← Beranda
Salmonella Lebih Bahaya dari Diare Biasa, Ini Alasan dan Komplikasinya
Cicilia Margarettha• Jumat, 9 Oktober 2026 | 04.05 WIB
Ilustrasi memotong daging mentah yang berisiko mengandung bakteri Salmonella. (Pexels)

 

 

JawaPos.com – Menerapkan keamanan pangan di dapur adalah langkah terbaik untuk mencegah keracunan makanan dan komplikasi Salmonella.

Diare, mual, dan perut melilit setelah makan sering dianggap masalah pencernaan biasa yang akan sembuh sendiri, padahal bisa jadi tanda infeksi Salmonella atau keracunan makanan.

Banyak orang memilih menunggu di rumah tanpa mencari tahu penyebab diare tersebut terjadi.

Padahal, gejala serupa bisa disebabkan oleh bakteri Salmonella yang sering bersembunyi di makanan sehari-hari, seperti ayam, telur, dan sayuran mentah.

Pada sebagian orang, infeksi ini bisa berkembang lebih serius dibanding diare biasa hingga menyebabkan komplikasi.

Penting memahami bagaimana bakteri ini menular, siapa yang paling berisiko, dan kapan gejala perlu diperiksakan ke dokter.

Melansir dari laman The Ohio State University pada Kamis (08/10), menjelaskan bahwa Salmonella adalah bakteri yang hidup di usus manusia dan banyak hewan.

Penularan umumnya terjadi lewat makanan yang tercemar bakteri hidup, seperti ayam kurang matang, atau air minum yang terkontaminasi.

Bakteri juga bisa menempel di tangan setelah menyentuh hewan terinfeksi atau kotorannya, lalu masuk saat tangan menyentuh mulut.

Sumber lainnya meliputi daging babi, telur, buah seperti melon dan beri, selai kacang, makanan beku olahan, serta kecambah.

Tepung pun bisa mengandung Salmonella, karena tidak melalui proses pemanasan saat diproduksi.

Gejala meliputi demam, kram perut, mual, muntah, sakit kepala, dan diare yang bisa berdarah.

Keluhan biasanya muncul dalam beberapa jam hingga beberapa hari dan berlangsung sekitar empat sampai tujuh hari. Sebagian besar orang pulih tanpa antibiotik.

Diare berat atau muntah tanpa henti perlu segera diperiksakan karena dapat menyebabkan dehidrasi.

Bakteri juga bisa berpindah dari usus ke aliran darah, dan kondisi itu tergolong sangat serius.

Kelompok berisiko tinggi adalah lansia dan orang dengan sistem imun lemah, yang dapat mengalami komplikasi hingga kematian.

Literatur medis mencatat beberapa komplikasi, sekitar 5 persen infeksi Salmonella non tifoid (keracunan makanan), bakteri masuk ke aliran darah (bakteremia), dan pada sebagian kecil kasus dapat menimbulkan abses, radang sendi, atau infeksi katup jantung.

Komplikasi lain adalah artritis reaktif, yang ditandai nyeri dan bengkak di lutut, pergelangan kaki, dan tumit.

Ada pula bukti bahwa infeksi ini meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus.

Cara mencegah masalah kesehatan akibat infeksi Salmonella atau keracunan makanan:

  1. Cuci tangan secara rutin, terutama setelah memegang hewan dan sebelum makan.
  2. Masak makanan hingga suhu internal aman, umumnya sekitar 74 derajat celcius (165 derajat fahrenheit), termasuk telur yang harus matang dan tidak lagi cair.
  3. Jaga makanan panas tetap panas dan makanan dingin tetap dingin, serta bersihkan talenan dan pisau setelah memotong daging mentah.
  4. Batasi konsumsi sayur mentah atau kecambah, karena pencucian tidak selalu menghilangkan bakteri.

Jika Anda mengalami gejala infeksi Salmonella seperti diare disertai demam tinggi, tinja berdarah, atau tanda dehidrasi, segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Menerapkan keamanan pangan di dapur dan memperhatikan makan yang Anda konsumsi adalah langkah terbaik untuk mencegah keracunan makanan dan komplikasi Salmonella

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti