JawaPos.com - Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami gigi ngilu tiba-tiba saat sedang makan atau minum. Sensasi tajam seperti menusuk ini sering kali muncul ketika bertemu dengan makanan dingin, panas, manis, ataupun asam.
Bahkan rasa ngilu ini dapat menjalar sampai ke kepala. Meskipun umumnya hanya berlangsung singkat, tetapi rasa ngilu ini kerap kali merusak mood makan bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gigi ngilu atau dentin hypersensitivity merupakan kondisi dimana lapisan pelindung gigi terkikis atau gusi mulai menyusut. Kondisi inilah yang membuat saraf gigi menjadi lebih rentan terhadap rangsangan, baik itu dari makanan maupun kegiatan membersihkan mulut setiap harinya.
Ngilu gigi memang tidak hanya dirasakan ketika makan atau minum saja. Melansir dari Hello Sehat, ada beberapa kebiasan sehari-hari yang tanpa disadari dapat memicu atau memperburuk gigi ngilu.
1. Menyikat Gigi
Menyikat gigi dengan tekanan yang terlalu kuat atau menggunakan bulu sikat yang terlalu keras dapat menyebabkan pengikisan enamel secara bertahap.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa menyikat gigi dengan kuat dapat membersihkan gigi lebih baik. Padahal kebiasaan ini justru dapat merusak lapisan pelindung alami gigi.
Teknik menyikat gigi yang benar seharusnya tidak perlu digosok kencang-kencang, hanya gerakan melingkar yang lembut dan dilakukan sekitar 2 menit.
2. Makanan Manis dan Asam
Mengonsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula serta asam secara berlebihan dapat menyebabkan erosi enamel gigi dan meningkatkan risiko gigi ngilu.
Makanan yang tinggi gula dapat memicu pembentukan plak gigi, apalagi jika setelah makan, kamu tidak membersihkan gigi dengan benar.
Sedangkan makanan asam dapat mempercepat terkikisnya enamel gigi. Jika kebiasaan ini tidak segera dikurangi atau dihentikan, maka dapat meningkatkan risiko gigi berlubang.
3. Makanan Panas atau Dingin
Perubahan suhu yang ekstrem dapat langsung memicu rasa nyeri pada gigi yang sensitif. Terutama jika enamel sudah melemah, maka saraf gigi menjadi lebih mudah terstimulasi sehingga ngilu dapat datang secara mendadak.
Selain itu, makanan atau minuman dengan suhu yang ekstrem jika dikonsumsi terlalu sering dapat menyebabkan peradangan pada pulpa gigi dan memperburuk kondisi gigi yang sudah sensitif.
4. Penggunaan Pasta Gigi Pemutih
Pasta gigi pemutih biasanya mengandung bahan abrasif yang dirancang untuk mengangkat noda pada permukaan gigi. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat mengikis enamel gigi.
Oleh karena itu, penggunaan pasta gigi pemutih yang tidak diberi jeda justru dapat membuat gigi lebih rapuh dan sensitif yang menyebabkan gigi lebih mudah terasa ngilu saat terkena rangsangan.
5. Berkumur dengan Mouthwash
Banyak orang mungkin beranggapan, bahwa berkumur denganmouthwash dapat membuat mulut lebih bersih dan segar. Namun, faktanya beberapa jenis obat kumur mengandung alkohol yang dapat mengiritasi gusi dan menipiskan enamel gigi.
Selain itu, penggunaan mouthwash yang lebih dari dua kali sehari dapat menganggu keseimbang pH alami mulut. Hal ini dapat membuat mulut menjadi kering karena produksi saliva berkurang.
Jika kamu sering merasakan gigi ngilu, ada baiknya perhatikan lagi kebiasaan sehari-hari. Jika keluhan sudah mengganggu aktivitas, segera konsultasikan ke dokter gigi.
Cara Menangani Gigi Ngilu
Mengutip dari laman RS Pondok Indah Group, ada dua cara penanganan gigi ngilu, yaitu:
1. Terapi Non-Invasif
Jika keluhan gigi ngilu masih tergolong ringan, penangan awal dapat dimulai dengan perawatan mandiri di rumah. Kamu dapat menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif yang mengandung bahan aktif seperti potasium nitrat atau potasium sitrat. Selain perawatan di rumah, kamu juga dapat mengunjungi dokter gigi.
Dokter gigi akan melakukan tindakan non-invasif atau tindakan tanpa pembedahan, yaitu dengan mengoleskan bahan desensitisasi pada permukaan gigi yang sensitif. Tindakan ini dapat memberikan perlindungan ekstra dan mengurangi tingkat sensitivitas gigi.
2. Terapi invasif
Ketika keluhan ngilu pada gigi sudah sangat parah dan terapi non-invasif tidak dapat menguranginya, maka diperlukan tindakan lanjut berupa terapi invasif. Terapi ini meliputi penambalan untuk menutup area dentin yang terbuka atau perawatan akar jika ada kerusakan pada pulpa gigi.
Pemilihan jenis terapi invasif akan disesuaikan kembali dengan kondisi spesifik masing-masing pasien dan tingkat keluhan yang dialami.
Maka dari itu, penting bagi kita semua untuk lebih peduli dengan apa yang kita konsumsi sehari-hari, memperhatikan kebiasaan membersihkan mulut dan rutin konsultasi dengan dokter gigi sebagai upaya menjaga kesehatan gigi dan mencegah terjadinya gigi ngilu. Kombinasi dari perawatan profesional dan kebiasaan hidup sehat akan memberikan double perlindungan bagi kesehatn gigi dan mulut kita.