JawaPos.com - Perpisahan tidak selalu menyakitkan karena kita kehilangan seseorang.
Kadang, yang paling menyakitkan adalah kehilangan masa depan yang pernah kita bayangkan bersamanya.
Kita kehilangan rutinitas. Kehilangan tempat bercerita. Kehilangan seseorang yang dulu menjadi bagian dari hampir setiap keputusan kecil dalam hidup kita. Bahkan ketika hubungan itu sudah berakhir, pikiran kita masih terbiasa mencari keberadaannya.
Itulah sebabnya seseorang bisa terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi diam-diam masih berjuang keras di dalam dirinya.
Pagi hari mungkin terasa biasa.
Kita bekerja. Makan. Bertemu orang lain. Tertawa. Membalas pesan. Menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Namun ketika malam tiba dan suasana menjadi sunyi, ingatan tentang orang itu bisa datang kembali.
Satu lagu.
Satu tempat.
Satu foto.
Satu percakapan lama.
Dan tiba-tiba hati kembali bertanya:
"Mengapa semuanya harus berakhir?"
"Apakah aku kurang baik?"
"Mengapa dia bisa terlihat bahagia sementara aku masih terluka?"
"Apakah aku akan menemukan seseorang seperti dia lagi?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat manusiawi.
Tetapi jika terus dipelihara, kita bisa terjebak dalam lingkaran penyesalan, nostalgia, menyalahkan diri sendiri, dan berharap sesuatu yang sudah berakhir kembali seperti semula.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), menurut psikologi, bangkit dari perpisahan bukan berarti memaksa diri untuk melupakan seseorang secepat mungkin.
Bangkit berarti belajar menerima kenyataan, mengatur kembali kehidupan, dan perlahan mengembalikan pusat kehidupan kita kepada diri sendiri.
Dan ada satu kalimat sederhana yang bisa menjadi pengingat ketika pikiran mulai kembali kepada masa lalu.
Tujuh kata itu adalah:
"Aku memilih diriku sendiri, mulai hari ini."
Tujuh kata.
Sederhana.
Tetapi jika benar-benar dipahami, kalimat ini dapat mengubah cara kita melihat sebuah perpisahan.
1. "Aku..."
Semuanya dimulai dari satu kata:
Aku.
Bukan dia.
Bukan hubungan itu.
Bukan masa lalu.
Bukan orang yang meninggalkanmu.
Tetapi aku.
Ketika seseorang mengalami perpisahan, perhatian mentalnya sering kali terlalu lama tertuju kepada orang lain.
"Apa yang dia lakukan sekarang?"
"Apakah dia masih mengingatku?"
"Apakah dia sudah punya orang baru?"
"Mengapa dia tidak memperjuangkanku?"
"Apakah dia akan kembali?"
Tanpa disadari, kehidupan emosional kita masih berpusat pada orang yang sudah tidak lagi bersama kita.
Padahal salah satu bagian penting dari proses pemulihan adalah mengembalikan perhatian kepada diri sendiri.
Bukan dengan menjadi egois.
Tetapi dengan menyadari bahwa setelah sebuah hubungan berakhir, ada satu orang yang tetap harus kamu bawa sampai akhir perjalanan hidupmu:
dirimu sendiri.
Orang lain bisa datang dan pergi.
Hubungan bisa dimulai dan berakhir.
Tetapi kamu tetap harus hidup bersama dirimu sendiri.
Karena itu, kalimat "Aku memilih diriku sendiri" sebenarnya dimulai dengan sebuah keputusan:
"Aku tidak akan membiarkan seluruh hidupku berhenti hanya karena satu hubungan telah berakhir."
2. "Memilih..."
Memilih berarti menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa kita kendalikan.
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita.
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk kembali.
Kita tidak bisa mengubah keputusan orang lain.
Kita juga tidak bisa menghapus masa lalu.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita merespons semuanya.
Inilah salah satu pergeseran psikologis yang penting setelah perpisahan.
Daripada terus bertanya:
"Mengapa dia melakukan ini kepadaku?"
Cobalah bertanya:
"Apa yang bisa aku lakukan untuk diriku sendiri sekarang?"
Pertanyaan pertama membuat kita terpaku pada sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Pertanyaan kedua mengembalikan sedikit rasa kendali kepada diri sendiri.
Dan rasa memiliki kendali itu penting.
Karena setelah perpisahan, seseorang sering merasa hidupnya seperti kehilangan arah.
Rutinitas berubah.
Rencana berubah.
Identitas sebagai pasangan berubah.
Masa depan yang sebelumnya terlihat jelas tiba-tiba menjadi kabur.
Maka, memilih diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa perpisahan tidak menyakitkan.
Justru sebaliknya.
Kita mengakui bahwa itu menyakitkan.
Tetapi kita juga berkata:
"Aku tetap akan menjalani hidupku."
3. "Diriku..."
Ada perbedaan besar antara mencintai seseorang dan kehilangan diri sendiri demi mencintai seseorang.
Dalam hubungan, kita memang belajar berbagi.
Kita menyesuaikan diri.
Kita membuat kompromi.
Kita mempertimbangkan kebutuhan pasangan.
Itu semua bisa menjadi bagian sehat dari hubungan.
Namun terkadang, tanpa sadar, identitas kita mulai terlalu melekat pada hubungan tersebut.
Kita mulai berpikir:
"Aku adalah pasangannya."
"Aku adalah orang yang selalu bersamanya."
"Aku tidak tahu hidupku akan seperti apa tanpa dia."
Ketika hubungan berakhir, bukan hanya pasangan yang hilang.
Kita merasa seperti kehilangan sebagian identitas diri.
Karena itu, proses pemulihan juga merupakan proses mengenali kembali siapa dirimu di luar hubungan tersebut.
Apa yang dulu kamu sukai?
Apa yang dulu ingin kamu lakukan?
Siapa teman-teman yang sempat kamu jauhkan?
Apa impian yang pernah kamu tunda?
Apa bagian dari dirimu yang selama ini terlalu lama kamu abaikan?
Mungkin sekarang adalah waktunya untuk menemukannya kembali.
Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada mantan.
Bukan agar dia menyesal.
Tetapi karena hidupmu memang lebih luas daripada satu hubungan.
4. "Sendiri..."
Sendiri bukan berarti tidak dicintai.
Sendiri juga bukan berarti gagal.
Dan sendiri tidak selalu berarti kesepian.
Ada perbedaan antara sendiri dan merasa sendirian.
Seseorang bisa berada di tengah banyak orang tetapi merasa sangat kesepian.
Sebaliknya, seseorang bisa sendirian di sebuah kamar dan justru merasa damai.
Setelah perpisahan, kita sering takut dengan kesendirian karena kesunyian membuat pikiran kembali kepada masa lalu.
Kita ingin segera mencari seseorang yang baru.
Kita ingin segera mendapatkan perhatian.
Kita ingin segera merasakan kembali sensasi dicintai.
Hal itu sangat manusiawi.
Namun jika kita terlalu cepat menggunakan hubungan baru hanya untuk menutup luka lama, ada kemungkinan kita tidak benar-benar menyembuhkan apa yang sedang kita rasakan.
Karena itu, belajarlah berteman dengan dirimu sendiri.
Makan sendirian.
Berjalan sendirian.
Menonton film sendirian.
Pergi ke tempat yang kamu sukai.
Mengerjakan sesuatu yang membuatmu berkembang.
Awalnya mungkin terasa aneh.
Tetapi perlahan kamu akan menyadari:
"Ternyata aku tetap bisa menikmati hidup tanpa harus selalu memiliki seseorang di sampingku."
Dan dari sanalah kemandirian emosional mulai tumbuh.
5. "Mulai..."
Perhatikan kata berikutnya:
mulai.
Bukan "menunggu".
Bukan "nanti".
Bukan "kalau dia kembali".
Tetapi mulai.
Karena salah satu jebakan terbesar setelah perpisahan adalah menunda kehidupan.
"Nanti saja aku bahagia kalau sudah benar-benar melupakannya."
"Nanti saja aku pergi setelah hatiku sembuh."
"Nanti saja aku mengejar impianku setelah semuanya membaik."
Padahal sering kali kita justru sembuh karena mulai menjalani kehidupan kembali, bukan karena menunggu luka hilang terlebih dahulu.
Mulailah dari hal kecil.
Bangun lebih teratur.
Rapikan kamar.
Berolahraga.
Bertemu teman.
Belajar sesuatu.
Mengerjakan pekerjaan dengan lebih serius.
Membaca buku.
Pergi ke tempat baru.
Mengurangi kebiasaan memeriksa media sosial mantan.
Tidak semua perubahan harus besar.
Kadang pemulihan dimulai dari keputusan kecil:
"Hari ini aku tidak akan membuka kembali percakapan lama."
"Hari ini aku akan berjalan selama tiga puluh menit."
"Hari ini aku akan menyelesaikan pekerjaan yang selama ini tertunda."
Kecil.
Tetapi dilakukan berulang.
Dan perlahan, hidup mulai bergerak lagi.
6. "Diriku sendiri..."
Kalimat ini perlu diulang karena sangat penting:
Diriku sendiri.
Bukan karena kamu tidak membutuhkan orang lain.
Manusia tetap membutuhkan hubungan, persahabatan, keluarga, kasih sayang, dan koneksi sosial.
Tetapi ada perbedaan antara membutuhkan hubungan dan menggantungkan seluruh nilai diri pada hubungan.
Jika kita percaya bahwa nilai diri hanya berasal dari dicintai seseorang, maka ketika hubungan berakhir kita merasa nilai diri kita ikut hilang.
Padahal tidak demikian.
Putus cinta tidak otomatis berarti kamu tidak berharga.
Ditolak tidak otomatis berarti kamu tidak layak dicintai.
Ditinggalkan tidak otomatis berarti kamu tidak cukup baik.
Terkadang dua orang memang tidak lagi cocok.
Terkadang timing tidak tepat.
Terkadang kebutuhan emosional berbeda.
Terkadang sebuah hubungan memang memiliki akhir.
Semua itu tidak harus menjadi vonis terhadap harga dirimu.
Kamu tetap memiliki nilai bahkan ketika seseorang tidak lagi memilihmu.
Dan mungkin salah satu bentuk kedewasaan emosional terbesar adalah memahami hal tersebut.
7. "Mulai hari ini."
Dua kata terakhir mengubah semuanya:
mulai hari ini.
Bukan besok.
Bukan ketika kamu sudah sepenuhnya sembuh.
Bukan ketika mantanmu menyadari kesalahannya.
Bukan ketika dia menghubungimu lagi.
Hari ini.
Karena masa depan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil sekarang.
Kamu tidak perlu bangun besok pagi dan langsung tidak mencintainya lagi.
Tidak perlu.
Kamu tidak harus menghapus semua kenangan.
Tidak perlu.
Kamu juga tidak perlu berpura-pura bahwa hubungan itu tidak pernah berarti.
Biarkan ia pernah berarti.
Biarkan ada kenangan baik.
Biarkan ada kesedihan.
Biarkan ada hari ketika kamu merasa kuat.
Dan biarkan ada hari ketika kamu kembali menangis.
Pemulihan tidak selalu berjalan lurus.
Ada hari ketika kamu merasa sudah baik-baik saja.
Lalu tiba-tiba satu kenangan membuatmu kembali sedih.
Itu bukan berarti kamu gagal.
Itu hanya berarti kamu manusia.
Yang penting adalah jangan menjadikan satu hari yang buruk sebagai alasan untuk kembali tinggal di masa lalu.
Katakan kepada dirimu:
"Aku memilih diriku sendiri, mulai hari ini."
Mengapa Kalimat Ini Bisa Begitu Kuat?
Karena kalimat tersebut mengandung tiga perubahan penting dalam cara berpikir.
Pertama, mengalihkan fokus dari orang lain kepada diri sendiri.
Kedua, mengembalikan rasa memiliki kendali atas hidup.
Ketiga, mendorong tindakan nyata daripada hanya menunggu perasaan berubah.
Dalam psikologi, perubahan yang sehat sering kali tidak dimulai dari pertanyaan:
"Bagaimana caranya agar aku tidak sedih lagi?"
Tetapi:
"Bagaimana aku bisa tetap menjalani hidup meskipun saat ini aku sedang sedih?"
Itu perbedaan yang sangat besar.
Karena kamu tidak harus menunggu rasa sakit hilang untuk mulai hidup kembali.
Kamu bisa membawa rasa sakit itu sambil tetap berjalan.
Dan semakin kamu membangun kembali kehidupanmu, semakin kecil kemungkinan seluruh identitasmu tetap terikat pada hubungan yang sudah berakhir.
Jangan Memaksa Diri untuk "Melupakan"
Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi setelah putus cinta.
Kita berpikir bahwa sembuh berarti lupa.
Padahal kamu tidak harus lupa.
Kenangan mungkin tetap ada.
Nama itu mungkin tetap pernah menjadi bagian dari hidupmu.
Tempat tertentu mungkin masih mengingatkanmu kepadanya.
Lagu tertentu mungkin tetap membawa nostalgia.
Dan itu tidak masalah.
Tujuan pemulihan bukan menghapus masa lalu.
Tujuannya adalah membuat masa lalu tidak lagi mengendalikan masa kini.
Suatu hari nanti, kamu mungkin mengingatnya tanpa merasa harus kembali.
Kamu mungkin mengingat hubungan itu tanpa berharap semuanya terulang.
Kamu mungkin bisa mengatakan:
"Ya, dulu aku sangat mencintai orang itu. Hubungan itu pernah penting bagiku. Tetapi sekarang aku memilih melanjutkan hidupku."
Itulah salah satu bentuk penerimaan.
Jangan Jadikan Kepergian Seseorang sebagai Bukti Bahwa Kamu Tidak Layak Dicintai
Ini sangat penting.
Ketika seseorang meninggalkan kita, otak kita sering mencari penjelasan.
Dan salah satu penjelasan yang paling mudah muncul adalah:
"Pasti karena aku tidak cukup baik."
Padahal hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada itu.
Sebuah hubungan berakhir bukan selalu karena salah satu pihak buruk dan pihak lainnya sempurna.
Kadang dua orang sama-sama baik, tetapi tidak cocok.
Kadang perasaan berubah.
Kadang prioritas hidup berubah.
Kadang komunikasi tidak lagi berjalan.
Kadang masalah yang muncul terlalu berat untuk diatasi bersama.
Karena itu, jangan menggunakan keputusan seseorang sebagai ukuran absolut terhadap harga dirimu.
Dia boleh tidak memilihmu.
Tetapi kamu tidak boleh ikut meninggalkan dirimu sendiri hanya karena dia pergi.
Jika Hari Ini Kamu Masih Menangis, Tidak Apa-Apa
Mungkin kamu membaca artikel ini ketika hatimu masih benar-benar sakit.
Jika iya, jangan merasa gagal hanya karena kamu belum bisa tersenyum.
Tidak ada jadwal universal untuk sembuh dari perpisahan.
Ada orang yang membutuhkan beberapa minggu.
Ada yang membutuhkan berbulan-bulan.
Ada yang membutuhkan lebih lama.
Yang penting bukan seberapa cepat kamu selesai.
Yang penting adalah apakah setiap hari kamu perlahan bergerak menuju kehidupan yang lebih sehat.
Kalau hari ini kamu hanya mampu bangun dari tempat tidur, mandi, makan, bekerja, dan melewati hari tanpa menghubunginya, mungkin itu sudah sebuah kemajuan.
Jangan meremehkan langkah kecil.
Pemulihan besar sering kali dibangun dari kemenangan-kemenangan kecil yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Dan Suatu Hari Nanti...
Akan ada suatu pagi ketika kamu bangun dan menyadari bahwa kamu tidak lagi langsung memikirkan dia.
Kamu mungkin baru menyadarinya setelah beberapa jam.
Lalu kamu tersenyum kecil.
Bukan karena kamu membenci masa lalu.
Tetapi karena kamu akhirnya sadar:
hidupmu sudah kembali menjadi milikmu.
Kamu mulai punya rutinitas baru.
Teman-teman baru.
Tujuan baru.
Kebiasaan baru.
Mungkin bahkan versi dirimu yang baru.
Dan ketika mengingat masa lalu, kamu tidak lagi bertanya:
"Bagaimana kalau dia kembali?"
Kamu justru bertanya:
"Bagaimana aku bisa membuat hidupku lebih berarti dari hari ke hari?"
Itulah titik ketika perpisahan tidak lagi menjadi pusat hidupmu.
Ia menjadi salah satu bagian dari perjalananmu.
Bukan seluruh ceritamu.
Jadi, Jika Hari Ini Hatimu Masih Berat...
Jangan memaksa dirimu untuk langsung melupakan.
Jangan mengejar orang yang sudah memilih pergi.
Jangan terus-menerus memeriksa kehidupannya.
Jangan membandingkan proses penyembuhanmu dengan kehidupannya.
Dan jangan menghukum dirimu sendiri karena masih merasa sedih.
Tarik napas.
Terima bahwa sesuatu telah berakhir.
Kemudian perlahan kembalikan perhatianmu kepada satu-satunya orang yang akan selalu menemanimu sepanjang hidup:
dirimu sendiri.
Dan ketika pikiranmu kembali kepada masa lalu, ucapkan tujuh kata ini:
"Aku memilih diriku sendiri, mulai hari ini."
Ucapkan ketika kamu merasa ingin kembali menghubunginya.
Ucapkan ketika kamu melihat foto lama.
Ucapkan ketika kamu merasa tidak cukup baik.
Ucapkan ketika malam terasa terlalu sunyi.
Ucapkan ketika kamu mulai mempertanyakan masa depan.
Bukan sebagai mantra ajaib.
Tetapi sebagai sebuah keputusan.
Keputusan untuk tidak lagi meninggalkan dirimu sendiri demi seseorang yang sudah pergi.
Karena pada akhirnya, bangkit bukan berarti kamu tidak pernah mencintainya.
Bangkit berarti kamu akhirnya belajar mencintai dirimu sendiri dengan cara yang tidak lagi bergantung pada apakah seseorang memilih tinggal atau pergi.
Dia mungkin menjadi bagian dari masa lalumu.
Tetapi kamu masih memiliki seluruh masa depanmu.
Dan mulai hari ini, masa depan itu kembali menjadi milikmu.