JawaPos.com - Ada percakapan yang kita tunda bukan karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan, tetapi karena kita takut dengan apa yang mungkin terjadi setelahnya.
Membicarakan masalah dengan pasangan, menyampaikan ketidaksetujuan kepada teman, memberikan kritik kepada rekan kerja, meminta maaf, membicarakan uang, atau mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam bisa terasa sangat berat.
Kita sering membayangkan percakapan itu akan berakhir dengan pertengkaran, salah paham, penolakan, atau hubungan yang menjadi canggung.
Akibatnya, kita memilih diam.
Masalahnya, percakapan yang dihindari biasanya tidak benar-benar menghilang. Justru, semakin lama ditunda, semakin banyak asumsi, emosi, dan kekhawatiran yang menumpuk di kepala.
Padahal, percakapan sulit tidak selalu harus menjadi percakapan yang buruk.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), dalam psikologi komunikasi, cara kita menyampaikan sesuatu sering kali sama pentingnya dengan apa yang ingin kita sampaikan. Nada bicara, pilihan kata, kemampuan mendengarkan, serta cara kita mengelola emosi dapat menentukan apakah sebuah pembicaraan berubah menjadi konflik atau justru menjadi kesempatan untuk saling memahami.
Kalau kamu sedang menghadapi percakapan yang terasa sulit, tujuh tips sederhana berikut bisa membantu membuatnya terasa lebih ringan.
1. Jangan memulai percakapan ketika emosi sedang berada di puncak
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika menghadapi masalah adalah merasa harus segera membicarakannya.
Padahal, “segera” tidak selalu berarti “sekarang juga”.
Ketika sedang sangat marah, kecewa, takut, atau tersinggung, tubuh dan pikiran kita berada dalam kondisi yang berbeda dibandingkan ketika kita merasa tenang. Kita cenderung lebih mudah menafsirkan perkataan orang lain sebagai serangan dan lebih sulit memilih kata-kata dengan hati-hati.
Itulah sebabnya, sebelum memulai percakapan yang sensitif, ada baiknya memberikan diri sendiri waktu untuk menenangkan diri.
Bukan berarti menghindari masalah.
Tujuannya adalah memastikan bahwa kamu memasuki percakapan untuk menyelesaikan sesuatu, bukan sekadar melampiaskan emosi.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan?”
“Apa yang ingin aku capai dari percakapan ini?”
“Apakah aku sedang mencari solusi atau hanya ingin membuat orang lain merasa bersalah?”
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu mengubah posisi mentalmu.
Kamu tidak lagi sekadar berpikir, “Aku harus mengatakan bahwa dia salah.”
Sebaliknya, kamu mulai berpikir, “Aku ingin kita memahami masalah ini dan mencari jalan keluarnya.”
Perubahan kecil dalam tujuan tersebut bisa membuat percakapan terasa jauh berbeda.
2. Mulailah dengan membicarakan masalah, bukan menyerang orangnya
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Kamu memang tidak pernah peduli.”
dan:
“Aku merasa akhir-akhir ini kita jarang punya waktu untuk berbicara, dan itu membuatku merasa jauh darimu.”
Keduanya mungkin berasal dari kekecewaan yang sama.
Namun, cara kedua memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi orang lain untuk mendengarkan.
Ketika seseorang merasa dirinya sedang diserang, respons alaminya sering kali adalah mempertahankan diri. Ia mungkin membantah, mencari alasan, menyerang balik, atau menutup diri.
Akibatnya, percakapan yang seharusnya membahas masalah justru berubah menjadi pertarungan tentang siapa yang salah.
Karena itu, cobalah memisahkan perilaku dari identitas seseorang.
Alih-alih mengatakan:
“Kamu egois.”
Cobalah mengatakan:
“Aku merasa keputusan itu dibuat tanpa mempertimbangkan pendapatku.”
Alih-alih:
“Kamu pemalas.”
Cobalah:
“Aku merasa beban pekerjaan kita akhir-akhir ini menjadi tidak seimbang.”
Fokus pada kejadian yang spesifik.
Bicarakan apa yang terjadi, bagaimana dampaknya terhadapmu, dan apa yang kamu harapkan ke depannya.
Dengan begitu, lawan bicaramu tidak harus mempertahankan harga dirinya terlebih dahulu sebelum bisa membahas masalah.
3. Gunakan kalimat “aku” daripada terlalu banyak kalimat “kamu”
Salah satu teknik komunikasi yang sering digunakan dalam pembicaraan sulit adalah menyampaikan pengalaman pribadi melalui kalimat “aku”.
Perhatikan perbedaannya.
“Kamu membuatku merasa tidak dihargai.”
dibandingkan dengan:
“Aku merasa tidak dihargai ketika hal itu terjadi.”
Kalimat pertama terdengar seperti sebuah tuduhan.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman pribadi.
Perbedaan ini mungkin tampak kecil, tetapi dapat mengubah arah percakapan.
Kalimat “kamu” yang bernada menyalahkan sering membuat orang lain merasa harus membela diri. Sementara itu, ketika kamu menjelaskan apa yang kamu rasakan dan mengapa kamu merasakannya, orang lain mendapatkan informasi tentang pengalamanmu tanpa langsung ditempatkan sebagai terdakwa.
Namun, menggunakan kalimat “aku” bukan berarti semua masalah harus dibebankan kepada perasaanmu.
Kamu tetap bisa menyampaikan fakta.
Misalnya:
“Aku merasa kecewa karena kesepakatan kita tidak dijalankan. Aku ingin kita membicarakan bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi.”
Ada perasaan.
Ada fakta.
Dan ada ajakan untuk mencari solusi.
Itulah kombinasi yang jauh lebih konstruktif daripada sekadar menyalahkan.
4. Dengarkan untuk memahami, bukan hanya untuk membalas
Ini mungkin salah satu bagian tersulit dari percakapan.
Ketika seseorang berbicara, kita sering terlihat seperti mendengarkan.
Tetapi di dalam kepala, kita sebenarnya sedang menyiapkan jawaban.
Kita memikirkan:
“Kalau dia bilang begitu, aku akan menjawab…”
“Dia sebenarnya juga melakukan hal yang sama.”
“Aku punya bukti bahwa dia salah.”
Akibatnya, kita mendengar kata-katanya tetapi tidak benar-benar memahami maksudnya.
Dalam percakapan yang sulit, cobalah menahan keinginan untuk langsung membalas.
Setelah orang tersebut selesai berbicara, kamu bisa mencoba merangkum apa yang kamu pahami.
Misalnya:
“Kalau aku memahami kamu dengan benar, kamu merasa aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa melibatkanmu?”
Kalau pemahamanmu salah, ia bisa mengoreksi.
Kalau benar, ia akan merasa bahwa perkataannya benar-benar didengarkan.
Teknik seperti ini tidak berarti kamu harus setuju dengan semua yang dikatakan.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui.
Kamu bisa memahami sudut pandang seseorang tanpa harus memiliki pendapat yang sama.
Kalimat sederhana seperti:
“Aku mengerti kenapa kamu melihatnya seperti itu.”
sering kali jauh lebih menenangkan daripada:
“Kamu salah.”
Dan ketika seseorang merasa didengarkan, percakapan biasanya memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak menuju solusi.
5. Jangan mengungkit seluruh kesalahan masa lalu sekaligus
Ketika sedang kecewa, kita terkadang memiliki “arsip” kesalahan orang lain di kepala.
Satu masalah muncul, lalu tiba-tiba semua masalah lama ikut keluar.
Awalnya membahas keterlambatan.
Lima menit kemudian membahas kejadian tiga tahun lalu.
Kemudian membicarakan sesuatu yang terjadi pada bulan sebelumnya.
Akhirnya, tidak ada lagi yang tahu masalah sebenarnya sedang membicarakan apa.
Percakapan menjadi seperti persidangan terhadap seluruh sejarah hubungan.
Jika tujuanmu adalah menyelesaikan masalah, cobalah membatasi pembicaraan pada isu yang sedang dihadapi.
Misalnya:
“Aku ingin kita fokus dulu pada masalah yang terjadi hari ini. Setelah ini selesai, kalau memang ada masalah lain yang perlu dibicarakan, kita bisa membahasnya secara terpisah.”
Ini bukan berarti masalah masa lalu tidak penting.
Tetapi satu percakapan tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.
Kadang-kadang, semakin banyak masalah yang dimasukkan ke dalam satu pembicaraan, semakin sulit menemukan solusi untuk satu pun dari masalah tersebut.
Fokus membuat percakapan lebih jelas.
6. Berikan ruang untuk jeda
Tidak semua percakapan harus diselesaikan dalam satu kali duduk.
Kadang-kadang, salah satu atau kedua pihak sudah terlalu lelah secara emosional.
Pada kondisi seperti itu, memaksa percakapan untuk terus berlangsung justru bisa memperburuk keadaan.
Jeda bukan selalu berarti menghindar.
Ada perbedaan antara:
“Aku tidak mau membicarakan ini lagi.”
dan:
“Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tapi sekarang aku merasa terlalu emosional. Bagaimana kalau kita istirahat dulu dan melanjutkannya nanti malam?”
Kalimat kedua memberikan pesan yang berbeda.
Kamu tidak meninggalkan masalah.
Kamu hanya memberi kesempatan kepada kedua pihak untuk kembali dalam kondisi yang lebih tenang.
Yang penting, jika kamu meminta jeda, usahakan jangan menjadikannya sebagai bentuk hukuman atau silent treatment.
Jeda sebaiknya memiliki tujuan yang jelas: menenangkan diri, berpikir, dan kemudian kembali membicarakan masalah.
Kadang-kadang, beberapa puluh menit untuk menenangkan diri dapat membuat seseorang mampu mengatakan sesuatu dengan lebih baik daripada ketika ia sedang dikuasai emosi.
7. Akhiri percakapan dengan langkah yang jelas
Salah satu alasan percakapan sulit terasa melelahkan adalah karena kita sudah berbicara panjang, tetapi tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Kita sudah menjelaskan perasaan.
Sudah saling mendengarkan.
Sudah membahas masalah.
Tetapi kemudian semuanya kembali seperti semula.
Karena itu, jika memungkinkan, akhiri percakapan dengan kesepakatan atau langkah konkret.
Misalnya:
“Mulai minggu depan, kita akan membicarakan masalah ini setiap hari Jumat.”
Atau:
“Kalau ada perubahan rencana, kita sepakat untuk saling memberi tahu lebih awal.”
Atau bahkan:
“Kita belum menemukan solusi sekarang, tetapi kita sepakat untuk memikirkan dua pilihan ini dan membicarakannya lagi besok.”
Tidak semua percakapan harus berakhir dengan solusi sempurna.
Kadang-kadang, hasil terbaik yang bisa diperoleh adalah pemahaman yang lebih baik tentang masalah dan kesepakatan mengenai langkah berikutnya.
Yang penting, percakapan tersebut menghasilkan sesuatu.
Percakapan sulit tidak harus menjadi pertarungan
Pada akhirnya, kemampuan menghadapi percakapan sulit bukan berarti kamu harus selalu menemukan kata-kata yang sempurna.
Tidak ada formula yang dapat menjamin setiap percakapan akan berjalan tanpa konflik.
Orang lain tetap memiliki emosi, pengalaman, kebutuhan, dan perspektifnya sendiri.
Namun, kamu dapat mengendalikan bagaimana kamu memasuki percakapan tersebut.
Kamu bisa memilih untuk tidak memulainya ketika sedang sangat marah.
Kamu bisa membicarakan perilaku tanpa menyerang karakter.
Kamu bisa menjelaskan perasaanmu tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh.
Kamu bisa mendengarkan tanpa harus langsung membantah.
Kamu bisa fokus pada satu masalah.
Kamu bisa meminta jeda ketika keadaan mulai terlalu emosional.
Dan kamu bisa berusaha mengakhiri percakapan dengan langkah yang jelas.
Mungkin percakapan sulit tetap terasa tidak nyaman.
Itu normal.
Tujuannya bukan membuat percakapan sulit menjadi sepenuhnya nyaman.
Tujuannya adalah membuat percakapan tersebut lebih aman, lebih jelas, dan lebih konstruktif.
Karena terkadang, hubungan tidak menjadi lebih baik karena kita menemukan kata-kata yang sempurna.
Hubungan menjadi lebih baik karena kita akhirnya berani membicarakan sesuatu yang selama ini terus kita hindari—dengan cara yang membuat kedua pihak masih memiliki ruang untuk didengarkan.