang kehilangan simpati adalah ketika percakapan selalu kembali kepada dirinya sendiri.

Kita bercerita tentang pekerjaan, dia menceritakan pekerjaannya.

Kita bercerita tentang masalah keluarga, dia langsung menceritakan masalah keluarganya.

Kita membagikan pengalaman menyenangkan, dia punya cerita yang menurutnya lebih hebat.

Lama-lama percakapan terasa seperti sebuah kompetisi yang tidak pernah kita setujui.

Dalam psikologi sosial, perhatian terhadap diri sendiri sebenarnya merupakan bagian normal dari manusia. Kita memang secara alami lebih mudah memikirkan pengalaman pribadi karena pengalaman tersebut paling dekat dengan kita.

Masalah muncul ketika kecenderungan tersebut membuat seseorang gagal memberikan ruang kepada orang lain.

Percakapan yang sehat membutuhkan timbal balik. Kita ingin didengarkan, tetapi lawan bicara juga ingin merasa didengarkan.

Karena itu, orang yang terus-menerus mengembalikan pembicaraan kepada dirinya sendiri dapat terasa melelahkan. Bukan semata-mata karena kita tidak menyukai dirinya, melainkan karena hubungan sosial pada dasarnya membutuhkan perasaan bahwa kita dianggap penting.

Menariknya, seseorang belum tentu sadar bahwa dirinya melakukan hal tersebut.

Dia mungkin berpikir bahwa dengan menceritakan pengalaman yang mirip, dia sedang menunjukkan empati.

Misalnya:

“Aku juga pernah mengalami hal seperti itu.”

Kalimat tersebut sebenarnya bisa menjadi bentuk koneksi.

Namun jika dilanjutkan dengan cerita panjang tentang dirinya dan tidak pernah kembali bertanya kepada kita, fungsi percakapan berubah. Dari yang awalnya terasa seperti berbagi pengalaman menjadi seperti mendengarkan monolog.

Pelajarannya: kadang-kadang yang membuat seseorang menyebalkan bukan karena dia terlalu banyak bicara, tetapi karena kita merasa tidak mendapatkan ruang untuk menjadi manusia di dalam percakapan tersebut.

2. Mereka Tidak Menghargai Batasan

Ada orang yang sulit menerima kata “tidak”.

Kita sudah mengatakan sedang sibuk, tetapi dia tetap mengajak bicara.

Kita sudah mengatakan tidak nyaman membicarakan suatu hal, tetapi dia terus bertanya.

Kita tidak ingin meminjamkan sesuatu, tetapi dia membuat kita merasa bersalah.

Atau kita membutuhkan waktu sendiri, tetapi dia menganggapnya sebagai penghinaan pribadi.

Perilaku semacam ini bisa terasa sangat mengganggu karena manusia membutuhkan sense of autonomy, yaitu perasaan bahwa dirinya memiliki kendali atas keputusan dan ruang pribadinya.

Ketika seseorang terus menerus menerobos batasan kita, yang terganggu bukan hanya kenyamanan, tetapi juga rasa kendali.

Itulah sebabnya kalimat sederhana seperti:

“Aku sudah bilang tidak.”

dapat memiliki muatan emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar penolakan.

Kita mungkin sebenarnya tidak marah karena permintaan orang tersebut. Kita marah karena merasa keputusan kita tidak dihormati.

Namun penting juga untuk membedakan antara seseorang yang sengaja melanggar batas dan seseorang yang memang belum memahami batasan kita.

Tidak semua orang memiliki standar batas pribadi yang sama.

Bagi seseorang, bertanya sekali lagi mungkin dianggap biasa.

Bagi orang lain, hal tersebut sudah terasa invasif.

Karena itu, komunikasi batasan yang jelas sering kali lebih efektif daripada berharap orang lain membaca pikiran kita.

Misalnya:

“Aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini. Kalau nanti sudah siap, aku akan cerita.”

Batasan yang jelas memberi orang lain informasi tentang apa yang kita butuhkan.

Jika setelah itu tetap dilanggar secara berulang, rasa kesal kita tentu menjadi lebih mudah dipahami.

3. Mereka Sering Membuat Percakapan Menjadi Kompetisi

Pernah bertemu orang yang seolah-olah tidak tahan jika orang lain memiliki sesuatu yang lebih?

Kamu bilang baru membeli laptop baru.

Dia berkata, “Aku punya yang lebih mahal.”

Kamu bercerita pernah pergi ke suatu tempat.

Dia menjawab, “Aku sudah ke sana berkali-kali.”

Kamu mengatakan sedang mengalami masalah.

Dia menjawab, “Masalahmu belum seberapa dibanding masalahku.”

Percakapan seperti ini dapat membuat hubungan terasa melelahkan karena interaksi berubah menjadi perbandingan sosial.

Manusia memang memiliki kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan kemampuan, pencapaian, penampilan, status sosial, pendapatan, bahkan kehidupan pribadi.

Dalam kadar tertentu, perbandingan sosial merupakan sesuatu yang normal.

Namun ketika hampir setiap interaksi berubah menjadi perlombaan, orang lain dapat merasa tidak dihargai.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku juga pernah mengalami itu.”

dan

“Aku pernah mengalami yang jauh lebih hebat daripada kamu.”

Yang pertama membangun hubungan.

Yang kedua dapat menciptakan hierarki.

Di balik perilaku kompetitif, bisa terdapat banyak kemungkinan psikologis. Seseorang mungkin sedang mencari validasi, berusaha mempertahankan harga diri, terbiasa hidup dalam lingkungan kompetitif, atau merasa bahwa nilai dirinya sangat bergantung pada pencapaian dibandingkan orang lain.

Kita tidak bisa mengetahui penyebabnya hanya dari satu perilaku.

Namun dari sisi kita, pengalaman tersebut tetap bisa terasa melelahkan.

Karena hubungan sosial idealnya tidak membuat kita terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa kita cukup hebat.

4. Mereka Sering Meremehkan Perasaan Orang Lain

Ini adalah salah satu hal yang paling cepat menciptakan jarak emosional.

Kita sedang sedih dan mengatakan:

“Aku benar-benar kecewa dengan kejadian itu.”

Kemudian seseorang menjawab:

“Ah, jangan terlalu dipikirkan.”

Atau:

“Kamu terlalu sensitif.”

Atau:

“Orang lain juga punya masalah.”

Secara logika, kalimat tersebut mungkin tidak sepenuhnya salah.

Tetapi secara emosional, kita sering tidak sedang mencari solusi.

Kita sedang mencari pengakuan bahwa perasaan kita dapat dimengerti.

Dalam psikologi, kemampuan memahami dan merespons keadaan emosional orang lain berkaitan dengan empati.

Empati tidak selalu berarti setuju.

Kita dapat mengatakan:

“Aku mungkin melihat masalahnya secara berbeda, tetapi aku bisa memahami mengapa kamu merasa kecewa.”

Kalimat seperti ini memberikan ruang bagi pengalaman emosional orang lain tanpa harus menyetujui seluruh kesimpulannya.

Sebaliknya, ketika perasaan terus-menerus diremehkan, seseorang dapat merasa tidak aman untuk terbuka.

Akibatnya, hubungan menjadi dangkal.

Yang menarik, orang yang meremehkan emosi orang lain tidak selalu berniat jahat. Ada orang yang memang tidak terbiasa menghadapi emosi. Mereka mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap menangis sebagai kelemahan atau menganggap membicarakan perasaan sebagai sesuatu yang tidak perlu.

Ada pula orang yang langsung berpikir dalam mode “pemecahan masalah”.

Ketika mendengar seseorang mengeluh, otaknya langsung mencari solusi.

Padahal kebutuhan emosional orang tersebut mungkin bukan solusi, melainkan didengarkan.

5. Mereka Tidak Konsisten antara Ucapan dan Tindakan

Salah satu sumber kejengkelan terbesar dalam hubungan sosial adalah ketidaksesuaian antara apa yang seseorang katakan dan apa yang mereka lakukan.

Misalnya seseorang berkata:

“Aku menghargai waktumu.”

Tetapi dia selalu datang terlambat.

Atau mengatakan:

“Kalau ada masalah, kita bicarakan baik-baik.”

Namun ketika benar-benar terjadi masalah, dia justru menghindar.

Ketidakkonsistenan seperti ini dapat mengganggu rasa percaya.

Manusia cenderung mencari pola dalam perilaku orang lain. Kita ingin mengetahui: apakah orang ini dapat diprediksi?

Prediktabilitas penting dalam hubungan karena membuat kita dapat memperkirakan bagaimana orang tersebut akan bertindak.

Ketika perkataan dan tindakan berulang kali bertentangan, kita mulai mengalami kebingungan.

“Sebenarnya dia serius atau tidak?”

“Aku bisa percaya perkataannya atau tidak?”

“Kalau dia bilang akan melakukan sesuatu, apakah benar-benar akan dilakukan?”

Masalahnya bukan hanya pada satu kejadian.

Yang membuatnya melelahkan adalah pola.

Satu kali terlambat mungkin merupakan kecelakaan.

Sepuluh kali terlambat setelah berkali-kali berjanji akan datang tepat waktu merupakan pola perilaku.

Dan manusia biasanya jauh lebih sensitif terhadap pola daripada kejadian tunggal.

6. Mereka Terlalu Sering Mengkritik atau Menghakimi

Ada orang yang seolah memiliki komentar untuk segala sesuatu.

Pakaian orang lain dikomentari.

Pilihan pekerjaan dikomentari.

Cara seseorang mengasuh anak dikomentari.

Pilihan pasangan dikomentari.

Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan dengan dirinya pun ikut dinilai.

Tidak mengherankan jika orang seperti ini dapat terasa melelahkan.

Sebab interaksi dengannya membuat kita merasa selalu berada di bawah pengawasan.

Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa diterima dalam kelompok sosial. Ketika kita terus-menerus merasa dinilai, kita dapat menjadi lebih defensif.

Kita mulai berpikir:

“Kalau aku cerita, nanti dikomentari.”

“Kalau aku melakukan sesuatu, pasti ada yang salah.”

“Kalau aku punya pendapat berbeda, dia akan menyerang.”

Akibatnya, hubungan kehilangan rasa aman.

Namun lagi-lagi, kritik tidak selalu buruk.

Kritik yang spesifik, relevan, dan disampaikan dengan niat membantu dapat sangat berguna.

Yang membuatnya menyebalkan adalah ketika kritik menjadi kebiasaan untuk menempatkan diri sebagai pihak yang selalu lebih tahu.

Ada perbedaan antara:

“Menurutku ada risiko di keputusan itu. Mau dengar pendapatku?”

dengan:

“Makanya jangan pernah mengambil keputusan seperti itu.”

Kalimat pertama membuka ruang.

Kalimat kedua menutup percakapan.

7. Mereka Tidak Bisa Mengakui Kesalahan

Tidak ada manusia yang selalu benar.

Kita semua pernah salah bicara, salah mengambil keputusan, lupa, terlambat, atau menyakiti orang lain tanpa sengaja.

Karena itu, kemampuan mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Bayangkan dua orang melakukan kesalahan yang sama.

Orang pertama berkata:

“Iya, aku salah. Maaf. Seharusnya aku tidak melakukan itu.”

Orang kedua berkata:

“Aku melakukan itu karena kamu membuatku begitu.”

Perbedaan respons tersebut dapat terasa sangat besar.

Orang yang tidak pernah mengakui kesalahan sering membuat orang lain lelah karena setiap konflik berubah menjadi usaha mencari siapa yang harus disalahkan.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat merusak kepercayaan.

Bukan karena kita mengharapkan seseorang sempurna, tetapi justru karena kita tahu bahwa manusia memang tidak sempurna.

Ironisnya, kemampuan mengatakan “aku salah” sering kali justru membuat seseorang terlihat lebih dapat dipercaya.

Mengakui kesalahan menunjukkan bahwa seseorang mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Sebaliknya, ketika setiap kesalahan selalu dijelaskan sebagai akibat kesalahan orang lain, konflik sulit diselesaikan.

Hubungan akhirnya berputar di tempat.

8. Mereka Mengingatkan Kita pada Sisi Diri yang Tidak Kita Sukai

Ini bagian yang sedikit lebih rumit.

Kadang-kadang seseorang membuat kita sangat kesal bukan hanya karena perilakunya, tetapi karena dia mengingatkan kita pada sesuatu yang tidak kita sukai dalam diri sendiri.

Misalnya, kita sangat terganggu melihat seseorang yang terlalu ingin dipuji.

Mengapa?

Mungkin karena kita sendiri sebenarnya memiliki kebutuhan yang sama, tetapi berusaha keras menyembunyikannya.

Atau kita sangat membenci orang yang suka menunda pekerjaan.

Padahal kita juga memiliki kebiasaan tersebut dan sedang berusaha mengatasinya.

Dalam psikologi, gagasan semacam ini sering dibahas melalui konsep projection, meskipun konsep tersebut harus digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh dijadikan penjelasan otomatis untuk setiap rasa tidak suka.

Tidak semua orang yang membuat kita kesal merupakan cerminan diri kita.

Kadang orang tersebut memang berperilaku buruk atau tidak menghargai kita.

Namun ada kalanya intensitas reaksi kita lebih besar daripada situasinya.

Saat itulah kita bisa bertanya:

“Apa sebenarnya yang membuat perilaku ini begitu menggangguku?”

Pertanyaan tersebut menarik karena jawabannya tidak selalu:

“Karena dia salah.”

Kadang jawabannya:

“Karena aku pernah mengalami sesuatu yang mirip.”

Atau:

“Karena perilaku itu mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu.”

Atau bahkan:

“Karena sebenarnya aku juga punya kecenderungan itu, tetapi aku tidak suka mengakuinya.”

Refleksi semacam ini bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri.

Justru sebaliknya.

Memahami sumber emosi dapat membantu kita membedakan antara masalah pada perilaku orang lain dan reaksi pribadi yang berasal dari pengalaman kita sendiri.

Jadi, Apakah Orang yang Menyebalkan Itu Benar-Benar Menyebalkan?

Tidak selalu sesederhana itu.

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan manusia adalah menganggap perilaku sebagai bukti kepribadian.

Seseorang terlambat sekali, lalu kita menyimpulkan:

“Dia memang orang yang tidak menghargai orang lain.”

Seseorang berbicara terlalu banyak, lalu kita menyimpulkan:

“Dia egois.”

Seseorang tidak membalas pesan, lalu kita menyimpulkan:

“Dia tidak peduli.”

Padahal perilaku yang sama dapat memiliki banyak penyebab.

Orang yang terlambat mungkin memang tidak menghargai waktu orang lain.

Tetapi dia juga mungkin mengalami situasi tak terduga.

Orang yang banyak berbicara mungkin egois.

Tetapi mungkin juga sedang gugup dan berusaha mencari koneksi.

Orang yang tidak membalas pesan mungkin tidak peduli.

Tetapi mungkin juga sedang menghadapi masalah pribadi.

Itulah sebabnya psikologi mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam membuat kesimpulan mengenai karakter seseorang hanya berdasarkan beberapa perilaku.

Ada perbedaan antara:

“Dia melakukan sesuatu yang menggangguku.”

dan

“Dia adalah orang yang menyebalkan.”

Kalimat pertama berbicara tentang perilaku.

Kalimat kedua memberikan label pada keseluruhan pribadi.

Label jauh lebih sulit diubah.

Mengapa Kita Bisa Sangat Tidak Suka Seseorang Padahal Orang Lain Biasa Saja?

Ini juga menarik.

Dua orang dapat bertemu individu yang sama dan menghasilkan reaksi yang sangat berbeda.

Orang A menganggapnya lucu.

Orang B menganggapnya menjengkelkan.

Orang A merasa cara bicaranya percaya diri.

Orang B merasa dia sombong.

Mengapa?

Karena kita tidak berinteraksi dengan seseorang hanya berdasarkan siapa dirinya.

Kita berinteraksi dengan interpretasi kita terhadap dirinya.

Interpretasi tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, nilai pribadi, ekspektasi, suasana hati, kebutuhan emosional, dan konteks sosial.

Orang yang sangat menghargai ketepatan waktu mungkin jauh lebih terganggu oleh keterlambatan dibanding orang yang lebih santai.

Orang yang membutuhkan privasi mungkin merasa seseorang terlalu banyak bertanya.

Orang yang menyukai komunikasi langsung mungkin merasa orang yang terlalu halus sedang berputar-putar.

Sementara orang lain justru menyukai gaya komunikasi tersebut.

Dengan demikian, rasa “menyebalkan” sering kali merupakan hasil interaksi antara karakteristik orang lain dan karakteristik diri kita sendiri.

Yang Perlu Kita Perhatikan: Jangan Semua Rasa Tidak Suka Dianggap Sebagai “Red Flag”

Istilah psikologi populer sering membuat kita tergoda untuk memberikan label kepada orang lain.

Sedikit perilaku aneh disebut “narsistik”.

Sedikit konflik disebut “toxic”.

Tidak setuju disebut “manipulatif”.

Tidak membalas pesan disebut “avoidant”.

Padahal istilah psikologis memiliki konteks dan definisi yang lebih kompleks daripada penggunaannya di media sosial.

Kita tidak dapat mendiagnosis kepribadian seseorang hanya karena dia membuat kita kesal.

Yang lebih berguna adalah memperhatikan pola perilaku dan dampaknya terhadap hubungan.

Tanyakan:

Apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali?
Apakah saya sudah menyampaikan batasan dengan jelas?
Apakah orang tersebut menghormati batasan saya?
Apakah dia mampu mengakui kesalahan?
Apakah masalah dapat dibicarakan?
Apakah saya merasa aman dan dihargai dalam hubungan tersebut?
Apakah rasa tidak suka saya berkaitan dengan perilakunya sekarang atau pengalaman saya di masa lalu?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih informatif daripada sekadar bertanya:

“Apakah dia orang baik atau orang buruk?”

Karena manusia jarang sesederhana itu.

Pada Akhirnya, Psikologi Tidak Hanya Membantu Kita Memahami Orang Lain

Menariknya, memahami mengapa seseorang menyebalkan juga dapat membantu kita memahami diri sendiri.

Mungkin kita menemukan bahwa kita sangat sensitif terhadap orang yang mengkritik karena pengalaman masa lalu.

Mungkin kita sadar bahwa kita membutuhkan lebih banyak ruang pribadi daripada orang lain.

Mungkin kita menyadari bahwa kita tidak tahan terhadap konflik.

Atau mungkin setelah diperiksa lebih jauh, ternyata memang ada perilaku seseorang yang berulang kali melewati batas kita.

Keduanya bisa benar sekaligus.

Perilaku orang lain bisa memang mengganggu, dan reaksi kita juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman pribadi.

Memahami hal tersebut membuat kita tidak harus memilih antara menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain.

Kita cukup belajar membedakan keduanya.

Sebab kedewasaan emosional bukan berarti kita harus menyukai semua orang.

Kita tidak harus cocok dengan semua orang.

Kita tidak harus memahami semua orang.

Dan kita juga tidak harus mempertahankan kedekatan dengan orang yang terus-menerus membuat kita tidak nyaman.

Namun sebelum memberikan penilaian terhadap seseorang, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:

“Yang sebenarnya membuatku terganggu adalah perilakunya, atau cerita yang dibuat pikiranku tentang dirinya?”

Terkadang jawabannya adalah yang pertama.

Terkadang jawabannya adalah yang kedua.

Dan terkadang, jawabannya adalah keduanya.

Di situlah psikologi menjadi menarik: bukan sekadar membantu kita memahami mengapa orang lain bisa begitu menyebalkan, tetapi juga membantu kita memahami mengapa kita bereaksi dengan cara tertentu terhadap mereka.

EDITOR: Hanny Suwindari