← Beranda
Makanan Kemasan dan Depresi: Mengapa Pola Makan Perlu Diperhatikan?
Leni Setya Wati• Kamis, 15 Oktober 2026 | 17.47 WIB
Ilustrasi Makanan. (Magnific)

 

 

JawaPos.com - Pola makan tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan fisik, tetapi juga menjadi salah satu aspek yang sedang diteliti kaitannya dengan kesehatan mental.

Konsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi sebelumnya telah dikaitkan dengan risiko masalah psikologis, termasuk depresi. Kini, penelitian awal menunjukkan bahwa mengurangi jenis makanan tersebut mungkin dapat membantu memperbaiki gejala depresi pada sebagian orang.

Menurut laporan Healthline, sebuah studi kecil yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry pada 23 September 2026 menemukan bahwa pengurangan konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan penurunan skor gejala depresi.

Penelitian tersebut melibatkan 20 peserta yang memiliki diagnosis depresi, mengonsumsi banyak makanan ultra-proses, serta mempunyai setidaknya satu faktor risiko metabolik. Sebanyak 19 peserta menyelesaikan penelitian hingga akhir.

Selama penelitian, peserta menjalani dua fase pola makan, yaitu pola makan sehari-hari dan pola makan rendah makanan ultra-proses.

Dalam fase kedua, konsumsi makanan ultra-proses mereka berkurang lebih dari 85 persen. Rata-rata skor pada kuesioner PHQ-9, salah satu alat yang digunakan untuk menilai gejala depresi, turun dari 8,68 ketika menjalani pola makan biasa menjadi 5,53 selama fase pola makan rendah makanan ultra-proses. Skor kecemasan peserta juga menunjukkan perbaikan.

Makanan ultra-proses umumnya merupakan produk industri yang dibuat melalui berbagai tahapan pengolahan dan dapat mengandung bahan tambahan tertentu.

Contohnya meliputi minuman manis kemasan, makanan ringan dalam kemasan, permen, sosis, serta sebagian kue dan makanan siap saji.

Para peneliti tengah mempelajari sejumlah kemungkinan yang menjelaskan kaitannya dengan suasana hati, termasuk kandungan serat dan zat gizi, peradangan, kesehatan metabolik, serta hubungan antara mikrobioma usus dan otak.

Meski hasilnya menjanjikan, penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan penting. Jumlah peserta sangat kecil, sementara informasi mengenai pola makan sebagian bergantung pada laporan peserta sendiri.

Penelitian ini juga belum dapat memastikan apakah perbaikan gejala secara langsung disebabkan oleh pengurangan makanan ultra-proses atau oleh perubahan lain dalam pola makan.

Karena itu, penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar masih diperlukan untuk memperkuat kesimpulan tersebut.

Untuk mulai memperbaiki pola makan, perubahan kecil yang realistis dapat menjadi langkah awal. Minuman manis dapat sesekali diganti dengan air putih, sedangkan camilan kemasan bisa diselingi buah, kacang-kacangan, atau yoghurt tanpa banyak tambahan gula.

Sayuran beku, kacang-kacangan kalengan, dan makanan praktis lainnya juga tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi.

Mengurangi makanan ultra-proses bukan berarti harus menghindari seluruh makanan olahan, dan perubahan pola makan tidak menggantikan bantuan profesional atau pengobatan depresi yang diperlukan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti