← Beranda
3 Kebiasaan Anak dari Keluarga Miskin yang Terbawa hingga Dewasa Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 2 Oktober 2026 | 22.40 WIB
Kebiasaan anak dari keluarga miskin yang terbawa hingga dewasa menurut psikologi./Magnific/ jcomp

JawaPos.com - Psikologi mengungkap bahwa dampak kemiskinan masa kecil meninggalkan pola keuangan dewasa yang sangat dalam dan sulit dilepaskan tanpa kesadaran penuh.

Kebiasaan anak dari keluarga miskin yang tumbuh dalam keterbatasan finansial sering kali tidak disadari sebagai bagian dari trauma melainkan dianggap sebagai sifat bawaan semata.

Para ahli kesehatan mental bahkan mendorong kemiskinan untuk dimasukkan ke dalam daftar Adverse Childhood Experiences karena dampak psikologi trauma finansial yang sangat nyata.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (1/10), berikut tiga kebiasaan anak dari keluarga miskin yang secara psikologi terbawa hingga dewasa dan menjadi pola keuangan dewasa yang perlu dikenali sejak dini.

1. Kecemasan dan penghindaran saat berhadapan dengan urusan keuangan

Psikologi trauma finansial tidak selalu tampak dari luar melainkan sering kali tersembunyi di balik keengganan sederhana untuk membuka tagihan atau membuat anggaran.

Psikolog riset Galen Buckwalter, pakar trauma finansial, menjelaskan bahwa dampaknya sangat sering menyerupai gejala-gejala dari gangguan stres pascatrauma yang sesungguhnya.

Ia menyatakan bahwa trauma ini mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalankan fungsi normal dalam kehidupan kerja dan kehidupan rumah tangga sehari-hari.

Bagi sebagian orang, gejala ini bisa berwujud serangan panik saat dihadapkan pada situasi keuangan yang terasa mengancam meskipun situasinya sebenarnya masih bisa dikendalikan.

Bagi yang lain, gejalanya lebih halus namun tak kalah merusak yaitu berupa kebiasaan menghindar dari urusan finansial secara total selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Mereka menolak untuk membuka rekening bank, tidak mau membuat anggaran bulanan, dan bahkan menghindari percakapan tentang uang bersama pasangan atau keluarga.

Penghindaran ini bukan tanda kemalasan melainkan respons pertahanan diri yang terbentuk sejak masa kecil ketika membicarakan uang selalu identik dengan ketegangan dan konflik.

Sistem saraf mereka sudah terprogram untuk mengasosiasikan urusan keuangan dengan ancaman sehingga setiap kali berhadapan dengannya reaksi stres muncul secara otomatis.

Kondisi ini menciptakan lingkaran berbahaya di mana penghindaran masalah keuangan justru memperburuk kondisi finansial yang ada dan memperdalam rasa cemas itu sendiri.

Mengenali pola ini sebagai gejala trauma adalah langkah pertama yang paling penting sebelum seseorang bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan keuangannya.

2. Pola belanja berlebihan atau justru terlalu kikir secara irasional

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang kekurangan secara finansial sering kali tumbuh menjadi orang dewasa yang menjalani salah satu dari dua ekstrem dalam pengelolaan uang.

Sebagian dari mereka menjadi boros dan tidak terkendali dalam pengeluaran karena secara bawah sadar berusaha mengimbangi semua kekurangan dan kelangkaan yang dirasakan semasa kecil.

Mereka membeli apa yang diinginkan bahkan ketika sebenarnya tidak mampu membelinya karena ada bagian dalam diri yang terus berteriak bahwa mereka berhak mendapatkan lebih.

Kelimpahan yang diberikan kepada diri sendiri ini terasa seperti cara menyembuhkan luka lama padahal sebenarnya hanya menumpuk masalah finansial baru yang lebih berat.

Di sisi lain, sebagian lainnya justru bergerak ke arah sebaliknya dengan menjadi sangat pelit bahkan terhadap kebutuhan yang paling mendasar sekalipun dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak bisa menikmati uang yang dimiliki karena selalu dibayangi oleh ketakutan bahwa suatu saat semuanya akan habis dan mereka akan kembali ke kondisi kekurangan.

Kecemasan mendalam terhadap kemungkinan kehilangan membuat mereka menghindari pengeluaran bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya sangat dibutuhkan demi kenyamanan dan kesehatan.

Kedua pola ini, boros maupun sangat kikir, adalah respons berbeda terhadap akar masalah yang sama yaitu luka finansial yang belum pernah benar-benar diproses dan disembuhkan.

Tanpa kesadaran bahwa perilaku ini berakar dari trauma maka seseorang akan terus berputar dalam pola yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa henti.

Perubahan nyata hanya bisa terjadi ketika seseorang mulai memahami bahwa hubungannya dengan uang tidak terbentuk dari pilihan sadar melainkan dari luka masa kecil yang belum sembuh.

3. Tidak bisa menetapkan batasan finansial dan tanpa sadar menyabotase masa depan sendiri

Menetapkan batasan dalam hal apa pun memang tidak mudah namun bagi mereka yang membawa trauma finansial dari masa kecil urusan keuangan adalah yang paling sulit.

Mereka cenderung menghindari negosiasi gaji, enggan menyampaikan harapan finansial secara tegas, dan kesulitan menetapkan syarat yang jelas dalam kesepakatan keuangan apa pun.

Kondisi ini membuat mereka bertahan terlalu lama dalam pekerjaan yang tidak menghargai kontribusi mereka hanya karena takut kehilangan apa yang sudah ada di tangan sekarang.

Ketakutan akan kehilangan sumber penghasilan terasa jauh lebih kuat daripada keinginan untuk mendapatkan kompensasi yang lebih adil sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya dimiliki.

Sikap diam ketika seharusnya bersuara tentang kenaikan gaji atau kondisi kerja yang lebih baik adalah bentuk sabotase diri yang berakar langsung dari trauma finansial masa kecil.

Mereka memilih prinsip lebih baik menderita dalam kondisi yang sudah dikenal daripada mengambil risiko mencoba sesuatu yang lebih baik namun belum pasti hasilnya.

Pola ini sangat umum terjadi dan seringkali tidak disadari sebagai trauma melainkan hanya dianggap sebagai bagian dari kepribadian yang pemalu atau tidak percaya diri.

Data menunjukkan bahwa sekitar 25 persen warga Amerika mengalami trauma finansial dengan angka yang bahkan lebih tinggi di kalangan generasi Milenial yang mencapai satu dari tiga orang.

Mengenali pola penghindaran ini adalah langkah awal yang krusial sebelum seseorang bisa mulai belajar memperjuangkan haknya sendiri di tempat kerja maupun dalam kehidupan finansial.

Profesional kesehatan mental yang berfokus pada trauma finansial bisa membantu seseorang memutus siklus ini dan membangun pola keuangan yang jauh lebih sehat untuk masa depan.

EDITOR: Hanny Suwindari