JawaPos.com - Meski hampir semua orang tahu bagaimana etika saat interview kerja, tapi, masing-masing generasi memiliki standar dan harapan karier yang berlainan yang pada akhirnya memengaruhi sikap mereka saat menjalani interview kerja.
Ketika generasi terdahulu, Baby Boomer menciptakan stereotip tradisional tentang pentingnya mengenakan pakaian terbaik saat interview kerja dan menunjukkan rasa percaya diri.
Generasi lebih muda justru membawa perubahan yang cukup drastis hingga membuat sebagian pemberi kerja 'geleng-geleng' dan mempertanyakan apakah mereka benar-benar siap memasuki dunia kerja?.
Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Selasa (6/10), begini cara Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z menghadapi interview kerja.
Generasi Baby Boomer
Generasi tahun 1946 – 1964 membawa perpaduan antara sikap serius dengan ketulusan saat interview kerja.
Mungkin dilatarbelakangi etos kerja yang sangat kuat, bahkan workaholic, Generasi Baby Boomer berupaya maksimal memberikan kesan pertama yang baik pada HRD saat interview, karena mereka memandang pekerjaan dengan serius.
Kemudian, situasi pasar kerja yang tidak terlalu rumit untuk dihadapi, menjadikan proses interview jauh lebih lugas dibandingkan saat ini dan pemberi kerja cenderung mengandalkan resume daripada sekadar penuturan lisan kandidat.
Ini membentuk pandangan di kalangan Baby Boomer bahwa wawancara kerja seharusnya bersifat profesional sekaligus menjadi ajang percakapan yang jujur.
Generasi X
Generasi selanjutnya, yakni Gen X yang lahir tahun 1965 – 1980 terbiasa bersikap lugas saat interview kerja, karena mereka sangat mandiri, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Mereka mengutamakan penyelesaian pekerjaan dengan baik tanpa menjadikannya aspek yang mendefinisikan seluruh hidup mereka.
Perpaduan antara motivasi dan keseimbangan ini terlihat jelas saat Gen X menjalani interview kerja.
Mereka paham betul nilai tambah yang dimiliki dan berharap pemberi kerja juga melihatnya.
Sama seperti Baby Boomer, Gen X tidak suka berbasa-basi.
Generasi Milenial
Mereka menjadi generasi pertama yang berperilaku berbeda dari norma interview kerja pada umumnya.
Mereka sering kali dipandang sebelah mata di dunia kerja.
Generasi yang lebih tua tidak menganggap Milenial sebagai pekerja keras.
Bahkan, mereka sering merasa disalahpahami sejak pertama kali melangkah masuk ke ruangan interview, sehingga mereka harus berusaha lebih keras mematahkan anggapan tersebut.
Generasi yang lahir tahun 1981 – 1996 tidak sepenuhnya mandiri, mungkin karena kebanyakan dari mereka mengandalkan bantuan orang tua dalam proses pencarian dan wawancara kerja dibanding generasi sebelumnya.
Meski demikian, hanya sedikit yang melibatkan orang tua secara langsung dalam sesi interview kerja itu sendiri.
Generasi Milenial tidak menampilkan tingkat profesionalisme klasik yang sama dalam interview layaknya Baby Boomer atau Gen X.
Mereka cenderung lebih santai dan tidak keberatan menyusun strategi tertentu, alih-alih hanya mengandalkan kemampuan diri semata untuk mendapatkan pekerjaan.
Mengingat Generasi Milenial sedang mengubah wajah dunia kerja, jadi, wajar saja jika mereka turut mengubah bagaimana cara interview kerja dilakukan.
Generasi Z
Gen Z lebih memedulikan kenyamanan diri saat interview kerja dibandingkan bersikap profesional.
Mereka memiliki karakteristik yang berbeda.
Kerap dinilai memiliki etos kerja yang sangat lemah, tidak heran jika pemberi kerja mempertanyakan perilaku mereka saat menjalani interview kerja.
Sebagian besar dari mereka yang lahir tahun 1997 – 2012 pernah mengajak orang tua saat interview dan banyak pula yang membiarkan orang tua mereka turun tangan menangani hal-hal seperti komunikasi dengan pihak HRD atau negosiasi gaji.
Perilaku ini menunjukkan kurangnya kemandirian yang membuat para pemberi kerja khawatir.
Gen Z juga menunjukkan sikap yang jauh lebih santai saat menjalani interview.
Bahkan, ada yang berani membawa es kopi sendiri ke dalam sesi interview.
Pandangan mereka tentang profesionalisme sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.