JawaPos.com – Salah satu hal yang mungkin paling membahagiakan bagi orang tua adalah ketika anak yang sudah dewasa masih memilih untuk meluangkan waktu bersama mereka.
Bukan lantaran merasa wajib atau takut dianggap tidak berbakti, melainkan karena anak memang merasa nyaman berada di dekat orang tuanya. Mereka masih senang berkunjung, berbagi cerita, makan bersama, atau sekadar duduk mengobrol tanpa alasan khusus.
Ketika dewasa, anak tentu memiliki kehidupan sendiri. Mereka mungkin sibuk dengan pekerjaan, pasangan, keluarga, maupun berbagai tanggung jawab lainnya.
Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah pola pengasuhan yang dapat membantu menciptakan hubungan orang tua dan anak yang tetap dekat hingga usia dewasa.
Jika anak-anak Anda masih menikmati kebersamaan dengan Anda ketika mereka sudah dewasa, bisa jadi beberapa hal berikut pernah Anda lakukan dalam perjalanan mengasuh mereka.
1. Lebih mengutamakan kedekatan daripada sekadar mengatur
Menjadi orang tua memang membutuhkan aturan. Namun, hubungan dapat menjadi renggang jika pengasuhan hanya berisi larangan, tuntutan, dan keharusan untuk selalu mengikuti keinginan orang tua.
Anak yang sejak kecil merasa terus dikendalikan bisa saja memilih menjaga jarak ketika sudah memiliki kebebasan sendiri.
Sebaliknya, ketika orang tua berusaha membangun kedekatan emosional, anak dapat melihat rumah sebagai tempat yang memberikan rasa aman. Orang tua tidak hanya memperhatikan nilai sekolah atau pencapaian anak, tetapi juga peduli dengan apa yang mereka rasakan.
Pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana harimu?” atau “Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” dapat menunjukkan bahwa perasaan anak juga penting.
Kebiasaan membangun koneksi seperti ini dapat menjadi fondasi hubungan yang tetap kuat ketika anak beranjak dewasa.
2. Memberikan kasih sayang tanpa menjadikannya sebagai hadiah
Anak membutuhkan keyakinan bahwa dirinya tetap dicintai meskipun tidak selalu berhasil atau memenuhi harapan orang tua.
Jika kasih sayang hanya diberikan ketika anak mendapatkan prestasi, menuruti perintah, atau melakukan sesuatu yang membanggakan, mereka dapat menganggap cinta sebagai sesuatu yang harus diperoleh.
Sebaliknya, kasih sayang yang konsisten membantu anak merasa diterima sebagai dirinya sendiri.
Rasa aman tersebut dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat ketika mereka dewasa. Mereka tahu bahwa kegagalan tidak otomatis membuat mereka kehilangan tempat untuk pulang.
3. Bersedia mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi
Nasihat memang penting, tetapi terkadang anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Orang tua yang terbiasa memberikan ruang bagi anak untuk berbicara akan membuat mereka merasa bahwa pendapat dan perasaannya dihargai.
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh berarti tidak langsung menyela, menyalahkan, atau membandingkan pengalaman anak dengan pengalaman orang lain. Bahkan ketika tidak setuju, orang tua tetap dapat mencoba memahami alasan di balik perkataan anak.
Kebiasaan ini dapat membuat hubungan menjadi lebih terbuka. Tidak mengherankan jika ketika dewasa, anak masih memilih orang tuanya sebagai tempat bercerita mengenai kehidupan pribadi mereka.
4. Memberikan contoh melalui tindakan
Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua. Mereka juga mengamati bagaimana orang tua bersikap dalam kehidupan sehari-hari.
Mengajarkan kejujuran, misalnya, akan lebih bermakna jika orang tua juga berusaha bersikap jujur. Begitu pula dengan meminta maaf, menghormati orang lain, menepati janji, dan bertanggung jawab atas kesalahan.
Ketika perkataan dan tindakan berjalan searah, anak akan melihat nilai-nilai tersebut sebagai sesuatu yang nyata.
Pada akhirnya, rasa hormat kepada orang tua tidak harus dibangun melalui ketakutan. Anak dapat menghormati sosok yang mereka lihat konsisten dan dapat dijadikan contoh.
5. Tidak menggunakan rasa bersalah untuk membuat anak menurut
Ada orang tua yang tanpa sadar berusaha mempertahankan kedekatan dengan cara membuat anak merasa bersalah.
Kalimat seperti “Kamu sudah tidak peduli lagi kepada orang tua” atau “Kalau benar-benar sayang, seharusnya kamu datang” mungkin membuat anak memenuhi keinginan orang tua, tetapi belum tentu membuat hubungan menjadi lebih dekat.
Kedekatan yang sehat tidak membutuhkan ancaman emosional. Anak tetap perlu diberi kesempatan untuk memiliki kehidupan dan membuat keputusan sendiri.
Ketika orang tua menghargai pilihan anak tanpa menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan mereka, hubungan justru dapat terasa lebih ringan dan tulus.
6. Memberi kesempatan kepada anak untuk menjalani kehidupannya sendiri
Mencintai anak bukan berarti harus selalu ikut campur dalam setiap keputusan mereka.
Ketika anak tumbuh dewasa, mereka membutuhkan kesempatan untuk menentukan pilihan, menghadapi konsekuensi, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman.
Orang tua yang mampu memberikan ruang menunjukkan bahwa mereka percaya kepada kemampuan anak untuk mengurus kehidupannya sendiri.
Menariknya, kebebasan seperti ini tidak selalu membuat anak semakin jauh. Justru ketika mereka merasa dipercaya dan tidak terus-menerus dikontrol, mereka dapat datang kembali dengan keinginan sendiri.
7. Tetap memiliki kehidupan yang bahagia
Orang tua juga perlu mengingat bahwa kehidupan mereka tidak berhenti setelah anak tumbuh dewasa.
Memiliki kegiatan sendiri, menjaga hubungan sosial, menikmati hobi, dan merawat kesehatan dapat membuat kehidupan orang tua tetap seimbang.
Sebaliknya, jika seluruh kebahagiaan hanya bergantung pada anak, mereka bisa merasa memiliki beban untuk selalu memenuhi kebutuhan emosional orang tua.
Anak akan lebih nyaman melihat orang tuanya memiliki kehidupan yang sehat dan menyenangkan. Mereka dapat datang untuk berbagi kebahagiaan, bukan karena merasa bertanggung jawab untuk membuat orang tuanya bahagia.
Pada akhirnya, kedekatan antara orang tua dan anak ketika dewasa tidak terbentuk dalam semalam. Hubungan tersebut merupakan hasil dari kebiasaan yang dibangun selama bertahun-tahun.