← Beranda
6 Hal yang Sering Diyakini oleh Orang-orang yang Nekat Bertahan dalam Hubungan Tidak Sehat
Vindi Rayinda Ayudya• Kamis, 1 Oktober 2026 | 03.59 WIB
Ilustrasi pasangan yang berada dalam hubungan tidak sehat. (Freepik)
 

JawaPos.com - Mempertahankan sebuah hubungan tentu tidak selalu mudah. Ada masa ketika pasangan menghadapi konflik, perbedaan pendapat, atau fase sulit yang membutuhkan kesabaran dan komunikasi. 

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika hubungan justru terus membuat seseorang merasa tertekan, tidak dihargai, kehilangan kepercayaan diri, atau tidak mendapatkan rasa aman.

Seseorang yang berada dalam hubungan tidak sehat belum tentu tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. 

Dalam sejumlah kasus, seseorang justru mengetahui bahwa hubungannya tidak berjalan baik, tetapi tetap memilih bertahan karena memiliki keyakinan tertentu yang membuat perpisahan terasa jauh lebih menakutkan daripada mempertahankan keadaan yang sudah dikenal.

Dirangkum dari laman YourTango, ternyata ada sejumlah keyakinan yang membuat seseorang terus bertahan dalam hubungan tidak sehat. 

Mulai dari takut kesepian hingga merasa semua pengorbanan akan sia-sia, berikut penjelasannya.

1. “Lebih baik bersama daripada harus merasa sendirian”

Salah satu keyakinan yang dapat membuat seseorang bertahan dalam hubungan tidak sehat adalah anggapan bahwa memiliki pasangan selalu lebih baik daripada hidup sendirian.

Pikiran semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang sangat takut menghadapi kesepian, kehilangan pasangan dapat terasa seperti kehilangan sebagian besar kehidupannya.

Menurut pembahasan YourTango, rasa takut kesepian dapat membuat seseorang mempertahankan hubungan bahkan ketika hubungan tersebut sudah tidak memberikan kenyamanan emosional. Kehadiran pasangan akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, bukan lagi karena hubungan tersebut sehat, melainkan karena seseorang takut menghadapi ruang kosong setelah hubungan berakhir.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin berpikir bahwa tidak ada pasangan berarti tidak ada orang yang akan menemani, memperhatikan, atau membuat dirinya merasa dibutuhkan. Bahkan, rutinitas sederhana seperti makan bersama, berkirim pesan, atau sekadar mengetahui ada seseorang yang menunggu di rumah dapat menjadi alasan untuk terus bertahan.

Padahal, kesendirian dan kesepian bukanlah hal yang selalu sama. Seseorang dapat berada dalam sebuah hubungan tetapi tetap merasa sangat kesepian.

Karena itu, ketakutan terhadap hidup sendiri terkadang membuat seseorang sulit melihat hubungan secara objektif. Pertanyaan yang penting bukan hanya “Apakah saya masih punya pasangan?”, tetapi juga “Apakah hubungan ini membuat kehidupan saya menjadi lebih sehat, aman, dan bermakna?”

2. “Mungkin saya memang tidak pantas mendapatkan yang lebih baik”

Keyakinan berikutnya berkaitan dengan harga diri. Seseorang yang terus-menerus mendapatkan kritik, diremehkan, dibandingkan, atau dibuat merasa tidak cukup baik dapat perlahan mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

YourTango menjelaskan bahwa rendahnya harga diri dapat membuat seseorang menilai dirinya berdasarkan penerimaan dari pasangan.

Ketika pasangan memberikan perhatian, seseorang merasa berharga. Sebaliknya, ketika pasangan menjauh atau memperlakukannya dengan buruk, ia merasa bahwa dirinya memang tidak cukup layak untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik.

Pola tersebut dapat membuat hubungan tidak sehat terasa seperti sesuatu yang “pantas” diterima. Seseorang mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Mungkin semua pasangan memang seperti ini,” atau “Saya mungkin terlalu menuntut.”

Padahal, konflik dalam hubungan adalah hal yang berbeda dengan perilaku yang secara terus-menerus merendahkan, mengontrol, memanipulasi, atau menghilangkan rasa aman seseorang.

Ketika harga diri menurun, seseorang juga dapat kesulitan membayangkan kehidupan tanpa pasangan. Ia bukan hanya takut kehilangan hubungan, tetapi juga takut tidak akan menemukan orang lain yang mau menerimanya.

Inilah mengapa membangun kembali penghargaan terhadap diri sendiri menjadi bagian penting dalam memahami situasi. Nilai seseorang seharusnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh bagaimana pasangan memperlakukannya.

3. “Saya harus terus bertahan karena saya tidak bisa meninggalkan dia”

Ada pula orang yang merasa dirinya memiliki tanggung jawab emosional yang sangat besar terhadap pasangan. Mereka mungkin percaya bahwa pasangan tidak akan baik-baik saja tanpa dirinya, sehingga meninggalkan hubungan terasa seperti tindakan egois atau tidak bertanggung jawab.

Dalam pembahasan mengenai hubungan tidak sehat, YourTango mengaitkan kondisi ini dengan ketergantungan emosional atau codependency. Seseorang dapat menjadi terlalu berfokus pada kebutuhan pasangan sampai mengabaikan kebutuhan, perasaan, dan batas dirinya sendiri.

Keyakinannya bisa berbentuk, “Kalau saya pergi, siapa yang akan menolong dia?” atau “Saya harus tetap berada di sini sampai dia berubah.” Masalahnya, perhatian kepada pasangan dapat berubah menjadi beban apabila seseorang merasa seluruh kestabilan emosional pasangannya merupakan tanggung jawab pribadi.

Dalam hubungan yang sehat, kepedulian tetap penting, tetapi masing-masing individu juga mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hubungan seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali apa yang ia butuhkan.

Menariknya, pola ketergantungan seperti ini juga dapat membuat seseorang sulit mempercayai penilaiannya sendiri. Ia terus mencari persetujuan pasangan sebelum mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya berkaitan dengan kehidupannya sendiri.

Karena itu, menyadari batas antara mencintai seseorang dan merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupannya merupakan langkah penting untuk memahami hubungan secara lebih jernih.

4. “Setidaknya saya sudah tahu seperti apa hubungan ini”

Hubungan yang tidak sehat terkadang tetap dipertahankan karena ketidakpastian terasa lebih menakutkan daripada masalah yang sudah dikenal. Seseorang mungkin tahu bahwa hubungannya tidak ideal, tetapi setidaknya ia sudah memahami rutinitas, karakter pasangan, dinamika konflik, dan kehidupan yang selama ini dijalani.

YourTango menggambarkan kondisi ini sebagai kenyamanan terhadap sesuatu yang familiar sekaligus ketakutan terhadap ketidakpastian. Seseorang dapat berpikir bahwa meninggalkan hubungan berarti memasuki dunia yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

Pertanyaan seperti “Bagaimana kalau saya tidak menemukan pasangan lagi?” atau “Bagaimana kalau hubungan berikutnya justru lebih buruk?” dapat membuat seseorang memilih tetap berada dalam situasi yang sudah diketahui.

Padahal, sesuatu yang familiar belum tentu sesuatu yang sehat.

Pikiran manusia memang cenderung mencari kepastian. Karena itu, perubahan besar dalam kehidupan dapat menimbulkan kecemasan, terutama ketika seseorang sudah bertahun-tahun membangun rutinitas bersama pasangan.

Dalam situasi seperti ini, penting untuk membedakan antara rasa takut terhadap perubahan dan kualitas hubungan itu sendiri. Bertahan hanya karena takut menghadapi ketidakpastian tidak otomatis berarti hubungan tersebut masih baik untuk dipertahankan.

Jika terdapat persoalan serius dalam hubungan, keputusan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada rasa takut terhadap masa depan, tetapi juga pada kondisi nyata yang sedang dialami.

5. “Kalau saya pergi, berarti saya gagal mempertahankan hubungan ini”

Sebagian orang bertahan karena menganggap berakhirnya hubungan sebagai bukti kegagalan pribadi. Mereka merasa sudah berusaha terlalu keras sehingga perpisahan akan menjadi tanda bahwa seluruh perjuangan tersebut tidak berhasil.

YourTango memasukkan ketakutan terhadap penolakan dan kegagalan sebagai salah satu faktor yang dapat membuat seseorang terus berusaha mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah bermasalah. Ada kekhawatiran bahwa memulai kembali kehidupan percintaan akan membawa kemungkinan ditolak atau tidak menemukan hubungan yang lebih baik.

Keyakinan ini dapat membuat seseorang terus mencari alasan untuk memperbaiki hubungan meskipun masalah yang sama berulang kali muncul.

Ada perbedaan antara memperjuangkan hubungan dan merasa wajib menyelamatkan hubungan seorang diri. Hubungan melibatkan dua orang, sehingga perubahan yang sehat biasanya membutuhkan kemauan dari kedua belah pihak.

Mengakhiri hubungan juga tidak selalu berarti seseorang gagal. Dalam konteks tertentu, seseorang dapat menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi sesuai dengan kebutuhan, batas, atau nilai yang ingin dijalani.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah usaha yang dilakukan menghasilkan perubahan nyata atau hanya memperpanjang siklus masalah yang sama.

Ketakutan terhadap kegagalan memang manusiawi. Namun, rasa takut tersebut dapat membuat seseorang sulit melihat bahwa mempertahankan sesuatu hanya demi membuktikan keberhasilan juga bisa membuat dirinya semakin kehilangan waktu dan energi.

6. “Saya sudah terlalu lama berjuang, jadi sayang kalau harus pergi”

Ini merupakan salah satu keyakinan yang paling sulit dilepaskan: “Saya sudah mengorbankan terlalu banyak untuk hubungan ini.”

Seseorang mungkin telah menghabiskan bertahun-tahun bersama pasangan, melewati berbagai masalah, memberikan dukungan, mengorbankan kesempatan, atau membangun banyak kenangan. Karena itu, mengakhiri hubungan dapat terasa seperti membuang seluruh investasi tersebut.

YourTango menyoroti besarnya waktu dan energi yang telah dicurahkan sebagai salah satu alasan mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Semakin besar investasi yang sudah diberikan, semakin sulit bagi sebagian orang untuk menerima bahwa hubungan tersebut mungkin tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Namun, waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan, baik seseorang bertahan maupun memilih pergi. Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan adalah apa yang sedang terjadi sekarang dan seperti apa kehidupan yang ingin dibangun ke depan.

Pengalaman masa lalu juga tidak otomatis menjadi sia-sia. Seseorang dapat mengambil pelajaran mengenai dirinya sendiri, batas pribadi, kebutuhan emosional, dan pola hubungan yang ingin dihindari di masa depan.

Menilai hubungan hanya berdasarkan besarnya pengorbanan masa lalu dapat membuat seseorang lupa memperhatikan kualitas kehidupannya saat ini.

Pada akhirnya, lama hubungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah hubungan. Yang juga penting adalah apakah hubungan tersebut memberikan rasa aman, penghargaan, komunikasi, dan ruang bagi kedua orang untuk berkembang.

Jangan Hanya Bertanya “Sudah Berapa Lama?”, tetapi “Bagaimana Saya Diperlakukan Sekarang?”

Bertahan dalam hubungan yang tidak sehat bukan selalu persoalan seseorang tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah. Ada berbagai faktor psikologis dan situasional yang dapat membuat seseorang sulit mengambil keputusan, mulai dari takut kesepian hingga merasa seluruh pengorbanan selama ini akan sia-sia.

Karena itu, penting untuk tidak buru-buru menghakimi seseorang yang masih bertahan. Setiap hubungan memiliki konteks yang berbeda, dan dalam hubungan yang melibatkan kontrol, manipulasi, atau kekerasan, seseorang mungkin menghadapi hambatan emosional maupun praktis yang jauh lebih kompleks.

Yang dapat menjadi bahan refleksi adalah melihat hubungan berdasarkan kondisi nyata saat ini. Apakah terdapat rasa saling menghormati? Apakah seseorang dapat menyampaikan pendapat tanpa merasa takut? Apakah masalah dapat dibicarakan dan diperbaiki bersama? Atau justru pola yang sama terus berulang?

Memahami enam keyakinan di atas bukan berarti setiap hubungan sulit harus segera berakhir. Namun, mengenali alasan di balik keinginan untuk terus bertahan dapat membantu seseorang melihat situasinya dengan lebih jernih dan mempertimbangkan kebutuhan serta keselamatan dirinya sendiri.

***

 
 
EDITOR: Novia Tri Astuti