JawaPos.com – Tidak semua perhatian yang diberikan seseorang selalu mencerminkan kepedulian yang tulus. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang terlihat ramah, senang membantu, dan pandai memberikan dukungan, tetapi tindakannya terkadang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi.
Sebagian orang mungkin menunjukkan kebaikan demi mendapatkan pujian, mempertahankan citra positif, atau memperoleh keuntungan tertentu dari hubungan yang dijalani. Akibatnya, perhatian yang diberikan terasa kurang tulus, terutama ketika mereka tidak mendapatkan respons sesuai harapan.
Dalam kajian psikologi, perbedaan antara memahami perasaan orang lain dan benar-benar meresponsnya dengan kepedulian menjadi hal yang penting. Meski demikian, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki empati palsu atau sengaja memanipulasi orang lain.
Dilansir dari Geediting, terdapat delapan perilaku yang dikaitkan dengan orang yang terlihat peduli, tetapi cenderung mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Berikut ulasannya.
1. Mendengarkan Cerita, tetapi Tidak Berusaha Memahami
Orang yang benar-benar memberikan perhatian biasanya berusaha memahami perasaan dan sudut pandang lawan bicaranya. Sebaliknya, seseorang yang lebih berpusat pada dirinya sendiri mungkin mendengarkan hanya untuk menyiapkan jawaban atau mengarahkan pembicaraan kembali kepada dirinya.
Ketika orang lain sedang menceritakan masalah, mereka bisa saja sibuk memikirkan pengalaman pribadi yang dianggap lebih hebat atau tanggapan yang membuat dirinya terlihat paling benar.
Pola ini dapat membuat lawan bicara merasa tidak didengarkan secara utuh. Padahal, mendengarkan secara aktif membutuhkan kesediaan untuk memahami tanpa terburu-buru menghakimi atau memberikan nasihat yang tidak diminta.
2. Menjadikan Kebaikan sebagai Cara Mendapatkan Pujian
Membantu orang lain merupakan tindakan positif. Namun, perhatian perlu diberikan ketika seseorang terus-menerus menonjolkan kebaikannya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Misalnya, mereka menceritakan bantuan yang telah diberikan kepada banyak orang atau mengunggahnya ke media sosial agar memperoleh pujian. Dalam situasi tertentu, tindakan tersebut dapat berkaitan dengan keinginan membangun citra diri yang baik.
Istilah virtue signaling sering digunakan untuk menggambarkan ekspresi dukungan terhadap nilai atau tindakan yang dianggap bermoral demi menunjukkan citra positif. Akan tetapi, perilaku ini tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang tidak tulus. Motif seseorang perlu dilihat dari konteks dan pola perilakunya secara keseluruhan.
3. Selalu Mengalihkan Cerita Orang Lain kepada Dirinya
Ketika seseorang sedang bersedih dan membutuhkan tempat bercerita, orang yang kurang peka terkadang justru mengambil alih pembicaraan dengan pengalaman pribadinya.
Sebagai contoh, saat mendengar teman sedang menghadapi masalah berat, mereka langsung membandingkannya dengan kesulitan yang pernah dialami sendiri. Bahkan, mereka mungkin mengatakan bahwa masalahnya dahulu jauh lebih berat dan seharusnya bisa dihadapi dengan lebih kuat.
Meskipun bermaksud memberikan semangat, respons semacam ini dapat membuat perasaan orang lain seolah diremehkan. Dukungan yang lebih baik adalah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menyampaikan emosinya sebelum menawarkan pengalaman pribadi atau solusi.
4. Sulit Mengakui Kesalahan dan Menutupi Perilaku Menyakitkan
Orang yang terlalu berfokus pada citra dirinya mungkin kesulitan mengakui bahwa tindakannya telah menyakiti orang lain. Alih-alih meminta maaf, mereka justru menyampaikan pembenaran yang membuat perbuatannya terdengar seolah dilakukan demi kebaikan.
Contohnya, seseorang berkata, "Aku melakukan ini karena ingin kamu menjadi lebih baik," ketika perkataannya justru membuat orang lain terluka.
Perbedaan pentingnya terletak pada kesediaan untuk bertanggung jawab. Kepedulian yang sehat tidak hanya ditunjukkan melalui niat, tetapi juga melalui kemampuan mengakui dampak tindakan, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan.
Jika seseorang terus-menerus menyangkal kejadian, memutarbalikkan fakta, atau membuat orang lain meragukan ingatannya sendiri, pola tersebut dapat mengarah pada manipulasi psikologis, termasuk gaslighting. Namun, tidak setiap pembelaan diri atau perselisihan dapat langsung disebut demikian.
5. Memberikan Bantuan yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan
Ada orang yang sangat bersemangat membantu, bahkan ketika pihak lain tidak meminta pertolongan. Pada awalnya, tindakan ini mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun, persoalan muncul ketika bantuan tersebut disertai tuntutan agar penerimanya menunjukkan rasa terima kasih atau kepatuhan.
Misalnya, seseorang terus ikut campur dalam urusan pribadi temannya, kemudian merasa tersinggung ketika sarannya tidak diikuti.
Dalam situasi seperti ini, keinginan membantu mungkin bercampur dengan kebutuhan untuk merasa penting atau dibutuhkan. Kepedulian yang sehat seharusnya tetap menghormati pilihan, kebutuhan, dan batasan orang yang menerima bantuan.
6. Menjauh Ketika Tidak Lagi Mendapatkan Keuntungan
Konsistensi menjadi salah satu hal penting dalam menilai kualitas hubungan. Seseorang yang hanya mendekat ketika membutuhkan bantuan, koneksi, atau keuntungan tertentu mungkin tidak memberikan dukungan yang seimbang.
Mereka bisa hadir ketika keadaan sedang menyenangkan atau hubungan tersebut memberikan manfaat. Namun, ketika orang lain menghadapi kesulitan dan tidak dapat memberikan sesuatu sebagai balasan, perhatian mereka perlahan menghilang.
Pola hubungan yang terlalu bergantung pada keuntungan pribadi dapat membuat salah satu pihak merasa dimanfaatkan. Meski begitu, perubahan intensitas komunikasi juga bisa disebabkan oleh kesibukan, masalah pribadi, atau keterbatasan emosional sehingga perlu dinilai secara menyeluruh.
7. Mengendalikan Orang Lain dengan Alasan Mengkhawatirkan
Kalimat seperti "Aku melakukan ini karena peduli kepadamu" terkadang digunakan untuk membenarkan perilaku yang terlalu mengatur kehidupan orang lain.
Contohnya, seseorang merasa berhak mengetahui setiap aktivitas pasangannya, menentukan dengan siapa ia boleh berteman, atau menuntut akses terhadap urusan pribadinya atas nama kekhawatiran.
Perhatian yang sehat seharusnya tidak menghilangkan kebebasan seseorang untuk mengambil keputusan. Kekhawatiran dapat disampaikan melalui komunikasi terbuka tanpa harus disertai ancaman, tekanan, atau tuntutan berlebihan.
Jika perilaku mengontrol terus berulang dan membuat seseorang takut, terisolasi, atau kehilangan kendali atas kehidupannya, hal tersebut patut diwaspadai sebagai pola hubungan yang tidak sehat.
8. Memahami Perasaan Orang Lain, tetapi Kurang Menunjukkan Kehangatan
Memahami apa yang dirasakan orang lain tidak selalu berarti mampu merespons perasaan tersebut dengan kehangatan emosional.
Dalam psikologi, empati kognitif merujuk pada kemampuan memahami perspektif atau keadaan emosional orang lain. Sementara itu, empati afektif berkaitan dengan kemampuan ikut merasakan atau merespons emosi tersebut.
Seseorang mungkin mengetahui kalimat yang tepat untuk diucapkan ketika temannya sedang sedih, tetapi responsnya terasa kurang personal atau tidak disertai tindakan nyata.
Meski demikian, ekspresi emosi setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang kesulitan menunjukkan kehangatan karena kepribadian, pengalaman hidup, atau cara berkomunikasi, bukan karena sengaja berpura-pura peduli.
Karena itu, ketulusan sebaiknya dinilai melalui kombinasi ucapan, tindakan, konsistensi, dan kesediaan menghormati perasaan orang lain.