JawaPos.com – Psikologi keluarga menunjukkan bahwa cara seorang ayah narsis memperlakukan anak dapat membekas jauh hingga dewasa.
Anak yang tumbuh dalam bayang-bayang ayah narsis sering kehilangan rasa aman sejak usia dini.
Pola asuh yang minim empati dari sosok ayah narsis membentuk kebiasaan emosional yang terbawa sampai dewasa.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (4/10), berikut delapan sifat psikologi yang umum muncul pada anak dari ayah narsis setelah mereka dewasa.
1. Mereka mencari validasi dan perhatian
Rasa percaya diri yang rapuh kerap muncul karena minimnya dukungan emosional semasa kecil.
Orang tua yang lebih peduli status justru membuat anak merasa terabaikan.
Kondisi ini mendorong mereka tumbuh menjadi pribadi yang selalu mencari pengakuan dari orang lain.
Validasi emosional baru mereka rasakan saat berhasil memenuhi standar yang ditetapkan orang tua.
2. Mereka terus-menerus menghakimi diri sendiri
Kritik berlebihan dari orang tua membuat anak terbiasa menyalahkan diri sendiri sebagai bentuk kendali.
Kebiasaan ini berkembang menjadi sikap keras terhadap diri sendiri hingga dewasa.
Mereka kesulitan belajar dari kesalahan dan cenderung menghindari konflik.
Pola pikir ini terbentuk karena mereka tidak pernah diajarkan untuk bersikap lembut pada diri sendiri.
3. Mereka sering ragu terhadap keputusan sendiri
Kebiasaan meragukan diri muncul dari pengalaman tumbuh sebagai perpanjangan keinginan orang tua.
Mereka jarang diberi ruang untuk mengenali diri sendiri secara mandiri.
Ketidakpercayaan pada insting sendiri ini dapat mengganggu hubungan sosial di kemudian hari.
Kondisi tersebut juga berisiko memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.
4. Mereka cenderung mendahulukan orang lain
Sikap terlalu mudah mengalah sering muncul karena kebiasaan menyenangkan orang lain sejak kecil.
Mereka lebih mementingkan kenyamanan orang lain dibandingkan kebutuhan diri sendiri.
Pola kelekatan yang cemas turut membentuk kebutuhan mereka untuk selalu menyenangkan orang lain.
Validasi dari luar menjadi pelarian dari rasa rendah diri sekaligus cara menghindari konflik.
5. Mereka mudah waspada dalam situasi sosial
Trauma masa kecil membuat mereka lebih waspada terhadap perubahan suasana hati orang lain.
Kebiasaan menyesuaikan sikap demi menghindari amarah orang tua terbawa hingga dewasa.
Interaksi sosial sering terasa melelahkan karena mereka terus menganalisis emosi orang di sekitarnya.
Alih-alih menyadari perasaan sendiri, mereka lebih sibuk memahami perasaan orang lain sebagai bentuk perlindungan diri.
6. Mereka terbiasa memaklumi kesalahan orang lain
Kebiasaan menjaga kedamaian membuat mereka sering mengabaikan batasan diri sendiri.
Mereka juga mudah memaafkan orang yang pernah menyakiti tanpa mempertanyakan alasannya.
Ketaatan pada aturan ayah sejak kecil membuat mereka kurang memiliki arah hidup sendiri.
Rasa welas asih terhadap diri sendiri sulit tumbuh karena mereka tidak pernah diberi ruang untuk itu.
7. Mereka sulit menerima kritik
Kebiasaan dihukum karena kesalahan kecil membuat mereka sulit menerima masukan saat dewasa.
Standar kesempurnaan yang ditanamkan sejak kecil membuat kesalahan terasa seperti serangan pribadi.
Harga diri mereka sangat bergantung pada penilaian orang lain terhadap performa mereka.
Situasi ini membuat kesalahan kecil sekalipun terasa sangat mengguncang kepercayaan diri mereka.
8. Mereka cenderung menampilkan sosok yang berbeda-beda
Harga diri yang bergantung pada pandangan orang lain membuat mereka mudah berganti sikap sesuai lingkungan.
Kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat merusak kesehatan mental dan kepercayaan diri.
Namun saat itu terjadi, mencari persetujuan tetap menjadi cara mereka bertahan secara emosional.
Mereka tumbuh tanpa mengetahui cara merasa aman tanpa pengakuan dari orang lain.