← Beranda
9 Ucapan Orang yang Dibesarkan Oleh Orang Tua Suka Marah Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 2 Oktober 2026 | 22.53 WIB
Ucapan orang yang dibesarkan oleh orang tua suka marah menurut psikologi./Magnific/ 8photo

JawaPos.com - Orang tua yang suka marah dan berteriak meninggalkan trauma masa kecil yang berdampak jauh hingga kehidupan dewasa anak-anaknya.

Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan berteriak secara berlebihan dapat mengubah cara otak anak memproses ancaman dan emosi sepanjang hidupnya.

Dampak dari pola asuh yang penuh kemarahan ini sering terungkap melalui ucapan-ucapan khas yang terus diulang oleh orang dewasa dalam percakapan sehari-hari.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (2/10), berikut sembilan frasa yang paling sering diucapkan oleh mereka yang tumbuh bersama orang tua yang gemar berteriak dan meluapkan amarah.

1. "Jangan bikin malu di sini"

Orang yang tumbuh bersama orang tua yang keras dan sering marah cenderung menganggap kekecewaan orang lain sebagai awal dari konflik besar.

Rasa malu yang tertanam dalam diri mereka sejak kecil terbawa hingga dewasa dan mendorong mereka untuk terus menenangkan situasi.

Mereka memohon kepada pasangan atau bahkan anak-anaknya sendiri agar tidak membuat keributan sebagai bentuk kompensasi berlebihan atas rasa takut yang mendalam.

2. "Maaf, maaf banget"

Meminta maaf secara berlebihan dan keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain sangat umum ditemukan pada mereka yang tumbuh dalam keluarga kacau.

Sepanjang masa kecilnya, mereka lebih banyak melindungi perasaan orang tua daripada mendapatkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri.

Bahkan ketika tidak bersalah, mereka tetap meminta maaf berulang kali hanya untuk menghindari konflik yang terasa sangat mengancam bagi mereka.

3. "Aku janji nggak marah kok"

Tumbuh bersama orang tua yang sering berteriak secara harfiah mengubah area otak yang berkaitan dengan pemrosesan suara keras pada anak.

Itulah mengapa suara yang keras terasa jauh lebih mengancam bagi mereka dibanding kebanyakan orang yang tidak mengalami hal serupa.

Mereka terbiasa menjelaskan diri secara berlebihan dan berusaha melindungi perasaan orang lain sambil mengorbankan kebutuhan diri sendiri.

4. "Terserah kamu aja deh"

Trauma masa kecil dari lingkungan keluarga yang kacau mendorong otak untuk mempersepsikan ancaman sebagai sesuatu yang jauh lebih besar dan menyulitkan regulasi emosi.

Anak-anak dari keluarga seperti ini sering tumbuh menjadi orang dewasa yang pasif dan mudah terguncang secara emosional.

Mereka lebih memilih mengabaikan kebutuhan diri sepenuhnya jika itu berarti bisa mengendalikan reaksi orang lain dan merasa lebih aman.

5. "Aku nggak mau bikin kamu kesal"

Mengabaikan perasaan dan kebutuhan diri sendiri terasa sangat alami bagi seseorang yang dididik untuk selalu menjaga suasana tetap damai.

Emosi mereka selalu dikesampingkan oleh orang tua yang menuntut perhatian melalui teriakan dan amarah yang tidak terkontrol.

Mereka terus berjalan di atas kulit telur dan mempertanyakan batasan diri karena takut dihukum jika mencoba membela diri sendiri.

6. "Tolong jangan ngerasain suaranya"

Bahkan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya bisa langsung memicu reaksi berlebihan pada seseorang yang tumbuh bersama orang tua yang sering berteriak.

Bagi mereka, suara keras bukan sekadar gangguan melainkan pemicu yang langsung membawa kembali perasaan tidak berdaya dan penuh rasa malu dari masa kecil.

Mereka sulit untuk tidak langsung menutup diri dan menarik kembali apapun yang sudah mereka ucapkan begitu seseorang mengeraskan suara.

7. "Bisa kita bahas nanti aja?"

Ketika menenangkan situasi dengan cara mengabaikan perasaan sendiri atau menyenangkan orang lain sudah tidak berhasil, mereka beralih ke taktik menghindari percakapan.

Suara keras langsung memicu sistem saraf mereka masuk ke mode melarikan diri sehingga bahkan argumen yang paling tidak berbahaya pun terasa seperti ancaman.

Mereka akan mengatakan apapun yang dianggap bisa menunda percakapan agar terhindar dari rasa takut yang dipicu oleh suasana konflik sekecil apapun.

8. "Iya kamu bener, maafin aku"

Daripada mengutarakan pendapat atau menetapkan batasan, sebagian orang yang terbiasa dihukum karena mengekspresikan diri memilih untuk langsung mengalah.

Mereka berusaha menjaga kedamaian dan memastikan orang lain mendapatkan apa yang diinginkan demi menghindari argumen atau pertengkaran yang memanas.

Bahkan jika lawan bicaranya tidak akan marah sekalipun, mereka sudah terkondisi untuk mengharapkan dan takut terhadap ledakan emosi yang besar.

9. "Kenapa kamu lakuin ini ke aku?"

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa orang tua yang terlalu sering berteriak bisa berdampak serius pada perkembangan anak yang serupa dengan bentuk penelantaran emosional.

Di masa dewasa, mereka yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini berisiko lebih tinggi mengalami gangguan regulasi emosi dan masalah kesehatan mental.

Saat seseorang mengeraskan suara, mereka sering langsung merasa diserang secara personal dan masuk ke mode bertarung atau melarikan diri yang sulit dikendalikan.

EDITOR: Hanny Suwindari