JawaPos.com - Ada kalanya sinyal psikologi muncul saat seseorang mulai benci pekerjaan yang dijalani setiap hari.
Perasaan itu sering diawali rasa lelah kecil yang lama-lama berubah jadi keinginan kuat untuk resign.
Stres kerja yang menumpuk membuat pikiran dipenuhi keraguan tentang arah karier ke depan.
Dilansir dari laman YourTango pada Senin (5/10), berikut sembilan pikiran yang biasa muncul ketika kondisi tersebut benar-benar terjadi.
Baca Juga: Jika Ingin Menangani Gangguan dan Intimidasi di Tempat Kerja, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi
1. Kenapa aku masih di sini
Pada titik tertentu, rasa frustrasi tidak lagi sekadar soal rekan kerja yang sulit atau rapat yang berlarut-larut.
Seseorang mulai duduk di meja kerja sambil bertanya-tanya untuk apa sebenarnya ia masih bertahan di tempat itu.
Gaji yang cukup atau rutinitas yang sudah terasa nyaman kadang membuat seseorang enggan berubah.
Namun ketika pikiran untuk berhenti jauh lebih sering muncul dibanding bayangan masa depan di perusahaan, itu pertanda sesuatu perlu diubah.
2. Aku mengerjakan terlalu banyak hal
Tiba-tiba seseorang menyadari betapa banyak beban kerja yang menumpuk di pundaknya sendiri.
Ia membalas pesan kerja di waktu istirahat, menyelesaikan masalah yang bukan tanggung jawabnya, dan menjadi tempat semua orang meminta bantuan.
Awalnya hal itu dianggap hanya minggu yang sedang sibuk, sampai berbulan-bulan berlalu dan beban itu justru menjadi rutinitas baru.
Saat itulah muncul kesadaran bahwa pekerjaan yang dijalani sudah jauh melampaui kapasitas wajar seseorang.
3. Apakah ini semua sepadan
Perhitungan mental sering muncul begitu seseorang mulai benci pekerjaannya sendiri.
Ia mempertanyakan apakah gaji yang diterima benar-benar sebanding dengan tekanan yang dirasakan setiap hari.
Rasa aman dari status pekerjaan pun dipertanyakan ketika akhir pekan justru dihabiskan dengan kelelahan dan keengganan kembali bekerja.
Ekspektasi bahwa pekerjaan harus selalu menyenangkan memang tidak realistis, tapi keraguan tentang keseimbangan untung rugi itu tetap wajar dirasakan.
4. Aku harus keluar dari sini
Pikiran yang muncul lambat laun berubah menjadi lebih mendesak dari sekadar rasa kesal biasa.
Seseorang mulai membayangkan rasanya menutup laptop untuk terakhir kali dan tidak pernah kembali lagi ke tempat itu.
Berhenti secara mendadak jelas bukan pilihan realistis karena tagihan dan tanggung jawab lain tetap harus dipenuhi.
Karena itu ia mulai memperbarui resume dan menjajaki lowongan lain sebagai bentuk keseriusan memikirkan kebutuhannya sendiri.
Baca Juga: 6 Cara Mempercayai Insting Tanpa Terjebak Berpikir Berlebihan Menurut Psikologi
5. Apakah aku masih di sini lima tahun lagi
Sulit untuk tidak membayangkan bagaimana hidup seseorang jika tetap bertahan di pekerjaan yang dibencinya.
Meja yang sama, rapat yang sama, dan rutinitas yang sama akan tetap terulang lima tahun mendatang.
Stabilitas memang terdengar menenangkan, tetapi kenyamanan itu terasa jauh berkurang dibanding bayangan sebelumnya.
Ketika tidak ada lagi ruang untuk berkembang atau hal baru yang dipelajari, bertahan karena rasa familiar jelas berbeda dengan bertahan karena keinginan tulus.
6. Tidak ada yang menghargaiku di sini
Motivasi kerja mudah runtuh ketika hasil kerja seseorang terus-menerus diabaikan oleh lingkungan sekitarnya.
Meski sudah mengambil tanggung jawab tambahan dan selalu menyelesaikan tugas tepat waktu, rasanya tetap tak ada yang benar-benar memperhatikan kontribusinya.
Perlahan muncul keraguan apakah usaha yang dikeluarkan memang cukup, sebab tidak ada yang akan menyadari jika usaha itu dihentikan.
Kurangnya pengakuan membuat pekerjaan sebaik apa pun terasa menguras energi ketika usaha nyata tidak dibalas rasa hormat atau umpan balik yang layak.
7. Dulu aku peduli pada pekerjaan ini
Pernah ada masa ketika seseorang benar-benar ingin melakukan pekerjaannya dengan baik dan penuh semangat.
Ia peduli pada hasil kerjanya, bangga dengan pencapaiannya, bahkan menantikan bagian-bagian tertentu dari harinya.
Kini ia hanya menatap layar sambil mencoba mengingat kapan tepatnya semangat itu mulai memudar.
Masalahnya bukan karena menjadi malas, melainkan tekanan terus-menerus dan tumpukan tugas yang perlahan menghapus antusiasme yang dulu dimiliki.
8. Mungkin aku harus mencari pekerjaan lain
Rasa tidak nyaman yang terus dirasakan membuat seseorang secara alami mulai memikirkan peluang lain di luar sana.
Ia memang belum siap berhenti dalam waktu dekat, tetapi mulai membayangkan dirinya berada di tempat berbeda.
Rasa penasaran kecil semacam itu sebenarnya cukup menjelaskan banyak hal tentang kondisi yang sedang dihadapi.
Jika bayangan tentang pekerjaan lain terus muncul, terutama yang menawarkan gaji lebih baik atau fleksibilitas lebih tinggi, itu tandanya perlu dipikirkan dengan serius.
Baca Juga: 7 Alasan Scrolling Tanpa Tujuan Tidak Efektif Mengusir Bosan Menurut Psikologi
9. Aku benar-benar tidak bahagia
Ketika rasa jengkel sudah berubah menjadi ketidakbahagiaan yang konsisten, seseorang bangun dengan perasaan enggan menjalani hari kerja.
Keluhan pun terus berlanjut bahkan lama setelah waktu kerja resmi berakhir.
Bagian pekerjaan yang dulu terasa bisa ditangani kini terasa benar-benar melelahkan tanpa henti.
Kesadaran itu sulit diabaikan karena pekerjaan menempati porsi besar dalam kehidupan seseorang, dan ketidakbahagiaan yang terus berulang bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.