← Beranda
Lindungi Gajah Sumatera, Menhut Tambah GPS Collar di Bukit Tigapuluh Jambi
Muhammad Ridwan• Selasa, 29 September 2026 | 16.57 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau gajah Sumatera di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi, Senin (28/9). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mendorong penguatan koridor gajah Sumatera di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi. Upaya tersebut dilakukan dengan mengedepankan keterlibatan masyarakat dalam menjaga habitat sekaligus mendukung upaya konservasi satwa dilindungi tersebut.

Salah satu bentuk partisipasi masyarakat diwujudkan melalui program pengayaan pakan gajah. Tanaman pakan ditanam dan dikelola oleh warga yang berada di sekitar kawasan habitat gajah.

Dalam kesempatan itu, Menhut meninjau langsung kegiatan pengayaan pakan tersebut di Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Jambi, Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Senin (28/9).

Program restorasi berbasis masyarakat di PIKG Jambi mencakup area sekitar 2,8 hektare. Sejumlah tanaman yang dikembangkan sebagai sumber pakan gajah antara lain tebu, pisang, nanas, dan rumput gajah.

Baca Juga: Selasa Pagi, Udara Jakarta jadi yang Terburuk Keenam di Dunia

Raja Juli mengatakan populasi gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh diperkirakan mencapai sekitar 130 individu. Namun, jumlah tersebut masih berpotensi lebih besar berdasarkan hasil pemantauan yang terus dilakukan.

Bahkan, dalam mengetahui pola pergerakan satwa, pemantauan juga diperkuat dengan pemasangan GPS collar. Perangkat tersebut telah dipasang pada hampir seluruh gajah yang menjadi objek pemantauan, dan pemerintah berencana menambah empat unit GPS collar.

“Kita sudah pasang GPS collar di hampir semua gajah di sini, mudah-mudahan akan ditambah 4 lagi ya. Sehingga ke depan sudah mengetahui ke mana jalur jelajahnya,” kata Raja Juli saat kunjungan.

Menurut dia, upaya menjaga keberlangsungan populasi gajah tidak bisa hanya mengandalkan aspek konservasi. Keterlibatan masyarakat dan pengelolaan lanskap secara terpadu juga menjadi bagian penting dalam mencari solusi atas potensi konflik antara aktivitas manusia dan habitat satwa.

Raja Juli menegaskan, kepentingan manusia dan kelestarian alam tidak semestinya ditempatkan dalam posisi yang saling berlawanan. Keduanya perlu diupayakan agar dapat berjalan secara beriringan.

“Tentu tidak perlu dipertentangkan bahwa seolah-olah nanti kita lebih berpihak kepada gajah daripada manusia, atau sebaliknya. Toh kita tahu bahwa kita harus hidup berdampingan dengan alam,” ujarnya.

Pendekatan kolaboratif tersebut turut dikembangkan melalui Protect30 dalam pengelolaan Lanskap Bukit Tigapuluh. Program itu mencakup upaya konservasi keanekaragaman hayati sekaligus mendorong penerapan forest-positive action.

Baca Juga: TransNusa Ekspansi Rute Antarwilayah Sulawesi Lewat Penerbangan Langsung Manado–Makassar

Pelaksanaan program diarahkan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lanskap, menjaga kelestarian komoditas, memperkuat stabilitas sosial, serta membuka ruang keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan kawasan.

Selain itu, Kementerian Kehutanan membuka peluang pemanfaatan skema Perhutanan Sosial. Skema tersebut dapat menjadi salah satu opsi untuk memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan kawasan secara produktif dan tetap berkelanjutan.

“Jadi pembangunan terus bisa berjalan, tapi lingkungan hidup terjaga dan yang secara bersamaan juga hak masyarakat, hak masyarakat itu juga kita bisa akomodir dengan baik,” pungkasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan