JawaPos.com - Kunyit sudah lama jadi andalan di dapur dan lemari jamu masyarakat Indonesia.
Rempang berwarna kuning ini dipercaya bisa meredakan berbagai keluhan, dari nyeri sendi hingga gangguan pencernaan.
Seiring populernya gaya hidup sehat, klaim tentang kunyit kian beragam di media sosial dan mesin pencari.
Mulai dari menurunkan peradangan, mengatasi migrain, sampai mencegah kanker dan Alzheimer, semuanya disebut bisa diatasi dengan kunyit.
Pertanyaannya, klaim mana yang benar-benar didukung penelitian, dan mana yang masih sebatas harapan?
Para ahli menilai jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak, terutama bila dibedakan antara kunyit sebagai bumbu dan kurkumin sebagai suplemen.
Melansir dari laman The Ohio State University pada Kamis (08/10), menjelaskan bahwa bukti praklinis pada sel dan hewan menunjukkan kurkumin, senyawa aktif kunyit, bersifat antiinflamasi dan antioksidan.
Studi pada manusia pun semakin banyak, penggunaan kurkumin secara teratur berpotensi memperbaiki kadar gula darah, kolesterol, trigliserida, dan indeks massa tubuh.
Kurkumin juga dikaitkan dengan perbaikan gejala kolitis ulseratif, berkurangnya iritasi kulit pada pasien kanker payudara yang menjalani radioterapi, serta menurunnya serangan jantung pada pasien pasca operasi bypass.
Bukti paling banyak terdapat pada nyeri sendi. Tinjauan atas 11 meta analisis menyimpulkan kurkumin signifikan menurunkan nyeri dan kekakuan serta memperbaiki fungsi pada osteoartritis.
Penelitian lain menyebut tidak ada perbedaan hasil berarti antara kunyit dan obat antiinflamasi nonsteroid pada tiga studi yang membandingkannya.
Meski menjanjikan, sebagian besar hasil penelitian belum bisa begitu saja diterapkan pada kunyit di dapur.
Penelitian juga menyebutkan mengkonsumsi suplemen kurkumin, bukan kunyit utuh. Bubuk kunyit hanya mengandung sekitar 2 persen kurkumin, sedangkan suplemen bisa mencapai 95 persen.
Penelitian dalam Journal of Medicinal Chemistry pada 2017, menyebutkan kurkumin tidak stabil dan sulit diserap tubuh, serta tidak menemukan uji tersamar yang sukses membuktikan khasiatnya sebagai obat.
Klaim kunyit dapat mencegah atau mengobati kanker dan Alzheimer pun belum memiliki bukti klinis yang cukup kuat.
Kunyit sebagai bumbu aman dikonsumsi beberapa sendok teh per hari, kecuali bagi yang alergi.
Suplemen berbeda, kurkumin dapat memperkuat efek obat pengencer darah seperti aspirin dan klopidogrel.
Penderita kanker sensitif hormon serta ibu hamil dan menyusui tidak dianjurkan memakainya tanpa arahan dokter.
Agar penyerapannya lebih baik, padukan kunyit dengan lemak dan lada hitam, misalnya dalam golden milk, tumisan, atau campuran nasi.
Kunyit bukan obat ajaib, manfaat akan muncul bila disertai pola makan kaya buah dan sayur serta olahraga rutin.
***