← Beranda
Titik Panas Karhutla Melonjak 2 Kali Lipat, Menhut Instruksikan 4 Operasi Penanganan 
Ryandi Zahdomo• Selasa, 13 Oktober 2026 | 22.01 WIB
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau penanggulangan karhutla di Hutan Lindung Liang Anggang Banjarbaru, Senin (12/10/2026). (ANTARA/Firman)

 

 

JawaPos.com - Lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mengalami peningkatan signifikan hingga lebih dari dua kali lipat dalam sehari.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan per Senin (12/10) pukul 21.00 WIB, terdeteksi sebanyak 1.085 titik panas secara nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).

Di enam provinsi prioritas, jumlah hotspot melonjak drastis menjadi 542 titik dari yang sebelumnya hanya 238 titik. 

Kalimantan Tengah mencatat angka tertinggi sebanyak 227 titik, disusul Sumatera Selatan dengan 147 titik, serta Kalimantan Selatan yang melonjak drastis dari 15 menjadi 113 titik.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan karhutla di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin.

Meskipun kondisi di lokasi peninjauan relatif lebih terkendali, Menhut mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah.

Ancaman karhutla diperkirakan masih berlangsung cukup lama. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan alami yang konsisten di wilayah Kalimantan Selatan diproyeksikan baru akan turun pada pertengahan November.

"Pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan seluruh unsur terkait diminta tetap menjaga kesiapsiagaan," ujar Menhut Raja Juli Antoni.

Dalam kesempatan tersebut, Menhut menekankan empat pilar utama yang wajib dijaga ketat dalam pengendalian karhutla:

- Operasi Udara: Penirisan dan pemadaman titik api dari udara.

- Kekuatan Operasi Darat: Pemadaman langsung serta patroli rutin di area rawan.

- Partisipasi Masyarakat: Pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar.

- Penegakan Hukum: Tindakan tegas terhadap segala bentuk pelanggaran memicu kebakaran.

Fokus Penanganan Lahan Gambut dan Penyelamatan Satwa

Penanganan di Hutan Lindung Liang Anggang dilakukan secara masif melalui kombinasi pemadaman darat oleh personel gabungan Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan, serta pembasahan lahan (rewetting) melalui saluran kanal.

Kementerian Kehutanan memberikan perhatian ekstra pada ekosistem lahan gambut, terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

Karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah membuat pendinginan harus dilakukan hingga tuntas meski api permukaan sudah padam.

Selain pemadaman api, Kementerian Kehutanan juga menerjunkan tim untuk menyelamatkan satwa liar yang kehilangan habitat.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan evakuasi mandiri jika menemukan satwa terluka atau masuk permukiman, melainkan segera melapor ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terdekat.

Kualitas Udara Memburuk: Warga Diimbau Pakai Masker

Dampak karhutla juga mulai memengaruhi kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan pantauan konsentrasi partisipatif PM2,5, wilayah Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan beberapa titik menyentuh kategori berbahaya.

Masyarakat yang berada di daerah terdampak diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker. Perhatian khusus dianjurkan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan kronis.

Baca Juga: Kemenhut Tangani 290 Satwa Liar Korban Karhutla, Termasuk 96 Orangutan

Kementerian Kehutanan menegaskan kembali imbauan keras kepada seluruh warga dan pelaku usaha untuk tidak membakar lahan. Jika menemukan indikasi kebakaran atau satwa terdampak, warga diharapkan segera melapor ke petugas terdekat.

EDITOR: Kuswandi