JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika kita merasa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.
Kita merasa terlalu pendiam. Terlalu sensitif. Terlalu banyak berpikir. Terlalu membutuhkan waktu sendiri. Terlalu berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Bahkan terkadang kita merasa bersalah hanya karena memilih hidup dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang.
Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk menjadi “versi terbaik” dari diri sendiri, perubahan sering dianggap sebagai sesuatu yang selalu positif.
Kita disuruh menjadi lebih percaya diri.
Lebih produktif.
Lebih sosial.
Lebih berani.
Lebih terbuka.
Lebih cepat mengambil keputusan.
Lebih mudah memaafkan.
Lebih banyak bergaul.
Lebih sedikit berpikir.
Seolah-olah semakin banyak bagian dari diri kita yang berubah, semakin baik pula kualitas hidup kita.
Padahal, dari sudut pandang psikologi, pertumbuhan tidak selalu berarti mengubah siapa diri kita.
Ada perbedaan besar antara memperbaiki pola yang benar-benar merugikan diri sendiri dengan memaksa diri menjadi seseorang yang sebenarnya bukan diri kita.
Terkadang, yang kita sebut sebagai “kelemahan” sebenarnya adalah kebutuhan psikologis yang sehat.
Terkadang, yang kita anggap sebagai “kekurangan” hanyalah kepribadian yang berbeda.
Dan terkadang, keinginan untuk berubah bukan benar-benar berasal dari diri kita, melainkan dari tekanan sosial, perbandingan, atau keinginan untuk mendapatkan penerimaan orang lain.
Mungkin selama ini kamu tidak rusak.
Mungkin kamu hanya terlalu sering membandingkan dirimu dengan orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (7/10), jika kamu merasakan tujuh tanda berikut ada dalam dirimu, mungkin masalahnya bukan karena kamu harus berubah.
Mungkin kamu hanya perlu belajar memahami dirimu sendiri dengan lebih baik.
1. Kamu Nyaman Menghabiskan Waktu Sendirian
Tidak semua orang mendapatkan energi dari keramaian.
Ada orang yang merasa hidup ketika berada di tengah banyak orang. Mereka senang berbicara, bertemu teman, menghadiri acara, dan terus berinteraksi.
Namun ada juga orang yang justru merasa lebih tenang ketika memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Mereka menikmati membaca buku sendirian, berjalan tanpa ditemani, mendengarkan musik, menghabiskan waktu di rumah, atau sekadar duduk dan berpikir.
Sayangnya, orang seperti ini sering diberi label negatif.
“Kenapa kamu jarang keluar?”
“Kamu harus lebih banyak bergaul.”
“Jangan terlalu menyendiri.”
“Jangan jadi orang antisosial.”
Padahal, menikmati kesendirian tidak otomatis berarti seseorang mengalami masalah sosial.
Dalam psikologi, introversi dan kebutuhan terhadap waktu sendiri merupakan bagian dari variasi kepribadian manusia. Seseorang bisa memiliki hubungan sosial yang sehat sekaligus tetap membutuhkan banyak waktu untuk dirinya sendiri.
Yang penting bukan seberapa sering kamu berada di tengah orang lain.
Yang lebih penting adalah apakah kamu memilih kesendirian karena memang menikmatinya atau karena takut menghadapi dunia.
Jika kamu masih mampu menjalin hubungan, berkomunikasi ketika diperlukan, bekerja, menjalankan tanggung jawab, dan memiliki orang-orang yang berarti dalam hidupmu, maka kebutuhan untuk sesekali menjauh dari keramaian bukanlah sesuatu yang harus kamu hilangkan.
Mungkin kamu hanya memiliki cara berbeda dalam mengisi kembali energimu.
Dan itu tidak salah.
Kamu tidak harus menjadi orang yang paling ramai di ruangan hanya untuk membuktikan bahwa kamu baik-baik saja.
2. Kamu Tidak Mudah Mempercayai Semua Orang
Mungkin kamu pernah merasa bersalah karena tidak mudah percaya kepada orang lain.
Kamu membutuhkan waktu untuk mengenal seseorang.
Kamu memperhatikan perilakunya.
Kamu tidak langsung menceritakan semua hal pribadi.
Kamu lebih suka melihat apakah perkataan seseorang sesuai dengan tindakannya.
Bagi sebagian orang, sikap seperti ini mungkin terlihat terlalu hati-hati.
Tetapi sebenarnya, kepercayaan memang tidak harus diberikan secara otomatis.
Kepercayaan yang sehat biasanya dibangun secara bertahap.
Kita mengenal seseorang.
Kita melihat konsistensinya.
Kita melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Kita melihat apakah dia menghormati batasan.
Kita melihat bagaimana dia bertindak ketika sedang marah, kecewa, atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jadi, jika kamu tidak mudah percaya kepada seseorang hanya karena dia terlihat baik pada awalnya, itu tidak selalu berarti kamu memiliki masalah kepercayaan.
Mungkin kamu hanya memahami bahwa hubungan yang sehat membutuhkan waktu.
Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Jika ketidakpercayaan membuatmu tidak mampu menjalin hubungan apa pun, selalu menganggap semua orang berniat buruk, atau membuatmu terus-menerus hidup dalam ketakutan, mungkin ada pola yang perlu dipahami lebih dalam.
Tetapi jika kamu hanya memilih untuk berhati-hati?
Kamu tidak perlu merasa bersalah.
Tidak semua orang harus mendapatkan akses yang sama terhadap hidupmu.
3. Kamu Membutuhkan Waktu Lebih Lama untuk Mengambil Keputusan
Di dunia yang serba cepat, orang sering mengagungkan keputusan spontan.
“Berani ambil risiko.”
“Jangan terlalu banyak berpikir.”
“Kalau mau sukses, harus cepat mengambil keputusan.”
Nasihat seperti ini memang bisa berguna dalam situasi tertentu.
Tetapi bukan berarti semua orang harus memiliki kecepatan pengambilan keputusan yang sama.
Ada orang yang membutuhkan waktu untuk memproses informasi.
Mereka mempertimbangkan kemungkinan.
Mereka memikirkan konsekuensi.
Mereka mencoba melihat masalah dari berbagai sudut.
Mereka tidak ingin mengambil keputusan hanya karena sedang terbawa emosi.
Jika kamu termasuk orang seperti ini, mungkin kamu pernah menyebut dirimu sendiri sebagai “overthinker”.
Padahal, tidak semua proses berpikir yang panjang merupakan sesuatu yang buruk.
Ada perbedaan antara refleksi yang membantu dan ruminasi yang membuat kita terjebak.
Refleksi membantu kita memahami pilihan.
Ruminasi membuat kita mengulang pertanyaan yang sama tanpa menghasilkan kejelasan.
Jadi, jangan buru-buru membenci dirimu hanya karena kamu membutuhkan waktu.
Mungkin kamu memang tipe orang yang lebih nyaman dengan keputusan yang dipertimbangkan dengan matang.
Kamu tidak harus menjadi orang yang selalu spontan.
Kamu hanya perlu memastikan bahwa kehati-hatianmu tidak berubah menjadi ketakutan yang membuatmu tidak pernah bergerak.
4. Kamu Sangat Peduli terhadap Perasaan Orang Lain
Kamu mungkin sering memikirkan apakah perkataanmu menyakiti orang lain.
Kamu memperhatikan perubahan nada bicara seseorang.
Kamu tidak nyaman melihat orang kecewa karena tindakanmu.
Kamu mencoba memahami sudut pandang orang lain sebelum memberikan penilaian.
Kadang-kadang kamu bahkan terlalu lama memikirkan sebuah percakapan sederhana.
“Apakah tadi aku bicara terlalu kasar?”
“Jangan-jangan dia tersinggung.”
“Seharusnya aku mengatakan sesuatu yang berbeda.”
Sensitivitas seperti ini sering dianggap sebagai kelemahan.
Padahal, kemampuan memahami emosi orang lain merupakan bagian penting dari empati.
Orang yang memiliki empati tinggi biasanya mampu membaca situasi sosial dengan lebih baik dan mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.
Namun sekali lagi, ada batas yang perlu diperhatikan.
Empati menjadi masalah ketika kamu selalu mengorbankan dirimu sendiri demi menjaga perasaan semua orang.
Kamu tidak harus selalu mengatakan “iya”.
Kamu tidak harus selalu menjadi penengah.
Kamu tidak bertanggung jawab atas setiap emosi orang lain.
Dan kamu tidak harus merasa bersalah hanya karena seseorang kecewa terhadap keputusan yang sebenarnya sehat untukmu.
Jadi mungkin yang perlu berubah bukanlah sifat pedulimu.
Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap peduli tanpa kehilangan dirimu sendiri.
5. Kamu Tidak Terlalu Tertarik Mengikuti Apa yang Sedang Dilakukan Semua Orang
Ada orang yang merasa nyaman ketika mengikuti tren.
Mereka senang mencoba sesuatu yang baru karena banyak orang melakukannya.
Namun ada pula orang yang tidak terlalu peduli.
Ketika semua orang mengejar sesuatu, mereka bertanya:
“Apakah aku benar-benar menginginkannya?”
Ketika semua orang mengatakan bahwa sebuah gaya hidup adalah tanda keberhasilan, mereka bertanya:
“Apakah gaya hidup itu cocok untukku?”
Ketika orang lain berlomba menunjukkan pencapaian, mereka mungkin justru ingin hidup lebih sederhana.
Jika kamu seperti itu, jangan buru-buru menganggap dirimu tidak ambisius.
Mungkin kamu hanya memiliki definisi kesuksesan yang berbeda.
Psikologi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk diterima kelompok. Karena itu, wajar jika kita terkadang mengikuti standar lingkungan tanpa benar-benar bertanya apakah standar tersebut cocok untuk kita.
Namun semakin dewasa seseorang, semakin penting kemampuan untuk membedakan antara:
“Aku menginginkan ini.”
dan
“Aku merasa harus menginginkan ini karena orang lain menginginkannya.”
Tidak semua kehidupan harus terlihat mengesankan dari luar.
Ada orang yang bahagia dengan karier besar.
Ada yang bahagia dengan keluarga sederhana.
Ada yang mengejar uang.
Ada yang mengejar kebebasan.
Ada yang ingin dikenal.
Ada yang justru ingin hidup tenang tanpa banyak perhatian.
Tidak ada satu cetak biru kehidupan yang berlaku untuk semua orang.
6. Kamu Tidak Selalu Ingin Menjelaskan Dirimu kepada Orang Lain
Semakin dewasa, kamu mungkin mulai menyadari sesuatu:
Tidak semua orang perlu memahami pilihanmu.
Dulu mungkin kamu merasa harus menjelaskan semuanya.
Mengapa kamu tidak datang.
Mengapa kamu memilih pekerjaan tertentu.
Mengapa kamu menjauh dari seseorang.
Mengapa kamu tidak ingin ikut dalam suatu kegiatan.
Mengapa kamu membutuhkan waktu sendiri.
Namun kemudian kamu menyadari bahwa menjelaskan diri terus-menerus bisa melelahkan.
Dan yang lebih penting, penjelasan tidak selalu menghasilkan pemahaman.
Ada orang yang memang ingin memahami.
Tetapi ada juga orang yang sudah memiliki kesimpulan tentangmu sebelum kamu selesai berbicara.
Karena itu, tidak selalu perlu meyakinkan semua orang bahwa pilihanmu benar.
Selama keputusanmu tidak merugikan orang lain dan sesuai dengan nilai serta kebutuhan hidupmu, kamu tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang.
Diam bukan berarti lemah.
Menolak menjelaskan bukan berarti sombong.
Menjaga privasi bukan berarti memiliki sesuatu yang buruk untuk disembunyikan.
Kadang-kadang, kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengatakan:
“Aku menghargai pendapatmu, tetapi aku tetap memilih jalan ini.”
7. Kamu Sudah Tidak Ingin Menjadi Orang yang Disukai Semua Orang
Mungkin ini adalah tanda yang paling penting.
Pada suatu titik dalam hidup, kamu mulai lelah berusaha disukai semua orang.
Kamu mulai memahami bahwa betapapun baiknya kamu, akan selalu ada seseorang yang tidak menyukaimu.
Jika kamu terlalu diam, seseorang menganggapmu dingin.
Jika kamu terlalu banyak bicara, seseorang menganggapmu berisik.
Jika kamu menjaga batasan, seseorang menganggapmu egois.
Jika kamu terlalu membantu, seseorang mungkin menganggapmu mudah dimanfaatkan.
Jika kamu berkata jujur, seseorang mungkin merasa tersinggung.
Akhirnya kamu menyadari bahwa hidup dengan tujuan membuat semua orang menyukaimu adalah perlombaan yang tidak akan pernah selesai.
Kamu tidak bisa mengontrol persepsi orang lain.
Yang bisa kamu kontrol adalah bagaimana kamu memperlakukan mereka dan bagaimana kamu menjalani hidup sesuai dengan nilai yang kamu yakini.
Tentu saja, ini bukan berarti kita boleh bersikap kasar dan kemudian berkata, “Aku memang seperti ini.”
Menjadi diri sendiri bukan alasan untuk menyakiti orang lain.
Namun ada perbedaan antara menjadi orang baik dan terus-menerus mengorbankan diri agar diterima.
Jika kamu mulai mampu menerima bahwa tidak semua orang akan menyukaimu, mungkin itu bukan tanda bahwa kamu berubah menjadi buruk.
Mungkin itu tanda bahwa kamu mulai lebih berdamai dengan dirimu sendiri.
Jadi, Apakah Kamu Benar-Benar Tidak Perlu Berubah?
Bukan begitu.
Psikologi tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu berubah.
Manusia tetap perlu bertumbuh.
Kita perlu belajar dari kesalahan.
Kita perlu memperbaiki kebiasaan yang merusak diri sendiri dan orang lain.
Kita perlu belajar berkomunikasi.
Kita perlu mengembangkan kemampuan mengelola emosi.
Kita perlu bertanggung jawab atas pilihan kita.
Namun ada perbedaan antara perubahan yang berasal dari kesadaran dan perubahan yang lahir dari kebencian terhadap diri sendiri.
Perubahan yang sehat biasanya berkata:
“Aku ingin menjadi lebih baik karena aku menghargai diriku.”
Sedangkan perubahan yang lahir dari luka sering berkata:
“Aku harus menjadi orang lain karena diriku sekarang tidak cukup baik.”
Keduanya mungkin terlihat sama dari luar.
Tetapi secara psikologis, sumbernya sangat berbeda.
Kamu bisa berkembang tanpa membenci versi dirimu yang sekarang.
Kamu bisa belajar menjadi lebih percaya diri tanpa harus menjadi orang paling banyak bicara.
Kamu bisa menjadi lebih terbuka tanpa menceritakan semua hal kepada semua orang.
Kamu bisa menjadi lebih sosial tanpa kehilangan kebutuhanmu terhadap kesendirian.
Kamu bisa menjadi lebih berani tanpa harus berhenti berhati-hati.
Kamu bisa memiliki batasan tanpa menjadi egois.
Dan kamu bisa mencintai dirimu tanpa menganggap dirimu sempurna.
Mungkin yang Perlu Kamu Ubah Bukan Dirimu, tetapi Cara Kamu Melihat Dirimu
Kadang-kadang masalah terbesar bukanlah siapa kita.
Masalahnya adalah cerita yang kita buat tentang siapa kita.
Kamu menyebut dirimu “terlalu sensitif”.
Padahal mungkin kamu memiliki empati yang tinggi.
Kamu menyebut dirimu “terlalu pendiam”.
Padahal mungkin kamu nyaman dengan kehidupan yang tenang.
Kamu menyebut dirimu “terlalu hati-hati”.
Padahal mungkin kamu memahami konsekuensi dengan baik.
Kamu menyebut dirimu “aneh”.
Padahal mungkin kamu hanya tidak mengikuti norma kelompok.
Kamu menyebut dirimu “terlalu berbeda”.
Padahal mungkin kamu sedang menemukan jalanmu sendiri.
Tentu saja, kita harus tetap jujur terhadap diri sendiri.
Tidak semua kebiasaan harus dibenarkan hanya karena kita menyebutnya sebagai bagian dari kepribadian.
Tetapi kita juga tidak perlu mengubah setiap karakteristik yang membuat kita berbeda.
Pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Apa yang salah denganku?”
Melainkan:
“Apakah cara hidupku saat ini membuatku berkembang, terhubung dengan orang lain, dan hidup sesuai dengan nilai yang penting bagiku?”
Jika jawabannya iya, mungkin kamu tidak perlu menjadi orang lain.
Mungkin kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri dengan lebih sadar.
Pada Akhirnya, Bertumbuh Tidak Selalu Berarti Berubah Menjadi Orang Lain
Kita hidup dalam budaya yang sering membuat kita merasa belum cukup.
Belum cukup sukses.
Belum cukup cantik.
Belum cukup pintar.
Belum cukup produktif.
Belum cukup percaya diri.
Belum cukup sosial.
Belum cukup menarik.
Akibatnya, kita terus mengejar versi diri yang menurut kita akan lebih mudah dicintai dan diterima.
Padahal mungkin yang kita butuhkan bukanlah menjadi seseorang yang sama sekali berbeda.
Mungkin kita hanya perlu berhenti berperang dengan diri sendiri.
Menerima bahwa kita memiliki ritme sendiri.
Menerima bahwa kita memiliki kebutuhan sendiri.
Menerima bahwa tidak semua orang akan memahami kita.
Menerima bahwa hidup tidak harus terlihat sempurna agar terasa bermakna.
Dan yang paling penting, memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh.
Penerimaan adalah titik awal dari pertumbuhan yang lebih sehat.
Karena ketika kamu berhenti membenci dirimu, kamu tidak lagi berubah karena merasa tidak berharga.
Kamu berubah karena ingin merawat dirimu.
Kamu belajar bukan karena merasa bodoh.
Kamu belajar karena ingin berkembang.
Kamu menetapkan batasan bukan karena membenci orang lain.
Kamu menetapkan batasan karena mulai menghargai dirimu.
Kamu memilih kesendirian bukan karena merasa tidak layak dicintai.
Kamu memilih kesendirian karena memahami bahwa dirimu juga membutuhkan ruang untuk bernapas.
Dan mungkin, pada akhirnya, kedewasaan bukanlah ketika kita berhasil menjadi manusia yang sempurna.
Mungkin kedewasaan adalah ketika kita mampu melihat diri sendiri dengan jujur—dengan segala kekurangan, keunikan, kekuatan, dan kelemahan—lalu berkata:
“Aku masih ingin bertumbuh, tetapi aku tidak lagi membenci diriku hanya karena aku belum menjadi seperti yang orang lain harapkan.”
Karena kamu tidak selalu perlu menjadi berbeda untuk menjadi lebih baik.
Kadang-kadang, kamu hanya perlu berhenti menganggap dirimu sebagai masalah yang harus diperbaiki.
Dan mulai melihat dirimu sebagai manusia yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.