JawaPos.com - Berolahraga rutin, makan teratur, dan berusia muda sering dianggap jaminan jantung sehat.
Kabar seseorang yang tampak bugar tiba-tiba mengalami henti jantung selalu mengejutkan banyak orang.
Kasus kematian jantung mendadak akibat kardiomiopati hipertrofik menunjukkan punya gejala seperti nyeri dada, pingsan, atau jantung berdebar, dan punya setidaknya satu kelainan sebelum meninggal.
Penelitian dalam Journal of the American Heart Association pada 2025, menyebut kardiomiopati aritmogenik sebagai salah satu penyebab utama kematian jantung mendadak pada atlet dan orang muda, serta olahraga intens dapat mempercepat munculnya penyakit pada penderitanya.
Henti jantung berbeda dari serangan jantung. Pada henti jantung, jantung tiba-tiba berhenti berdenyut efektif akibat gangguan irama, sehingga aliran darah ke otak dan organ lain terhenti dan korban bisa langsung tak sadarkan diri.
Pada usia muda, penyebabnya sering bukan gaya hidup, melainkan kelainan jantung yang tidak terdeteksi sejak lama.
Di sinilah tanda-tanda kecil yang sering dianggap sepele menjadi penting untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Melansir dari laman The Ohio State University pada Jumat (09/10), menyebutkan bahwa dengan melakukan tes aritmia atau detak jantung dapat menjadi langkah awal mencegah henti jantung mendadak.
Salah satu penyebab henti jantung pada orang muda adalah gangguan irama jantung, yaitu detak jantung yang terlalu cepat dan tidak teratur sehingga jantung tidak lagi memompa darah dengan efektif.
Gangguan ini umumnya berasal dari ruang bawah jantung, dan untuk mencegah kejadian berulang biasanya dokter dapat memasang alat kecil di dada bernama implantable cardioverter defibrillator (ICD).
Alat ini terus memantau detak jantung. Bila iramanya berbahaya, implantable cardioverter defibrillator (ICD) memberikan kejutan listrik agar jantung kembali berdetak normal.
Setelah itu, dokter biasanya mencari penyebab dasarnya lewat pemindaian jantung dan tes genetik.
Pada sebagian orang, penyebabnya adalah kelainan bawaan yang diturunkan dalam keluarga.
Kelainan ini membuat sebagian otot jantung rusak dan berubah menjadi jaringan parut.
Jaringan parut tersebut mengganggu aliran sinyal listrik yang mengatur detak jantung, sehingga irama jantung mudah kacau.
Penyakit jenis ini sering mulai muncul pada usia dua puluhan, meski bisa muncul lebih lambat.
Kondisi yang sudah ada sejak lahir, kelainan ini kerap tidak diketahui sampai terjadi gejala serius.
Kelainan jantung bawaan karena dapat diturunkan, anggota keluarga penderita dianjurkan menjalani pemeriksaan.
Tes genetik membantu menemukan siapa yang membawa kelainan tersebut, sehingga kesehatan jantungnya bisa dipantau dan langkah pencegahan diambil lebih awal, sebelum masalah muncul.
- Tanda yang sering diabaikan
Penelitian menunjukkan sebagian korban yang mengalami henti jantung mendadak sebenarnya punya sinyal.
Studi Journal of the American Board of Family Medicine pada 2012, menyebutkan pada 79 anak dan dewasa muda yang mengalami henti jantung menemukan 24 persen pernah pingsan atau kejang tak jelas yang belum didiagnosis sebagai masalah jantung.
Sementara pada 27 persen keluarganya melaporkan ada kerabat meninggal mendadak sebelum usia 50 tahun akibat penyakit jantung.
Segera periksakan diri bila mengalami pingsan atau hampir pingsan, terutama saat berolahraga, nyeri dada, jantung berdebar tak wajar, atau memiliki riwayat keluarga meninggal mendadak di usia muda.
Penangan dan satu-satunya cara menyelamatkan korban di luar rumah sakit adalah CPR hingga alat defibrilator eksternal otomatis (AED) tersedia.