← Beranda
11 Luka Masa Kecil yang Dapat Membuat Anak Memutus Hubungan dengan Orang Tua saat Mereka Dewasa
Leni Setya Wati• Selasa, 29 September 2026 | 22.09 WIB
Ilustrasi anak dan orang tua (magnific/gpointstudio)

 

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu berjalan sempurna. Bahkan orang tua yang penuh perhatian pun bisa melakukan hal-hal yang tanpa disadari meninggalkan luka pada anak.

Ketika pengalaman tersebut tidak pernah dibicarakan atau diselesaikan, dampaknya dapat terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Dalam beberapa kasus, luka masa kecil bahkan membuat seseorang memilih menjaga jarak atau memutuskan hubungan dengan orang tua.

Keputusan tersebut umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan setelah bertahun-tahun merasa tidak didengar, dipahami, dihargai, atau diterima.

Orang tua sebenarnya dapat memperbaiki hubungan dengan berusaha mendengarkan pengalaman anak tanpa langsung membela diri.

Namun, ketika rasa sakit terus diabaikan dan orang tua tidak bersedia mengakui perannya, hubungan yang sudah renggang bisa semakin sulit dipulihkan.

Dilansir dari YourTango, berikut 11 pengalaman masa kecil yang dapat menjadi salah satu faktor seseorang menjauh dari orang tua ketika dewasa.

1. Kebutuhan emosional anak sering diabaikan

Anak tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan perlindungan. Mereka juga membutuhkan kehadiran emosional dari orang tua, termasuk perhatian, kepedulian, rasa aman, dan kasih sayang.

Ketika kebutuhan emosional tersebut terus diabaikan, anak dapat tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak benar-benar dicintai atau dianggap penting oleh orang tua.

Pengabaian emosional juga dapat memengaruhi hubungan seseorang ketika dewasa. Materi sumber menyebutkan studi tahun 2025 di BMC Psychology yang mengaitkan pengabaian emosional pada masa kanak-kanak dengan kecemasan yang lebih tinggi serta ketidaknyamanan dalam membangun kedekatan dalam hubungan romantis.

Setelah bertahun-tahun merasa tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan, sebagian orang dewasa akhirnya memilih menjaga jarak karena tidak lagi yakin orang tua dapat menjadi tempat yang aman bagi mereka.

2. Anak merasa harus mendapatkan kasih sayang orang tua

Kasih sayang orang tua seharusnya tidak terasa seperti hadiah yang hanya diberikan ketika anak memenuhi standar tertentu.

Namun, sebagian anak tumbuh dengan pengalaman bahwa kesalahan, kegagalan, atau perilaku yang tidak sesuai harapan akan membuat kasih sayang orang tua berkurang.

Psikoterapis keluarga Sidu Arroyo-Boulter menjelaskan bahwa cinta bersyarat dapat membuat anak merasa dirinya hanya layak dicintai ketika mampu memenuhi ekspektasi tertentu.

Pola tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin menjadi terlalu keras terhadap dirinya sendiri, takut melakukan kesalahan, atau terus berusaha menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan.

Dalam hubungan orang tua dan anak, penerimaan tanpa syarat dapat membantu anak memahami bahwa dirinya tetap berharga meskipun melakukan kesalahan atau tidak mencapai kesempurnaan.

3. Privasi anak berulang kali dilanggar

Anak tetap membutuhkan batasan pribadi meskipun mereka masih bergantung kepada orang tua. Ketika privasi terus-menerus dilanggar, rasa percaya dalam hubungan dapat ikut terkikis.

Contohnya, orang tua membaca buku harian, menggeledah barang pribadi, membuka catatan, atau menguping percakapan anak.

Sikap seperti ini dapat membuat anak merasa bahwa mereka tidak memiliki ruang untuk mempunyai pikiran, perasaan, dan keputusan sendiri.

Materi sumber juga mencantumkan studi tiga tahun yang diterbitkan dalam Developmental Psychology. Penelitian tersebut menemukan bahwa ketika remaja merasa privasinya dilanggar, orang tua justru mengetahui lebih sedikit tentang kehidupan mereka pada tahun berikutnya.

Jika pelanggaran batas terus berlangsung hingga anak dewasa, menjaga jarak dapat menjadi salah satu cara yang mereka pilih untuk mempertahankan batas pribadi.

4. Rumah terasa tidak stabil dan sulit diprediksi

Masa kanak-kanak membutuhkan rasa aman dan konsistensi. Namun, anak yang tumbuh dalam rumah tangga penuh ketidakstabilan mungkin tidak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Dalam kondisi tertentu, kebutuhan dasar anak pun dapat terganggu. Mereka akhirnya lebih banyak memikirkan bagaimana bertahan menghadapi situasi di rumah daripada menikmati masa kanak-kanak.

Sumber yang digunakan dalam materi menyebutkan tinjauan tahun 2020 terhadap 112 studi di BMC Public Health, yang menemukan adanya hubungan antara lingkungan rumah yang kacau dengan kesulitan emosi, perilaku, dan pekerjaan sekolah pada anak.

Terapis trauma masa kanak-kanak Patrick Teahan juga menjelaskan bahwa anak dari keluarga yang tidak stabil dapat terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.

Pengalaman tersebut bisa memengaruhi kemampuan mereka membangun rasa aman dan kepercayaan dalam hubungan ketika dewasa.

5. Tuntutan orang tua terlalu tinggi

Memiliki harapan terhadap anak merupakan hal yang wajar. Namun, tuntutan yang terlalu tinggi dan sulit dicapai dapat membuat anak merasa dirinya selalu gagal.

Tekanan tersebut dapat perlahan mengikis kepercayaan diri, terutama ketika anak terus mendapatkan kekecewaan atau kritik karena tidak mencapai standar yang ditetapkan orang tua.

Pat Tanner Nelson, mantan spesialis perkembangan keluarga dan manusia di Universitas Delaware, menjelaskan bahwa ekspektasi yang realistis memberikan kesempatan kepada anak untuk berhasil sekaligus membangun rasa percaya diri.

Harapan orang tua sebaiknya mempertimbangkan usia, kepribadian, serta kondisi anak. Menghargai usaha mereka, bukan hanya hasil akhirnya, juga dapat membantu anak memahami bahwa dirinya tetap dihargai meski belum sempurna.

6. Rasa malu digunakan sebagai cara mendisiplinkan

Mendisiplinkan anak dengan membuat mereka merasa malu dapat meninggalkan luka yang mendalam. Alih-alih memahami kesalahan dan belajar memperbaikinya, anak justru dapat menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Peneliti dan ahli kerentanan Brené Brown membedakan rasa bersalah dan rasa malu. Rasa bersalah berkaitan dengan tindakan yang dianggap salah, sedangkan rasa malu dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya secara keseluruhan adalah sumber masalah.

Bagi anak, perbedaan tersebut sangat penting. Kesalahan seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar, bukan bukti bahwa mereka tidak pantas mendapatkan cinta.

Ketika rasa malu terus digunakan sebagai alat disiplin, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa, terutama apabila orang tua tidak pernah mengakui luka yang ditimbulkan.

7. Anak dihukum dengan perlakuan diam

Perlakuan diam dapat membuat anak merasa harus selalu berhati-hati agar tidak membuat orang tua marah. Mereka mungkin belajar bahwa kesalahan dapat berujung pada pengabaian dan hilangnya perhatian.

Dalam materi sumber, pakar hubungan Dr. Margaret Paul menjelaskan silent treatment sebagai kondisi ketika seseorang menarik persetujuan dan memilih diam sebagai bentuk hukuman.

Bagi anak, pengalaman tersebut dapat membuat mereka tidak yakin apakah orang tua akan hadir ketika mereka membutuhkan kenyamanan atau bantuan.

Dampaknya tidak selalu berhenti ketika anak meninggalkan rumah. Sebagian orang dewasa dapat memilih menjaga jarak untuk melindungi batas emosional mereka.

8. Anak dilibatkan dalam konflik orang dewasa

Anak seharusnya tidak ditempatkan di tengah konflik orang tua. Dalam psikologi, kondisi ketika seseorang ditarik ke dalam konflik antara dua pihak lain dikenal sebagai triangulasi.

Misalnya, anak diminta memilih pihak, menjadi penengah pertengkaran, atau membantu mengelola emosi orang tua. Situasi tersebut dapat memberikan beban emosional yang terlalu besar bagi seorang anak.

Konselor kesehatan mental Alyssa Mairanz menjelaskan kepada Parents bahwa triangulasi dapat terjadi ketika orang tua melibatkan anak dalam perselisihan dan menekan mereka untuk menentukan siapa yang benar.

Pekerja sosial klinis Michelle Felder juga menjelaskan bahwa anak yang berada dalam posisi tersebut dapat merasa bertanggung jawab menjaga orang tua tetap bahagia atau mencegah konflik terjadi.

Pengalaman tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan menjadi salah satu alasan seseorang memilih menjauh demi mendapatkan ketenangan emosional.

9. Perasaan anak selalu dianggap remeh

Anak membutuhkan ruang untuk mengungkapkan perasaan tanpa langsung dianggap berlebihan. Ketika emosi mereka terus-menerus diabaikan, mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan sendiri tidak penting atau tidak dapat dipercaya.

Anak perlu bisa mengatakan bahwa dirinya sedih, marah, kecewa, atau terluka tanpa langsung dituduh berlebihan.

Materi sumber menyebutkan studi tahun 2022 yang menemukan bahwa orang yang mengingat orang tua mengabaikan atau menolak perasaan mereka ketika kecil juga melaporkan lebih banyak kesulitan dalam mengelola emosi saat dewasa.

Pengabaian tersebut dapat muncul secara langsung, misalnya dengan meminta anak melupakan pengalaman menyakitkan. Namun, bisa pula terjadi secara tidak langsung dengan selalu menghindari pembicaraan tentang masalah yang sulit.

10. Anak dibebani masalah orang dewasa

Anak membutuhkan orang tua untuk membimbing mereka menghadapi persoalan yang belum mampu mereka tangani sendiri. Ketika justru anak diminta membantu menyelesaikan persoalan orang dewasa, batas peran dalam keluarga dapat menjadi terbalik.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan parentifikasi, yaitu ketika anak memikul tanggung jawab yang tidak sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

Alih-alih memiliki waktu untuk bermain, berteman, belajar, dan mengenali dirinya sendiri, anak bisa merasa harus menjaga perasaan orang tua atau membuat mereka bahagia.

Materi sumber mencantumkan tinjauan tahun 2023 yang menemukan bahwa tuntutan untuk memenuhi kebutuhan emosional orang tua dikaitkan dengan lebih banyak gejala depresi dalam sejumlah penelitian.

11. Kasih sayang jarang ditunjukkan

Kasih sayang merupakan salah satu kebutuhan emosional penting bagi anak. Sentuhan, pelukan, perhatian, dan kenyamanan dapat membantu anak merasa aman dan dicintai.

Ketika kasih sayang jarang diberikan, anak mungkin menganggap orang tua mereka jauh atau tidak tersedia secara emosional.

Sumber juga menyebutkan sebuah studi dalam Journal of Epidemiology and Community Health yang menemukan bahwa tingkat kasih sayang ibu yang lebih tinggi pada usia delapan bulan dikaitkan dengan tingkat stres emosional yang lebih rendah ketika dewasa.

Kurangnya kehangatan dan kasih sayang selama masa kanak-kanak dapat memengaruhi hubungan anak dengan orang tua hingga mereka tumbuh dewasa.

Dalam beberapa kasus, pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang memilih menjaga jarak.

EDITOR: Hanny Suwindari