JawaPos.com – Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian, penerimaan, dan kasih sayang dapat memengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi, dampaknya terkadang terlihat melalui pola perilaku tertentu.
Dalam beberapa kondisi, seseorang dapat menjadi sangat berpusat pada diri sendiri, sulit menerima penolakan, atau kurang mampu menghargai kebutuhan orang lain. Namun, perilaku seperti ini tidak otomatis berarti seseorang kekurangan kasih sayang karena bisa dipengaruhi banyak faktor psikologis dan pengalaman hidup.
Dilansir dari YourTango, terdapat sejumlah perilaku yang dapat muncul pada orang yang memiliki kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Berikut tujuh di antaranya:
Baca Juga: 7 Perilaku Umum Orang Tua yang Dapat Merusak Kepercayaan Diri Anak Menurut Psikologi
1. Cenderung Menguasai Percakapan
Seseorang yang terlalu berfokus pada dirinya sendiri mungkin akan berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat pembicaraan. Ketika topik beralih kepada orang lain, ia dapat terlihat kehilangan minat atau berusaha mengembalikan pembicaraan kepada dirinya.
Perbedaan pendapat juga terkadang sulit diterima. Alih-alih mendengarkan sudut pandang orang lain, mereka bisa memilih mengabaikan atau menolak pendapat tersebut.
2. Sering Memotong Pembicaraan
Kebiasaan menyela orang lain juga dapat menjadi pola komunikasi yang mengganggu. Mereka mungkin merasa perlu segera menyampaikan pendapat tanpa menunggu lawan bicara menyelesaikan kalimatnya.
Dalam situasi tertentu, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kesulitan mengendalikan dorongan atau kebutuhan untuk terus mendapatkan perhatian.
3. Tidak Segan Mengabaikan Aturan
Sebagian orang mungkin menunjukkan kecenderungan untuk mengabaikan aturan yang berlaku. Bahkan, pelanggaran tersebut terkadang dilakukan dengan sengaja karena memberikan sensasi tersendiri.
Dalam bentuk yang lebih serius, perilaku ini dapat melibatkan kebohongan, kecurangan, atau tindakan yang merugikan orang lain. Jika terjadi berulang kali, pola tersebut tentu dapat berdampak buruk terhadap hubungan sosial maupun emosional.
4. Kurang Menghormati Batasan Orang Lain
Batasan pribadi diperlukan agar setiap orang merasa aman dan dihargai dalam sebuah hubungan. Namun, seseorang yang kurang mempertimbangkan perasaan orang lain dapat bertindak melewati batas yang sudah ditetapkan.
Mereka mungkin tetap memaksakan keinginan, mencampuri urusan pribadi, atau memanfaatkan orang lain tanpa memikirkan dampaknya. Sikap semacam ini dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat.
5. Merasa Layak Mendapat Perlakuan Khusus
Perasaan bahwa dirinya pantas mendapatkan lebih dibandingkan orang lain juga dapat menjadi salah satu tanda yang terlihat. Mereka berharap kebutuhan dan keinginannya selalu diprioritaskan.
Masalah muncul ketika harapan tersebut tidak terpenuhi. Kekecewaan dapat memicu sikap defensif, kemarahan, atau upaya untuk kembali menempatkan diri sebagai pihak yang paling unggul.
6. Terlihat Sangat Memikat
Menariknya, seseorang dengan pola perilaku tersebut tidak selalu terlihat buruk sejak awal. Mereka justru bisa tampil sangat ramah, percaya diri, karismatik, dan pandai membuat orang lain merasa istimewa.
Ketika sedang mendekati seseorang, perhatian yang diberikan bisa terasa sangat intens. Namun, setelah hubungan terasa lebih dekat, perhatian tersebut dapat berkurang dan orang lain tidak lagi diperlakukan dengan cara yang sama.
7. Memiliki Rasa Percaya Diri yang Terlalu Tinggi
Kepercayaan diri pada dasarnya merupakan hal positif. Namun, ketika berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya jauh lebih penting atau tidak tergantikan dibandingkan orang lain, hal tersebut dapat menjadi masalah.
Sikap superior terkadang digunakan sebagai cara untuk menutupi rasa tidak aman atau harga diri yang rapuh. Karena itu, penampilan yang sangat percaya diri tidak selalu menggambarkan kondisi emosional seseorang yang sebenarnya.
Perlu diingat, ketujuh perilaku tersebut tidak dapat digunakan sebagai diagnosis untuk menentukan kondisi psikologis seseorang. Pola perilaku manusia sangat kompleks dan dapat terbentuk dari banyak faktor, termasuk pengalaman masa lalu, lingkungan, serta karakter masing-masing individu.