JawaPos.com – Banyak orang kesulitan mengakui bahwa mereka hampir kehabisan uang, sehingga kondisi itu kerap tersembunyi di balik ungkapan sehari-hari yang terdengar biasa.
Dalam psikologi keuangan, rasa malu dan harga diri membuat seseorang lebih memilih ungkapan halus daripada mengakui masalah finansial secara terbuka.
Survei USAFacts menunjukkan lebih dari seperempat orang dewasa di Amerika Serikat mengaku kesulitan secara finansial, dan sembilan belas persen hanya bisa bertahan.
Dilansir dari laman YourTango pada Senin (12/10), berikut sembilan ungkapan sehari-hari yang bisa menjadi petunjuk kehabisan uang sekaligus gambaran psikologi keuangan di balik masalah finansial tersebut.
1. Ungkapan menunggu gajian saat diminta menanggung biaya
Orang yang uangnya menipis biasanya mengatur pengeluaran dengan cermat, sehingga mereka perlu tahu persis kapan tagihan bulanan akan terpotong.
Ketika diminta ikut menanggung biaya, jawaban menunggu gajian muncul karena mereka baru berani membelanjakan uang setelah pemasukan benar-benar masuk.
Kondisi ini sebenarnya dialami banyak orang, meski sebagian merasa malu mengakuinya karena takut dianggap gagal mengelola penghasilan yang ada.
Bagi yang kondisinya longgar, traktiran kecil meringankan beban mereka sekaligus menumbuhkan kebaikan, kepercayaan diri, kebahagiaan, dan optimisme pada dirimu.
2. Alasan pengeluaran tak terduga sedang muncul
Masalah keuangan sekecil apa pun memicu kecemasan, terutama bagi orang yang simpanannya tipis dan tidak punya cadangan dana memadai.
Mereka yang mengaku sedang menghadapi pengeluaran mendadak biasanya tidak butuh uangmu, melainkan dukungan dan empati tulus dari orang terdekat.
Mengakui sedang kesulitan adalah tindakan rentan, sebab jika persoalannya sepele, orang tersebut kemungkinan besar tidak repot membicarakannya sama sekali.
Kekhawatiran soal uang berkaitan dengan tekanan mental yang lebih besar, tetapi gunakan akal sehat agar tidak tertipu modus orang asing.
3. Janji membayar kembali setelah gajian tiba
Hampir tak ada orang senang meminjam uang dari kerabat, namun keadaan darurat dan hilangnya pekerjaan kadang memaksa mereka melakukannya.
Meminta pertolongan terasa berat karena kebanyakan orang tidak nyaman membuka diri, apalagi ketika harus mengakui kondisi keuangannya sedang goyah.
Seorang psikolog klinis menjelaskan mengambil risiko emosional berarti membuka diri terhadap kemungkinan terluka, dan hal itu tidak pernah mudah.
Karena itu, ucapan ini jangan dianggap remeh, sebab orang berutang, selain penipu, biasanya menanggung kesulitan lebih berat daripada pengakuannya.
4. Prinsip membuat apa yang dimiliki bisa awet
Orang yang hidup dari gaji ke gaji tidak sempat memikirkan belanja barang mewah atau rilisan terbaru sepatu desainer ternama.
Mereka lebih memilih memasak satu porsi besar sekaligus agar bisa dimakan berulang kali, meski sebenarnya kurang menyukai makanan sisa.
Pakaian dijemur alami, bukan dikeringkan dengan panas tinggi, sebab cara itu lebih menjaga serat kain agar bertahan lebih lama.
Setiap barang dianggap investasi dan dipakai sampai habis atau rusak, sehingga ponsel model terbaru tidak terlintas di benak mereka.
5. Fokus bertahan sampai akhir bulan saja
Liburan mewah atau rencana dua tahun ke depan tidak ada dalam pikiran mereka, karena fokusnya bertahan sampai akhir bulan.
Mereka sebenarnya ingin ikut menyusun rencana bersamamu, tetapi tekanan hidup yang berat membuat mereka berada dalam mode bertahan hidup.
Kekhawatiran yang menumpuk terasa ringan jika kamu membantu, seperti memasakkan makan siang, memberi hadiah kecil, atau mendengarkan keluhan mereka.
Bentuk perhatian seperti itu menunjukkan kepedulianmu, asalkan kamu tidak menceritakan rencana liburan akhir tahun yang mewah di hadapan mereka.
6. Upaya meregangkan gaji agar cukup lebih lama
Ketika seseorang bilang sedang mencari cara agar gajinya cukup lebih lama, sebaiknya kamu tidak meminta bantuan darinya bulan itu.
Bisa jadi ucapannya tidak persis seperti itu, tetapi isi pesannya jelas, persediaan uang mereka sudah menipis dan perlu dijaga.
Mereka ingin tampil lebih bisa diandalkan, namun tagihan menumpuk dan sebesar apa pun kerja kerasnya, penghasilan tetap terasa kurang.
Kebutuhan pokok seperti tempat tinggal, makanan, dan asuransi harus didahulukan, jadi mereka hanya bisa menjalani hidup hari demi hari.
7. Menolak makan malam tetapi menerima ajakan ngopi
Mereka ingin bersenang-senang seperti orang lain karena kebutuhan bersosialisasi dan membangun kebersamaan sudah tertanam kuat dalam diri setiap manusia.
Namun dengan dana terbatas, mereka cenderung mengubah rencana ketika ajakanmu menyangkut tempat yang biayanya lebih dari beberapa ribu rupiah.
Perubahan itu bukan berarti mereka menghindarimu atau ingin mempersingkat waktu bersama, melainkan karena kondisi keuangannya memang sedang sangat sulit.
Mentraktirnya sesekali tak masalah, tetapi membiarkan mereka menentukan cara bertemu, termasuk kegiatan gratis atau murah, lebih menunjukkan rasa hormat.
8. Menunda pembelian sampai bulan depan tiba
Mereka ingin membelanjakan uang untuk diri sendiri, terutama ketika teman dan keluarga sedang memanjakan diri dengan sesuatu yang baru.
Membeli barang baru terdengar sepele, padahal perawatan diri, menurut lembaga kesehatan mental AS, membantu mengelola stres dan menambah energi.
Saat dana menipis, mereka memilih menunda pembelian sampai bulan depan dan tidak ingin siapa pun merasa kasihan terhadap keadaannya.
Pilihan itu tidak ideal, tetapi tanpa alternatif lain, keinginan tersebut disingkirkan dengan berat hati hingga akhirnya terlupakan begitu saja.
9. Mengecilkan masalah dengan alasan mengejar tagihan
Mereka paling tidak ingin membuat orang tersayang cemas atau iba, sehingga penderitaan mereka sengaja dikecilkan di depan orang lain.
Mengejar tunggakan tagihan tidak salah, tetapi jika ungkapan itu sering terdengar, kemungkinan ada persoalan yang lebih dalam di baliknya.
Dugaan itu semakin kuat apabila orang tersebut terlihat jelas sedang stres, terutama bila ungkapan serupa diulang dalam beberapa kesempatan.
Selama mereka belum meminta bantuan langsung, dukungan emosional dan ajakan kegiatan tanpa biaya adalah langkah paling tepat bagi kamu.
***