← Beranda
Donor Plasma Makin Dibutuhkan, Apa Bedanya dengan Donor Darah?
Tazkia Royyan Hikmatiar• Kamis, 8 Oktober 2026 | 05.15 WIB
Donor plasma konvalesen di UTD PMI Surabaya. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Selama ini, masyarakat awam lebih akrab dengan donor darah daripada donor plasma. Padahal, keduanya penting dan mempunyai manfaat yang berbeda bagi orang yang membutuhkannya. 

Plasma sendiri mulai mendapat perhatian karena plasma darah dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP) yang dibutuhkan untuk menangani pasien dengan sejumlah kondisi medis seperti hemofilia. Meski sama-sama berasal dari proses donor, pengambilan plasma berbeda dengan donor darah biasa.

Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., menjelaskan plasma merupakan komponen terbesar dalam darah dengan porsi sekitar 55 persen dari volume darah. Plasma mengandung protein penting seperti albumin, antibodi, dan faktor pembekuan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan terapi.

Baca Juga: Clara Shinta Bantah Tudingan Kerap Gonta-ganti Pasangan

“Berbeda dengan donor darah utuh, dalam pengambilan plasma menggunakan alat apheresis, plasma dipisahkan dari komponen darah lainnya, dan komponen lain tersebut dikembalikan ke tubuh donor plasma,” kata Teguh dalam rangkaian International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026, Rabu (7/10).

Dengan metode tersebut, donor plasma tidak mengambil seluruh komponen darah seperti pada donor darah utuh. Plasma yang terkumpul kemudian dapat diproses menjadi berbagai produk terapi, termasuk untuk membantu pasien dengan hipoalbuminemia, gangguan perdarahan, dan imunodefisiensi.

Kebutuhan terhadap plasma berkaitan dengan penggunaan PODP pada pasien yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan. Produk tersebut antara lain digunakan dalam perawatan pasien hemofilia dan imunodefisiensi primer.

Ketua Umum Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) dan Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menambahkan bahwa PODP memiliki peran penting dalam pengobatan pasien dengan kelainan darah dan kondisi medis tertentu.

Baca Juga: Resmi! BPIH 2027 Disepakati Rp 98 Juta, Biaya Pelunasan Per Jemaah Rp 54 Juta

“Bagi pasien tersebut, pengobatan jangka panjang dan berkelanjutan menjadi hal yang penting. Karena itu, penguatan ekosistem plasma diperlukan untuk mendukung ketersediaan PODP yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan,” ujar Tubagus.

Ketersediaan plasma sendiri tidak terlepas dari keberadaan donor, proses pengambilan yang aman, hingga pengolahan plasma menjadi produk terapi. Karena itu, penguatan ekosistem plasma membutuhkan keterlibatan pemerintah, layanan kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, serta industri.

Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht mengatakan, penguatan ekosistem plasma menjadi bagian penting untuk mendukung pasien dengan kondisi kompleks dan membutuhkan terapi berkelanjutan.

“Di Indonesia, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan mendukung pengembangan ekosistem plasma yang berkelanjutan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan,” kata Andreas.

Takeda menyatakan akan memanfaatkan pengalaman globalnya dalam pengumpulan dan pengolahan plasma untuk mendukung pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia melalui jaringan BioLife di berbagai negara, dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.

International Plasma Awareness Week 2026 berlangsung pada 5–9 Oktober dengan tema “Plasma Powers Possibility”. Momentum tersebut digunakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma, peran donor, serta kaitan antara ketersediaan plasma dengan kebutuhan pasien yang membutuhkan PODP.

EDITOR: Bintang Pradewo