JawaPos.com - Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum tentang menulis: kita sering mengira bahwa seorang penulis yang baik harus sejak awal memiliki bakat luar biasa.
Kita membayangkan penulis hebat sebagai orang yang mampu merangkai kalimat indah tanpa kesulitan, memiliki kosakata luas, selalu tahu apa yang ingin dikatakan, dan bisa menghasilkan paragraf yang memukau dalam sekali duduk.
Akibatnya, ketika kita mencoba menulis dan hasilnya terasa biasa saja, kita segera mengambil kesimpulan:
"Mungkin saya memang tidak berbakat menulis."
Padahal, psikologi memberikan gambaran yang jauh lebih menarik.
Kemampuan menulis tidak hanya berkaitan dengan bakat bawaan. Menulis melibatkan sejumlah kemampuan yang dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, perhatian, membaca, refleksi, dan cara seseorang memandang kesalahan.
Dengan kata lain, kemampuan menulis bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap.
Bisa jadi masalahnya bukan karena kamu tidak mampu menjadi penulis yang baik. Bisa jadi kamu hanya belum cukup lama berlatih, terlalu cepat menilai tulisanmu sendiri, atau memiliki standar yang jauh lebih tinggi daripada kemampuanmu saat ini.
Bahkan, beberapa karakteristik yang selama ini kamu anggap sebagai kelemahan justru dapat menjadi modal penting untuk menulis.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (1/10), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa kamu mungkin dapat menjadi penulis yang lebih baik daripada yang selama ini kamu kira.
1. Otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan berubah
Salah satu alasan paling mendasar mengapa kemampuan menulis dapat berkembang adalah karena otak bukan sistem yang sepenuhnya statis.
Manusia memiliki kemampuan yang dikenal sebagai neuroplastisitas, yaitu kemampuan sistem saraf untuk mengalami perubahan sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan.
Ini penting karena menulis sebenarnya merupakan kumpulan keterampilan.
Ketika kamu belajar menulis, kamu tidak sekadar belajar "menulis kalimat". Kamu sedang melatih berbagai kemampuan sekaligus:
memilih kata,
menyusun gagasan,
memahami struktur,
mengenali pola,
membangun argumentasi,
mengingat informasi,
menghubungkan pengalaman,
memahami perspektif pembaca,
dan mengedit sesuatu yang sudah kamu tulis.
Semua kemampuan tersebut dapat berkembang.
Bayangkan seseorang yang baru mulai bermain gitar.
Pada minggu pertama, ia mungkin kesulitan memindahkan jari dari satu akor ke akor lainnya. Jika ia membandingkan dirinya dengan gitaris yang sudah berlatih selama sepuluh tahun, tentu ia akan terlihat buruk.
Namun, tidak masuk akal jika ia menyimpulkan bahwa dirinya "tidak punya bakat gitar" hanya karena permainannya terdengar kacau setelah tiga hari.
Hal yang sama berlaku untuk menulis.
Tulisan pertama seseorang tidak selalu mencerminkan batas kemampuan akhirnya.
Masalahnya, kita sering memperlakukan kemampuan menulis seperti ciri kepribadian yang permanen.
Kita mengatakan:
"Saya memang bukan orang yang pandai menulis."
Padahal kalimat tersebut berbeda secara psikologis dari:
"Kemampuan menulis saya belum berkembang sejauh yang saya inginkan."
Kalimat pertama menutup kemungkinan.
Kalimat kedua membuka ruang untuk belajar.
Perbedaan cara berpikir ini sangat penting.
Jika kamu menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tetap, kegagalan kecil dapat menjadi bukti bahwa kamu memang tidak mampu. Sebaliknya, jika kamu melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan, kegagalan menjadi informasi tentang bagian mana yang perlu diperbaiki.
Jadi, tulisanmu hari ini bukan vonis terhadap kemampuanmu sebagai penulis.
Ia hanya merupakan foto sementara dari keterampilanmu saat ini.
2. Kamu mungkin sudah memiliki bahan tulisan tanpa menyadarinya
Banyak orang berpikir bahwa menjadi penulis berarti harus memiliki banyak hal menarik untuk dikatakan.
Mereka membayangkan bahwa seorang penulis harus menjalani kehidupan yang luar biasa, sering bepergian, mengalami petualangan besar, membaca ratusan buku, atau memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain.
Padahal, bahan tulisan sering kali jauh lebih dekat daripada yang kita kira.
Ia bisa muncul dari pengalaman sehari-hari.
Dari percakapan singkat.
Dari kegagalan.
Dari rasa malu.
Dari pertanyaan yang terus muncul di kepala.
Dari sesuatu yang membuat kita marah.
Dari kebiasaan kecil yang baru kita sadari.
Dari pengalaman ketika kita salah memahami seseorang.
Dalam psikologi, pengalaman manusia tidak hanya disimpan sebagai kumpulan fakta. Kita juga membangun makna dari pengalaman tersebut.
Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama tetapi mengambil pelajaran yang berbeda.
Di situlah tulisan menjadi menarik.
Misalnya, seseorang mungkin pernah gagal dalam wawancara kerja.
Secara faktual, ceritanya sederhana:
"Saya gagal wawancara."
Namun, jika ia merefleksikannya lebih dalam, mungkin ada banyak pertanyaan di balik pengalaman tersebut:
Mengapa saya begitu takut ditolak?
Mengapa saya menganggap satu kegagalan sebagai bukti bahwa saya tidak cukup baik?
Mengapa kita sering mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan wawancara tetapi tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan gagal?
Mengapa saya baru memahami kesalahan saya setelah beberapa hari?
Sekarang pengalaman sederhana tersebut telah berubah menjadi bahan tulisan.
Penulis yang baik tidak selalu memiliki kehidupan yang lebih menarik.
Sering kali, mereka hanya memperhatikan kehidupan dengan lebih saksama.
Jadi, jangan terlalu cepat berkata bahwa kamu tidak punya sesuatu untuk ditulis.
Mungkin kamu bukan kekurangan pengalaman.
Mungkin kamu hanya belum terbiasa mengubah pengalaman menjadi pertanyaan.
3. Rasa penasaran adalah modal besar seorang penulis
Penulis yang baik tidak harus selalu menjadi orang yang paling pintar di ruangan.
Namun, rasa ingin tahu dapat menjadi aset yang sangat berharga.
Orang yang penasaran cenderung bertanya:
"Mengapa?"
"Bagaimana kalau?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apakah selalu seperti itu?"
"Mengapa orang bertindak seperti ini?"
"Mengapa saya sendiri melakukan hal tersebut?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu merupakan bahan bakar tulisan.
Banyak tulisan yang menarik sebenarnya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana.
Misalnya:
Mengapa kita sering menunda sesuatu yang sebenarnya penting bagi kita?
Pertanyaan itu dapat berkembang menjadi tulisan tentang penundaan, emosi, motivasi, ketakutan terhadap kegagalan, atau cara manusia menghindari ketidaknyamanan.
Atau:
Mengapa sebuah komentar negatif dari satu orang bisa lebih kita ingat daripada sepuluh pujian?
Pertanyaan tersebut dapat membawa kita kepada pembahasan tentang perhatian, ingatan, emosi, dan kecenderungan manusia memberikan bobot lebih besar pada informasi negatif dalam situasi tertentu.
Penulis tidak selalu membutuhkan jawaban sebelum mulai menulis.
Terkadang, penulis hanya membutuhkan pertanyaan yang cukup menarik untuk ditelusuri.
Inilah mengapa rasa penasaran sangat berharga.
Jika kamu sering bertanya-tanya tentang perilaku manusia, hubungan, pekerjaan, kehidupan sehari-hari, budaya, atau bahkan dirimu sendiri, sebenarnya kamu sudah memiliki salah satu bahan bakar penting untuk menulis.
Kamu hanya perlu belajar mengubah rasa penasaran menjadi kata-kata.
4. Terlalu banyak berpikir bukan selalu kelemahan
Ada orang yang merasa bahwa dirinya terlalu banyak berpikir.
Mereka memikirkan percakapan yang sudah terjadi.
Menganalisis keputusan yang dibuat.
Membayangkan kemungkinan masa depan.
Bertanya-tanya tentang alasan seseorang melakukan sesuatu.
Memikirkan makna di balik pengalaman sederhana.
Jika dilakukan secara berlebihan, tentu kebiasaan berpikir seperti ini dapat menjadi melelahkan.
Namun, dalam konteks menulis, kemampuan untuk memperhatikan detail dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dapat menjadi bahan yang berguna.
Penulis pada dasarnya melakukan sesuatu yang mirip: ia mengambil pengalaman atau informasi, kemudian mengolahnya menjadi sebuah pemahaman.
Misalnya, orang lain mungkin melihat seseorang terlambat datang ke sebuah pertemuan dan berpikir:
"Dia terlambat."
Seorang penulis mungkin bertanya:
"Mengapa dia terlambat?"
Kemudian:
"Apakah dia memang tidak menghargai waktu orang lain?"
Lalu:
"Atau mungkin ada alasan lain?"
Kemudian:
"Mengapa kita begitu cepat menilai perilaku seseorang hanya berdasarkan informasi yang terbatas?"
Satu peristiwa sederhana dapat menghasilkan berbagai lapisan pertanyaan.
Itulah salah satu kemampuan yang dapat membuat tulisan terasa lebih dalam.
Tentu saja, ada perbedaan antara refleksi dan ruminasi.
Refleksi membantu kita memahami pengalaman.
Ruminasi dapat membuat kita terus berputar pada pikiran yang sama tanpa menghasilkan pemahaman baru.
Seorang penulis dapat belajar mengarahkan kecenderungan berpikir tersebut.
Alih-alih terus bertanya:
"Mengapa saya melakukan kesalahan ini?"
kamu dapat mengubahnya menjadi:
"Apa yang bisa saya pelajari dari kesalahan ini, dan apakah pengalaman ini mungkin dialami orang lain?"
Di titik itu, pengalaman pribadi mulai berubah menjadi bahan tulisan.
5. Kamu tidak perlu langsung menghasilkan tulisan yang bagus
Salah satu hambatan terbesar dalam menulis adalah keinginan agar kalimat pertama langsung sempurna.
Kita mengetik satu kalimat.
Membacanya kembali.
Merasa jelek.
Menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya, satu jam berlalu dan tidak ada satu paragraf pun yang selesai.
Masalahnya bukan selalu kurangnya kemampuan.
Kadang-kadang masalahnya adalah kita mencoba melakukan dua pekerjaan berbeda pada saat yang sama:
menciptakan dan menghakimi.
Menulis draf membutuhkan proses menghasilkan ide.
Mengedit membutuhkan proses mengevaluasi ide.
Keduanya penting, tetapi tidak selalu perlu dilakukan secara bersamaan.
Bayangkan seorang pematung yang setiap kali mengambil sedikit tanah liat langsung mengkritik bentuk akhirnya. Ia akan kesulitan membuat sesuatu yang utuh.
Begitu juga dengan tulisan.
Draf pertama tidak harus sempurna.
Ia bahkan boleh buruk.
Tujuan draf pertama bukan membuat pembaca kagum.
Tujuannya adalah memberi kamu sesuatu yang bisa diperbaiki.
Setelah gagasan muncul, barulah kamu dapat bertanya:
Apakah pembukaannya jelas?
Apakah argumennya masuk akal?
Apakah ada kalimat yang berlebihan?
Apakah contoh yang digunakan relevan?
Apakah pembaca dapat mengikuti alurnya?
Di sinilah kemampuan menulis sering berkembang.
Bukan karena seseorang selalu menghasilkan kalimat sempurna pada percobaan pertama, tetapi karena ia mampu menghasilkan sesuatu lalu memperbaikinya.
Jadi, jangan mengukur kemampuan menulis hanya berdasarkan seberapa bagus draf pertamamu.
Ukurlah juga berdasarkan seberapa baik kamu dapat memperbaiki draf tersebut.
6. Kemampuan membaca dan mengamati dapat menjadi investasi bagi kemampuan menulis
Menulis dan membaca memiliki hubungan yang sangat erat.
Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak contoh yang kamu lihat tentang bagaimana gagasan dapat disampaikan.
Kamu melihat bagaimana sebuah artikel dibuka.
Bagaimana sebuah argumen dibangun.
Bagaimana sebuah cerita membuat pembaca penasaran.
Bagaimana sebuah paragraf berpindah ke paragraf berikutnya.
Bagaimana seorang penulis menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa sederhana.
Secara psikologis, pembelajaran manusia sering terjadi melalui paparan terhadap pola.
Kita menjadi lebih familiar dengan struktur tertentu karena berulang kali melihatnya.
Hal ini tidak berarti membaca otomatis membuat seseorang menjadi penulis hebat.
Namun, membaca secara aktif dapat memberikan semacam "perpustakaan pola" di dalam pikiran.
Misalnya, setelah membaca banyak esai, kamu mungkin mulai mengenali bahwa tulisan argumentatif sering memiliki pola seperti:
masalah → penjelasan → bukti → contoh → implikasi → kesimpulan.
Setelah membaca banyak cerita, kamu mulai memahami bahwa cerita yang menarik sering membutuhkan perubahan, konflik, keinginan, atau pertanyaan yang belum terjawab.
Semakin banyak pola yang kamu lihat, semakin banyak kemungkinan struktur yang dapat kamu gunakan.
Yang penting adalah jangan hanya membaca untuk mengetahui apa yang dikatakan penulis.
Cobalah membaca untuk memperhatikan bagaimana ia mengatakannya.
Ketika sebuah paragraf membuatmu terus membaca, tanyakan:
"Apa yang membuat saya ingin membaca kalimat berikutnya?"
Ketika sebuah tulisan terasa membosankan, tanyakan:
"Di bagian mana perhatian saya mulai hilang?"
Dengan cara ini, membaca berubah dari aktivitas pasif menjadi latihan menulis.
7. Kamu mungkin lebih dekat dengan penulis yang baik daripada yang kamu bayangkan
Alasan terakhir mungkin yang paling penting.
Sering kali kita membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan hasil akhir orang lain.
Kita melihat artikel yang sudah diedit.
Buku yang sudah diterbitkan.
Esai yang sudah berkali-kali direvisi.
Tulisan seseorang yang sudah bertahun-tahun berlatih.
Kemudian kita membandingkannya dengan paragraf pertama yang baru saja kita tulis.
Perbandingan seperti itu hampir pasti membuat kita merasa tidak cukup baik.
Kita tidak melihat puluhan draf yang dibuang.
Kita tidak melihat kalimat yang ditulis ulang.
Kita tidak melihat halaman yang tidak pernah diterbitkan.
Kita tidak melihat bertahun-tahun latihan.
Kita hanya melihat hasil akhirnya.
Padahal, kemampuan menulis biasanya dibangun melalui akumulasi latihan kecil.
Satu paragraf hari ini.
Satu revisi besok.
Satu artikel minggu depan.
Satu buku beberapa tahun kemudian.
Perkembangan seperti itu sering terasa lambat ketika kita menjalaninya dari dalam.
Namun, jika melihat ke belakang setelah waktu yang cukup panjang, perubahan tersebut dapat menjadi sangat jelas.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan:
"Apakah saya sudah menjadi penulis yang hebat?"
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Apakah tulisan saya hari ini sedikit lebih baik daripada tulisan saya beberapa waktu lalu?"
Jika jawabannya iya, berarti ada perkembangan.
Dan perkembangan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan besar.
Menjadi Penulis Bukan Sekadar Soal Bakat
Mungkin kamu memang belum menjadi penulis yang kamu inginkan.
Itu tidak sama dengan mengatakan bahwa kamu tidak dapat menjadi penulis yang kamu inginkan.
Perbedaan tersebut sangat penting.
Kemampuan menulis merupakan perpaduan antara pengetahuan, pengalaman, perhatian, latihan, kemampuan berbahasa, dan kemampuan merevisi.
Sebagian orang mungkin memiliki keuntungan awal tertentu.
Ada yang sejak kecil banyak membaca.
Ada yang tumbuh dalam lingkungan yang mendorong mereka menulis.
Ada yang memiliki kosakata lebih luas.
Ada yang lebih mudah mengorganisasi pikiran.
Tetapi titik awal bukanlah titik akhir.
Jika kamu memiliki rasa ingin tahu, pengalaman untuk direnungkan, kemauan membaca, dan kesediaan untuk terus memperbaiki tulisan, kamu sudah memiliki bahan penting untuk berkembang.
Kamu juga tidak harus menunggu sampai merasa seperti seorang penulis untuk mulai menulis.
Sering kali justru sebaliknya.
Kamu menulis terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan menjadi penulis.
Jangan menunggu tulisanmu sempurna.
Jangan menunggu memiliki ide terbesar.
Jangan menunggu merasa cukup pintar.
Jangan menunggu seseorang memberimu izin untuk menyebut dirimu penulis.
Mulailah dengan sesuatu yang kecil.
Tulis tentang sesuatu yang membuatmu penasaran.
Tulis tentang kesalahan yang pernah kamu buat.
Tulis tentang percakapan yang tidak bisa kamu lupakan.
Tulis tentang sesuatu yang baru kamu pahami.
Tulis pertanyaan yang belum kamu punya jawabannya.
Kemudian baca kembali tulisanmu.
Perbaiki.
Tulis lagi.
Dan lakukan sekali lagi.
Karena mungkin saja, kemampuan menulis yang selama ini kamu kira tidak kamu miliki sebenarnya bukan sesuatu yang hilang.
Ia hanya belum dilatih cukup lama untuk terlihat.