JawaPos.com - Ada orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang hangat, penuh dukungan, dan komunikasinya sehat. Namun, ada pula yang dibesarkan oleh orang tua yang sulit dipahami: terlalu keras, mudah marah, sangat kritis, kurang memberikan perhatian, sulit mengungkapkan kasih sayang, atau bahkan membuat anak merasa harus selalu berhati-hati dalam bersikap.
Menariknya, sebagian orang yang tumbuh dalam situasi seperti itu justru berkembang menjadi pribadi yang sangat peka, perhatian, mudah berempati, dan senang membantu orang lain.
Tentu saja, pengalaman masa kecil tidak secara otomatis menentukan kepribadian seseorang. Tidak semua anak yang memiliki orang tua sulit akan menjadi sangat baik hati, dan tidak semua orang yang baik hati memiliki pengalaman keluarga yang berat.
Namun, psikologi memberikan beberapa penjelasan mengenai bagaimana pengalaman hubungan dengan orang tua dapat memengaruhi cara seseorang memahami emosi, membangun hubungan, dan memperlakukan orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (1/10), terdapat delapan kemungkinan yang menarik untuk dipahami.
1. Mereka tahu rasanya diperlakukan dengan buruk
Salah satu alasan seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang penuh perhatian adalah karena ia mengetahui sendiri bagaimana rasanya ketika perhatian itu tidak diberikan.
Anak yang sering merasa diabaikan, diremehkan, dimarahi, atau tidak didengarkan dapat menjadi sangat sensitif terhadap pengalaman emosional orang lain.
Ketika dewasa, ia mungkin melihat seseorang yang sedang sedih dan berpikir:
"Aku tahu rasanya sendirian seperti itu."
Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah mengenali penderitaan orang lain.
Dalam psikologi, empati berkaitan dengan kemampuan memahami dan merespons keadaan emosional orang lain. Pengalaman hidup dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk bagaimana seseorang mengembangkan kemampuan tersebut.
Seseorang yang pernah merasa tidak didengarkan mungkin justru menjadi orang yang paling sabar ketika orang lain bercerita.
Seseorang yang pernah merasa tidak dianggap mungkin berusaha memastikan orang di sekitarnya merasa dihargai.
Seseorang yang pernah mengalami kata-kata yang menyakitkan mungkin menjadi sangat berhati-hati ketika berbicara kepada orang lain.
Dengan kata lain, pengalaman negatif tidak selalu menghasilkan perilaku negatif. Pada sebagian orang, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran mengenai perlakuan seperti apa yang tidak ingin mereka ulangi kepada orang lain.
Namun, proses ini tidak terjadi secara otomatis. Banyak faktor lain, seperti temperamen, dukungan sosial, pengalaman setelah masa kanak-kanak, dan kemampuan mengolah pengalaman tersebut, ikut berperan.
2. Mereka belajar bahwa kebaikan adalah sesuatu yang dulu mereka butuhkan
Ada orang yang tumbuh dengan pertanyaan yang sebenarnya sederhana:
"Mengapa dulu tidak ada yang memperlakukanku seperti ini?"
Ketika dewasa, pertanyaan itu kadang berubah menjadi keputusan:
"Kalau begitu, aku akan memperlakukan orang lain seperti yang dulu ingin aku perlakukan."
Misalnya, seseorang yang sejak kecil jarang mendapatkan validasi emosional mungkin tumbuh menjadi teman yang selalu berusaha mengatakan:
"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."
Orang yang dulu jarang mendapatkan apresiasi mungkin sangat mudah mengucapkan terima kasih.
Orang yang dulu merasa tidak aman untuk melakukan kesalahan mungkin menjadi orang yang memberikan ruang kepada orang lain untuk belajar.
Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat membangun prinsip moral berdasarkan apa yang ia rasakan kurang dalam kehidupannya.
Ini bukan berarti seseorang harus mengalami penderitaan terlebih dahulu agar dapat menjadi baik. Sama sekali tidak.
Namun, pengalaman kekurangan dapat membuat sebagian orang semakin sadar tentang nilai dari sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Mereka tahu betapa berharganya didengarkan karena mereka pernah merasa tidak didengarkan.
Mereka tahu betapa menenangkannya mendapatkan dukungan karena mereka pernah menghadapi sesuatu sendirian.
Dan mereka tahu betapa sederhananya sebuah kalimat seperti "Aku ada di sini" dapat berarti sangat besar bagi seseorang.
3. Mereka menjadi sangat peka membaca suasana hati orang lain
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang emosinya sulit diprediksi terkadang belajar memperhatikan perubahan kecil dalam ekspresi, nada suara, atau perilaku orang di sekitarnya.
Misalnya, ia terbiasa memperhatikan:
perubahan nada bicara,
ekspresi wajah,
suara langkah kaki,
bahasa tubuh,
suasana hati orang tua,
atau perubahan kecil dalam cara seseorang berbicara.
Pada masa kecil, kemampuan seperti ini mungkin berkembang sebagai cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Ketika dewasa, kemampuan tersebut dapat terlihat seperti "kepekaan emosional".
Ia bisa menjadi orang yang cepat menyadari ketika temannya sedang tidak baik-baik saja.
Ia mungkin berkata:
"Kamu kelihatannya sedang banyak pikiran. Mau cerita?"
Bahkan sebelum orang tersebut mengatakan apa pun.
Namun, di sini terdapat sisi lain yang perlu diperhatikan.
Kepekaan yang tinggi tidak selalu berarti kondisi emosional yang sehat. Seseorang dapat menjadi sangat peka terhadap emosi orang lain karena sejak kecil ia terbiasa memantau keadaan lingkungan secara terus-menerus.
Akibatnya, ia mungkin sangat mudah mengetahui ketika orang lain tidak nyaman, tetapi justru kesulitan mengetahui apa yang sebenarnya ia sendiri rasakan.
Jadi, kemampuan membaca emosi orang lain bisa menjadi kekuatan, tetapi juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali kebutuhan diri sendiri.
4. Mereka tidak ingin mengulangi pola yang pernah menyakiti mereka
Manusia dapat belajar bukan hanya dari contoh yang baik, tetapi juga dari contoh yang buruk.
Seorang anak mungkin melihat cara orang tuanya berbicara, marah, menyelesaikan konflik, atau memperlakukan anggota keluarga.
Ketika tumbuh dewasa, ia dapat sampai pada kesadaran:
"Aku tidak ingin menjadi seperti itu."
Kesadaran semacam ini dapat menjadi titik penting dalam perkembangan pribadi.
Misalnya, seseorang yang melihat konflik selalu diselesaikan dengan teriakan mungkin justru berusaha belajar berkomunikasi dengan tenang.
Seseorang yang tumbuh dengan kritik terus-menerus mungkin berusaha memberikan kritik secara konstruktif.
Seseorang yang melihat permintaan maaf jarang diberikan mungkin belajar mengatakan:
"Aku salah. Maaf."
Dalam psikologi perkembangan, perilaku manusia tidak hanya dibentuk dengan meniru. Individu juga dapat mengamati suatu pola, mengevaluasinya, kemudian memilih apakah ingin mempertahankan atau menolaknya.
Karena itu, pengalaman keluarga yang sulit dapat menjadi sumber pembelajaran yang kompleks.
Seseorang bisa berkata:
"Aku tidak bisa memilih bagaimana aku dibesarkan, tetapi aku bisa memilih bagaimana aku memperlakukan orang lain sekarang."
Kalimat tersebut menggambarkan proses mengambil kembali kendali atas perilaku diri sendiri.
5. Mereka memahami pentingnya rasa aman dalam hubungan
Hubungan yang sehat biasanya memberikan ruang bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus takut akan penolakan atau kemarahan.
Orang yang pernah tumbuh dalam hubungan keluarga yang tidak konsisten atau penuh ketegangan mungkin menjadi sangat menghargai rasa aman ketika menemukannya.
Karena itu, ketika menjadi pasangan atau teman, ia mungkin berusaha menciptakan lingkungan yang berbeda.
Ia berusaha mendengarkan.
Ia memberi tahu ketika sedang marah.
Ia tidak ingin menggunakan diam sebagai hukuman.
Ia mencoba membicarakan masalah daripada langsung menyerang pribadi orang lain.
Ia belajar bahwa hubungan bukan hanya tentang rasa sayang, tetapi juga tentang rasa aman.
Dalam konteks psikologi, pengalaman hubungan awal dapat berhubungan dengan cara seseorang membentuk hubungan interpersonal di kemudian hari. Namun, pola tersebut tidak bersifat permanen.
Manusia dapat belajar, berubah, dan membangun hubungan yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Bahkan seseorang yang memiliki pengalaman masa kecil yang sulit tetap dapat mengembangkan hubungan yang sehat, terutama ketika ia memiliki kesadaran diri, dukungan sosial, pengalaman relasional yang positif, dan kemauan untuk belajar.
6. Mereka memiliki dorongan kuat untuk membuat orang lain merasa dihargai
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu mengingat hal-hal kecil?
Ia ingat makanan kesukaan temannya.
Ia bertanya apakah seseorang sudah makan.
Ia mengucapkan terima kasih untuk hal-hal sederhana.
Ia tidak ingin orang lain merasa sendirian.
Kadang-kadang, perhatian seperti itu berasal dari pemahaman yang sangat personal tentang betapa pentingnya tindakan kecil.
Seseorang yang pernah merasa tidak diperhatikan mungkin memahami bahwa perhatian kecil sebenarnya bisa memiliki dampak besar.
Pesan singkat.
Pelukan.
Ucapan terima kasih.
Mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Mengatakan "aku percaya kamu".
Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi sangat bermakna bagi orang yang sedang mengalami masa sulit.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan.
Menjadi baik hati berbeda dengan selalu mengorbankan diri.
Seseorang dapat menjadi perhatian tanpa harus selalu mengatakan "iya".
Ia dapat membantu tanpa harus menyelesaikan semua masalah orang lain.
Ia dapat mencintai seseorang tanpa membiarkan dirinya diperlakukan buruk.
Justru salah satu bentuk perkembangan yang sehat adalah ketika kebaikan mulai disertai batasan.
7. Mereka belajar memahami bahwa setiap orang membawa luka yang tidak terlihat
Pengalaman sulit dapat membuat seseorang menyadari bahwa perilaku manusia sering kali memiliki konteks.
Orang yang terlihat pendiam mungkin sedang mengalami sesuatu.
Orang yang mudah marah mungkin sedang kesulitan mengelola emosinya.
Orang yang tampak sangat kuat mungkin sebenarnya sedang kelelahan.
Kesadaran seperti ini dapat membuat seseorang tidak terburu-buru menghakimi.
Ia belajar bertanya sebelum menyimpulkan.
Ia belajar mendengarkan sebelum memberi nasihat.
Ia menyadari bahwa seseorang tidak selalu bisa dilihat hanya dari satu perilakunya.
Tetapi penting juga untuk tidak menggunakan pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain.
Memahami seseorang tidak sama dengan membenarkan tindakannya.
Kita dapat mengatakan:
"Aku mengerti mungkin ada alasan mengapa kamu bersikap seperti itu."
tanpa harus mengatakan:
"Karena itu, kamu boleh menyakitiku."
Empati dan batasan dapat berjalan bersama.
8. Mereka mengubah pengalaman masa lalu menjadi nilai hidup
Mungkin ini adalah bagian yang paling penting.
Pengalaman sulit tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik.
Yang dapat membuat perbedaan adalah bagaimana seseorang memproses pengalaman tersebut.
Dua orang dapat tumbuh dalam situasi yang sama tetapi berkembang dengan cara yang berbeda.
Satu orang mungkin mengulang pola yang pernah ia lihat.
Orang lain mungkin berhenti, merefleksikan pengalaman tersebut, dan berkata:
"Aku ingin membangun kehidupan yang berbeda."
Proses seperti ini sering melibatkan refleksi diri.
Seseorang mulai bertanya:
"Apa yang sebenarnya terjadi pada masa kecilku?"
"Bagaimana pengalaman itu memengaruhi caraku berhubungan dengan orang lain?"
"Apakah aku sedang mengulang pola lama?"
"Apakah aku terlalu takut mengecewakan orang?"
"Apakah aku membantu karena benar-benar ingin membantu, atau karena takut ditolak?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara kebaikan yang sehat dan perilaku yang sebenarnya muncul dari rasa takut.
Pada akhirnya, menjadi orang baik bukan berarti terus-menerus menanggung beban orang lain.
Kebaikan yang sehat juga mencakup kemampuan mengatakan tidak.
Mampu menjaga jarak dari hubungan yang merusak.
Mampu mengakui ketika diri sendiri sedang lelah.
Mampu meminta bantuan.
Dan mampu memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang selama ini diberikan kepada orang lain.
Bukan Karena Mereka Tidak Terluka, tetapi Karena Mereka Memilih Apa yang Akan Dilakukan dengan Luka Itu
Ada anggapan bahwa orang yang baik hati pasti berasal dari keluarga yang sempurna.
Padahal, kehidupan manusia jauh lebih kompleks.
Sebagian orang menjadi penuh perhatian karena mereka mendapatkan kasih sayang yang konsisten sejak kecil.
Sebagian lainnya mungkin menjadi sangat peka karena pernah mengalami kurangnya perhatian.
Sebagian belajar menjadi pendengar yang baik karena mereka tahu rasanya tidak didengarkan.
Sebagian belajar menghargai orang lain karena mereka tahu rasanya diremehkan.
Tetapi pengalaman sulit bukanlah jaminan seseorang akan menjadi baik.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut dipahami, diproses, dan diintegrasikan ke dalam kehidupan.
Karena itu, kita sebaiknya tidak mengatakan:
"Dia baik karena masa kecilnya buruk."
Kalimat tersebut terlalu sederhana.
Lebih tepat jika dikatakan:
"Pengalaman masa lalu dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri, orang lain, dan hubungan. Pada sebagian orang, pengalaman sulit justru menjadi dorongan untuk menciptakan pola yang berbeda."
Dan ada satu hal yang sering terlupakan:
Orang yang baik hati juga berhak mendapatkan kebaikan.
Mereka tidak harus selalu menjadi orang yang memahami.
Tidak harus selalu menjadi orang yang memaafkan.
Tidak harus selalu menjadi tempat orang lain bersandar.
Tidak harus selalu kuat.
Jika seseorang menghabiskan hidupnya memastikan semua orang merasa nyaman, sementara dirinya sendiri terus terluka, mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak pengorbanan, melainkan batasan yang lebih sehat.
Karena pada akhirnya, menjadi baik bukan berarti membiarkan diri sendiri diperlakukan sembarangan.
Kebaikan yang matang bukan hanya kemampuan memberikan kasih sayang kepada orang lain.
Kebaikan yang matang juga berarti belajar memberikan kasih sayang kepada diri sendiri.