← Beranda
Anak Disleksia Punya Kesempatan Belajar, Ketahui Gejala dan Penangannya
Berliana Rizqia Putri• Jumat, 9 Oktober 2026 | 15.43 WIB
Ilustrasi anak dengan disleksia sering merasa frustrasi saat belajar. (Freepik)

JawaPos.com – Anak dengan dyslexia atau disleksia memiliki kondisi kesulitan membaca, menulis, hingga mengeja abjad. Tapi dengan penanganan yang tepat, setiap anak yang mengidap disleksia dipastikan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mengukir prestasi.

Akibat kesulitan membaca, tak jarang anak menjadi frustrasi, cepat marah, atau justru menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa minder.

Dilansir dari NHS, Jumat (9/10), meski tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan, disleksia bisa ditangani secara efektif melalui pendekatan edukasi khusus, terutama jika diintervensi sejak dini.

Baca Juga: Disleksia Bukan Soal Kecerdasan, Tapi Gangguan Saraf Memproses Bahasa Tulisan

Salah satunya dengan metode Fonik atau Phonics Method. Metode ini paling efektif untuk anak-anak. Metode ini berfokus pada pengenalan elemen dasar bunyi bahasa (fonem), menghubungkan bunyi dengan huruf/simbol, hingga belajar merangkai kata dan membangun kosakata baru.

Selain itu, orang tua juga disarankan berdiskusi dengan guru atau Koordinator Kebutuhan Khusus di sekolah (Special Educational Needs Coordinator) untuk menyusun rencana belajar yang adaptif. Misalnya pemanfaatan media visual atau belajar dalam kelompok kecil.

Gejala Disleksia

National Health Service (NHS) Inggris dan Alodokter mencatat sejumlah indikator atau tanda disleksia berdasarkan jenjang usia.

• Usia Balita & Prasekolah:

- Perkembangan bicara cenderung lebih lambat dibanding anak seusianya.

- Lambat mempelajari nama dan bunyi abjad.

- Kurang tertarik pada aktivitas berulang yang melibatkan bahasa, seperti menyebutkan urutan abjad.

 

• Usia Sekolah:

- Sering menulis huruf atau kata terbalik (misal menulis 'd' menjadi 'b', 'p' menjadi 'q', atau 'tip' menjadi 'pit').

- Lambat dan ragu-ragu saat membaca nyaring.

- Sulit mengingat urutan hari, bulan, atau mempelajari konsep jam dan angka.

- Hasil tulisan tangan cenderung tidak rapi dan dipenuhi banyak kesalahan ejaan.

- Kesulitan memahami instruksi verbal bertingkat atau menemukan kata yang tepat saat menjawab pertanyaan.

 

• Remaja dan Dewasa:

- Sering salah mengucapkan nama orang atau kata-kata yang tidak umum.

- Kesulitan memahami lelucon, kiasan, atau ungkapan idiom (seperti "kambing hitam").

- Kesulitan mempelajari bahasa asing dan cenderung menghindari aktivitas membaca atau menulis.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah