JawaPos.com - Limbah kain korden tidak selalu berakhir sebagai material sisa.
Dua mahasiswa Universitas Ciputra (UC), Jovita Vimala Hermawan dan Jerrica Idelia, mengolah kain korden bekas dari Saffier Decor menjadi busana artistik dengan pendekatan upcycling dan fabric manipulation.
“Saya ingin menyampaikan bahwa meskipun seseorang sedang berada dalam keadaan sulit atau gelap, tetap ada kesempatan untuk tumbuh,” ujar Jerrica.
Melalui karya bertajuk “Fractured Elegance”, Jerrica mengangkat suasana dreamy pink cave sebagai representasi perjalanan seseorang dari kondisi sulit menuju harapan, pertumbuhan, hingga proses menemukan kembali dirinya.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui teknik slashing, patchwork, dan fabric origami. “Slashing saya maknai sebagai cahaya yang perlahan menembus kegelapan,” jelasnya.
Teknik patchwork digunakan untuk menggambarkan proses menyatukan kembali bagian-bagian yang sebelumnya terasa tidak utuh. Sementara detail fabric origami berbentuk bunga menjadi simbol pertumbuhan dan proses blooming.
Jerrica juga menambahkan tutup botol bekas sebagai elemen dekoratif pada busananya. Pemanfaatan material tersebut menjadi bagian dari eksplorasi untuk melihat kemungkinan baru dari bahan yang sudah tidak digunakan.
“Saya ingin tetap menunjukkan bahwa ada keindahan yang bisa ditemukan dari kondisi yang sulit,” kata Jerrica.
Eksplorasi serupa dilakukan Jovita melalui karya bertajuk “Palimpsest of Renewal”. Konsep tersebut berangkat dari gagasan bahwa perubahan tidak selalu berarti menghapus seluruh jejak yang telah ada sebelumnya.
“Jejak masa lalu tidak harus dihilangkan ketika sesuatu mengalami perubahan,” ujar Jovita.
Inspirasi visual Jovita berasal dari old manuscript, translucent overlays, layered textures, hingga permukaan arsitektur yang mengalami pemudaran. Berbagai referensi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam busana melalui teknik vertical origami dan patchwork.
Jovita turut menggunakan teknik Sashiko dengan motif Kawung untuk memberikan sentuhan budaya. “Motif Kawung menjadi bagian dari cerita yang saya bangun dalam karya ini,” tuturnya.
Material limbah juga kembali dimanfaatkan melalui penggunaan sequins yang dibuat dari tutup botol plastik. Material tersebut diolah menjadi detail dekoratif yang menyatu dengan keseluruhan desain busana.
“Material lama masih bisa mendapatkan kesempatan kedua tanpa menghilangkan cerita sebelumnya,” kata Jovita.
Dosen Universitas Ciputra Christina Tanujaya mengatakan, proyek tersebut dirancang untuk memberikan ruang eksplorasi kepada mahasiswa dalam mengembangkan material menjadi sebuah karya desain.
“Mahasiswa kami dorong untuk berani mengeksplorasi material dan membangun cerita,” jelas Christina.
Menurut dia, proses tersebut membuat mahasiswa tidak berhenti pada aspek visual. Eksplorasi material menjadi bagian dari proses penciptaan nilai sekaligus cara untuk melihat kemungkinan baru dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai.
Pemanfaatan kain korden bekas tersebut juga mendapat apresiasi dari Kurniawan Limanto, owner Saffier Decor. “Menarik sekali melihat kain korden dapat diolah menjadi fashion yang estetik,” kata Kurniawan.
Menurut Kurniawan, kreativitas mahasiswa menunjukkan bahwa material sisa dari industri interior masih dapat memiliki fungsi baru ketika diolah melalui pendekatan desain yang tepat.
Baca Juga: Moscow Fashion Week 2026: Desainer Indonesia Perkuat Dominasi Perancang Asia
Karya Jovita dan Jerrica pada akhirnya memperlihatkan perjalanan material dari kain korden bekas menjadi busana dengan karakter dan cerita masing-masing. (*)