JawaPos.com - Film-film Marvel dan DC biasanya punya tone yang berbeda.
DC kerap menghadirkan karya yang didominasi oleh kesenduan, kemarahan dan kegelisahan sehingga warna setiap film yang disajikan cenderung gelap.
Sementara, Marvel seringkali dianggap memiliki karya yang lebih 'ceria' dengan dominasi warna-warni mencolok pada desain karakternya. Keceriaan ini juga ditambah dengan kekonyolan para karakter di sederet adegan tiap rilisan.
Lalu, apa jadinya jika dua kutub yang berlawanan ini dijadikan dalam satu film?
Jawabannya mungkin ada di film terbaru DC, Supergirl.
Film yang dibintangi oleh Milly Alcock ini disutradarai oleh Craig Gillepsie dan diproduseri oleh James Gunn.
Nama kedua adalah sosok yang bertanggung jawab atas trilogi film Marvel, Guardians of The Galaxy.
Meski tidak menjadi sutradara langsung seperti di Superman pada 2025, campur tangan James Gunn dalam Supergirl tetap sangat terasa.
Apa yang terjadi di trilogi Guardians of The Galaxy juga teraplikasi di Supergirl: perjalanan mengarungi luar angkasa, petualangan dari satu planet ke planet lain, pertempuran seru, dan musik-musik jadul yang memantik nostalgia.
Kisah Sepupu Superman
Supergirl mengisahkan tentang Kara Zor-El (Milly Alcock), salah satu dari dua bangsa Planet Kripton selain Superman yang masih hidup di galaksi.
Berbeda dengan Superman yang tumbuh di bumi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, Kara tidak demikian. Ia lebih suka bersikap dan bertindak sesuai insting dan bersikap realistis.
Jika Superman bertindak dengan fondasi kebajikan, Kara bertindak dengan logika dasar.
Petualangan Kara dimulai secara tidak terduga ketika ia tiba-tiba didatangi oleh seorang anak kecil perempuan bernama Ruthye Marye Knoll yang ingin merekrutnya dalam sebuah perjalanan balas dendam.
Ruthye ingin menuntut balas kepada Krem of The Yellow Hills, seorang penjahat kejam yang memimpin kelompok perompak luar angkasa bernama Brigands yang membunuh ayah, ibu dan kakaknya.
Kara yang awalnya menolak karena tidak mau ikut campur urusan orang lain, terpaksa juga menjadikan ini sebagai persoalan personal setelah Krem menembak anjingnya, Krypto hingga sekarat.
Petualangan Kara dan Ruthye mengarungi galaksi pun dimulai.
Nuansa Guardians of The Galaxy
Layaknya Superman versi 2025, James Gunn kembali membuat Supergirl menjadi sebuah film yang cukup berbeda dari film-film DC yang sudah ada.
Walaupun bernuansa gelap dengan warna-warna yang memberi kesan gloomy, Supergirl bisa tetap terasa sebagai film yang fun untuk disaksikan berkat kebiasaan-kebiasaan James Gunn di dalamnya.
Momen yang membuat Supergirl terasa sangat Guardians of The Galaxy terlihat jelas saat Kara membantai para Brigands dalam adegan hingar-bingar penuh slow motion yang dibalut dengan musik-musik upbeat.
Salah satu hal yang juga menjadi daya tarik Supergirl adalah kehadiran sosok Lobo yang diperankan Jason Momoa. Sosok anti-hero immortal yang berkekuatan luar biasa dan slengekan ini rupanya sangat cocok diperankan oleh sang aktor yang sebelumnya lebih dipercaya untuk menjadi Aquaman.
Secara cerita, Supergirl juga sangat bersahabat dengan orang-orang yang tidak fasih betul dengan dunia DC dan apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Sutradara Craig Gillepsie sepertinya lebih memilih untuk 'bermain aman' dengan menjadikan Supergirl sebagai sebuah karya yang ringan dan bisa ditonton siapa saja, ketimbang menghadirkan kisah yang kompleks dan penuh konspirasi seperti yang banyak terjadi dalam film DC.
Secara keseluruhan, Supergirl adalah film superhero yang punya warna berbeda dari Superman, walaupun kedua film ini dipoles oleh tangan yang sama dengan keseruan yang sama.
Beragam elemen menghibur dan memanjakan mata di dalamnya berhasil mengimbangi cerita dan latar belakang para tokohnya yang kelam dan menjadikan film ini lebih seru ditonton, serta layak untuk disaksikan para penonton film kasual.