← Beranda
10 Kebiasaan Ini Membuat Seseorang Lebih Tenang Menjalani Hidup Tanpa Membesar-besarkan Masalah
Leni Setya Wati• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 05.28 WIB
Ilustrasi kebiasaan orang yang tidak suka membesar-besarkan masalah (magnific/cookie_studio)

 

 

JawaPos.com - Ketenangan dan kebahagiaan tidak selalu bergantung pada keadaan di luar diri. Sering kali, keduanya tumbuh dari cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri, mulai dari memberikan ruang untuk beristirahat, menghargai perasaan, hingga menerima kekurangan tanpa terus-menerus menghakimi diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan dan banyaknya tuntutan dapat membuat seseorang terlalu fokus pada hal-hal yang belum selesai. Akibatnya, mereka mudah merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik.

Padahal, tanpa disadari, mereka mungkin sedang mengabaikan berbagai hal positif yang sudah dimiliki.

Orang yang mampu menjaga ketenangan biasanya tidak selalu memiliki kehidupan tanpa masalah. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam merespons persoalan.

Alih-alih membesar-besarkan masalah, mereka berusaha mengendalikan hal-hal yang masih bisa dikendalikan dan memberikan ruang bagi dirinya untuk bernapas.

Dilansir dari YourTango, berikut beberapa kebiasaan yang sering membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih tenang.

1. Menetapkan tujuan kecil yang realistis

Tidak semua tujuan harus dicapai dalam waktu singkat. Memaksakan diri mengejar target yang terlalu besar justru dapat menimbulkan rasa kecewa ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Orang yang lebih tenang cenderung memecah tujuan besar menjadi langkah-langkah sederhana. Mereka berusaha menjadi sedikit lebih baik dari hari sebelumnya tanpa menuntut kesempurnaan.

Kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membangun rasa percaya diri. Ketika seseorang melihat dirinya terus bergerak maju, ia akan lebih mudah mempertahankan motivasi tanpa merasa terbebani oleh target yang terlalu tinggi.

2. Berani mengatakan "tidak"

Menjaga ketenangan juga berarti mengetahui batas kemampuan diri. Tidak semua permintaan harus diterima dan tidak semua masalah orang lain harus menjadi tanggung jawab pribadi.

Mengatakan "tidak" bukan berarti bersikap egois. Justru, batasan yang sehat membantu seseorang mengatur energi dan memberikan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting.

Misalnya, Anda dapat mengatakan kepada keluarga bahwa membutuhkan waktu untuk beristirahat, menjelaskan kepada rekan kerja mengenai kapasitas yang dimiliki, atau menolak terlibat dalam persoalan yang sebenarnya bukan tanggung jawab Anda.

Belajar mengatakan "tidak" membuat hidup terasa lebih ringan karena Anda tidak terus-menerus memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi orang lain.

3. Tidak terlalu serius menghadapi kekurangan diri

Hidup akan terasa melelahkan jika seseorang terus berusaha tampil sempurna. Orang yang tenang biasanya mampu melihat kesalahan dan kekurangannya dengan lebih ringan.

Mereka tidak takut tertawa atas kesalahan kecil yang dilakukan. Mereka juga memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bersenang-senang, bernyanyi, menari, bercanda, atau melakukan aktivitas yang membuat bahagia tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.

Menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna dapat membantu seseorang menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi kehidupan. Kesalahan tidak selalu harus dianggap sebagai kegagalan, tetapi bisa menjadi bagian dari proses belajar.

4. Membiasakan diri bersyukur

Rasa syukur merupakan salah satu kebiasaan sederhana yang dapat membantu seseorang melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda.

Daripada hanya memikirkan sesuatu yang belum dimiliki, orang yang tenang berusaha menyadari berbagai hal yang sudah ada dalam hidupnya.

Kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan kesempatan untuk menjalani hari baru dapat menjadi alasan untuk bersyukur.

Kebiasaan ini dapat dilakukan melalui jurnal rasa syukur atau sekadar meluangkan beberapa menit pada pagi dan malam hari untuk mengingat hal-hal positif yang terjadi sepanjang hari.

5. Mengakui dan menerima perasaan

Menjalani hidup dengan tenang bukan berarti harus selalu merasa bahagia. Seseorang tetap dapat mengalami kesedihan, kemarahan, kecemasan, atau kekecewaan.

Perbedaannya terletak pada bagaimana perasaan tersebut diperlakukan. Alih-alih menyangkal atau memendamnya, orang yang lebih sehat secara emosional berusaha mengenali apa yang sedang dirasakan.

Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan diri. Setelah emosi lebih terkendali, persoalan dapat dibicarakan dan diselesaikan secara lebih rasional.

Memberikan ruang bagi emosi juga membantu seseorang menghindari ledakan perasaan setelah terlalu lama memendam masalah.

6. Merawat tubuh dengan baik

Kondisi fisik dan kesejahteraan emosional saling berkaitan. Karena itu, menjaga tubuh merupakan bagian penting dari upaya menciptakan kehidupan yang lebih tenang.

Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh merupakan kebiasaan sederhana yang dapat mendukung keseharian.

Merawat tubuh bukan hanya soal penampilan. Lebih dari itu, perhatian terhadap kesehatan fisik merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Ketika kebutuhan dasar tubuh terpenuhi, seseorang biasanya lebih siap menghadapi berbagai tuntutan dan aktivitas sehari-hari.

7. Mempraktikkan mindfulness

Mindfulness berarti memberikan perhatian penuh terhadap apa yang sedang terjadi saat ini. Praktiknya dapat dilakukan dengan memperhatikan napas, suara di sekitar, sensasi tubuh, atau aktivitas yang sedang dilakukan.

Kebiasaan ini membantu seseorang berhenti sejenak dari pikiran yang terus berlari menuju masa lalu maupun masa depan.

Mindfulness tidak harus dilakukan dalam waktu lama. Beberapa menit untuk menarik napas secara perlahan dan menyadari keadaan sekitar pun dapat menjadi kesempatan untuk menenangkan pikiran.

Dengan lebih hadir pada saat ini, seseorang dapat melihat berbagai hal kecil yang sebelumnya mungkin terlewatkan.

8. Berbicara kepada diri sendiri dengan penuh kasih

Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri memiliki pengaruh besar terhadap cara ia memandang kehidupan.

Bayangkan ketika seorang teman sedang gagal. Kemungkinan besar Anda akan memberikan dukungan, bukan terus menyalahkannya. Prinsip yang sama sebaiknya diterapkan kepada diri sendiri.

Ketika melakukan kesalahan, cobalah menggunakan bahasa yang lebih lembut. Ingatkan diri bahwa kegagalan tidak menghapus seluruh kemampuan dan kualitas positif yang dimiliki.

Afirmasi positif juga dapat digunakan untuk membantu membangun dialog internal yang lebih sehat.

Jika merasa kesulitan melihat kekuatan diri sendiri, berbicara dengan teman tepercaya atau mentor dapat memberikan perspektif yang lebih objektif.

9. Memberikan waktu untuk beristirahat

Istirahat bukan tanda bahwa seseorang malas atau tidak produktif. Dalam banyak situasi, tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda agar dapat kembali bekerja secara optimal.

Waktu istirahat tidak selalu harus berupa liburan panjang. Berhenti sejenak selama beberapa menit, tidur siang, memejamkan mata, berjalan santai, atau menikmati aktivitas yang disukai juga dapat menjadi cara untuk mengisi kembali energi.

Orang yang memahami pentingnya istirahat tidak akan memaksakan diri sampai benar-benar kelelahan. Mereka mengetahui bahwa menjaga energi merupakan bagian dari menjaga kualitas hidup.

10. Menyadari nilai diri sendiri

Ketenangan juga muncul ketika seseorang tidak lagi menggantungkan seluruh harga dirinya pada penilaian orang lain.

Setiap orang memiliki kemampuan, pengalaman, karakter, dan kontribusi yang berbeda. Karena itu, penting untuk mengenali hal-hal yang menjadi kekuatan pribadi dan menghargai apa yang telah diberikan kepada keluarga, pekerjaan, pertemanan, maupun lingkungan sekitar.

Menyadari nilai diri bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, hal tersebut berarti memahami bahwa diri sendiri juga layak dihargai.

Lingkungan sosial pun berperan penting. Berada di sekitar orang-orang yang suportif dan menghargai keberadaan kita dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti