Jawapos.com - Jalan kaki sering dianggap olahraga paling sederhana. Namun, penelitian menunjukkan bahwa seberapa cepat Anda melangkah ternyata dikatakan lebih awet muda.
Dilansir Life Extension, peneliti dari University of Leicester, Inggris, menganalisis data lebih dari 400 ribu warga Inggris. Hasilnya, orang yang mengaku berjalan lebih cepat cenderung memiliki telomer yang lebih panjang.
Telomer adalah "tutup pelindung" di ujung kromosom yang memendek setiap kali sel membelah diri. Panjang telomer kerap dipakai sebagai penanda usia biologis seseorang, yakni seberapa "tua" tubuh Anda dari dalam, terlepas dari angka di KTP.
Baca Juga: 10 Buah dengan Kadar Gula Tinggi yang Perlu Diperhatikan Pengidap Diabetes
Disebut Setara 16 Tahun Lebih Muda
Dalam penelitian tersebut, mereka yang berjalan cepat memiliki profil telomer yang secara biologis setara dengan orang yang 16 tahun lebih muda dibandingkan pejalan kaki yang lambat.
Analisis sebelumnya terhadap kelompok warga yang sama juga mengaitkan jalan cepat dengan harapan hidup yang lebih panjang, bahkan hingga 20 tahun dibandingkan mereka yang berjalan pelan.
Seberapa Cepat Disebut Jalan Cepat?
Penelitian ini membagi kecepatan berjalan menjadi tiga kategori yakni Lambat dengan kurang dari 3 mil per jam (sekitar 4,8 km/jam), Sedang dengan jarak 3 sampai 4 mil per jam (sekitar 4,8 sampai 6,4 km/jam), dan Cepat dengan jarak lebih dari 4 mil per jam (di atas 6,4 km/jam).
Kecepatan sekitar 5 mil per jam (8 km/jam) sudah masuk kategori jogging atau lari. Jika Anda tidak yakin sudah berjalan cukup cepat, aplikasi kebugaran di ponsel bisa membantu mencatat kecepatan dan jarak tempuh.
Manfaat Jalan Cepat bagi Tubuh
Jalan cepat termasuk olahraga aerobik. Penelitian-penelitian tentang olahraga jenis ini mengaitkannya dengan sejumlah manfaat berikut.
- Membakar kalori dan membantu turun berat badan. Penurunan berat badan sekitar 5 persen saja sudah dikaitkan dengan manfaat kesehatan jangka panjang.
- Menjaga kesehatan otot.
- Meningkatkan kebugaran jantung dan paru.
- Memperlancar aliran darah ke otak. Ini dinilai berperan melindungi dari demensia.
- Menurunkan risiko kematian akibat berbagai penyebab, terutama penyakit jantung.
- Mengaktifkan jalur AMPK. Jalur ini terkait autophagy, yakni proses "bersih-bersih" alami sel untuk membuang protein rusak dan limbah lain. Autophagy yang sehat dikaitkan dengan umur yang lebih panjang.
Cepat atau Lama, Mana yang Lebih Penting?
Menariknya, dalam penelitian tersebut jalan cepat berkaitan dengan telomer yang lebih panjang tanpa bergantung pada berapa lama waktu yang dihabiskan untuk berjalan.
Sebuah studi Mayo Clinic pada lansia juga menemukan bahwa jalan cepat total 50 menit per minggu sudah meningkatkan kebugaran jantung dan paru. Manfaatnya tidak bertambah signifikan meski durasinya diperpanjang. Sebaliknya, jalan pelan dalam waktu lama tidak terkait dengan peningkatan kebugaran.
Meski begitu, jumlah langkah harian tetap penting. Merujuk Harvard Health, peserta yang mencapai 8 ribu langkah per hari memiliki risiko meninggal akibat semua penyebab, terutama penyakit jantung, sekitar separuh dibandingkan mereka yang langkahnya setengahnya.
Jadi, kombinasi yang ideal adalah sekitar 50 menit jalan cepat per minggu dan sekitar 8 ribu langkah per hari.
Jangan Berhenti di Jalan Kaki Saja
Jalan cepat memang bagus, tetapi sebaiknya bukan satu-satunya olahraga Anda. Latihan beban membantu mengurangi risiko sarkopenia (hilangnya massa otot) dan kerapuhan pada usia lanjut, yang meningkatkan risiko jatuh dan cedera serius. Variasi intensitas, seperti latihan interval intensitas tinggi (HIIT), juga memberi manfaat tambahan.
Bagi yang baru mulai atau lama tidak berolahraga, mulailah dari kecepatan yang nyaman, lalu naikkan perlahan. Jika lutut atau sendi tidak memungkinkan jalan cepat atau lari, berenang dan bersepeda bisa menjadi alternatif.
Perlu Diingat, Ini Bukan Bukti Sebab-Akibat
Para penulis menegaskan bahwa penelitian ini hanya mengukur panjang telomer, bukan lama hidup. Belum ada bukti pasti bahwa mencegah telomer memendek akan memperpanjang umur.
Selain itu, tidak diketahui apakah orang berumur panjang karena berjalan cepat, atau justru mereka yang lebih sehat memang mampu berjalan lebih cepat. Penuaan sendiri membuat langkah melambat.
Meski demikian, bukti bahwa aktivitas fisik menyehatkan tubuh sangat kuat, dan berjalan lebih cepat disebut lebih baik daripada berjalan lambat.
Kalau saat ini belum bisa jalan cepat, tidak perlu berkecil hati. Setiap menit yang dihabiskan untuk bergerak tetap lebih baik daripada duduk di sofa. Yang penting, mulai melangkah.