← Beranda
7 Hal yang Wajar bagi Orang Kaya, tetapi Terasa Berlebihan bagi Kelas Sosial Lain
Mohammad Maulana Iqbal• Minggu, 11 Oktober 2026 | 01.43 WIB
perilaku dianggap normal oleh kelas atas tapi disebut sok-sokan oleh kelas sosial lain./Freepik/ freepik

JawaPos.com – Perbedaan latar belakang ekonomi dapat memengaruhi cara seseorang memandang kebiasaan dan gaya hidup orang lain. Sesuatu yang dianggap wajar oleh kalangan berada belum tentu memperoleh penilaian serupa dari masyarakat dengan kondisi finansial berbeda.

Bagi sebagian orang kaya, menggunakan layanan premium, bergaul dengan tokoh berpengaruh, hingga menekuni hobi berbiaya tinggi merupakan bagian dari rutinitas. Namun, bagi orang yang tidak terbiasa dengan lingkungan tersebut, kebiasaan itu terkadang terlihat berlebihan, eksklusif, atau bahkan terkesan ingin pamer.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat tujuh perilaku yang dianggap lumrah oleh kalangan kelas atas, tetapi berpotensi dinilai sok-sokan oleh kelompok sosial lainnya. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bagaimana lingkungan pergaulan dan pengalaman hidup dapat membentuk persepsi seseorang terhadap status sosial.

1. Menyebut Nama Tokoh Terkenal Seolah Teman Biasa

Bagi sebagian orang dari kalangan elite, berinteraksi dengan pengusaha ternama, politikus, atau selebritas mungkin bukan pengalaman yang luar biasa. Karena terbiasa berada di lingkungan tersebut, mereka dapat menyebut nama tokoh terkenal dalam percakapan sehari-hari tanpa merasa perlu menjelaskan lebih jauh.

Misalnya, seseorang bercerita bahwa dirinya baru saja makan siang bersama seorang pengusaha besar. Ia menganggap cerita tersebut sebagai bagian biasa dari aktivitas hariannya, bukan sesuatu yang harus dibanggakan.

Akan tetapi, bagi orang yang jarang bersentuhan dengan lingkungan elite, kebiasaan tersebut bisa terdengar seperti upaya menunjukkan koneksi atau kedekatan dengan orang penting. Perbedaan persepsi pun muncul, meskipun belum tentu ada niat untuk menyombongkan diri.

2. Menganggap Fasilitas Mewah sebagai Kebutuhan Sehari-hari

Standar kenyamanan setiap orang dapat berbeda, terutama ketika berkaitan dengan kondisi ekonomi. Bagi kelompok berpenghasilan tinggi, bepergian menggunakan kelas bisnis, membeli pakaian desainer, atau menjadi anggota klub eksklusif mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun membuat pengeluaran tersebut terasa wajar bagi mereka. Sesuatu yang bagi orang lain tergolong kemewahan sesekali justru bisa dianggap sebagai kebutuhan praktis oleh kalangan yang terbiasa menikmatinya.

Persoalan muncul ketika perbedaan standar hidup itu tidak disadari dalam percakapan. Membicarakan fasilitas mahal tanpa mempertimbangkan kondisi lawan bicara dapat menimbulkan kesan tidak peka, seolah semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama.

3. Sering Membicarakan Warisan dan Kekayaan Keluarga

Bagi keluarga yang memiliki aset selama beberapa generasi, pembahasan tentang warisan, properti keluarga, dan keberlanjutan kekayaan bisa menjadi bagian penting dalam perencanaan hidup.

Mereka mungkin terbiasa mendiskusikan cara mempertahankan rumah keluarga, mengelola aset untuk anak cucu, atau menjaga usaha yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Dalam lingkungan tersebut, pembicaraan mengenai warisan tidak selalu dimaksudkan sebagai bentuk kebanggaan.

Namun, topik seperti ini dapat terasa jauh dari kehidupan orang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membangun kestabilan finansial dari awal. Jika disampaikan tanpa kepekaan, pembicaraan tersebut bisa dianggap sebagai cara menunjukkan keistimewaan yang diperoleh sejak lahir.

Perbedaan pengalaman inilah yang membuat pembahasan mengenai kekayaan keluarga dapat diterima secara berbeda oleh setiap kelompok sosial.

4. Menjunjung Etiket Sosial yang Sangat Formal

Tata krama dan etiket memiliki peran penting dalam sejumlah lingkungan sosial kelas atas. Mulai dari cara berpakaian ketika menghadiri acara tertentu, kebiasaan mengirimkan ucapan terima kasih tertulis, hingga aturan bersikap saat makan bersama, semuanya dapat menjadi bagian dari pendidikan sejak kecil.

Bagi mereka yang tumbuh dengan kebiasaan tersebut, mengikuti aturan formal bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Mereka mungkin melakukannya secara spontan karena sudah terbiasa menerapkannya dalam berbagai situasi.

Meski demikian, orang dari lingkungan yang berbeda dapat memandang formalitas berlebihan sebagai sikap kaku atau terlalu menjaga citra. Dalam keadaan tertentu, aturan sosial yang dianggap sebagai bentuk kesopanan oleh satu kelompok justru bisa terasa mengintimidasi bagi kelompok lainnya.

Pada akhirnya, etiket dapat membantu interaksi sosial, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan situasi dan orang yang dihadapi.

5. Menekuni Hobi yang Identik dengan Kemewahan

Hobi sering kali dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, akses terhadap fasilitas, dan kesempatan yang tersedia sejak kecil. Karena itu, sebagian kalangan berada terbiasa melakukan aktivitas seperti berkuda, bermain polo, mengikuti lomba layar, atau mengoleksi wine.

Bagi mereka, kegiatan tersebut mungkin sama lazimnya dengan bersepeda, bermain sepak bola, atau membaca buku bagi orang lain. Hobi itu juga bisa menjadi bagian dari tradisi keluarga dan lingkungan pergaulan yang telah dikenal sejak lama.

Namun, dari sudut pandang masyarakat yang tidak memiliki akses serupa, aktivitas tersebut dapat terlihat mahal dan eksklusif. Ketika seseorang menceritakan hobinya tanpa menyadari perbedaan pengalaman tersebut, ceritanya berpotensi ditafsirkan sebagai upaya menunjukkan status sosial.

Padahal, mahal atau tidaknya suatu hobi tidak selalu mencerminkan niat seseorang untuk memamerkan kekayaan.

6. Membicarakan Kekayaan dengan Bahasa yang Tidak Langsung

Cara membahas uang juga dapat berbeda menurut lingkungan sosial. Sebagian kalangan berada cenderung tidak menyebut nominal kekayaan atau harga barang secara terbuka dalam percakapan sehari-hari.

Sebagai gantinya, mereka mungkin menggunakan istilah seperti old money, pengelolaan aset keluarga, atau family office ketika membicarakan urusan finansial. Bagi orang yang akrab dengan istilah tersebut, bahasa semacam ini mungkin terasa lazim dan dianggap lebih sesuai dengan situasi sosial mereka.

Sebaliknya, bagi orang yang terbiasa membicarakan uang secara langsung, penggunaan istilah tersebut bisa terdengar rumit atau terkesan dibuat-buat. Percakapan yang seharusnya sederhana justru terasa seperti menyampaikan pesan tersembunyi mengenai status ekonomi.

Perbedaan gaya komunikasi ini menunjukkan bahwa cara seseorang membicarakan uang tidak hanya berkaitan dengan jumlah kekayaan, tetapi juga dengan kebiasaan dan norma dalam lingkungan pergaulannya.

7. Mendapatkan Perlakuan Istimewa Tanpa Merasa Sedang Pamer

Memiliki jaringan pertemanan yang luas dapat memberikan kemudahan dalam berbagai situasi. Seseorang mungkin memperoleh reservasi restoran dengan lebih mudah, disambut akrab oleh staf tempat yang sering dikunjungi, atau mendapatkan akses ke acara tertentu melalui kenalan.

Bagi orang yang terbiasa berada dalam lingkaran sosial tersebut, kemudahan ini mungkin dianggap sebagai bagian biasa dari hubungan profesional dan pertemanan. Mereka tidak selalu merasa sedang memanfaatkan status atau menunjukkan keistimewaan.

Namun, bagi orang lain yang harus mengikuti prosedur atau mengantre seperti biasa, perbedaan perlakuan itu dapat terlihat sebagai bentuk privilese. Situasi tersebut juga bisa menimbulkan kesan bahwa koneksi sosial memberikan keuntungan yang tidak tersedia secara merata bagi semua orang.

Meski demikian, kemudahan yang diperoleh melalui jaringan sosial tidak selalu berarti seseorang sengaja merendahkan orang lain. Penilaiannya perlu mempertimbangkan konteks, cara perlakuan diberikan, serta apakah aturan yang berlaku diterapkan secara adil.

Pada akhirnya, perbedaan kelas sosial dapat membentuk cara seseorang memahami kemewahan, kesopanan, dan hubungan sosial. Kebiasaan yang terasa normal bagi satu kelompok belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh kelompok lainnya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho