← Beranda
7 Ucapan Harian Pekerja yang Kelelahan Karena Rapat Kerja Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Senin, 12 Oktober 2026 | 19.54 WIB
Ucapan harian pekerja yang kelelahan karena rapat kerja menurut psikologi / foto : Magnific/ yanalya

JawaPos.com – Rapat kerja yang padat sering membuat pekerja merasa terkuras, padahal waktu mereka sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan inti.

Data menunjukkan sebagian besar pertemuan tidak efektif karena pembahasan berputar-putar dan memotong alur kerja, sehingga produktivitas kantor ikut terganggu.

Dari sisi psikologi, kelelahan kerja tersebut tercermin pada kalimat-kalimat yang diucapkan para pekerja mandiri hampir setiap hari.

Dilansir dari laman YourTango pada Senin (12/10), berikut tujuh ucapan yang biasa dipakai orang yang kehabisan tenaga akibat rapat kerja berulang.

Baca Juga: 5 Hal yang Bisa Terjadi saat Kamu Jatuh Cinta pada Orang yang Tepat Menurut Psikologi, Apa Saja?

1. Bisakah kita bahas ini secara terpisah?

Pertemuan daring ternyata sama menguras tenaganya dengan pertemuan tatap muka, sehingga banyak pekerja ingin segera keluar dari panggilan video.

Orang yang memakai alasan apa pun untuk memindahkan pembahasan ke jalur terpisah kemungkinan sudah merasa jenuh dengan jadwal pertemuan.

Kolaborasi memang penting untuk sejumlah proyek, tetapi porsinya harus seimbang agar tidak ada anggota tim yang gagal memenuhi tenggat.

Lelucon tentang pertemuan yang cukup disampaikan lewat surel mengandung kebenaran, terutama bagi karyawan berusaha menyisihkan waktu tenang untuk bekerja.

2. Mari ikuti agenda

Berpindah-pindah antartugas di meja kerja sambil mengejar banyak tenggat dapat membebani kesehatan mental sekaligus menurunkan kinerja seseorang secara bertahap.

Hal serupa terjadi dalam pertemuan, ketika peserta harus melompat dari obrolan ringan menuju pemecahan masalah yang menuntut konsentrasi tinggi.

Pekerja yang terkuras oleh percakapan kantor kesulitan mengikuti pergantian topik yang terlalu sering, sehingga tenaga mental mereka cepat habis.

Karena itu, mereka memakai kalimat tersebut untuk melindungi kesejahteraan diri dan mengurangi kelelahan di lingkungan yang sudah penuh tekanan.

3. Saya butuh waktu untuk berpikir

Orang introver membutuhkan waktu sunyi untuk mencerna informasi, sehingga jadwal pertemuan beruntun mudah membuat mereka cepat kelelahan secara mental.

Mereka perlu menetapkan batasan agar pekerjaan inti benar-benar terselesaikan, selain merasa letih karena harus terus berbasa-basi dengan rekan kerja.

Membaca isyarat sosial dan mendengarkan secara aktif selama pertemuan tetap menguras energi, meskipun proses itu berlangsung tanpa disadari seseorang.

Rasa terkuras setelah pertemuan membuat seseorang hampir mustahil kembali larut dalam proyek yang sebelumnya sedang ia kerjakan dengan baik.

4. Rasanya saya tidak punya waktu

Ketika seluruh waktu kerja habis di dalam pertemuan, para ahli kemudian menyebutnya beban pertemuan yang berlebihan atau meeting overload.

Mereka terlalu banyak membicarakan pekerjaan bersama rekan kantor, sehingga tidak tersisa waktu untuk benar-benar mengerjakannya sebelum jam pulang tiba.

Interaksi dan obrolan ringan membuat mereka terkuras, tetapi tugas yang belum selesai memaksa mereka bekerja lebih lama dari seharusnya.

5. Maaf, bisa diulangi?

Otak yang lelah tidak dapat bekerja optimal sehingga tugas dasar seperti fokus pada pembicara atau mengikuti pertemuan terasa berat.

Ucapan “Maaf, bisa diulangi?” mungkin tampak sepele, bahkan terkadang sedikit menjengkelkan pada saat diucapkan dalam sebuah pertemuan yang panjang.

Namun, kalimat itu dapat menjadi tanda peringatan bahwa seseorang sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar gangguan konsentrasi.

6. Siapa yang memegang ini?

Kebingungan pemimpin atau pembagian peran sudah melelahkan, tetapi pertanyaan “Siapa yang memegang ini?” bisa menjadi upaya menjaga batasan.

Hal ini terutama berlaku jika benaknya sudah dipenuhi banyak urusan dan pertemuan yang tidak perlu mengalihkan perhatian dari pekerjaan.

Prioritas utama mereka adalah memastikan tidak ada tugas tambahan yang menumpuk di atas beban kerja yang memang sudah penuh.

Mereka menuntut adanya penanggung jawab yang jelas supaya tidak terus mencemaskan tugas yang harus dikerjakan diam-diam setelah pertemuan berakhir.

7. Saya sudah tidak tahan melihat diri sendiri

Pada pertemuan virtual, pekerja terpaksa menatap dirinya sendiri di jendela layar sepanjang hari, dan hal itu menambah rasa lelah.

Selain waktu yang terbuang sia-sia, mereka harus mengelola rasa canggung dan kurang percaya diri yang muncul saat melihat penampilannya.

Studi dalam Clinical Psychological Science menunjukkan bahwa memandangi wajah sendiri selama obrolan virtual dapat memengaruhi suasana hati secara serius.

Wajar bila sebagian orang merasa terkuras setelah panggilan berakhir, sebab mereka juga dipaksa menghadapi rasa tidak aman dalam dirinya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho