Dalam hubungan romantis, ada banyak faktor psikologis yang ikut berperan. Cara seseorang mengenali dirinya sendiri, menentukan standar, memilih lingkungan pergaulan, membangun komunikasi, hingga merespons orang yang mendekatinya dapat memengaruhi kualitas hubungan yang akhirnya terbentuk.
Banyak orang mengatakan, “Aku ingin mendapatkan pasangan yang baik, setia, dewasa, bertanggung jawab, dan bisa menghargai aku.”
Keinginan tersebut tentu wajar. Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:
Apakah kita sendiri sudah tahu dengan jelas seperti apa pasangan yang benar-benar kita butuhkan?
Sebab, menginginkan pasangan yang sesuai harapan tidak berarti mencari manusia sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan. Yang jauh lebih penting adalah mengetahui kualitas apa yang memang penting bagi kehidupan kita, mana yang hanya merupakan preferensi, dan mana yang justru menjadi tanda bahaya dalam sebuah hubungan.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), jika saat ini kamu sedang mencari pasangan dan ingin memiliki hubungan yang sehat serta sesuai dengan nilai hidupmu, berikut tujuh hal yang dapat kamu lakukan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.
1. Kenali Dirimu Sendiri Sebelum Menentukan Pasangan
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mencari pasangan adalah terlalu fokus pada pertanyaan:
“Aku ingin pasangan seperti apa?”
Padahal, pertanyaan pertama yang seharusnya kamu tanyakan adalah:
“Aku sendiri sebenarnya seperti apa?”
Mengenali diri merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat. Kamu perlu memahami nilai-nilai yang kamu pegang, kebutuhan emosionalmu, batasan yang kamu miliki, tujuan hidup, gaya komunikasi, serta hal-hal yang membuatmu merasa dihargai dalam sebuah hubungan.
Misalnya, kamu mungkin mengatakan ingin memiliki pasangan yang perhatian. Namun, apa arti “perhatian” menurutmu?
Apakah pasangan harus selalu menghubungi setiap beberapa jam?
Apakah kamu membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan ketika kamu sedang menghadapi masalah?
Atau apakah perhatian bagimu lebih terlihat dari tindakan nyata seperti membantu, menemani, dan menghargai keputusanmu?
Semakin kamu memahami dirimu sendiri, semakin mudah kamu mengenali orang yang cocok denganmu.
Sebaliknya, ketika seseorang belum memahami dirinya, ia bisa mudah tertarik hanya karena mendapatkan perhatian. Akibatnya, perhatian sering disalahartikan sebagai kecocokan.
Padahal, seseorang yang sering menghubungimu belum tentu memiliki nilai hidup yang sama denganmu.
Jadi, sebelum mencari pasangan, cobalah membuat daftar sederhana:
Apa nilai hidup yang paling penting bagiku?
Seperti apa hubungan yang ingin aku bangun?
Apa yang membuatku merasa aman dalam hubungan?
Apa batasan yang tidak ingin kulanggar?
Kualitas apa yang wajib dimiliki pasangan?
Kekurangan seperti apa yang masih bisa kuterima?
Hal apa yang sama sekali tidak bisa kutoleransi?
Dengan mengenali diri sendiri, kamu tidak hanya menjadi lebih selektif, tetapi juga lebih sadar terhadap alasan mengapa kamu memilih seseorang.
2. Bedakan Antara Standar, Preferensi, dan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Memiliki standar dalam memilih pasangan bukanlah sesuatu yang salah.
Justru, standar yang sehat dapat membantu seseorang menghindari hubungan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan nilai hidupnya.
Namun, masalah muncul ketika standar berubah menjadi daftar tuntutan yang terlalu ideal.
Misalnya, seseorang ingin pasangan yang:
menarik secara fisik,
mapan secara finansial,
sangat romantis,
selalu memahami dirinya,
tidak pernah membuat kesalahan,
selalu tersedia,
memiliki hobi yang sama,
memiliki pemikiran yang sama,
dan selalu tahu apa yang ia inginkan tanpa perlu diberi tahu.
Jika semua hal tersebut dianggap sebagai syarat mutlak, pencarian pasangan dapat menjadi sangat sulit.
Dalam psikologi hubungan, penting untuk memahami bahwa kecocokan tidak sama dengan kesamaan dalam segala hal.
Dua orang dapat memiliki kepribadian berbeda tetapi tetap memiliki hubungan yang sehat jika nilai-nilai fundamental mereka sejalan.
Karena itu, cobalah membagi kriteriamu menjadi tiga kelompok.
Pertama, kualitas yang wajib ada
Contohnya:
menghargai pasangan,
jujur,
bertanggung jawab,
mampu berkomunikasi,
menghormati batasan,
memiliki nilai hidup yang kompatibel.
Kedua, kualitas yang kamu sukai
Misalnya:
humor yang cocok,
hobi yang sama,
menyukai musik tertentu,
memiliki gaya hidup yang mirip,
atau memiliki selera yang sama.
Ketiga, hal yang sebenarnya hanya fantasi
Misalnya berharap pasangan selalu romantis, tidak pernah berubah, selalu memahami perasaanmu, dan tidak pernah membuatmu kecewa.
Kelompok ketiga perlu dievaluasi kembali.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan ketika dua orang mampu menghadapi perbedaan dan konflik dengan cara yang konstruktif.
Jadi, jangan hanya mencari orang yang memenuhi semua keinginanmu.
Carilah seseorang yang nilai dasarnya cocok denganmu dan bersedia tumbuh bersamamu.
3. Perhatikan Pola Orang yang Kamu Pilih, Bukan Hanya Perasaanmu
Pernahkah kamu merasa selalu tertarik pada tipe orang yang sama?
Misalnya, kamu sering tertarik pada orang yang sulit memberikan kepastian. Awalnya terasa menarik karena ada tantangan. Namun setelah hubungan berjalan, kamu justru merasa tidak aman dan terus mempertanyakan perasaannya.
Atau mungkin kamu sering tertarik pada orang yang membutuhkan banyak perhatian karena kamu merasa dibutuhkan ketika bisa “menyelamatkan” mereka.
Jika pola seperti ini berulang, ada baiknya kamu berhenti sejenak dan melihat kembali pilihanmu.
Terkadang kita bukan hanya memilih pasangan berdasarkan kualitas objektif seseorang, tetapi juga berdasarkan pola emosional yang sudah familiar bagi kita.
Sesuatu yang familiar belum tentu sesuatu yang sehat.
Karena itu, ketika bertemu seseorang yang baru, jangan hanya bertanya:
“Apakah aku tertarik kepadanya?”
Tambahkan beberapa pertanyaan lain:
“Bagaimana dia memperlakukan orang lain?”
“Apakah perkataan dan tindakannya konsisten?”
“Bagaimana dia menghadapi konflik?”
“Apakah dia menghormati batasanku?”
“Apakah aku merasa nyaman menjadi diriku sendiri ketika bersamanya?”
“Apakah hubungan ini membuatku berkembang atau justru terus membuatku cemas?”
Perasaan tertarik memang penting, tetapi ketertarikan bukan satu-satunya indikator kecocokan.
Seseorang bisa membuat jantungmu berdebar tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang sehat bersamamu.
4. Jangan Hanya Menunggu Orang yang Tepat—Perluas Kesempatan untuk Bertemu
Ada orang yang mengatakan ingin mendapatkan pasangan yang sesuai, tetapi hampir tidak pernah membuka kesempatan untuk bertemu orang baru.
Setiap hari menjalani rutinitas yang sama, bertemu orang yang sama, berada di lingkungan yang sama, kemudian berharap suatu hari seseorang yang tepat tiba-tiba muncul.
Padahal, secara sederhana, semakin sedikit kesempatan seseorang untuk bertemu orang baru, semakin terbatas pula kemungkinan menemukan pasangan yang kompatibel.
Ini bukan berarti kamu harus mengejar hubungan dengan semua orang.
Yang dimaksud adalah memperluas kesempatan sosial.
Kamu bisa mencoba:
bergabung dengan komunitas,
mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat,
menghadiri acara sosial,
memperluas pertemanan,
mengikuti kegiatan sukarela,
atau menggunakan aplikasi kencan dengan tujuan yang jelas.
Yang penting, jangan menjadikan pencarian pasangan sebagai satu-satunya tujuan.
Datanglah ke lingkungan baru karena kamu juga ingin berkembang dan menikmati pengalaman.
Menariknya, lingkungan yang sesuai dengan minat dan nilai yang kamu miliki juga dapat meningkatkan kemungkinan bertemu orang yang memiliki kesamaan tertentu denganmu.
Jika kamu menyukai kegiatan olahraga, misalnya, lingkungan olahraga mungkin mempertemukanmu dengan orang yang memiliki gaya hidup aktif.
Jika kamu menyukai kegiatan sosial, komunitas sukarelawan mungkin mempertemukanmu dengan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap hal yang sama.
Dengan kata lain:
Jangan hanya mencari orang yang sesuai dengan kehidupanmu. Bangunlah kehidupan yang juga memungkinkan kamu bertemu dengan orang-orang yang sesuai dengan nilai tersebut.
5. Belajar Mengomunikasikan Kebutuhan dengan Jelas
Salah satu penyebab hubungan menjadi rumit adalah ketika seseorang berharap pasangannya bisa membaca pikirannya.
“Aku ingin dia tahu sendiri.”
“Kalau dia benar-benar sayang, dia pasti mengerti.”
“Seharusnya dia tahu apa yang membuatku kecewa.”
Padahal, pasangan bukan pembaca pikiran.
Dua orang yang saling mencintai tetap memiliki pengalaman hidup, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.
Karena itu, komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Daripada mengatakan:
“Kamu memang tidak pernah peduli.”
Lebih konstruktif jika mengatakan:
“Aku merasa kurang diperhatikan ketika kita jarang berkomunikasi. Aku berharap kita bisa mencari cara yang membuat kebutuhan kita berdua tetap terpenuhi.”
Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi cara penyampaian seperti ini dapat mengurangi kecenderungan untuk menyalahkan pasangan.
Komunikasi yang baik bukan berarti selalu berbicara dengan lembut.
Komunikasi yang baik berarti mampu menyampaikan kebutuhan, perasaan, batasan, dan harapan secara jujur tanpa sengaja merendahkan atau menyerang pasangan.
Jika sejak awal kamu bisa berkomunikasi secara terbuka, kamu juga akan lebih mudah mengetahui apakah seseorang benar-benar cocok denganmu.
Sebab, kecocokan bukan hanya tentang “nyambung” ketika ngobrol.
Kecocokan juga terlihat dari bagaimana dua orang membicarakan hal yang sulit.
6. Jangan Mengabaikan Tanda-Tanda yang Tidak Sesuai dengan Nilai Hidupmu
Ketika menyukai seseorang, manusia cenderung lebih mudah memberikan toleransi.
Hal yang sebenarnya mengganggu bisa dianggap kecil.
Perilaku yang seharusnya menjadi peringatan malah dicari pembenarannya.
“Dia seperti itu karena punya masa lalu yang buruk.”
“Dia sebenarnya baik, hanya sedang banyak masalah.”
“Nanti kalau sudah semakin dekat pasti berubah.”
Memahami latar belakang seseorang memang penting. Namun, memahami bukan berarti harus menerima semua perilaku.
Jika seseorang berkali-kali berbohong, merendahkanmu, melanggar batasan, mengontrol kehidupanmu, atau membuatmu merasa tidak aman, jangan abaikan perilaku tersebut hanya karena kamu memiliki perasaan kepadanya.
Salah satu hal penting dalam memilih pasangan adalah memperhatikan pola, bukan hanya momen.
Satu kesalahan dapat terjadi pada siapa saja.
Namun, jika perilaku yang sama terus berulang dan tidak ada kemauan untuk memperbaikinya, itu adalah informasi yang perlu diperhatikan.
Pasangan yang sesuai dengan harapanmu bukan berarti seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Yang lebih penting adalah bagaimana ia bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Apakah ia mampu meminta maaf?
Apakah ia mau mendengarkan?
Apakah ia bersedia memperbaiki perilakunya?
Apakah ia menghormati batasanmu setelah kamu menyampaikannya?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata romantis.
7. Jadilah Orang yang Juga Siap Menjadi Pasangan yang Kamu Inginkan
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Banyak orang memiliki daftar panjang mengenai pasangan ideal.
Ingin pasangan yang dewasa.
Ingin pasangan yang setia.
Ingin pasangan yang komunikatif.
Ingin pasangan yang stabil secara emosional.
Ingin pasangan yang menghargai batasan.
Namun, apakah kita juga berusaha memiliki kualitas yang sama?
Jika kamu menginginkan pasangan yang komunikatif, apakah kamu mampu mengungkapkan perasaan dengan jujur?
Jika kamu menginginkan pasangan yang setia, apakah kamu juga memiliki komitmen yang sama?
Jika kamu ingin dihargai, apakah kamu menghargai batasan orang lain?
Jika kamu ingin pasangan yang dewasa secara emosional, apakah kamu mampu mengelola emosi ketika menghadapi konflik?
Hubungan adalah pertemuan dua orang, bukan proses memilih seseorang berdasarkan daftar kriteria.
Karena itu, pengembangan diri menjadi bagian penting dalam perjalanan menemukan pasangan.
Kamu tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Tetapi kamu bisa terus belajar menjadi seseorang yang lebih sadar terhadap dirinya sendiri, mampu bertanggung jawab atas perilakunya, mampu berkomunikasi, dan bersedia bertumbuh.
Dengan begitu, ketika bertemu seseorang yang sesuai, kamu bukan hanya siap untuk dicintai.
Kamu juga siap mencintai dengan cara yang sehat.
Jadi, Apakah Ada Cara untuk Menjamin Mendapatkan Pasangan yang Sesuai?
Tidak ada metode psikologi yang dapat menjamin bahwa seseorang pasti mendapatkan pasangan sesuai keinginannya.
Hubungan melibatkan dua individu yang memiliki pilihan dan kehendak masing-masing.
Kamu bisa memperbaiki cara memilih pasangan, memperluas lingkungan sosial, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan memahami dirimu sendiri. Namun, kamu tetap tidak bisa mengontrol siapa yang akan jatuh cinta kepadamu atau bagaimana hubungan tersebut berkembang.
Dan sebenarnya, kamu tidak perlu mengontrol semuanya.
Tujuan akhirnya bukan menemukan seseorang yang memenuhi seluruh daftar keinginanmu.
Tujuan yang lebih realistis adalah menemukan seseorang yang memiliki nilai hidup yang kompatibel, mampu menghargaimu, dapat berkomunikasi secara sehat, dan bersedia tumbuh bersamamu.
Karena hubungan yang baik tidak selalu terasa seperti cerita romantis yang sempurna.
Kadang-kadang hubungan yang sehat justru terasa sederhana.
Kamu merasa aman menjadi dirimu sendiri.
Kamu tidak terus-menerus menebak perasaan pasangan.
Kamu bisa membicarakan masalah tanpa takut direndahkan.
Kamu memiliki ruang untuk berkembang sebagai individu.
Dan ketika terjadi perbedaan, kalian tidak langsung berpikir untuk saling meninggalkan, tetapi mencoba memahami dan mencari jalan keluar bersama.
Pada Akhirnya, Jangan Hanya Mencari “Orang yang Tepat”
Jika kamu ingin mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan, jangan hanya sibuk mencari orang yang tepat.
Gunakan proses tersebut untuk mengenal dirimu sendiri.
Ketahui apa yang benar-benar kamu butuhkan.
Tentukan batasanmu.
Perbaiki pola hubungan yang tidak sehat.
Perluas lingkunganmu.
Belajar berkomunikasi.
Amati perilaku, bukan hanya kata-kata.
Dan yang tidak kalah penting, jadilah seseorang yang juga mampu memberikan kualitas hubungan yang kamu harapkan dari orang lain.
Sebab terkadang, pertanyaan terbaik bukan:
“Kapan aku akan menemukan pasangan yang tepat?”
Melainkan:
“Ketika orang yang tepat datang, apakah aku sudah menjadi seseorang yang siap membangun hubungan yang sehat bersamanya?”
Mungkin kamu tidak bisa menentukan kapan seseorang yang tepat akan datang.
Tetapi kamu bisa menentukan bagaimana kamu mempersiapkan diri ketika kesempatan itu datang.
Dan pada akhirnya, pasangan yang sesuai bukan selalu orang yang memenuhi semua ekspektasimu.