JawaPos.com - Banyak orang tua berpikir bahwa anak-anak hanya perlu mengetahui hal-hal yang terjadi pada masa sekarang: bagaimana orang tua bekerja, bagaimana keluarga menjalani kehidupan sehari-hari, atau bagaimana aturan-aturan di rumah dibuat. Sementara itu, kisah tentang masa muda orang tua, perjuangan mereka, kegagalan, kehilangan, impian, bahkan kesalahan yang pernah dilakukan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu diceritakan kepada anak.
Padahal, dari sudut pandang psikologi, mengetahui kisah hidup orang tua dapat menjadi bagian penting dari perkembangan identitas dan rasa aman seorang anak.
Anak bukan hanya ingin mengetahui siapa orang tuanya sekarang. Secara psikologis, mereka juga sedang berusaha memahami pertanyaan yang lebih besar: Dari mana saya berasal? Mengapa keluarga saya seperti ini? Mengapa orang tua saya berpikir seperti itu? Dan sebenarnya, seperti apa kehidupan mereka sebelum saya lahir?
Kisah hidup orang tua dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Tentu, bukan berarti semua pengalaman orang tua harus diceritakan kepada anak secara mentah. Ada kisah yang memang belum sesuai untuk usia tertentu, ada pengalaman traumatis yang membutuhkan pertimbangan khusus, dan ada pula informasi pribadi yang lebih baik disampaikan secara bertahap. Yang penting adalah anak mendapatkan gambaran yang jujur, proporsional, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (1/10), terdapat tujuh alasan mengapa anak-anak perlu mengetahui kisah orang tua mereka menurut perspektif psikologi.
1. Membantu Anak Membangun Identitas Diri
Salah satu tugas perkembangan penting dalam kehidupan manusia adalah membangun identitas.
Anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka membentuk pemahaman tentang diri melalui hubungan dengan keluarga, lingkungan sosial, budaya, dan pengalaman hidup. Keluarga menjadi salah satu sumber informasi paling awal mengenai siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Dalam psikologi perkembangan, pemahaman mengenai sejarah keluarga berkaitan dengan apa yang sering disebut sebagai family narrative atau narasi keluarga.
Narasi keluarga adalah cerita mengenai perjalanan sebuah keluarga: siapa yang datang sebelum kita, tantangan apa yang pernah dihadapi, nilai apa yang diwariskan, dan bagaimana keluarga sampai berada pada keadaan sekarang.
Misalnya, seorang anak mungkin mengetahui bahwa ayahnya sekarang bekerja sebagai pengusaha. Namun, cerita bahwa ayahnya dahulu pernah gagal menjalankan usaha, bekerja dengan penghasilan kecil, kemudian mencoba lagi dari awal dapat memberikan konteks yang jauh lebih kaya.
Anak tidak hanya melihat:
"Ayah adalah orang yang sukses."
Mereka juga melihat:
"Ayah pernah gagal, tetapi hidupnya terus berjalan."
Perbedaan ini penting.
Anak yang hanya melihat hasil akhir dapat mengembangkan pemahaman bahwa keberhasilan adalah sesuatu yang langsung diperoleh. Sebaliknya, anak yang mengetahui perjalanan hidup orang tuanya dapat memahami bahwa identitas seseorang terbentuk melalui proses.
Kisah orang tua juga dapat membantu anak memahami bahwa dirinya bukan sekadar individu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari sejarah keluarga yang lebih panjang.
Mengetahui asal-usul keluarga dapat memberikan rasa kontinuitas: ada masa sebelum dirinya lahir, ada kehidupan yang dijalani orang tuanya, dan sekarang ia menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Dengan demikian, cerita keluarga dapat menjadi semacam "peta psikologis" yang membantu anak memahami dirinya.
2. Membantu Anak Memahami Orang Tuanya sebagai Manusia, Bukan Sekadar "Ayah" atau "Ibu"
Bagi anak kecil, orang tua sering kali tampak seperti figur yang sudah ada begitu saja.
Ayah adalah ayah.
Ibu adalah ibu.
Anak mungkin sulit membayangkan bahwa sebelum menjadi orang tua, mereka juga pernah menjadi anak-anak, remaja, mahasiswa, pekerja muda, sahabat seseorang, atau manusia yang sedang mencari arah hidup.
Padahal, memahami kehidupan orang tua sebelum menjadi orang tua dapat membuat hubungan antara anak dan orang tua menjadi lebih manusiawi.
Bayangkan seorang ibu bercerita:
"Waktu seusiamu, Ibu juga pernah takut masuk sekolah baru. Ibu juga pernah merasa tidak punya teman."
Atau seorang ayah mengatakan:
"Dulu Ayah pernah salah memilih pekerjaan. Ayah sempat bingung harus melakukan apa."
Cerita seperti ini dapat membuat anak menyadari bahwa orang tua mereka juga pernah mengalami ketakutan, kebingungan, kegagalan, dan ketidakpastian.
Hal ini penting terutama ketika anak mulai memasuki masa remaja.
Pada masa remaja, anak mulai melihat orang tua secara lebih kritis. Mereka mulai mempertanyakan keputusan orang tua dan menyadari bahwa orang tua tidak selalu benar.
Jika anak hanya mengenal orang tua sebagai sosok yang selalu memberikan nasihat, memerintah, dan menetapkan aturan, hubungan bisa terasa sangat hierarkis.
Namun, ketika anak mengetahui bahwa orang tuanya juga pernah mengalami masa sulit, membuat kesalahan, dan belajar dari pengalaman, hubungan dapat menjadi lebih dialogis.
Anak mulai melihat:
"Orang tuaku bukan manusia sempurna. Mereka juga belajar."
Dan justru kesadaran tersebut dapat membuat hubungan menjadi lebih realistis dan manusiawi.
3. Mengajarkan Anak Bahwa Kesulitan Tidak Berarti Kehidupan Berakhir
Salah satu manfaat terbesar dari cerita kehidupan orang tua adalah memberikan contoh konkret mengenai bagaimana manusia menghadapi kesulitan.
Anak akan mengalami kegagalan.
Mereka mungkin gagal mendapatkan nilai yang diinginkan, ditolak oleh teman, kalah dalam kompetisi, kehilangan kesempatan, mengalami konflik, atau suatu hari menghadapi kegagalan yang jauh lebih besar.
Pada saat-saat seperti itu, anak membutuhkan lebih dari sekadar nasihat seperti:
"Jangan menyerah."
Mereka membutuhkan contoh.
Kisah hidup orang tua dapat menjadi contoh tersebut.
Seorang ayah dapat bercerita bahwa dirinya pernah gagal dalam ujian masuk universitas. Seorang ibu dapat menceritakan bahwa ia pernah kehilangan pekerjaan. Orang tua dapat menceritakan bagaimana mereka pernah membuat keputusan yang ternyata salah.
Yang penting bukan membuat cerita menjadi dramatis, melainkan menunjukkan prosesnya.
Apa yang terjadi?
Bagaimana perasaan mereka?
Apa yang mereka lakukan setelah itu?
Apa yang mereka pelajari?
Apakah hidup langsung menjadi baik setelah masalah tersebut?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mengajarkan anak sesuatu yang sangat penting secara psikologis: ketangguhan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami masalah, melainkan kemampuan untuk beradaptasi dan terus menjalani kehidupan setelah mengalami masalah.
Dengan kata lain, cerita orang tua dapat membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan, bukan bukti bahwa dirinya tidak berharga.
4. Memperkuat Rasa Terhubung dengan Keluarga
Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa terhubung dengan orang lain.
Dalam keluarga, hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui aktivitas bersama, tetapi juga melalui cerita.
Makan bersama, bepergian, bercanda, dan melakukan kegiatan sehari-hari memang penting. Namun, percakapan mengenai sejarah keluarga dapat memberikan bentuk keterhubungan yang berbeda.
Ketika orang tua bercerita kepada anak, mereka sebenarnya sedang mengatakan:
"Aku mempercayaimu dengan bagian dari kehidupanku."
Bagi anak, pengalaman tersebut dapat terasa sangat bermakna.
Cerita kecil bahkan bisa menjadi bagian penting dari memori keluarga.
Misalnya:
"Ketika Ayah masih kecil, nenekmu pernah memasak makanan itu setiap hari Minggu."
Atau:
"Dulu Ibu dan teman-teman sering naik bus selama berjam-jam hanya untuk pergi ke perpustakaan."
Cerita seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, dari situlah anak mulai memiliki gambaran mengenai generasi sebelum dirinya.
Ia mulai memahami bahwa kakek, nenek, ayah, dan ibu bukan sekadar nama dalam silsilah keluarga. Mereka adalah manusia yang memiliki kehidupan, kebiasaan, impian, ketakutan, dan pengalaman.
Keterhubungan semacam ini dapat membuat keluarga terasa memiliki sejarah bersama.
5. Membantu Anak Mengembangkan Perspektif yang Lebih Realistis tentang Kesuksesan
Anak-anak sering kali melihat keberhasilan orang dewasa hanya dari hasil akhirnya.
Mereka melihat rumah.
Mereka melihat pekerjaan.
Mereka melihat pendidikan.
Mereka melihat kondisi ekonomi.
Mereka melihat kehidupan orang tua hari ini.
Tetapi mereka tidak selalu melihat perjalanan panjang di belakangnya.
Akibatnya, anak dapat memiliki gambaran yang tidak realistis tentang kesuksesan.
Mereka mungkin berpikir bahwa orang yang berhasil selalu berhasil.
Padahal, hampir semua perjalanan hidup manusia terdiri dari berbagai macam fase: keberhasilan, kegagalan, kebetulan, keputusan yang tepat, keputusan yang salah, bantuan dari orang lain, dan keadaan yang berada di luar kendali.
Ketika orang tua menceritakan proses hidupnya secara jujur, anak mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Misalnya:
"Dulu Ayah tidak langsung mendapatkan pekerjaan yang Ayah inginkan."
"Ibu pernah mencoba sesuatu dan ternyata gagal."
"Dulu keluarga kita pernah harus hidup jauh lebih sederhana."
Cerita tersebut tidak harus digunakan untuk membuat anak merasa berutang atau bersyukur secara paksa.
Justru sebaliknya, cerita itu dapat menjadi pembelajaran bahwa kehidupan manusia tidak berjalan dalam garis lurus.
Anak kemudian dapat memahami bahwa kondisi seseorang hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang, bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
6. Menjadi Sumber Nilai dan Pelajaran yang Lebih Kuat daripada Nasihat
Orang tua sering memberikan nasihat kepada anak.
"Jangan mudah menyerah."
"Jangan berbohong."
"Kerja keras."
"Jaga keluarga."
"Hormati orang lain."
Namun, nasihat abstrak sering kali lebih mudah dipahami ketika disertai cerita konkret.
Daripada hanya mengatakan:
"Kamu harus berani mengambil tanggung jawab."
Orang tua dapat menceritakan:
"Dulu ketika Ayah seusiamu, Ayah pernah melakukan kesalahan. Ayah mencoba menyembunyikannya karena takut dimarahi. Tetapi akhirnya masalahnya menjadi lebih besar. Dari situ Ayah belajar bahwa menghadapi kesalahan lebih baik daripada terus menyembunyikannya."
Cerita membuat nilai menjadi konkret.
Anak dapat melihat hubungan antara tindakan dan konsekuensi.
Mereka juga dapat memahami bahwa nilai-nilai keluarga tidak muncul begitu saja. Nilai tersebut sering kali terbentuk melalui pengalaman.
Misalnya, mengapa orang tua sangat menghargai pendidikan?
Mungkin karena dahulu mereka sulit mendapatkan kesempatan belajar.
Mengapa mereka menganggap kejujuran penting?
Mungkin karena pernah mengalami konsekuensi buruk akibat ketidakjujuran.
Mengapa mereka mengajarkan hidup sederhana?
Mungkin karena pernah mengalami masa ketika kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.
Ketika anak memahami asal-usul sebuah nilai, nasihat orang tua dapat memiliki konteks yang lebih kuat.
7. Membantu Anak Mewarisi Bukan Hanya Gen, tetapi Juga Makna
Setiap keluarga memiliki sejarah.
Ada keluarga yang mengalami perpindahan kota.
Ada yang pernah kehilangan pekerjaan.
Ada yang membangun usaha dari nol.
Ada yang pernah hidup dalam kondisi sulit.
Ada yang mengalami perubahan besar karena pendidikan.
Ada yang memiliki tradisi tertentu.
Ada pula keluarga yang pernah mengalami konflik dan kemudian belajar memperbaiki hubungan.
Semua itu merupakan bagian dari sejarah keluarga.
Anak mungkin tidak dapat mewarisi seluruh pengalaman tersebut secara langsung, tetapi mereka dapat mewarisi maknanya.
Inilah salah satu alasan mengapa cerita keluarga begitu penting.
Orang tua dapat membantu anak memahami:
"Ini yang pernah terjadi pada keluarga kita."
"Ini yang pernah kita pelajari."
"Ini kesalahan yang tidak ingin kita ulangi."
"Ini nilai yang ingin kita pertahankan."
"Ini hal yang berubah dari generasi ke generasi."
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya menerima sejarah keluarga sebagai kumpulan tanggal dan nama. Mereka belajar memahami makna di balik pengalaman tersebut.
Dan pada akhirnya, mereka juga memiliki kesempatan untuk menambahkan cerita mereka sendiri.
Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Menceritakan Kisah Hidup Mereka?
Mengetahui bahwa anak perlu mengetahui kisah orang tua bukan berarti orang tua harus menceritakan semuanya sekaligus.
Ada beberapa prinsip yang penting diperhatikan.
Sesuaikan dengan usia anak
Anak kecil tidak membutuhkan detail yang sama dengan remaja.
Cerita dapat diberikan secara bertahap sesuai kemampuan anak memahami emosi, hubungan sebab-akibat, dan konsep kehidupan.
Jangan mengubah cerita menjadi beban bagi anak
Ada perbedaan antara:
"Dulu keluarga kita pernah mengalami masa sulit."
dan:
"Setelah semua pengorbanan kami, kamu harus membalasnya."
Cerita yang pertama memberikan konteks.
Cerita yang kedua dapat membuat anak merasa memiliki utang emosional.
Tujuan berbagi sejarah keluarga seharusnya adalah membangun pemahaman, bukan menanamkan rasa bersalah.
Jangan hanya menceritakan keberhasilan
Jika orang tua hanya menceritakan pencapaian, anak bisa mendapatkan gambaran bahwa kehidupan orang tua selalu berjalan dengan baik.
Ceritakan pula kegagalan yang memang pantas dan aman untuk dibagikan.
Anak perlu mengetahui bahwa orang dewasa juga pernah bingung, takut, salah mengambil keputusan, atau mengalami kegagalan.
Ceritakan emosi, bukan hanya peristiwa
Cerita menjadi lebih bermakna ketika orang tua mengatakan:
"Waktu itu Ayah sangat takut."
atau:
"Ibu sempat merasa tidak tahu harus berbuat apa."
Anak belajar bahwa emosi adalah bagian normal dari pengalaman manusia.
Berikan ruang bagi anak untuk bertanya
Jangan mengubah percakapan menjadi monolog panjang.
Setelah bercerita, orang tua dapat bertanya:
"Kalau kamu berada di posisi Ayah waktu itu, kira-kira kamu akan bagaimana?"
atau:
"Menurutmu, apa yang bisa dipelajari dari cerita itu?"
Pertanyaan semacam ini membuat anak menjadi bagian dari percakapan.
Tidak Semua Rahasia Harus Diceritakan
Ada satu hal penting yang perlu dibedakan: kejujuran tidak sama dengan membuka semua informasi kepada anak.
Orang tua tetap memiliki hak atas privasi.
Beberapa pengalaman mungkin terlalu kompleks, terlalu traumatis, atau belum sesuai dengan usia anak.
Misalnya, anak usia tujuh tahun mungkin belum mampu memahami secara sehat detail konflik perkawinan yang sangat serius, masalah keuangan ekstrem, atau pengalaman traumatis tertentu.
Dalam situasi seperti itu, orang tua dapat mengatakan sesuatu secara sederhana:
"Ada hal yang terjadi ketika Ibu masih muda yang cukup berat. Nanti kalau kamu sudah lebih besar dan siap memahaminya, Ibu akan menceritakannya."
Itu bukan kebohongan.
Itu adalah bentuk penyesuaian informasi berdasarkan perkembangan anak.
Yang perlu dihindari adalah menciptakan kebohongan besar yang kemudian dapat menghancurkan kepercayaan anak ketika fakta sebenarnya terungkap.
Kisah Orang Tua Tidak Harus Selalu Heroik
Mungkin salah satu hal paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak adalah kisah yang menunjukkan bahwa mereka bukan manusia sempurna.
Seorang ayah bisa berkata:
"Ayah pernah membuat keputusan yang salah."
Seorang ibu bisa berkata:
"Ibu dulu pernah menyakiti perasaan seseorang dan baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian."
Kalimat semacam itu dapat memberikan pelajaran penting.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang memiliki masa lalu sempurna.
Mereka membutuhkan gambaran yang realistis tentang bagaimana manusia belajar.
Dalam kehidupan nyata, kedewasaan sering kali bukan hasil dari selalu membuat keputusan yang benar. Kedewasaan juga terbentuk dari kemampuan mengakui kesalahan, memperbaiki sesuatu, meminta maaf, dan belajar.
Pada Akhirnya, Anak Sedang Membangun Cerita tentang Dirinya Sendiri
Ketika anak bertanya:
"Ayah dulu seperti apa?"
"Ibu waktu kecil tinggal di mana?"
"Bagaimana Ayah dan Ibu bertemu?"
"Dulu keluarga kita hidup seperti apa?"
Mungkin mereka sebenarnya sedang menanyakan sesuatu yang lebih besar:
"Bagaimana saya menjadi bagian dari semua ini?"
Cerita orang tua memberikan potongan-potongan jawaban.
Anak belajar bahwa orang tuanya pernah menjadi anak-anak. Bahwa keluarganya memiliki masa lalu. Bahwa kehidupan tidak selalu mudah. Bahwa keberhasilan dapat datang setelah kegagalan. Bahwa manusia dapat berubah. Bahwa kesalahan tidak selalu menjadi akhir dari segalanya.
Dan yang paling penting, anak belajar bahwa dirinya memiliki tempat dalam sebuah perjalanan yang sudah dimulai jauh sebelum ia lahir.
Karena itu, sesekali orang tua mungkin perlu berhenti dari rutinitas sehari-hari dan membuka kembali album lama, menunjukkan foto masa muda, menceritakan pekerjaan pertama, membahas kegagalan, mengingat orang-orang yang pernah membantu keluarga, atau sekadar bercerita tentang kehidupan ketika mereka masih seusia anaknya.
Bukan untuk membuat anak kagum.
Bukan pula untuk membuat anak merasa berutang.
Melainkan agar anak memahami satu hal sederhana:
Orang tua mereka juga pernah menjalani perjalanan panjang untuk sampai di titik sekarang—dan kisah perjalanan itu adalah bagian dari sejarah yang ikut membentuk diri mereka.