JawaPos.com - Bekerja seharusnya bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan. Lingkungan kerja yang sehat juga memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berkembang, merasa dihargai, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dihantui rasa takut atau tertekan.
Namun, realitasnya tidak selalu demikian.
Salah satu faktor yang paling besar memengaruhi kondisi psikologis seseorang di tempat kerja adalah hubungan dengan atasan. Seorang atasan memiliki posisi yang memungkinkan mereka memberikan arahan, menentukan beban kerja, mengevaluasi kinerja, bahkan memengaruhi perkembangan karier bawahannya.
Ketika kekuasaan tersebut digunakan secara tidak sehat, dampaknya bisa jauh melampaui rasa kesal sesaat.
Tekanan dari atasan yang terus berlangsung dapat membuat seseorang mengalami stres, kehilangan motivasi, meragukan kemampuan diri sendiri, kesulitan tidur, hingga merasa tidak berdaya menghadapi pekerjaannya.
Yang menarik, perilaku yang merusak kesehatan mental tidak selalu terlihat seperti tindakan yang ekstrem. Terkadang justru muncul dalam bentuk-bentuk yang dianggap "normal" di lingkungan kerja: kritik terus-menerus, komunikasi yang tidak jelas, tuntutan yang tidak masuk akal, atau membuat karyawan merasa bersalah ketika menetapkan batasan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), terdapat delapan perilaku atasan yang patut diwaspadai.
1. Terus-Menerus Meremehkan atau Mengkritik Pekerjaanmu
Kritik sebenarnya merupakan bagian normal dari dunia kerja.
Atasan memang perlu memberikan evaluasi agar karyawan mengetahui apa yang harus diperbaiki. Masalah muncul ketika kritik tidak lagi bertujuan untuk membantu seseorang berkembang, tetapi berubah menjadi kebiasaan merendahkan.
Misalnya, setiap kali kamu menyelesaikan pekerjaan, atasan hanya menunjukkan kesalahan tanpa pernah mengakui usaha atau hasil yang sudah dicapai.
"Memangnya ini saja yang bisa kamu lakukan?"
"Kenapa orang lain bisa, kamu tidak?"
"Kalau pekerjaan seperti ini saja tidak bisa, bagaimana mau berkembang?"
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus diulang, seseorang dapat mulai menginternalisasi penilaian tersebut.
Awalnya kamu mungkin berpikir, "Atasan saya memang sedang marah."
Lama-kelamaan bisa berubah menjadi, "Mungkin saya memang tidak kompeten."
Dalam psikologi, pengalaman negatif yang berulang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Kritik yang terus-menerus tanpa dukungan dapat membuat kepercayaan diri menurun dan meningkatkan kecemasan ketika harus mengerjakan sesuatu.
Akibatnya, pekerjaan yang sebelumnya biasa saja mulai terasa menakutkan.
Kamu bisa menjadi terlalu takut melakukan kesalahan, terlalu banyak memeriksa pekerjaan, atau bahkan menunda pekerjaan karena takut hasilnya kembali dikritik.
Perlu dibedakan: atasan yang memberikan kritik konstruktif tidak otomatis merupakan atasan yang buruk.
Perbedaannya terletak pada cara kritik diberikan.
Kritik konstruktif biasanya spesifik, berfokus pada pekerjaan, memberikan arahan perbaikan, dan tidak menyerang harga diri seseorang.
2. Memberikan Tuntutan yang Tidak Pernah Ada Habisnya
Ada perbedaan antara bekerja keras dan terus-menerus berada dalam kondisi tertekan.
Atasan mungkin memiliki target tinggi karena tuntutan perusahaan. Itu sendiri belum tentu bermasalah.
Masalah muncul ketika tuntutan selalu bertambah, tetapi sumber daya, waktu, dan dukungan yang diberikan tidak pernah menyesuaikan.
Hari ini kamu diminta menyelesaikan tiga tugas.
Besok muncul lima tugas baru.
Ketika semuanya selesai, standar kembali dinaikkan.
Akhirnya muncul perasaan bahwa seberapa banyak pun kamu bekerja, pekerjaanmu tidak pernah cukup.
Kondisi seperti ini dapat menciptakan stres kronis. Tubuh dan pikiran seolah terus berada dalam mode "siaga" karena selalu ada kemungkinan muncul tuntutan baru.
Kamu mungkin mulai membawa pekerjaan ke rumah, mengecek pesan kantor sebelum tidur, memikirkan pekerjaan ketika sedang bersama keluarga, atau merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat.
Yang berbahaya adalah ketika kondisi tersebut mulai dianggap sebagai sesuatu yang normal.
"Memang begini kalau mau sukses."
"Namanya juga kerja."
"Kalau tidak kuat, berarti tidak profesional."
Padahal, produktivitas yang sehat tetap membutuhkan pemulihan.
Manusia bukan mesin yang bisa bekerja tanpa batas.
Istirahat bukan tanda malas. Dalam jangka panjang, kemampuan untuk memulihkan energi justru berperan penting dalam menjaga performa dan kesehatan psikologis.
3. Menghubungimu di Luar Jam Kerja Seolah-Solah Kamu Harus Selalu Siap
Teknologi membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.
Pesan kerja bisa masuk melalui WhatsApp, email, Slack, atau aplikasi lainnya kapan saja.
Sesekali menerima pesan darurat di luar jam kerja tentu bisa terjadi, terutama pada pekerjaan tertentu.
Tetapi jika atasan membangun ekspektasi bahwa kamu harus selalu tersedia, situasinya berbeda.
Misalnya, kamu baru saja pulang kerja tetapi menerima pesan:
"Sudah tidur?"
Beberapa menit kemudian:
"Tolong cek ini sekarang."
Atau pada akhir pekan:
"Kalau sempat, tolong selesaikan malam ini."
Masalahnya bukan hanya jumlah pekerjaan tersebut.
Masalah psikologisnya adalah hilangnya rasa bahwa seseorang benar-benar memiliki waktu pribadi.
Ketika seseorang terus mengantisipasi kemungkinan mendapatkan pesan pekerjaan, pikirannya sulit benar-benar beristirahat.
Bahkan ketika tidak ada pesan masuk, kamu mungkin tetap mengecek ponsel berkali-kali.
"Jangan-jangan atasan menghubungi saya."
"Kalau saya tidak membalas cepat, apakah dia akan marah?"
Kecemasan semacam ini dapat membuat seseorang sulit melakukan psychological detachment—yaitu kemampuan mental untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan ketika berada di luar jam kerja.
Karena itu, budaya kerja yang sehat perlu memiliki batas yang jelas mengenai kapan seseorang bekerja dan kapan seseorang berhak beristirahat.
4. Membuatmu Takut Melakukan Kesalahan
Setiap pekerjaan tentu memiliki kemungkinan kesalahan.
Tidak ada manusia yang selalu benar.
Namun, atasan yang menggunakan rasa takut sebagai alat untuk mengendalikan bawahannya dapat menciptakan lingkungan kerja yang sangat tidak sehat.
Misalnya, setiap kesalahan selalu diikuti dengan ancaman:
"Kalau begini terus, kamu bisa diganti."
"Saya bisa cari orang lain yang lebih bagus."
"Jangan sampai saya lihat kesalahan seperti ini lagi."
Ancaman sesekali mungkin muncul dalam situasi tertentu. Tetapi ketika ancaman kehilangan pekerjaan atau konsekuensi karier digunakan terus-menerus untuk mengendalikan karyawan, seseorang dapat mulai bekerja dalam kondisi ketakutan.
Akibatnya, fokusmu bukan lagi:
"Bagaimana saya menghasilkan pekerjaan terbaik?"
Melainkan:
"Bagaimana saya jangan sampai dimarahi?"
Perbedaannya sangat besar.
Ketika rasa takut menjadi motivator utama, seseorang bisa menjadi terlalu defensif. Ia mungkin menyembunyikan kesalahan, enggan bertanya, tidak berani mencoba pendekatan baru, dan memilih cara yang paling aman meskipun bukan cara terbaik.
Ironisnya, lingkungan yang membuat orang takut melakukan kesalahan justru dapat membuat kesalahan semakin sulit dibicarakan dan diperbaiki.
5. Sering Membandingkanmu dengan Karyawan Lain
"Lihat dia. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?"
"Temanmu bisa menyelesaikannya lebih cepat."
"Kalau orang lain saja mampu, seharusnya kamu juga."
Perbandingan seperti ini mungkin dimaksudkan sebagai motivasi.
Namun, tidak semua orang merespons perbandingan dengan cara yang sama.
Ketika seseorang terus dibandingkan dengan rekan kerja, ia dapat mulai merasa bahwa dirinya selalu berada dalam posisi kurang baik.
Terlebih lagi jika perbandingan dilakukan di depan orang lain.
Kamu bukan hanya mendapatkan evaluasi mengenai pekerjaan, tetapi juga merasa harga dirimu dipertaruhkan di hadapan rekan-rekan.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu rasa malu, rendah diri, dan kecemasan sosial di tempat kerja.
Kamu mulai memperhatikan performa orang lain bukan untuk belajar, tetapi untuk mencari bukti bahwa dirimu memang "lebih buruk".
Padahal, setiap karyawan memiliki pengalaman, kemampuan, kondisi pribadi, dan tanggung jawab yang berbeda.
Evaluasi kinerja yang sehat seharusnya membahas standar pekerjaan, bukan membuat seseorang merasa dirinya lebih rendah sebagai manusia.
6. Mengabaikan Usaha dan Selalu Menganggap Hasilmu Kurang
Bayangkan kamu menghabiskan berjam-jam menyelesaikan sebuah proyek.
Proyek tersebut berhasil.
Klien puas.
Target tercapai.
Tetapi respons atasan hanya:
"Kenapa tidak lebih cepat?"
Jika pola ini terjadi terus-menerus, seseorang dapat mengalami apa yang sering disebut sebagai effort–reward imbalance: usaha yang dikeluarkan terasa tidak sebanding dengan penghargaan atau pengakuan yang diterima.
Manusia pada dasarnya membutuhkan feedback.
Kita perlu mengetahui bukan hanya apa yang salah, tetapi juga apa yang sudah dilakukan dengan baik.
Bukan berarti atasan harus memuji setiap pekerjaan.
Namun, ketika kontribusi seseorang secara konsisten diabaikan sementara kekurangannya selalu disorot, motivasi dapat menurun.
Karyawan akhirnya berpikir:
"Untuk apa saya berusaha lebih keras kalau hasilnya tetap dianggap kurang?"
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang awalnya sangat bersemangat dapat berubah menjadi sekadar bekerja "seperlunya".
Bukan selalu karena dia malas.
Bisa jadi karena secara psikologis dia sudah belajar bahwa usaha ekstra tidak menghasilkan pengalaman yang lebih positif.
7. Melakukan Gaslighting terhadap Masalah di Tempat Kerja
Istilah gaslighting sering digunakan secara berlebihan di media sosial. Tidak setiap perbedaan pendapat atau penolakan terhadap keluhan dapat disebut gaslighting.
Namun, manipulasi psikologis memang bisa terjadi dalam hubungan kerja.
Contohnya ketika seorang atasan berulang kali menyangkal kejadian yang sebenarnya terjadi, memutarbalikkan percakapan, atau membuat karyawan terus meragukan persepsinya sendiri.
Misalnya:
"Saya tidak pernah mengatakan itu."
Padahal kamu memiliki bukti bahwa kalimat tersebut pernah disampaikan.
Atau:
"Kamu terlalu sensitif."
"Kamu saja yang salah memahami."
"Semua orang baik-baik saja, cuma kamu yang bermasalah."
Jika pola seperti ini terjadi terus-menerus ketika kamu menyampaikan masalah yang valid, kamu mungkin mulai meragukan diri sendiri.
"Apa saya memang terlalu sensitif?"
"Apa saya yang salah?"
"Mungkin sebenarnya masalahnya tidak sebesar yang saya pikirkan."
Inilah bagian yang membuat manipulasi semacam ini berbahaya.
Seseorang tidak hanya menghadapi masalah awal, tetapi juga mulai kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri.
Karena itu, penting untuk membedakan antara gaslighting dan sekadar perbedaan perspektif.
Jika dua orang mengingat suatu kejadian secara berbeda, itu belum tentu manipulasi. Pola yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika penyangkalan dan pembalikan realitas dilakukan secara berulang untuk membuat seseorang meragukan dirinya sendiri atau menghindari tanggung jawab.
8. Membuatmu Merasa Bersalah Ketika Menetapkan Batasan
Ini adalah salah satu perilaku yang sering dianggap sepele.
Kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa mengambil pekerjaan tambahan karena sudah memiliki prioritas lain.
Atasan menjawab:
"Kalau kamu memang peduli dengan tim, seharusnya kamu mau membantu."
Atau kamu meminta cuti.
"Kamu yakin mau mengambil cuti sekarang? Tim sedang membutuhkan kamu."
Akhirnya kamu merasa bersalah hanya karena menggunakan hakmu.
Padahal, memiliki batasan bukan berarti tidak peduli.
Dalam psikologi kerja, kemampuan menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.
Jika seseorang terus-menerus dibuat merasa bersalah ketika mengatakan "tidak", ia mungkin akhirnya berhenti menetapkan batas.
Semua permintaan diterima.
Semua pekerjaan diambil.
Semua pesan dibalas.
Semua masalah orang lain dianggap sebagai tanggung jawab pribadi.
Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat seseorang kelelahan secara emosional.
Yang lebih buruk, orang tersebut mungkin tidak lagi tahu kapan harus berhenti.
Mengapa Perilaku Atasan Bisa Berdampak Begitu Besar?
Salah satu alasannya adalah adanya ketimpangan kekuasaan.
Atasan memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan profesionalmu: evaluasi, pembagian tugas, kesempatan berkembang, promosi, bahkan terkadang keamanan pekerjaan.
Karena itu, ketika masalah datang dari seseorang yang memiliki kekuasaan lebih besar, tidak selalu mudah bagi karyawan untuk sekadar mengatakan, "Saya tidak suka diperlakukan seperti ini."
Ada konsekuensi yang harus dipertimbangkan.
Inilah mengapa stres yang berasal dari tempat kerja tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan kepada seseorang untuk "lebih kuat".
Lingkungan memiliki peran penting terhadap kesehatan psikologis.
Seseorang yang sebenarnya kompeten dapat kehilangan kepercayaan diri jika terus-menerus ditempatkan dalam lingkungan yang membuatnya merasa tidak pernah cukup.
Bukan Berarti Setiap Atasan yang Keras adalah Atasan yang Toxic
Penting untuk tidak terburu-buru memberi label toxic kepada setiap atasan yang tegas.
Atasan boleh menetapkan target.
Atasan boleh memberikan kritik.
Atasan boleh menegur kesalahan.
Atasan bahkan terkadang harus mengambil keputusan yang tidak disukai karyawan.
Yang perlu diperhatikan adalah pola, intensitas, dan dampaknya.
Coba tanyakan beberapa hal:
Apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali?
Apakah kritik berfokus pada pekerjaan atau menyerang pribadi?
Apakah kamu diberi kesempatan untuk menjelaskan?
Apakah standar yang diberikan masuk akal dan konsisten?
Apakah kamu merasa takut secara terus-menerus?
Apakah pekerjaan mulai mengganggu tidur dan kehidupan pribadi?
Apakah kamu merasa kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri?
Apakah kamu merasa tidak memiliki ruang untuk mengatakan "tidak"?
Semakin banyak pertanyaan yang jawabannya "ya", semakin penting untuk mengevaluasi apakah lingkungan kerja tersebut masih sehat untukmu.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika kamu mengalami salah satu pola di atas, langkah pertama bukan selalu langsung mengundurkan diri.
Situasi setiap orang berbeda.
Jika memungkinkan, dokumentasikan kejadian penting. Simpan email, pesan, instruksi pekerjaan, perubahan target, atau catatan percakapan yang relevan.
Dokumentasi membantu kamu melihat situasi secara lebih objektif dan dapat berguna jika suatu saat perlu membicarakan masalah tersebut dengan HR atau pihak yang lebih tinggi.
Kedua, mulai tetapkan batasan yang realistis.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Saya tidak mau mengerjakannya."
kamu dapat mengatakan:
"Saat ini saya sedang menyelesaikan A dan B yang memiliki deadline hari ini. Jika tugas C perlu diselesaikan hari ini juga, saya perlu arahan mengenai prioritas mana yang harus saya dahulukan."
Cara ini mengubah percakapan dari konflik personal menjadi pembahasan prioritas pekerjaan.
Ketiga, jangan menghadapi semuanya sendirian.
Berbicara dengan rekan kerja yang dapat dipercaya, mentor, HR, atau profesional kesehatan mental dapat membantu memberikan perspektif yang lebih objektif.
Dan yang tidak kalah penting, perhatikan perubahan dalam dirimu sendiri.
Jika pekerjaan mulai membuatmu terus-menerus cemas, sulit tidur, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya kamu nikmati, atau merasa tidak berdaya, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian.
Penutup
Atasan memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman seseorang di tempat kerja.
Atasan yang baik tidak berarti atasan yang selalu lembut atau selalu menyenangkan. Seorang pemimpin tetap perlu memberikan target, mengevaluasi performa, dan mengambil keputusan sulit.
Namun, kepemimpinan yang sehat seharusnya tidak membutuhkan penghinaan, ketakutan, manipulasi, atau pengorbanan kesehatan mental karyawan.
Jika kamu mulai merasa bahwa pekerjaan membuatmu terus-menerus takut, tidak pernah cukup, kehilangan kepercayaan diri, atau tidak mampu beristirahat tanpa merasa bersalah, mungkin masalahnya bukan semata-mata karena kamu "kurang kuat".
Bisa jadi lingkungan tempat kamu bekerja memang sedang memberikan tekanan psikologis yang terlalu besar.
Dan memahami hal tersebut adalah langkah pertama untuk menentukan apa yang perlu dilakukan selanjutnya.
Kesehatan mental bukan sesuatu yang harus kamu korbankan hanya demi membuktikan bahwa kamu adalah karyawan yang kuat.