JawaPos.com - Dunia kencan berubah jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dekade lalu. Cara orang bertemu, berkomunikasi, menunjukkan ketertarikan, bahkan mengakhiri hubungan kini banyak dipengaruhi oleh teknologi, media sosial, dan perubahan norma sosial.
Dulu, seseorang mungkin mengenal calon pasangan melalui teman, lingkungan sekolah, tempat kerja, atau pertemuan langsung. Sekarang, hubungan bisa dimulai dari satu swipe, satu pesan singkat, atau sebuah komentar di media sosial. Pilihan terasa semakin banyak, tetapi pada saat yang sama, hubungan juga bisa terasa semakin rumit.
Psikologi membantu kita memahami mengapa perubahan tersebut dapat memengaruhi cara manusia membangun kedekatan. Beberapa perilaku yang terlihat seperti "tren kencan" sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan psikologis yang sudah lama ada: kebutuhan akan perhatian, kepastian, penerimaan, kebebasan, dan koneksi emosional.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat lima tren kencan yang penting dipahami, bukan sekadar sebagai istilah populer, tetapi sebagai gambaran tentang bagaimana manusia berusaha mencari hubungan di tengah dunia yang semakin digital.
1. Dating Apps dan "Choice Overload": Terlalu Banyak Pilihan Bisa Membuat Bingung
Aplikasi kencan membuat manusia dapat bertemu dengan jauh lebih banyak calon pasangan dibandingkan sebelumnya. Dalam beberapa menit, seseorang bisa melihat puluhan bahkan ratusan profil.
Di satu sisi, hal ini memberikan kebebasan. Kita dapat mencari orang berdasarkan minat, lokasi, usia, gaya hidup, atau berbagai preferensi lainnya.
Namun, semakin banyak pilihan tidak selalu berarti semakin mudah mengambil keputusan.
Dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan choice overload, yaitu keadaan ketika terlalu banyak pilihan justru membuat proses memilih menjadi lebih sulit atau melelahkan.
Bayangkan seseorang sedang menggunakan aplikasi kencan. Setelah menemukan satu orang yang menarik, muncul pikiran:
"Bagaimana kalau beberapa swipe berikutnya ada yang lebih cocok?"
Akhirnya, orang tersebut terus mencari.
Masalahnya bukan selalu karena tidak ada kandidat yang menarik. Justru sebaliknya, terlalu banyak kandidat dapat membuat seseorang terus membandingkan.
Mengapa ini bisa terjadi?
Otak manusia cenderung melakukan perbandingan ketika tersedia banyak alternatif. Dalam konteks kencan, seseorang dapat mulai melihat calon pasangan seperti daftar karakteristik:
menarik secara fisik,
pekerjaan bagus,
memiliki hobi tertentu,
komunikatif,
tinggal dekat,
memiliki gaya hidup yang sama,
dan sebagainya.
Pendekatan seperti ini dapat membantu seseorang memahami preferensinya. Tetapi jika dilakukan secara ekstrem, manusia dapat diperlakukan seperti produk yang terus dibandingkan.
Akibatnya, seseorang mungkin mengalami kesulitan merasa puas dengan pilihan yang sudah ada karena selalu muncul kemungkinan bahwa ada orang lain yang "lebih baik".
Bukan berarti aplikasi kencan itu buruk
Penting untuk membedakan antara teknologi dan cara manusia menggunakannya.
Aplikasi kencan dapat membantu orang bertemu dengan individu yang mungkin tidak pernah mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, aplikasi bahkan dapat memperluas kesempatan untuk menemukan pasangan dengan nilai dan tujuan hidup yang serupa.
Yang perlu dipahami adalah bahwa banyaknya pilihan tidak selalu menghasilkan kepuasan yang lebih besar.
Dalam hubungan, kecocokan juga tidak dapat sepenuhnya dinilai melalui foto, biodata, atau percakapan singkat.
Hubungan yang sebenarnya baru terlihat ketika dua orang berinteraksi secara lebih mendalam.
2. Ghosting: Ketika Seseorang Menghilang Tanpa Penjelasan
Salah satu istilah paling dikenal dalam dunia kencan modern adalah ghosting.
Ghosting terjadi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Pesan tidak lagi dibalas, telepon tidak dijawab, dan hubungan seolah-olah berhenti begitu saja.
Fenomena ini menjadi lebih mudah dilakukan ketika komunikasi berlangsung melalui layar.
Ketika seseorang berkomunikasi secara langsung, mengakhiri hubungan biasanya membutuhkan percakapan. Ada ekspresi wajah, reaksi emosional, dan situasi sosial yang harus dihadapi.
Dalam komunikasi digital, seseorang cukup berhenti membalas.
Mengapa orang melakukan ghosting?
Motif seseorang bisa berbeda-beda. Tidak ada satu penjelasan psikologis yang berlaku untuk semua kasus.
Sebagian orang mungkin menghindari konflik. Mereka merasa mengatakan "saya tidak tertarik lagi" akan terasa tidak nyaman sehingga memilih menghilang.
Ada pula orang yang merasa hubungan tersebut belum cukup serius sehingga tidak merasa perlu memberikan penjelasan.
Dalam situasi lain, seseorang mungkin memang merasa tidak aman atau ingin menjaga jarak karena pengalaman negatif sebelumnya.
Artinya, ghosting tidak selalu menunjukkan satu karakter tertentu dari orang yang melakukannya.
Namun, bagi orang yang menjadi korban ghosting, pengalaman tersebut dapat menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab:
"Apa yang saya lakukan?"
"Apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?"
"Mengapa dia tiba-tiba berubah?"
Ketidakjelasan inilah yang sering membuat ghosting terasa sangat mengganggu.
Otak manusia tidak menyukai ketidakpastian
Manusia memiliki kecenderungan mencari penjelasan ketika menghadapi sesuatu yang tidak jelas.
Ketika sebuah hubungan berakhir dengan penjelasan, seseorang setidaknya memiliki narasi:
"Kami tidak cocok."
Tetapi ketika seseorang tiba-tiba menghilang, tidak ada penutup yang jelas.
Akibatnya, pikiran dapat terus mengulang percakapan sebelumnya untuk mencari kemungkinan penyebab.
Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memiliki informasi yang cukup untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Pelajaran psikologis dari ghosting
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa diamnya seseorang tidak selalu memberikan informasi yang cukup tentang nilai diri kita.
Tidak mendapatkan balasan memang merupakan informasi bahwa komunikasi tersebut berhenti. Tetapi alasan di baliknya belum tentu dapat diketahui tanpa penjelasan langsung.
Karena itu, penting untuk tidak mengubah ketidakjelasan menjadi kesimpulan pribadi yang terlalu ekstrem.
3. Slow Dating: Ketertarikan Tidak Harus Terjadi Secepat Kilat
Di tengah budaya kencan yang serba cepat, muncul kecenderungan untuk memperlambat proses mengenal seseorang.
Konsep ini sering disebut slow dating.
Alih-alih terburu-buru menentukan apakah seseorang adalah "the one", orang mulai memberi kesempatan lebih besar untuk mengenal calon pasangan secara bertahap.
Pendekatan ini sebenarnya menarik dari perspektif psikologi.
Ketertarikan awal memang bisa muncul dengan cepat. Namun, ketertarikan dan kualitas hubungan bukanlah hal yang sama.
Seseorang mungkin terlihat sangat menarik dalam lima menit pertama, tetapi belum tentu memiliki nilai hidup, gaya komunikasi, atau tujuan hubungan yang sesuai.
Sebaliknya, seseorang yang awalnya terasa biasa saja dapat menjadi semakin menarik setelah kita memahami kepribadian dan cara berpikirnya.
Mengapa waktu penting dalam hubungan?
Waktu memungkinkan seseorang melihat perilaku dalam berbagai situasi.
Misalnya:
Bagaimana dia menghadapi perbedaan pendapat?
Bagaimana dia memperlakukan orang lain?
Apakah perkataannya konsisten dengan tindakannya?
Bagaimana dia merespons ketika kecewa?
Bagaimana dia menghormati batasan pribadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sulit dijawab hanya berdasarkan kesan pertama.
Karena itu, memperlambat proses kencan dapat memberikan ruang untuk membedakan antara kesan awal dan pola perilaku yang lebih konsisten.
Slow dating bukan berarti tidak memiliki standar
Memperlambat proses bukan berarti harus mempertahankan hubungan yang jelas-jelas tidak sehat.
Seseorang tetap dapat memiliki batasan dan standar.
Intinya adalah tidak merasa harus membuat keputusan besar hanya karena hubungan baru berjalan beberapa minggu atau karena ada tekanan sosial untuk segera menentukan status.
Hubungan membutuhkan waktu untuk memperlihatkan dirinya.
4. Situationship: Hubungan yang Sulit Didefinisikan
Tren berikutnya adalah situationship, istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan yang berada di antara pertemanan dan hubungan romantis yang resmi.
Dua orang mungkin sering bertemu.
Mereka mungkin saling mengirim pesan setiap hari.
Mereka mungkin memiliki kedekatan emosional atau romantis.
Namun, ketika seseorang bertanya:
"Sebenarnya kita ini apa?"
Jawabannya tidak jelas.
Situationship dapat terasa nyaman karena menawarkan kedekatan tanpa semua struktur atau komitmen yang biasanya menyertai hubungan formal.
Namun, ketidakjelasan juga dapat menjadi sumber tekanan psikologis.
Mengapa orang tertarik pada hubungan yang ambigu?
Salah satu kemungkinan adalah adanya keseimbangan antara kebutuhan akan kedekatan dan kebutuhan akan kebebasan.
Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan dengan orang lain, tetapi sebagian orang juga sangat menghargai otonomi.
Hubungan yang tidak memiliki label jelas kadang-kadang memberikan keduanya:
kedekatan tanpa komitmen yang terlalu eksplisit.
Namun, masalah muncul ketika kedua orang memiliki ekspektasi yang berbeda.
Misalnya, seseorang menganggap hubungan tersebut santai.
Sementara orang lain diam-diam menganggapnya sebagai tahap menuju hubungan serius.
Selama ekspektasi tidak dibicarakan, kedua orang tersebut mungkin merasa sedang menjalani hubungan yang sama, padahal sebenarnya tidak.
Ketidakjelasan bisa menjadi masalah tersendiri
Manusia umumnya lebih mudah membuat keputusan ketika aturan dan ekspektasi jelas.
Dalam situationship, pertanyaan seperti berikut dapat terus muncul:
Apakah kami eksklusif?
Apakah dia serius?
Apakah saya boleh berkencan dengan orang lain?
Apa yang terjadi jika salah satu mulai memiliki perasaan lebih dalam?
Apakah hubungan ini akan berkembang?
Tidak ada jawaban universal untuk pertanyaan tersebut.
Karena itu, komunikasi menjadi sangat penting.
Bukan karena setiap hubungan harus segera diberi label, tetapi karena orang-orang yang terlibat perlu memahami apakah mereka menginginkan hal yang sama.
5. Emotional Availability: Orang Semakin Memperhatikan Kemampuan untuk Terhubung Secara Emosional
Tren terakhir berkaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap konsep emotional availability atau ketersediaan emosional.
Daya tarik dalam hubungan tidak hanya berkaitan dengan penampilan, pekerjaan, atau status sosial.
Semakin banyak orang memperhatikan apakah calon pasangan mampu:
mengomunikasikan perasaan,
mendengarkan,
menghargai batasan,
membicarakan masalah,
memberikan respons emosional,
dan membangun kedekatan tanpa kehilangan kemandirian.
Mengapa hal ini penting?
Karena hubungan romantis bukan sekadar aktivitas yang dilakukan bersama. Hubungan juga melibatkan pertukaran kebutuhan emosional.
Seseorang bisa sangat menarik, menyenangkan, dan memiliki banyak kesamaan dengan kita, tetapi tetap mengalami kesulitan mempertahankan hubungan jika tidak mampu berkomunikasi ketika muncul masalah.
Ketersediaan emosional bukan berarti selalu terbuka
Ada kesalahpahaman bahwa orang yang emotionally available harus selalu membicarakan semua perasaannya.
Padahal, keterbukaan emosional tidak sama dengan menceritakan segala sesuatu kepada pasangan setiap saat.
Seseorang dapat memiliki privasi sekaligus tetap mampu berkomunikasi.
Contohnya:
"Saya sedang kecewa, tetapi saya membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. Setelah itu saya ingin membicarakannya denganmu."
Pernyataan seperti itu berbeda dengan menghilang tanpa penjelasan.
Ketersediaan emosional lebih berkaitan dengan kemampuan untuk hadir dalam hubungan dan mengelola komunikasi ketika menghadapi pengalaman emosional.
Hubungan membutuhkan kemampuan memperbaiki masalah
Tidak ada hubungan yang bebas dari konflik.
Perbedaan pendapat adalah bagian normal dari interaksi manusia.
Yang menjadi penting adalah apa yang terjadi setelah konflik.
Apakah kedua orang dapat membicarakan masalah?
Apakah mereka mampu mengakui kesalahan?
Apakah mereka dapat mendengarkan sudut pandang masing-masing?
Apakah mereka bisa mencari solusi tanpa merendahkan satu sama lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali lebih informatif daripada sekadar mengetahui apakah seseorang memiliki chemistry yang kuat pada awal hubungan.
Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Pelajari dari Tren-Tren Ini?
Kelima tren tersebut terlihat berbeda, tetapi sebenarnya memiliki satu kesamaan.
Semuanya menunjukkan bahwa teknologi dan budaya kencan modern tidak menghilangkan kebutuhan psikologis manusia yang mendasar.
Manusia tetap mencari:
kedekatan.
penerimaan.
kepastian.
kebebasan.
rasa aman.
Teknologi hanya mengubah lingkungan tempat kebutuhan tersebut diekspresikan.
Aplikasi kencan memperbanyak pilihan.
Ghosting mengubah cara hubungan berakhir.
Slow dating mengubah kecepatan hubungan berkembang.
Situationship menunjukkan semakin beragamnya bentuk hubungan.
Sementara perhatian terhadap emotional availability menunjukkan bahwa banyak orang tidak hanya mencari ketertarikan, tetapi juga kemampuan membangun hubungan secara emosional.
Pada akhirnya, memahami tren kencan bukan berarti harus mengikuti semuanya.
Justru sebaliknya.
Pemahaman psikologis dapat membantu seseorang menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya ketika menjalani hubungan.
Apakah kita benar-benar tertarik pada seseorang, atau hanya tertarik pada perhatian yang diberikan?
Apakah kita menikmati kebebasan, atau sebenarnya menghindari kedekatan?
Apakah kita membutuhkan waktu, atau hanya takut mengambil keputusan?
Apakah hubungan tidak memiliki label karena kedua orang memang nyaman dengannya, atau karena tidak ada yang berani membicarakannya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui istilah terbaru dalam dunia kencan.
Kencan Modern Tetap Membutuhkan Hal yang Sama: Komunikasi
Meskipun bentuk hubungan terus berubah, satu hal tetap relevan: manusia perlu berkomunikasi.
Tidak semua hubungan harus mengikuti pola yang sama.
Ada orang yang ingin hubungan serius.
Ada yang ingin mengenal seseorang secara perlahan.
Ada yang membutuhkan lebih banyak ruang pribadi.
Ada pula yang menginginkan komitmen yang jelas sejak awal.
Tidak ada satu format hubungan yang otomatis cocok untuk semua orang.
Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan diri sendiri dan mengomunikasikannya dengan jelas kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, masalah dalam kencan modern tidak selalu muncul karena seseorang tidak menemukan orang yang tepat.
Kadang-kadang masalah muncul karena dua orang tidak pernah benar-benar membicarakan apa yang mereka inginkan.
Dan mungkin inilah pelajaran psikologis paling penting dari dunia kencan modern: hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan seseorang yang kita sukai, tetapi juga tentang memahami diri sendiri, memahami orang lain, dan menciptakan ruang untuk berkomunikasi secara jujur.