← Beranda
BYD Ungkap Mobil Pertama dengan Baterai Solid-State, Jarak Tempuh Bisa Lebih Jauh
Nanda Prayoga• Senin, 28 September 2026 | 21.30 WIB
Mobil listrik BYD Seal dan BYD Dolphin berpose di kantor pusat BYD di Shenzhen, Tiongkok. (Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com)  

 

JawaPos.com - Produsen mobil asal Tiongkok, BYD, bersiap menghadirkan mobil pertamanya dengan baterai solid-state pada 2027. Teknologi tersebut diperkirakan akan digunakan pada model kelas atas, termasuk kemungkinan generasi mendatang Denza Z, sekaligus menawarkan potensi jarak tempuh lebih jauh.

Seperti dilansir dari Engadget, Wakil Presiden Eksekutif BYD Stella Li mengungkap rencana tersebut dalam wawancara dengan kanal Carwow Spanyol. Ia juga mengklaim BYD berada di posisi terdepan dalam pengembangan dan komersialisasi baterai solid-state.

"Terkait baterai solid-state, BYD berada di posisi terdepan. Kami memimpin dalam hal komersialisasi dan teknologi. Sebagai buktinya, tahun depan kami akan menghadirkan satu model yang menjadi yang pertama menggunakan teknologi tersebut,” ungkap Stella Li.

Rencana tersebut sejalan dengan pernyataan Sun Huajun, Chief Technology Officer (CTO) FinDreams, anak perusahaan BYD yang bergerak di bidang baterai. Dalam konferensi baterai pada Februari 2025, Sun menyebut BYD akan melakukan demonstrasi dan pemasangan pertama baterai solid-state pada 2027.

Setelah tahap tersebut, teknologi baterai solid-state BYD ditargetkan memasuki produksi massal sekitar 2030. Namun, kehadiran teknologi ini tidak berarti BYD akan menghentikan penggunaan baterai lithium konvensional.

Kepala Ilmuwan BYD Lian Yubo mengatakan baterai solid-state nantinya akan digunakan untuk melengkapi baterai lithium iron phosphate (LFP), terutama pada kendaraan kelas atas.

"Baterai solid-state terutama akan digunakan pada model-model kelas atas, saling melengkapi dengan baterai lithium iron phosphate (LFP), serta digunakan pada berbagai tingkatan kendaraan," kata Lian.

Baterai Solid-State Bisa Tingkatkan Jarak Tempuh

Baterai lithium-ion yang banyak digunakan pada kendaraan listrik saat ini memindahkan ion antara terminal positif dan negatif melalui elektrolit cair. Sementara itu, baterai solid-state mengganti komponen cair tersebut dengan elektrolit padat yang dapat dibuat dari oksida, polimer, atau sulfida.

BYD sendiri mengembangkan baterai solid-state berbasis sulfida. Penggunaan elektrolit padat memungkinkan baterai memiliki kepadatan energi lebih tinggi. Hal tersebut berpotensi membuat baterai lebih kecil dan ringan sekaligus memberikan jarak tempuh lebih jauh dalam sekali pengisian daya.

Secara teori, baterai solid-state juga memiliki tingkat keamanan lebih tinggi. Teknologi tersebut memiliki risiko terbakar lebih rendah dan berpotensi bekerja pada rentang suhu yang lebih luas dibandingkan baterai lithium-ion.

Namun, biaya produksi masih menjadi salah satu tantangan utama. Karena itu, BYD memperkirakan baterai solid-state akan lebih dahulu digunakan pada model-model kelas atas.

BYD Bukan Satu-satunya

Pengembangan baterai solid-state tidak hanya dilakukan BYD. Sejumlah produsen otomotif global juga tengah menyiapkan kendaraan dengan teknologi tersebut.

Toyota menargetkan kendaraan dengan baterai solid-state hadir pada 2027 atau 2028. Mercedes-Benz telah menguji model EQS dengan teknologi tersebut dan menargetkan peluncuran sebelum akhir dekade.

Sementara itu, Stellantis dijadwalkan memulai uji jalan Dodge Charger dengan baterai solid-state pada 2026. Honda juga menjalin kemitraan dengan QuantumScape untuk mengembangkan teknologi baterai tersebut sebagai bagian dari upaya mencapai target netralitas karbon pada 2050.

Meski menawarkan potensi peningkatan performa dan keamanan, baterai solid-state masih menghadapi tantangan biaya dan produksi massal. Para produsen otomotif kini berlomba mengembangkan teknologi tersebut agar dapat digunakan secara lebih luas pada kendaraan listrik.

EDITOR: Estu Suryowati