JawaPos.com - Putus cinta sering membuat seseorang berada dalam situasi yang serba sulit. Ada yang masih ingin mempertahankan komunikasi dengan mantan, tetapi ada pula yang memilih mengakhiri seluruh akses setelah hubungan resmi berakhir.
Memblokir nomor telepon maupun akun media sosial mantan tidak selalu berarti seseorang menyimpan dendam. Bagi sebagian orang, keputusan tersebut justru menjadi cara untuk menjaga ketenangan, menetapkan batasan, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk melanjutkan kehidupan.
Dilansir dari Geediting, berikut tujuh ciri orang yang biasanya tidak ragu memblokir kontak mantan setelah hubungan berakhir.
Baca Juga: Tak Harus Kaya, 7 Perilaku Ini Bisa Membuat Seseorang Terlihat Berkelas dan Mapan
1. Memiliki batasan pribadi yang tegas
Orang yang mudah mengambil keputusan untuk memblokir mantan biasanya memahami pentingnya batasan dalam sebuah hubungan. Ketika hubungan telah selesai, mereka merasa tidak perlu terus membuka akses komunikasi yang berpotensi membuat keadaan menjadi rumit.
Bagi mereka, menjaga jarak bukan berarti bersikap kejam. Justru, keputusan tersebut dianggap sebagai cara untuk memberikan ruang bagi kedua pihak agar dapat menjalani kehidupan masing-masing.
2. Menghargai diri sendiri
Mereka cenderung menyadari bahwa kesehatan emosional perlu dijaga setelah mengalami perpisahan. Jika komunikasi dengan mantan justru membuat pikiran kembali kacau, mereka tidak keberatan mengambil langkah untuk menghentikannya.
Memblokir juga dapat membantu seseorang menghindari kebiasaan memantau aktivitas mantan, membaca percakapan lama, atau terus menunggu pesan yang mungkin tidak pernah datang.
3. Sudah menerima bahwa hubungan berakhir
Keputusan untuk memblokir sering kali muncul ketika seseorang telah menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut tidak lagi berjalan.
Daripada mempertahankan harapan bahwa mantan akan kembali, mereka memilih membuat keputusan yang membantu proses move on. Dengan begitu, kemungkinan terjadinya komunikasi emosional secara tiba-tiba dapat diminimalkan.
4. Tidak menyukai konflik yang berlarut-larut
Sebagian orang memilih memutus akses karena tidak ingin kembali masuk dalam pola hubungan yang penuh tarik-ulur. Pesan bernada sindiran, pertengkaran kecil, atau komunikasi yang tidak jelas dapat membuat proses penyembuhan semakin panjang.
Karena itu, memblokir bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi peluang munculnya drama yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.
5. Ingin memberikan ruang untuk memulihkan diri
Masa setelah perpisahan membutuhkan waktu untuk menata kembali emosi. Ada orang yang membutuhkan jarak lebih besar agar dapat memahami apa yang terjadi dan kembali menemukan keseimbangan dalam hidupnya.
Memutus komunikasi dengan mantan dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan ruang tersebut, terutama ketika kehadiran mantan justru membuat luka lama kembali terbuka.
6. Lebih memilih melihat ke masa depan
Orang yang cepat mengambil keputusan setelah putus biasanya ingin mengarahkan perhatian pada kehidupan yang sedang dijalani, bukan terus-menerus memikirkan masa lalu.
Mereka mulai memusatkan energi pada pekerjaan, keluarga, pertemanan, hobi, maupun kemungkinan membangun hubungan yang lebih sehat di kemudian hari.
7. Memiliki kemandirian secara emosional
Mereka tidak selalu membutuhkan kehadiran mantan untuk merasa berharga atau mengatasi rasa kesepian. Meskipun proses berpisah tetap terasa berat, mereka berusaha menghadapi emosi tersebut tanpa menjadikan mantan sebagai tempat utama untuk mencari penghiburan.
Pada akhirnya, memblokir mantan bukanlah ukuran pasti bahwa seseorang sudah sepenuhnya sembuh atau tidak lagi memiliki perasaan. Setiap orang mempunyai alasan berbeda dalam menghadapi perpisahan. Yang terpenting adalah keputusan tersebut diambil demi batasan dan ketenangan diri, bukan semata-mata untuk menyakiti orang lain.