← Beranda
7 Perilaku Umum yang Dianggap Memberikan Rasa Positif yang Berlebihan di Tempat Kerja
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 6 Oktober 2026 | 16.41 WIB
seseorang yang memberikan energi positif di tempat kerja./Magnific/magnific

JawaPos.com - Di tempat kerja, sikap positif sering dianggap sebagai kualitas yang sangat berharga. Karyawan yang ramah, optimistis, mudah tersenyum, senang membantu, dan mampu menjaga suasana tetap menyenangkan biasanya dipandang sebagai sosok yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama.

Tidak ada yang salah dengan menjadi pribadi yang positif. Bahkan, suasana kerja yang sehat memang membutuhkan optimisme, empati, penghargaan, dan kemampuan melihat peluang di tengah kesulitan.

Namun, psikologi juga mengenal sisi lain dari sikap positif: positivitas yang berlebihan.

Ketika seseorang terlalu sering berusaha terlihat positif, menekan emosi negatif, menghindari konflik, atau terus-menerus meyakinkan orang lain bahwa semuanya baik-baik saja, sikap tersebut justru dapat menjadi tidak sehat. Dalam konteks tertentu, perilaku semacam ini dapat membuat seseorang terlihat seperti memberikan “rasa positif” yang terlalu kuat kepada lingkungan kerja.

Masalahnya bukan pada senyum, keramahan, atau optimisme itu sendiri. Masalah muncul ketika sikap positif digunakan untuk menutupi masalah, menghindari kenyataan, mencari penerimaan, atau membuat orang lain merasa harus ikut positif.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), terdapat tujuh perilaku yang cukup umum dan dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang memberikan rasa positif secara berlebihan di tempat kerja.

1. Selalu Mengatakan “Tidak Apa-Apa” Meskipun Jelas Ada Masalah

Salah satu bentuk positivitas berlebihan yang paling mudah ditemukan adalah kebiasaan mengatakan:

“Nggak apa-apa.”

Kalimat ini sebenarnya sangat normal. Dalam situasi tertentu, kemampuan untuk tidak memperbesar masalah merupakan bentuk kedewasaan emosional.

Namun, jika seseorang selalu mengatakan tidak apa-apa bahkan ketika dirinya sedang kecewa, kelelahan, marah, atau dirugikan, situasinya menjadi berbeda.

Misalnya, seorang rekan kerja mendapatkan tugas tambahan secara mendadak. Ia sebenarnya sudah kewalahan, tetapi ketika ditanya apakah sanggup, ia langsung menjawab, “Santai, nggak masalah.”

Beberapa hari kemudian ia mulai kelelahan, melakukan kesalahan, dan merasa tidak dihargai.

Dalam psikologi, ada perbedaan antara regulasi emosi dan penekanan emosi. Regulasi emosi berarti seseorang mampu mengenali perasaannya lalu memilih cara yang sehat untuk meresponsnya. Sebaliknya, penekanan emosi terjadi ketika seseorang berusaha menyembunyikan atau menolak pengalaman emosional yang sebenarnya sedang terjadi.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan menutupi ketidaknyamanan dapat membuat kebutuhan pribadi tidak pernah dikomunikasikan.

Di tempat kerja, dampaknya bisa cukup besar. Rekan kerja mungkin mengira orang tersebut memang baik-baik saja sehingga terus memberikan pekerjaan tambahan. Atasan juga bisa menganggap beban kerja yang diberikan masih berada dalam batas wajar.

Akibatnya, sikap yang awalnya terlihat positif justru dapat menciptakan masalah baru.

Positif yang sehat bukan berarti selalu mengatakan “tidak apa-apa”.

Kadang-kadang respons yang lebih sehat justru:

“Saya bisa mengerjakannya, tetapi deadline-nya perlu disesuaikan karena pekerjaan saya saat ini cukup penuh.”

Kalimat seperti itu tetap profesional, tetapi tidak menyangkal kondisi yang sebenarnya.

2. Terlalu Cepat Mengubah Masalah Menjadi “Pelajaran Positif”

Ada orang yang hampir selalu memiliki jawaban positif terhadap masalah.

Ketika proyek gagal, mereka berkata:

“Setidaknya kita belajar sesuatu.”

Ketika mendapat kritik:

“Ini kesempatan untuk berkembang.”

Ketika mengalami konflik:

“Mungkin ini memang cara hidup mengajarkan kita menjadi lebih kuat.”

Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah. Bahkan, kemampuan menemukan pelajaran dari pengalaman buruk merupakan salah satu bentuk reframing, yaitu melihat sebuah peristiwa dari perspektif yang lebih konstruktif.

Masalah muncul ketika reframing dilakukan terlalu cepat.

Bayangkan seorang karyawan baru saja kehilangan kesempatan promosi setelah bekerja keras selama berbulan-bulan. Sebelum ia sempat mengungkapkan kekecewaan, seorang rekan langsung berkata:

“Jangan sedih. Berarti ada kesempatan yang lebih baik nanti.”

Niatnya mungkin baik. Namun, orang yang sedang kecewa belum tentu membutuhkan solusi atau optimisme. Bisa jadi ia hanya membutuhkan pengakuan bahwa situasinya memang menyakitkan.

Dalam psikologi populer, kecenderungan untuk memaksakan optimisme pada situasi negatif sering dikaitkan dengan konsep toxic positivity.

Toxic positivity bukan sekadar “terlalu bahagia”. Konsep ini lebih berkaitan dengan kecenderungan menolak, mengecilkan, atau mengabaikan emosi negatif dengan terus memaksakan perspektif positif.

Di lingkungan kerja, perilaku ini bisa membuat orang merasa tidak didengarkan.

Tidak semua masalah harus segera memiliki sisi positif.

Terkadang seseorang hanya perlu mendengar:

“Wajar kalau kamu kecewa. Kamu sudah bekerja keras untuk itu.”

Baru setelah emosi tersebut diakui, pembicaraan mengenai solusi dapat dilakukan.

Dengan kata lain, optimisme yang sehat tidak menghapus kenyataan negatif. Ia mengakui kenyataan tersebut sebelum mencari jalan keluar.

3. Terlalu Sering Menjadi Orang yang “Paling Ceria” di Ruangan

Menjadi orang yang ceria tentu bukan masalah.

Ada individu yang memang memiliki kepribadian hangat, ekspresif, dan mudah membangun suasana. Kehadiran mereka bahkan dapat membantu mengurangi ketegangan dalam tim.

Tetapi ketika seseorang merasa harus selalu menjadi sumber energi positif bagi semua orang, perilakunya dapat menjadi berlebihan.

Contohnya adalah orang yang selalu bercanda dalam setiap situasi, terus-menerus mencoba mencairkan suasana, atau merasa tidak nyaman ketika ruangan sedang hening dan serius.

Dalam rapat yang membahas masalah serius, misalnya, seseorang mungkin terus melontarkan lelucon agar suasana tidak terasa tegang.

Sekilas, ini terlihat menyenangkan.

Namun, jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat, perilaku tersebut justru dapat membuat orang lain merasa bahwa masalah yang sedang dibahas tidak dianggap serius.

Ada pula kemungkinan bahwa keceriaan yang terus-menerus merupakan bentuk emotional masking, yaitu menggunakan ekspresi tertentu untuk menutupi kondisi emosional yang sebenarnya.

Seseorang mungkin terlihat sangat ceria bukan karena ia benar-benar merasa baik, tetapi karena ia merasa harus tampil baik.

Perbedaannya memang tidak selalu mudah terlihat.

Kuncinya bukan pada seberapa sering seseorang tersenyum, melainkan pada fleksibilitas emosinya.

Orang yang sehat secara emosional biasanya mampu menunjukkan berbagai emosi secara proporsional. Ia bisa tertawa ketika suasana menyenangkan, tetapi juga bisa serius ketika situasi membutuhkan keseriusan.

Sementara itu, positivitas yang berlebihan cenderung membuat seseorang merasa harus selalu tampil ceria, bahkan ketika situasinya tidak mendukung.

4. Selalu Menjadi Orang yang Bersedia Membantu, Bahkan Ketika Sudah Kewalahan

“Bilang saja kalau butuh bantuan.”

Kalimat ini terdengar sangat positif.

Di tempat kerja, orang yang suka membantu bahkan sering menjadi anggota tim yang paling dihargai. Namun, ada titik ketika kebiasaan membantu berubah menjadi perilaku yang tidak sehat.

Misalnya, seseorang selalu menerima pekerjaan rekan kerja.

Diminta mengecek dokumen? Bersedia.

Diminta menggantikan shift? Bersedia.

Diminta membantu proyek lain? Bersedia.

Diminta menyelesaikan tugas yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya? Masih bersedia.

Masalahnya, ia hampir tidak pernah mengatakan “tidak”.

Perilaku ini dapat berkaitan dengan people-pleasing, yaitu kecenderungan kuat untuk mendapatkan penerimaan atau menghindari ketidaksetujuan dengan memenuhi kebutuhan orang lain secara berlebihan.

Tidak semua orang yang suka membantu adalah people-pleaser. Perbedaannya terletak pada kemampuan menetapkan batas.

Orang yang sehat dapat membantu tanpa kehilangan kendali atas waktu, energi, dan tanggung jawabnya sendiri.

Sebaliknya, orang yang terlalu membutuhkan penerimaan mungkin merasa bersalah ketika mengatakan tidak.

Ia bisa berpikir:

“Kalau saya menolak, nanti mereka menganggap saya tidak baik.”

Akibatnya, ia terus memberikan energi kepada orang lain meskipun dirinya sendiri mulai kelelahan.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat menghasilkan burnout, frustrasi, dan resentment atau rasa kesal yang menumpuk.

Ironisnya, orang tersebut mungkin terlihat sangat positif dari luar.

Ia ramah, suka membantu, jarang mengeluh, dan selalu mengatakan siap.

Namun, di baliknya bisa terdapat kelelahan yang tidak pernah dikomunikasikan.

Sikap positif yang sehat membutuhkan batas.

Membantu orang lain adalah pilihan. Bukan kewajiban untuk selalu tersedia.

5. Menghindari Konflik dengan Selalu Mencari “Jalan Damai”

Konflik sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif.

Karena itu, ada orang yang merasa bahwa tim yang baik adalah tim yang selalu rukun, tidak pernah berdebat, dan selalu sepakat.

Padahal, dalam organisasi, konflik tidak selalu buruk.

Perbedaan pendapat dapat membantu tim menemukan kesalahan, mempertimbangkan perspektif berbeda, dan mengambil keputusan yang lebih matang.

Masalah terjadi ketika seseorang terlalu terobsesi dengan suasana damai sehingga menghindari pembicaraan yang sebenarnya penting.

Misalnya, seorang anggota tim mengetahui bahwa strategi proyek yang sedang dijalankan tidak efektif. Namun, ia tidak berani menyampaikan pendapat karena takut membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Ketika ditanya apakah ia setuju, ia menjawab:

“Ya, menurut saya sudah bagus.”

Padahal sebenarnya tidak.

Dalam jangka pendek, suasana memang terasa harmonis.

Namun, dalam jangka panjang, masalah yang tidak dibicarakan dapat menjadi semakin besar.

Orang yang terlalu menghindari konflik juga dapat menjadi pasif-agresif. Mereka mungkin mengatakan setuju secara langsung, tetapi menunjukkan ketidaksetujuan melalui perilaku tidak langsung.

Di sini terlihat bahwa kedamaian tidak selalu sama dengan kesehatan psikologis.

Tim yang sehat bukanlah tim yang tidak pernah berbeda pendapat.

Tim yang sehat adalah tim yang mampu berbeda pendapat tanpa saling merendahkan.

Karena itu, seseorang tidak perlu selalu menjaga suasana tetap “enak”.

Kadang-kadang, percakapan yang sedikit tidak nyaman justru dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang lebih besar.

6. Terlalu Sering Memberikan Pujian dan Validasi kepada Semua Orang

Memberikan apresiasi adalah salah satu kebiasaan yang sangat baik di tempat kerja.

Mengucapkan “terima kasih”, memberikan penghargaan atas usaha seseorang, atau mengakui kontribusi rekan kerja dapat memperkuat hubungan profesional.

Tetapi pujian juga dapat menjadi berlebihan.

Contohnya, seseorang hampir selalu mengatakan:

“Keren banget!”

“Luar biasa!”

“Ide kamu selalu bagus!”

“Aku setuju banget!”

Bahkan ketika hasil pekerjaan sebenarnya masih membutuhkan banyak perbaikan.

Jika dilakukan terus-menerus, pujian dapat kehilangan maknanya.

Dalam psikologi sosial dan perilaku organisasi, apresiasi yang efektif biasanya terasa lebih bermakna ketika spesifik, relevan, dan sesuai kenyataan.

Pujian yang terlalu umum atau diberikan tanpa mempertimbangkan kualitas pekerjaan dapat terdengar tidak tulus.

Lebih buruk lagi, seseorang mungkin menggunakan pujian sebagai cara untuk mendapatkan penerimaan sosial.

Misalnya:

“Kalau saya selalu mendukung mereka, mereka pasti menyukai saya.”

Ini membuat pujian bukan lagi sekadar apresiasi, tetapi menjadi alat untuk mengelola hubungan sosial.

Ada pula risiko bahwa budaya “semua harus dipuji” membuat orang sulit menerima kritik.

Padahal, umpan balik yang sehat membutuhkan keseimbangan antara apresiasi dan koreksi.

Daripada mengatakan:

“Bagus banget, tidak ada yang perlu diperbaiki.”

Lebih konstruktif jika mengatakan:

“Strukturnya sudah bagus. Bagian analisis datanya masih bisa diperjelas supaya argumennya lebih kuat.”

Ini tetap positif, tetapi tidak mengorbankan kejujuran.

7. Merasa Harus Menunjukkan Bahwa Dirinya Selalu Baik-Baik Saja

Ini mungkin bentuk positivitas berlebihan yang paling sulit dikenali.

Seseorang mungkin datang ke kantor dengan senyum, bercanda dengan rekan kerja, menyelesaikan tugas, dan selalu menjawab:

“Aku baik-baik saja.”

Dari luar, ia terlihat sangat stabil.

Namun, menjadi orang yang selalu terlihat baik-baik saja dapat menjadi beban tersendiri jika seseorang merasa tidak diperbolehkan menunjukkan kelemahan.

Budaya kerja tertentu secara tidak langsung dapat memperkuat perilaku ini.

Karyawan mungkin merasa bahwa menunjukkan kelelahan berarti tidak profesional.

Mengatakan sedang kewalahan dianggap sebagai tanda tidak kompeten.

Mengakui kesalahan dianggap dapat merusak reputasi.

Akhirnya, orang belajar menyembunyikan kesulitan mereka.

Padahal, kerentanan yang proporsional tidak selalu merupakan kelemahan.

Mengatakan:

“Saya sedang cukup kewalahan minggu ini.”

atau

“Saya membuat kesalahan di bagian ini dan saya perlu bantuan untuk memperbaikinya.”

justru dapat menjadi bentuk komunikasi profesional yang sehat.

Yang penting adalah bagaimana seseorang menyampaikan kondisi tersebut dan apa yang dilakukan setelahnya.

Profesionalisme tidak berarti tidak pernah lelah, kecewa, takut, atau melakukan kesalahan.

Profesionalisme lebih berkaitan dengan kemampuan mengelola kondisi tersebut secara bertanggung jawab.

Mengapa Orang Bisa Menjadi Terlalu Positif di Tempat Kerja?

Ada banyak alasan psikologis yang mungkin mendasarinya.

Pertama, seseorang mungkin tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa emosi negatif adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Kedua, ia mungkin sangat membutuhkan penerimaan sosial dan takut dianggap sulit oleh orang lain.

Ketiga, lingkungan kerja mungkin memang memberikan penghargaan lebih besar kepada orang yang selalu terlihat antusias dan “easy going”.

Keempat, seseorang bisa saja memiliki keyakinan bahwa menjadi produktif berarti harus selalu kuat.

Kelima, perilaku tersebut dapat menjadi strategi untuk menghindari konflik.

Dalam beberapa kasus, seseorang memang benar-benar memiliki pola pikir optimistis. Jadi, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa orang yang ceria sedang “berpura-pura”.

Yang perlu diperhatikan adalah fleksibilitas dan dampaknya.

Apakah seseorang masih mampu mengatakan tidak?

Apakah ia bisa mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan?

Apakah ia mampu menerima kritik?

Apakah ia dapat menunjukkan ketidaksetujuan secara sehat?

Apakah ia dapat membicarakan masalah tanpa langsung mengubahnya menjadi sesuatu yang positif?

Jika jawabannya selalu tidak, mungkin yang terjadi bukan sekadar optimisme.

Positif yang Sehat vs Positif yang Berlebihan

Perbedaan antara keduanya sebenarnya cukup sederhana.

Positif yang sehat:

Mengakui masalah sebelum mencari solusi.
Mampu mengatakan “tidak”.
Bisa menerima kritik.
Tidak takut menunjukkan emosi yang wajar.
Memberikan apresiasi secara tulus.
Mampu berbeda pendapat.
Optimistis tetapi tetap realistis.
Mengetahui kapan harus serius.
Memahami bahwa tidak semua situasi memiliki sisi positif.

Positif yang berlebihan:

Selalu mengatakan semuanya baik-baik saja.
Sulit menolak permintaan orang lain.
Menghindari konflik dengan segala cara.
Memaksakan optimisme ketika orang lain sedang kecewa.
Merasa harus selalu terlihat bahagia.
Memberikan pujian meskipun tidak sesuai kenyataan.
Menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.
Menyembunyikan kelelahan agar terlihat kuat.
Mengutamakan kenyamanan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri.

Perbedaannya bukan terletak pada apakah seseorang “positif” atau “negatif”.

Perbedaannya terletak pada kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel terhadap realitas.

Pada Akhirnya, Tempat Kerja Tidak Harus Selalu Terasa Positif

Salah satu kesalahpahaman tentang kesehatan mental di tempat kerja adalah anggapan bahwa lingkungan kerja yang sehat harus selalu terasa menyenangkan.

Padahal, pekerjaan tetap memiliki deadline, tekanan, konflik kepentingan, kegagalan, evaluasi, dan ketidakpastian.

Lingkungan kerja yang sehat bukan lingkungan yang menghilangkan semua emosi negatif.

Sebaliknya, lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang memungkinkan orang mengalami emosi tersebut tanpa harus merasa malu atau takut.

Karyawan boleh kecewa.

Karyawan boleh mengatakan tidak.

Karyawan boleh tidak setuju.

Karyawan boleh mengakui bahwa mereka sedang kewalahan.

Karyawan juga boleh mengatakan bahwa sebuah keputusan tidak mereka sukai.

Semua itu dapat dilakukan sambil tetap bersikap profesional.

Karena pada akhirnya, positivitas yang matang bukanlah kemampuan untuk selalu merasa baik.

Positivitas yang matang adalah kemampuan untuk melihat kenyataan secara utuh—termasuk bagian yang tidak menyenangkan—kemudian memilih respons yang konstruktif.

Jadi, jika Anda menemukan seseorang di tempat kerja yang selalu tersenyum, selalu membantu, selalu mengatakan “tidak apa-apa”, dan selalu mencoba membuat semua orang merasa nyaman, jangan buru-buru menganggapnya sebagai orang yang paling kuat atau paling bahagia.

Bisa jadi memang begitu.

Namun, bisa juga ia sedang membawa beban yang tidak pernah diberi kesempatan untuk terlihat.

Dan terkadang, bentuk dukungan terbaik bukanlah mengatakan:

“Ayo tetap positif.”

Melainkan:

“Kalau memang sedang tidak baik-baik saja, kamu juga tidak harus berpura-pura baik-baik saja di sini.”

EDITOR: Hanny Suwindari