← Beranda
Mobil Hybrid Lebih Mahal Dirawat Dibanding Mesin ICE? Ini Fakta Biaya Servisnya
Dony Lesmana Eko Putra• Jumat, 2 Oktober 2026 | 00.51 WIB
Perbandingan perawatan mobil hybrid dan mobil ICE. (Ilustrasi)

JawaPos.com - Mobil hybrid semakin banyak dipilih karena menawarkan efisiensi bahan bakar dengan menggabungkan mesin bensin dan motor listrik. Namun, satu pertanyaan yang masih sering muncul adalah soal biaya perawatannya. 

Apakah mobil hybrid benar-benar lebih mahal dirawat dibandingkan mobil bermesin bensin konvensional?

Pada dasarnya, perawatan mobil hybrid tidak selalu lebih mahal. Beberapa komponen bahkan berpotensi memiliki usia pakai lebih panjang karena beban kerja mesin dan sistem pengereman dapat berkurang.

Mengacu pada informasi Toyota Astra Motor, biaya servis berkala mobil hybrid berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta setiap 10.000 km, tergantung jenis kendaraan dan kebutuhan perawatan.

Sementara servis besar pada jarak 40.000-60.000 km dapat berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp4 juta.

Komponen Mobil Hybrid yang Lebih Awet

Salah satu perbedaan mobil hybrid terdapat pada sistem pengereman regeneratif (regenerative braking). Teknologi ini membantu mengurangi penggunaan rem konvensional sehingga kampas rem berpotensi lebih awet.

Selain itu, sistem hybrid menggunakan motor listrik untuk membantu kendaraan bergerak pada kondisi tertentu.

Dampaknya, mesin bensin tidak selalu bekerja secara penuh, terutama ketika kendaraan melaju dalam kondisi kecepatan rendah atau berhenti dalam kemacetan.

Toyota mencatat sejumlah komponen pada mobil hybrid dapat memiliki interval penggantian yang lebih panjang.

Misalnya, kampas rem disebut dapat digunakan sekitar 50.000-70.000 km, sedangkan pada mobil bensin konvensional berada di kisaran 30.000-40.000 km.

Baterai Hybrid Jadi Komponen yang Perlu Diperhatikan

Meski biaya servis rutin relatif terkendali, baterai tetap menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan ketika membeli mobil hybrid.

Menurut Toyota Astra Motor, baterai hybrid memiliki usia pakai sekitar 8-10 tahun atau 150.000-200.000 km, sedangkan biaya penggantiannya dapat berada di kisaran Rp20 juta-Rp40 juta, tergantung kendaraan dan baterai yang digunakan.

Namun, biaya tersebut tidak otomatis muncul dalam perawatan rutin. Selama baterai masih bekerja normal dan kendaraan dirawat sesuai rekomendasi pabrikan, pemilik tidak perlu menggantinya secara berkala seperti oli mesin atau filter.

Justru Bisa Lebih Hemat untuk Pemakaian Harian

Keuntungan lain mobil hybrid terletak pada efisiensi bahan bakar. Sistem motor listrik dapat membantu mesin bensin, terutama ketika kendaraan digunakan dalam kondisi stop and go di perkotaan.

Toyota memberikan ilustrasi konsumsi 10 km per liter untuk mobil bensin dan 18 km per liter untuk mobil hybrid.

Dengan asumsi jarak tempuh 1.000 km per bulan dan harga BBM Rp10.000 per liter, penggunaan mobil hybrid menghasilkan kebutuhan sekitar 55 liter BBM, dibandingkan 100 liter pada mobil bensin.

Meski angka konsumsi aktual setiap kendaraan bisa berbeda, ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa biaya kepemilikan mobil hybrid tidak hanya bisa dilihat dari harga servis.

Penghematan BBM juga menjadi bagian penting dalam menghitung biaya operasional kendaraan.

Kunci Agar Biaya Perawatan Tetap Terkendali

Pemilik mobil hybrid tetap perlu melakukan servis secara rutin. Penggunaan bengkel resmi atau teknisi yang memahami sistem hybrid juga penting karena kendaraan memiliki komponen kelistrikan bertegangan tinggi yang membutuhkan penanganan khusus.

Selain itu, gaya berkendara turut memengaruhi efisiensi. Akselerasi agresif dan penggunaan kendaraan yang tidak sesuai karakter sistem hybrid dapat membuat manfaat efisiensi bahan bakar tidak maksimal.

Dengan demikian, anggapan bahwa mobil hybrid selalu lebih mahal dirawat tidak sepenuhnya tepat. 

Biaya servis rutin dapat berada pada kisaran yang tidak jauh berbeda dengan mobil konvensional, sementara efisiensi BBM dan penggunaan komponen tertentu yang lebih awet dapat menjadi faktor pengimbang dalam jangka panjang.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra