JawaPos.com - Berhadapan dengan orang yang sulit bisa menjadi salah satu pengalaman yang paling menguras energi secara emosional. Ada orang yang mudah tersinggung, gemar menyalahkan, selalu ingin menang dalam percakapan, sulit menerima kritik, suka memancing konflik, atau membuat kita merasa bersalah bahkan ketika kita tidak melakukan sesuatu yang salah.
Masalahnya, kita tidak selalu bisa menghindari mereka.
Orang yang sulit bisa saja merupakan rekan kerja, atasan, anggota keluarga, teman, tetangga, pasangan, atau seseorang yang harus kita temui secara rutin. Karena itu, kemampuan menghadapi perilaku yang sulit bukan sekadar soal menjadi "lebih sabar". Dalam psikologi, cara kita memahami emosi, menetapkan batasan, berkomunikasi, dan mengatur respons diri dapat sangat menentukan bagaimana sebuah interaksi berkembang.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan perilaku orang lain. Namun, kita masih memiliki ruang untuk mengendalikan respons kita sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat enam hal yang perlu diingat ketika menghadapi orang yang sulit.
1. Jangan Menganggap Semua Perilaku Sulit sebagai Serangan Pribadi
Ketika seseorang berbicara dengan nada tinggi, meremehkan pendapat kita, terus mengkritik, atau bersikap defensif, reaksi pertama yang muncul sering kali adalah menganggap perilaku tersebut ditujukan secara pribadi kepada kita.
"Dia memang tidak menghargai saya."
"Dia sengaja membuat saya kesal."
"Dia ingin menjatuhkan saya."
Pemikiran seperti itu dapat membuat kita semakin emosional. Kita kemudian membalas dengan nada yang sama, menjadi defensif, atau berusaha memenangkan pertengkaran.
Padahal, perilaku seseorang bisa dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak selalu berkaitan langsung dengan kita. Cara seseorang bereaksi dapat dipengaruhi oleh kebiasaan komunikasi, pengalaman masa lalu, tingkat stres, rasa tidak aman, ekspektasi, atau cara mereka memahami situasi.
Ini bukan berarti perilaku yang buruk harus dibenarkan.
Memahami kemungkinan penyebab bukan berarti memaklumi semuanya.
Perbedaannya penting. Kita dapat memahami bahwa seseorang mungkin sedang frustrasi sekaligus tetap mengatakan, "Saya tidak nyaman jika Anda berbicara kepada saya dengan cara seperti itu."
Salah satu prinsip psikologis yang berguna adalah memisahkan perilaku seseorang dari nilai diri kita.
Jika seseorang mengkritik kita, kritik tersebut tidak otomatis menentukan siapa diri kita. Jika seseorang marah kepada kita, kemarahannya tidak otomatis berarti kita adalah orang yang buruk. Dan jika seseorang tidak menyukai kita, itu juga tidak berarti ada sesuatu yang salah dengan diri kita.
Ketika kita tidak langsung menganggap perilaku orang lain sebagai serangan terhadap identitas diri, kita memiliki lebih banyak ruang untuk berpikir sebelum bereaksi.
Alih-alih langsung bertanya:
"Mengapa dia memperlakukan saya seperti ini?"
Kita bisa mencoba bertanya:
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam interaksi ini?"
Perubahan kecil dalam cara bertanya tersebut dapat membantu kita mengambil jarak secara emosional.
2. Bedakan antara Memahami Seseorang dan Membenarkan Perilakunya
Empati sering dianggap sebagai kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Namun, dalam menghadapi orang yang sulit, empati dapat menjadi rumit.
Kita mungkin memahami bahwa seseorang sedang mengalami tekanan. Kita mungkin mengetahui bahwa dia sedang menghadapi masalah pribadi. Kita bahkan mungkin mengerti mengapa dia menjadi mudah marah.
Tetapi memahami alasan seseorang bertindak demikian tidak berarti kita harus menerima semua perilakunya.
Misalnya, seseorang sedang stres di tempat kerja dan kemudian berbicara kasar kepada kita. Kita bisa memahami bahwa dia sedang berada di bawah tekanan. Namun, kita tetap dapat mengatakan bahwa cara dia berbicara tidak dapat diterima.
Ini adalah salah satu batas penting dalam hubungan interpersonal:
Penjelasan bukan pembenaran.
Jika kita terlalu fokus mencari alasan di balik perilaku seseorang, kita terkadang justru mengabaikan dampaknya terhadap diri sendiri.
Orang yang terus-menerus menyalahkan orang lain mungkin memiliki pengalaman tertentu yang membuatnya menjadi defensif. Orang yang sangat mudah marah mungkin memiliki kesulitan dalam mengelola emosinya. Orang yang selalu ingin mengontrol mungkin merasa tidak aman ketika kehilangan kendali.
Semua itu mungkin membantu menjelaskan perilakunya.
Namun, kita tetap berhak menentukan bagaimana kita ingin diperlakukan.
Karena itu, ketika menghadapi orang yang sulit, cobalah memegang dua hal sekaligus:
"Saya bisa memahami bahwa kamu sedang mengalami sesuatu."
dan
"Saya tetap tidak harus menerima perlakuan yang menyakiti saya."
Keduanya tidak bertentangan.
Justru, kemampuan mempertahankan empati sekaligus batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
3. Jangan Terburu-buru Bereaksi Ketika Emosi Sedang Tinggi
Salah satu kesalahan paling umum dalam konflik adalah merespons ketika emosi sedang berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Kita langsung membalas.
Dia membalas lagi.
Kita semakin marah.
Percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Pada titik tertentu, kedua pihak mungkin sudah tidak lagi membicarakan masalah awal. Mereka hanya berusaha mempertahankan posisi masing-masing.
Ketika emosi meningkat, kemampuan seseorang untuk berpikir secara tenang dan mempertimbangkan konsekuensi responsnya dapat terganggu. Karena itu, memberikan jeda dapat menjadi strategi yang sangat berguna.
Jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah.
Jeda berarti memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali tenang sebelum melanjutkan percakapan.
Kalimat sederhana seperti:
"Saya ingin membicarakan ini, tetapi saya rasa kita perlu menenangkan diri terlebih dahulu."
dapat jauh lebih efektif daripada terus berdebat.
Dalam situasi tertentu, kita bahkan tidak perlu menjawab semua komentar.
Tidak setiap provokasi membutuhkan respons.
Tidak setiap tuduhan perlu segera dibantah.
Tidak setiap kesalahpahaman harus diselesaikan dalam waktu lima menit.
Kadang-kadang, respons terbaik adalah menunda percakapan sampai kedua pihak memiliki kapasitas emosional yang lebih baik.
Hal ini terutama penting jika orang yang kita hadapi cenderung menggunakan konflik sebagai cara untuk memancing reaksi. Semakin kita bereaksi secara impulsif, semakin mudah percakapan berubah menjadi lingkaran konflik.
Dengan memberikan jeda, kita mengambil kembali kendali atas bagian yang memang berada dalam kendali kita: respons diri sendiri.
4. Tetapkan Batasan yang Jelas dan Konsisten
Batasan atau boundaries sering disalahpahami sebagai cara untuk mengendalikan orang lain.
Padahal, batasan lebih berkaitan dengan menentukan apa yang bersedia kita terima dan bagaimana kita akan bertindak ketika batas tersebut dilanggar.
Misalnya:
"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya tidak akan melanjutkan percakapan jika Anda terus berteriak."
Atau:
"Saya akan mendengarkan kritik, tetapi saya tidak bersedia dihina."
Perhatikan bahwa kalimat tersebut tidak mengatakan:
"Kamu harus berhenti marah."
Kita tidak dapat mengontrol emosi orang lain.
Sebaliknya, kita menjelaskan apa yang akan kita lakukan.
Itulah salah satu karakteristik batasan yang sehat: batasan berfokus pada tindakan kita sendiri, bukan pada upaya mengendalikan orang lain.
Batasan juga perlu konsisten.
Jika setiap kali seseorang berteriak kita mengatakan tidak mau melanjutkan percakapan, tetapi kemudian kita tetap bertahan selama satu jam untuk berdebat, pesan yang kita berikan menjadi tidak jelas.
Konsistensi membantu orang lain memahami konsekuensi dari perilaku tertentu.
Namun, menetapkan batasan tidak selalu berarti harus berbicara keras. Batasan dapat disampaikan dengan tenang.
Bahkan, semakin emosional situasinya, semakin berguna bahasa yang sederhana dan langsung.
Contohnya:
"Saya tidak akan membahas ini jika kita saling menghina."
"Kalau pembicaraannya sudah tenang, kita bisa lanjut."
"Saya sudah menjelaskan posisi saya dan tidak ingin memperdebatkannya lagi."
Batasan tidak selalu membuat orang lain senang.
Dan itu normal.
Salah satu tantangan terbesar dalam menetapkan batasan adalah menerima kenyataan bahwa orang lain mungkin tidak menyukai batas yang kita buat.
Namun, tujuan batasan bukan membuat semua orang menyukai kita.
Tujuannya adalah menciptakan kondisi interaksi yang lebih sehat dan melindungi ruang pribadi kita.
5. Jangan Terjebak dalam Keinginan untuk Selalu Membuktikan Bahwa Kita Benar
Ketika seseorang salah memahami kita, kita mungkin merasa harus menjelaskan diri sampai dia mengerti.
Ketika seseorang menuduh kita, kita ingin membuktikan bahwa tuduhan itu salah.
Ketika seseorang menyebarkan informasi yang keliru tentang kita, kita ingin segera meluruskannya.
Keinginan tersebut sangat manusiawi.
Namun, ada situasi ketika usaha untuk terus membuktikan diri justru membuat kita semakin terjebak dalam konflik.
Tidak semua orang datang ke dalam percakapan untuk mencari pemahaman. Ada orang yang memang ingin mempertahankan pendapatnya, apa pun penjelasan yang diberikan.
Dalam situasi seperti itu, menambahkan lebih banyak penjelasan tidak selalu menghasilkan lebih banyak pengertian.
Kita perlu belajar membedakan antara menjelaskan dan meyakinkan.
Menjelaskan berarti memberikan informasi yang diperlukan.
Meyakinkan berarti berusaha membuat orang lain menerima sudut pandang kita.
Keduanya berbeda.
Kita dapat menjelaskan posisi kita dengan jelas tanpa harus memaksa orang lain menyetujuinya.
Misalnya:
"Saya memahami bahwa kamu melihatnya berbeda. Posisi saya tetap seperti yang sudah saya jelaskan."
Kalimat seperti ini mungkin terasa tidak memuaskan pada awalnya. Kita mungkin masih ingin orang tersebut mengatakan, "Oh, sekarang saya mengerti."
Tetapi kedewasaan emosional terkadang berarti menerima bahwa tidak semua percakapan akan berakhir dengan kesepakatan.
Kita tidak membutuhkan persetujuan semua orang untuk mempertahankan keyakinan yang kita anggap penting.
Dalam hubungan tertentu, tujuan percakapan bukan memenangkan argumen, melainkan menemukan cara agar kedua pihak dapat melanjutkan kehidupan tanpa konflik yang terus berulang.
6. Fokus pada Hal yang Bisa Kita Kendalikan
Ini mungkin merupakan prinsip paling penting ketika berhadapan dengan orang yang sulit.
Kita tidak dapat mengontrol apa yang dipikirkan orang lain.
Kita tidak dapat mengontrol bagaimana mereka menafsirkan kata-kata kita.
Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk meminta maaf.
Kita tidak dapat menjamin bahwa seseorang akan berubah.
Dan kita tidak selalu dapat membuat orang lain memperlakukan kita dengan cara yang kita inginkan.
Namun, kita memiliki kendali yang lebih besar atas respons kita sendiri.
Kita dapat memilih apakah akan membalas dengan kemarahan atau mengambil jeda.
Kita dapat memilih apakah akan terus terlibat dalam perdebatan atau mengakhiri percakapan.
Kita dapat memilih apakah akan menjelaskan diri sekali lagi atau berhenti menjelaskan.
Kita dapat memilih batasan yang ingin kita tetapkan.
Kita juga dapat memilih seberapa besar energi emosional yang ingin kita berikan kepada sebuah hubungan.
Cara berpikir seperti ini membantu mengubah fokus dari:
"Bagaimana caranya membuat dia berubah?"
menjadi:
"Apa yang bisa saya lakukan dalam situasi ini?"
Perubahan pertanyaan tersebut dapat memberikan rasa kendali yang lebih realistis.
Kadang-kadang, solusi terbaik bukan menemukan cara untuk membuat seseorang menjadi lebih mudah diajak berinteraksi. Solusinya mungkin adalah mengurangi frekuensi interaksi, mengubah cara berkomunikasi, menggunakan batasan yang lebih tegas, atau mencari dukungan dari orang lain.
Dalam hubungan profesional, misalnya, masalah tertentu mungkin perlu dibicarakan melalui jalur formal. Dalam hubungan keluarga, kita mungkin perlu menentukan topik apa yang sebaiknya tidak dibicarakan. Dalam pertemanan, kita mungkin perlu mengevaluasi apakah hubungan tersebut masih memungkinkan interaksi yang saling menghormati.
Intinya bukan selalu "memenangkan" hubungan.
Kadang-kadang, yang lebih penting adalah menjaga kesehatan emosional diri sendiri.
Mengapa Orang Sulit Bisa Sangat Menguras Energi?
Berinteraksi dengan orang yang sulit dapat terasa melelahkan karena kita terus berada dalam kondisi waspada.
Kita mulai memikirkan:
"Kalau saya mengatakan ini, dia akan marah tidak?"
"Bagaimana kalau dia salah paham?"
"Bagaimana supaya dia tidak tersinggung?"
"Haruskah saya menjelaskan lagi?"
Lama-kelamaan, kita dapat menghabiskan banyak energi untuk mengantisipasi reaksi seseorang.
Di sinilah pentingnya menyadari bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada kemampuan kita untuk mengatur suasana hati orang lain.
Kita bertanggung jawab atas cara kita berbicara dan bertindak.
Tetapi kita tidak bertanggung jawab untuk memastikan semua orang selalu merasa nyaman dengan kita.
Ada perbedaan besar antara bersikap considerate dan selalu mengorbankan diri agar orang lain tidak marah.
Menjadi orang yang baik tidak berarti harus selalu tersedia.
Menjadi orang yang memahami orang lain tidak berarti harus selalu menerima perlakuan buruk.
Dan menjaga hubungan tidak berarti harus mengorbankan batasan pribadi.
Hal yang Sebaiknya Dihindari
Selain mengetahui apa yang dapat dilakukan, penting juga mengetahui beberapa respons yang biasanya membuat konflik semakin besar.
Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan
Ini mungkin memberikan kepuasan sesaat, tetapi sering kali membuat konflik berkembang menjadi pertarungan pribadi.
Jangan menggunakan label secara sembarangan
Menyebut seseorang "narsistik", "toxic", "gila", atau label psikologis lainnya tidak otomatis membantu kita memahami situasi.
Istilah psikologi memiliki konteks dan definisi tertentu. Perilaku yang sulit juga tidak dengan sendirinya berarti seseorang memiliki gangguan mental tertentu.
Lebih berguna untuk fokus pada perilaku konkret.
Bukan:
"Dia orang toxic."
Tetapi:
"Dia sering berteriak ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya."
Deskripsi perilaku membuat kita lebih mudah menentukan respons yang sesuai.
Jangan berharap semua konflik selesai dengan satu percakapan
Beberapa masalah interpersonal merupakan pola yang sudah berlangsung lama. Perubahannya mungkin membutuhkan waktu, konsistensi, atau bahkan jarak.
Jangan mengabaikan diri sendiri demi menjaga perdamaian
Menghindari konflik sesekali dapat membantu. Tetapi jika kita terus-menerus menekan kebutuhan, emosi, dan batasan sendiri hanya agar orang lain tidak marah, masalahnya dapat menjadi lebih besar dalam jangka panjang.
Kapan Sebaiknya Mengambil Jarak?
Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan tingkat kedekatan yang sama.
Jika interaksi dengan seseorang secara konsisten membuat kita merasa takut, tertekan, direndahkan, atau tidak aman, mengambil jarak dapat menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan.
Terutama jika sudah ada pola seperti penghinaan terus-menerus, ancaman, intimidasi, manipulasi berat, kontrol berlebihan, atau kekerasan.
Dalam situasi yang melibatkan kekerasan atau ancaman keselamatan, prioritasnya bukan lagi sekadar mencari cara berkomunikasi yang lebih baik. Keselamatan diri dan dukungan dari pihak yang tepat menjadi jauh lebih penting.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.
Kita dapat berbicara dengan orang yang dipercaya, konselor, psikolog, pihak HR dalam konteks pekerjaan, atau layanan bantuan yang relevan dengan situasi.
Pada Akhirnya, Kita Tidak Harus Menang dalam Setiap Interaksi
Menghadapi orang yang sulit bukan berarti kita harus menemukan kalimat ajaib yang membuat mereka berubah.
Dalam banyak kasus, tujuan yang lebih realistis adalah belajar mengelola respons kita sendiri.
Kita dapat memahami tanpa membenarkan.
Kita dapat berempati tanpa mengorbankan batasan.
Kita dapat mendengarkan tanpa harus menyetujui.
Kita dapat menjelaskan tanpa harus meyakinkan.
Dan kita dapat meninggalkan sebuah percakapan tanpa harus merasa bahwa kita kalah.
Enam hal ini dapat menjadi pengingat:
Pertama, jangan langsung menganggap perilaku sulit sebagai serangan pribadi.
Kedua, pahami seseorang tanpa merasa wajib membenarkan perilakunya.
Ketiga, berikan jeda sebelum merespons ketika emosi sedang tinggi.
Keempat, tetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Kelima, jangan terjebak dalam kebutuhan untuk selalu membuktikan bahwa kita benar.
Keenam, fokuskan energi pada hal-hal yang memang dapat kita kendalikan.
Pada akhirnya, menghadapi orang yang sulit bukan hanya tentang bagaimana kita menghadapi mereka. Ini juga tentang bagaimana kita menjaga diri sendiri agar tidak kehilangan ketenangan, harga diri, dan kendali atas pilihan kita.
Kita mungkin tidak bisa memilih bagaimana orang lain bersikap.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.