← Beranda
Kapan Pemberian Makanan Pendamping Bayi Bisa Diberikan? Berikut Penjelasan IDAI
Tazkia Royyan Hikmatiar• Senin, 12 Oktober 2026 | 17.35 WIB
Ilustrasi bayi makan sayur (Freepik)

JawaPos.com - Bayi di bawah usia enam bulan tidak boleh diberi asupan sembarangan. Terlebih jika usianya belum cukup untuk menerima makanan pendamping ASI (MPASI). Selain berisiko terpapar bakteri penyebab infeksi, pemberian makanan sebelum bayi siap secara perkembangan juga dapat meningkatkan risiko tersedak dan aspirasi.

Hal ini menjadi perhatian setelah seorang bayi berusia 28 hari bernama Alena di Surabaya meninggal dunia usai diberi telur mentah oleh sang nenek untuk menyembuhkan demam pada Minggu (11/10).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K) menegaskan pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan nutrisi, dan kesiapan perkembangannya. Ada sejumlah alasan bayi tidak boleh sembarangan diberi makanan, terlebih sebelum memasuki usia pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

Berikut tiga hal yang perlu diperhatikan orang tua terkait pemberian makanan kepada bayi.

1. Bayi Belum Membutuhkan Makanan Selain ASI

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, terutama selama enam bulan pertama kehidupan. IDAI, kata dr. Piprim mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, kemudian dilanjutkan bersama MPASI hingga usia dua tahun atau lebih.

“Bayi yang belum mendapatkan MPASI tidak memerlukan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan,” tuturnya Senin (12/10).

Apabila ASI tidak memungkinkan diberikan atau terdapat indikasi medis tertentu. Dr. Piprim menjelaskan bahwa susu formula bayi dapat menjadi alternatif sesuai penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.

Karena itu, pemberian telur mentah kepada bayi yang baru berusia 28 hari hingga di bawah usia enam bulan tidak sesuai dengan rekomendasi pemberian makan bayi.

 

2. Pemberian MPASI Terlalu Dini Berisiko

dr. Piprim menerangkan, MPASI secara umum dianjurkan mulai usia enam bulan karena kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui kemampuan ASI untuk memenuhinya seorang diri. Sebelum usia tersebut, pemberian makanan tambahan bukanlah kebutuhan rutin bayi.

Namun dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu apabila terdapat pertimbangan klinis dan bayi menunjukkan kesiapan perkembangan.

dr. Piprim menegaskan bahwa keputusan tersebut harus berdasarkan penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan serta kebutuhan nutrisi bayi.

Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. Pemberian sejak usia empat bulan pun hanya menjadi pertimbangan individual, bukan rekomendasi untuk semua bayi.

3. Kesiapan Menelan Bayi Harus Diperhatikan

Selain faktor di atas, dr. Piprim pun menyatakan bahwa bayi perlu menunjukkan kesiapan perkembangan sebelum mulai menerima MPASI. Tanda-tandanya meliputi kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher, duduk dengan bantuan, mengoordinasikan gerakan mulut untuk menelan, serta mulai menerima makanan dari sendok.

Kesiapan tersebut harus dinilai secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu tanda. Makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat ditoleransi bayi bisa meningkatkan risiko tersedak, aspirasi, dan gangguan pemberian makan.

 

Karena itu, orang tua tidak boleh memaksakan pemberian makanan kepada bayi yang belum siap. Pemberian makanan juga tidak dapat dijadikan pengganti pemeriksaan medis ketika bayi mengalami demam atau gejala penyakit lainnya.

Sebelumnya, Alena dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya sebagai upaya untuk menyembuhkan demam. Humas RSU Dr Soetomo Adin Niken membenarkan kabar meninggalnya bayi tersebut pada Minggu (11/10).

“Betul, pasien bayi tersebut meninggal hari ini pukul 07.10 WIB. Tercatat 28 hari usia adeknya saat meninggal,” kata Niken kepada JawaPos.com.

Kasus tersebut pertama kali diungkapkan tante korban, Callista Arisha, melalui unggahan di media sosial Threads pada Kamis (8/10). Callista saat itu meminta bantuan untuk mendapatkan ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) bagi keponakannya yang dalam kondisi kritis.

Alena kemudian dirujuk ke RSU Dr Soetomo pada Jumat (9/10). Namun, kondisinya dilaporkan memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10).

 

EDITOR: Diar Candra