JawaPos.com – Dyslexia atau disleksia merupakan kondisi yang memengaruhi cara otak dalam memproses bahasa tulisan dan informasi, yang tidak ada pengaruhnya dengan tingkat kecerdasan.
Mengutip rujukan medis dari Alodokter dan Halodoc, disleksia pada dasarnya merupakan gangguan saraf pada bagian otak yang bertugas memproses bahasa. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa dan bersifat seumur hidup (lifelong condition).
Tapi memang, disleksia kerap disalahpahami masyarakat sebagai gangguan yang memengaruhi tingkat kecerdasan (IQ) penderitanya. Padahal, anak dengan disleksia memiliki potensi akademis dan kreativitas yang luar biasa jika mendapat pendampingan yang tepat.
Baca Juga: El Grande Edukasi Manfaat Bio Energy bagi Atlet Padel
Disleksia juga berbeda dari Auditory Processing Disorder (APD). Jika APD adalah ketidakmampuan otak mengolah suara yang didengar misalnya keliru mendengar kata "kotak" menjadi "katak", sedangkan disleksia murni berfokus pada pengolahan bahasa dan simbol tulisan.
Hapus Standar Tes IQ: Tak Ada Lagi Anak yang Terabaikan
Menariknya, para ahli dunia baru saja melakukan pembaruan besar-besaran terkait definisi disleksia untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade. Terbit di jurnal Annals of Dyslexia, definisi anyar hasil konsensus belasan pakar internasional ini membawa angin segar bagi dunia pendidikan dan medis.
Salah satu poin revolusioner dalam pembaruan definisi ini adalah dihapuskannya keterkaitan tes IQ dalam mendiagnosis disleksia. Pada panduan lama sejak 2002, seseorang baru terdiagnosis disleksia jika terdapat gap atau selisih hingga 15 poin antara skor tes membaca dan tes IQ terstandar.
Pendekatan lama tersebut terbukti sering memakan korban.
"Banyak anak yang hampir memenuhi definisi itu, tetapi meleset satu poin saja dari selisih 15 poin tersebut. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan bantuan atau penanganan khusus yang dibutuhkan," ungkap R. Malatesha Joshi, psikolog pendidikan dari Texas A&M University.
Kini, tes IQ tidak lagi menjadi syarat mutlak. Penilaian kini difokuskan pada evaluasi kemampuan membaca dan mengeja secara langsung dari waktu ke waktu setelah proses pembelajaran.
Selain itu, kriteria penyebab disleksia dibuat lebih luas. Jika dulu condong dikategorikan murni gangguan neurobiologis, kini faktor genetik serta interaksi lingkungan ikut diperhitungkan. Keterlibatan studi dari bahasa non-Inggris (seperti bahasa beraksara atau bersistem fonetik berbeda) juga makin diperhatikan agar diagnosis tidak lagi bias budaya atau bahasa Barat.