← Beranda
Amarah Membara Saat Cuaca Panas, Benarkah Suhu Tinggi Mempengaruhi Emosi yang Meningkat?
Shania Vivi Armylia Putri• Selasa, 13 Oktober 2026 | 18.52 WIB
Ilustrasi cuaca panas. (Magnific)

 

 

JawaPos.com - Suhu panas yang sejumlah daerah belakangan ini terjadi di periode musim kemarau.

Bahkan, suhu maksimum di Jawa Timur tepatnya di Bandara Juanda Sidoarjo, tercatat mencapai 36 derajat Celcius. Gelombang panas tidak hanya berdampak langsung pada kondisi fisik tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi psikis seseorang. 

Namun, di balik itu masyarakat terpaksa tetap harus menjalankan aktivitas sehari-hari meskipun suhu udara terasa menyengat. 

Sementara itu, berdasarkan informasi dari laman resmi kemkes.go.id produktivitas pekerja dengan keterampilan rendah dapat menurun saat suhu udara melampaui ambang batas 26, 2 derajat Celcius.

Dampak cuaca panas juga dapat terlihat dalam situasi sehari-hari yang dianggap normal.

Misalnya saat terjebak kemacetan seseorang akan lebih mudah membunyikan klakson, suhu panas yang mempengaruhi perdebatan kecil kemudian berkembang menjadi konflik, sampai persoalan sepele di kantor yang memicu berbagai ketegangan.  

Menurut pendapat dari dosen psikologi Marini, S.Psi., Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), suhu udara tinggi memiliki hubungan dengan peningkatan stres dan agresivitas seseorang. Fenomena tersebut dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain sebagai berikut. 

  1. Lingkungan tidak nyaman

Suhu yang tinggi karena cuaca panas menyebabkan lingkungan terasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan memicu stres dan membuat seseorang beradaptasi pada tekanan (coping) serta sulit mengendalikan responnya pada lingkungan sekitar, seperti saat terjebak macet di jalan raya, pengendara mungkin akan lebih sering membunyikan klakson, percakapan kecil berubah menjadi perdebatan, serta lingkungan kerja menjadi tidak kondusif .  

  1. Meningkatkan agresivitas

Cuaca panas sangat berkaitan dengan peningkatan stres dan agresivitas. Suhu yang tinggi membuat  tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal, sehingga dapat meningkatkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis. Ketika rasa tidak nyaman meningkat, seseorang bisa menjadi lebih mudah  tersinggung atau bereaksi secara impulsif. 

  1. Kelelahan 

Suhu panas selama kemarau dapat menimbulkan tekanan fisik yang kadang tidak disadari. Rasa gerah menyebabkan tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu agar tetap normal, respon ini juga akan memicu kelelahan ditambah beban kerja dan aktivitas yang harus terus berjalan.

  1. Fokus terbagi

Cuaca panas yang ekstrim dapat mengganggu konsentrasi karena tubuh harus beradaptasi dengan lingkungan sekaligus menjalankan aktivitas sehari-hari. Ketidaknyamanan fisik dan psikis ini membuat seseorang lebih cepat kehilangan fokus dan merasa lebih lelah. Akibatnya, seseorang akan mudah kelelahan, produktivitas menurun, toleransi berkurang, kesabaran menipis, mudah marah, mudah tersinggung, perasaan tertekan, cemas, dan mudah putus asa. 

  1. Otak bekerja lebih lambat

Saat cuaca panas, tubuh berusaha mempertahankan suhu internal supaya tetap stabil. Dalam kondisi panas yang berlebihan, konsentrasi, kecepatan menerima informasi, dan kemampuan kognitif otak dapat terganggu. . 

  1. Tidur tidak nyenyak

Suhu lingkungan yang terlalu panas dapat mengganggu kualitas tidur. Saat  beristirahat di lingkungan panas, seseorang akan merasa gerah, gelisah, dan berkeringat yang akhirnya membuat otak justru aktif untuk bekerja keras menurunkan suhu saat tidur. Tidur yang tidak berkualitas memicu berbagai dampak termasuk membuat seseorang mudah marah, gelisah, dan kurang bersemangat menjalani aktivitas pada pagi harinya. 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti