← Beranda
Tangani Karhutla di Tanjung Puting, 30 Sumur Bor Digali dan 160 Personel Diterjunkan
Muhammad Ridwan• Kamis, 15 Oktober 2026 | 06.11 WIB
Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen Zainul Arifin dan jajaran menyisir kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Selasa (13/10/2026) di tengah kabut asap karhutla. (Kodam XXII Tambun Bungai via Antara)

JawaPos.com - Sumur bor menjadi salah satu andalan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Operasi pemadaman dilakukan bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta para relawan dengan total sekitar 160 personel.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan, hasil pemetaan tersebut menunjukkan adanya empat medan utama atau battleground yang menjadi fokus operasi pemadaman.

Meliputi Pesalat, Teluk Pulai, Sungai Buluh Kecil, Sungai Buluh Besar, serta kawasan Sungai Bawung dan Tanjung Rengas.

Baca Juga: Kualitas Udara Berbahaya, Kemenkes Sarankan PJJ di Wilayah Karhutla

“Dari banyak titik api yang tersebar di Tanjung Puting, pakai drone thermal kita bisa identifikasi ada empat battleground atau ada empat titik di mana kita harus bertarung melawan api,” kata Raja Juli di Pangkalan Bun, Rabu (14/10).

Raja Juli menjelaskan, Pesalat menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena letaknya berdekatan dengan feeding area atau zona tempat satwa mencari makan.

Pemerintah berupaya mencegah pergerakan api agar tidak menjangkau kawasan yang harus dilindungi.

Berdasarkan hasil pemetaan, lanjut dia, pemerintah memperkirakan kebutuhan sekitar 30 sumur bor untuk mendukung penyediaan air dalam operasi pemadaman.

Penambahan sumber air tersebut diharapkan dapat membantu petugas mengendalikan api di sejumlah titik rawan.

Baca Juga: Kemenko Polkam Bantah Tolak Bantuan Karhutla dari Malaysia: Masih Komunikasi

Selain sarana pendukung, kata dia, Kemenhut juga menyiapkan sekitar 160 personel pasukan darat dalam memperkuat operasi di lapangan.

Selain itu, Pemerintah juga mengkaji penggunaan alat berat guna membangun sekat bakar, dengan tetap memperhitungkan karakteristik serta kedalaman lahan gambut di lokasi terdampak.

“Tapi intinya, kita mencegah agar api tidak masuk ke zona inti,” tegasnya. Ia memastikan, penguatan personel tidak hanya difokuskan di Pesalat.

Menurut Raja Juli, penambahan pasukan juga diperlukan untuk menangani kebakaran di Teluk Pulai, Sungai Buluh Kecil, Sungai Buluh Besar, Sungai Bawung, dan Tanjung Rengas.

Sementara, dalam menjaga efektivitas operasi, sebagian personel disiapkan menetap di lapangan selama kurang lebih satu pekan.

Baca Juga: Karhutla di Kalteng dan Sumsel Masih Parah, BNPB Terus Lakukan Pemadaman Bersama Tim Gabungan

Skema tersebut diharapkan memungkinkan petugas melakukan pemadaman secara berkelanjutan tanpa harus berulang kali meninggalkan lokasi untuk kembali ke pangkalan.

Lebih lanjut, ia menegaskan penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting membutuhkan kerja sama seluruh unsur, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun lembaga terkait.

“Insya Allah pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat, tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan untuk kita lakukan, kita lakukan,” pungkasnya.

EDITOR: Bayu Putra