JawaPos.com - Anak yang aktif bermain game online tidak hanya membutuhkan batasan waktu layar, tetapi juga pendampingan agar terhindar dari perundungan, pelecehan, dan risiko kebocoran informasi pribadi. Orang tua dapat memulainya dengan membangun komunikasi terbuka, mengenali perubahan perilaku anak, serta memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia di platform digital.
Game online kini menjadi bagian dari kehidupan sosial anak. Selain bermain, mereka bisa berinteraksi dengan teman, bergabung dalam komunitas, hingga mengekspresikan kreativitas melalui karakter dan dunia virtual. Namun, pengalaman tersebut juga membawa risiko yang tidak selalu diketahui orang tua.
Karena itu, mendampingi anak bermain game online tidak cukup hanya dengan membatasi screen time atau waktu di depan layar. Orang tua perlu memahami pengalaman anak selama bermain, termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan pemain lain dan apa yang mereka rasakan setelah meninggalkan permainan.
Menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia, pendiri Safe Online Standards, Dr. Dan Reidenberg, bekerja sama dengan Roblox untuk memperkenalkan panduan Tools for Interactive Player Safety (TIPS). Panduan ini memuat langkah praktis bagi anak, remaja, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan pengalaman digital yang lebih aman.
“Panduan TIPS yang baru dirilis memberikan langkah-langkah praktis bagi anak dan remaja, orang tua, serta masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif di platform,” ujar Reidenberg.
Ia juga mengajak masyarakat, terutama mereka yang memiliki pengalaman langsung terkait persoalan keamanan digital, untuk membagikan panduan tersebut agar semakin banyak orang memahami cara menciptakan lingkungan online yang aman.
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan orang tua untuk menjaga keamanan dan kesehatan mental anak saat bermain game online? Berikut lima tips yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Ajarkan Anak untuk Berani Berhenti saat Merasa Tidak Nyaman
Anak perlu memahami bahwa mereka tidak wajib meneruskan interaksi online yang membuat mereka takut, tertekan, atau tidak nyaman. Prinsip ini penting, terutama ketika mereka berhadapan dengan pemain yang bersikap kasar, mengintimidasi, atau meminta sesuatu yang tidak pantas.
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk segera meninggalkan percakapan atau permainan tersebut. Jika diperlukan, anak juga bisa membisukan atau memblokir akun pemain yang mengganggu.
Hindari menyalahkan anak ketika mereka bercerita tentang pengalaman buruk saat bermain. Sebaliknya, yakinkan mereka bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Dengan begitu, anak akan lebih memahami batasan dalam berinteraksi di dunia digital dan mengetahui kapan harus menghentikan percakapan yang berpotensi membahayakan dirinya.
2. Simpan Bukti dan Laporkan Perundungan Online
Perundungan di dunia maya atau cyberbullying dapat terjadi melalui pesan, percakapan dalam game, maupun perilaku pemain lain yang sengaja mempermalukan atau mengintimidasi seseorang.
Jika anak mengalami kejadian seperti itu, orang tua dapat membantu menyimpan bukti berupa tangkapan layar, pesan, atau riwayat percakapan yang relevan. Bukti tersebut dapat digunakan ketika melaporkan perilaku yang tidak pantas melalui fitur pelaporan di platform.
Jelaskan pula kepada anak bahwa melaporkan pelanggaran bukan berarti mereka mencari masalah. Langkah tersebut justru membantu pihak platform meninjau perilaku yang berpotensi merugikan pengguna lain.
Selain itu, orang tua sebaiknya memastikan anak mengetahui cara menggunakan fitur blokir dan pelaporan sebelum masalah terjadi. Dengan demikian, mereka tidak perlu kebingungan ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
3. Bangun Komunikasi agar Anak Tidak Merasa Sendirian
Anak yang mengalami perundungan atau pelecehan online terkadang enggan bercerita karena takut dimarahi, kehilangan akses bermain, atau dianggap tidak mampu menjaga diri.
Untuk menghindari hal tersebut, orang tua perlu menciptakan suasana yang membuat anak nyaman mengungkapkan pengalamannya. Alih-alih langsung menginterogasi, mulailah dengan pertanyaan terbuka seperti, “Tadi main apa?” atau “Ada pengalaman yang bikin kamu kesal saat bermain?”
Pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan perasaan anak, hubungan mereka dengan pemain lain, hingga masalah yang mungkin muncul selama bermain.
Senior Director of Global Parental Advocacy di Roblox, Elizabeth Milovidov, mengatakan bahwa game dapat menjadi sarana untuk mendekatkan hubungan orang tua dan anak. “Saya melihat gim sebagai salah satu cara untuk mendekatkan orang tua dan anak,” ujar Milovidov.
Menurut dia, ketika orang tua meluangkan waktu untuk duduk bersama anak dan menanyakan aktivitas mereka dalam permainan, anak bisa mengambil peran lebih dari sekadar pemain. Mereka juga dapat menjadi guru, kreator, maupun pencerita bagi orang tuanya.
Orang tua juga perlu mengingatkan anak bahwa mereka bisa meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya, termasuk guru atau konselor, ketika menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan sendiri.
Kepedulian tersebut dapat diperluas dengan mengajarkan anak untuk menanyakan kabar teman yang mungkin mengalami perundungan online.
4. Kenali Perubahan Perilaku dan Kebiasaan Bermain Anak
Durasi bermain bukan satu-satunya indikator untuk menilai apakah aktivitas game online berdampak buruk bagi anak. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, suasana hati, hubungan sosial, dan kebiasaan sehari-hari.
Misalnya, anak yang biasanya antusias bermain bersama teman tiba-tiba menarik diri. Anak juga bisa menunjukkan perubahan suasana hati yang drastis, sering mengungkapkan keputusasaan, atau terus bermain sampai waktu tidurnya terganggu.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti game menjadi penyebab utama masalah. Namun, kondisi itu dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk mengajak anak berbicara dan mencari tahu apa yang sedang mereka alami.
Jika anak mulai kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai atau kesulitan menjalankan rutinitas sehari-hari, orang tua sebaiknya tidak langsung menghakimi maupun sekadar menyita perangkatnya.
Cobalah mencari tahu apakah anak menghadapi konflik dengan teman, mengalami tekanan dalam permainan, atau memiliki persoalan lain di luar dunia digital. Jika perubahan berlangsung terus-menerus atau disertai tanda tekanan emosional yang serius, pertimbangkan mencari bantuan tenaga profesional yang sesuai.
Pendampingan yang peka membantu orang tua memahami kebutuhan anak, bukan sekadar mengawasi berapa lama mereka berada di depan layar.
5. Ajarkan Anak Menjaga Informasi Pribadi
Risiko lain dalam game online adalah penyalahgunaan informasi pribadi. Anak mungkin belum memahami bahwa informasi yang tampak sederhana dapat digunakan orang lain untuk mengenali, menghubungi, atau menargetkan mereka.
Karena itu, orang tua perlu mengingatkan anak agar tidak membagikan nama lengkap, alamat rumah, lokasi sekolah, kata sandi akun, maupun informasi keuangan kepada orang lain secara online.
Ajarkan pula anak untuk berhati-hati ketika menerima permintaan pertemanan, pesan pribadi, atau ajakan berpindah ke platform komunikasi lain dari orang yang tidak dikenal.
Penting untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut. Anak akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga privasi ketika mereka mengetahui risiko yang mungkin muncul, bukan sekadar menerima larangan.
Orang tua juga dapat memeriksa pengaturan privasi dan keamanan akun bersama anak. Dengan cara ini, perlindungan digital menjadi kebiasaan yang dipahami dan dijalankan anak, bukan hanya aturan yang diberlakukan oleh orang tua.
Manfaatkan Fitur Keamanan dan Kontrol Orang Tua
Selain membangun komunikasi, orang tua dapat menggunakan fitur kontrol yang disediakan platform untuk membantu mengatur pengalaman bermain anak. Roblox, misalnya, menyediakan sejumlah perangkat pengawasan dan fitur yang mendukung aktivitas bermain bersama keluarga.
Roblox Parental Controls
Melalui akun orang tua yang ditautkan, tersedia pengaturan untuk mengelola fitur obrolan, melihat daftar teman anak, menentukan tingkat kematangan konten, memblokir game tertentu, serta mengatur batas pengeluaran.
Fitur tersebut dapat membantu orang tua menyesuaikan pengalaman bermain berdasarkan usia dan kebutuhan anak. Namun, pengaturan teknis tetap perlu disertai penjelasan agar anak memahami alasan di balik batasan yang diterapkan.
Family Zone dan Co-Play
Fitur ini memungkinkan orang tua mengeksplorasi permainan bersama anak. Kesempatan tersebut dapat digunakan untuk memahami aktivitas yang disukai anak sekaligus membicarakan etika berinternet, batasan dalam berinteraksi, dan pentingnya menghormati pengguna lain.
Bermain bersama juga dapat membuat percakapan tentang keamanan digital terasa lebih alami. Orang tua tidak harus selalu memulai dari larangan atau peringatan, tetapi bisa terlebih dahulu memahami pengalaman anak secara langsung.
Teen Well-Being Tools
Roblox juga menyediakan panduan interaktif dan materi percakapan untuk membantu orang tua dan remaja membicarakan batasan waktu layar serta membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Materi semacam ini dapat menjadi titik awal untuk menyepakati aturan bersama, seperti waktu bermain, waktu istirahat, dan prioritas kegiatan di luar layar.
Pendampingan Lebih Penting daripada Sekadar Membatasi Waktu Layar
Menjaga anak tetap aman saat bermain game online membutuhkan kombinasi antara pengawasan, pemahaman teknologi, dan komunikasi yang terbuka.
Batasan waktu bermain tetap penting, tetapi orang tua juga perlu mengetahui apakah aktivitas tersebut mengganggu tidur, hubungan sosial, suasana hati, atau tanggung jawab anak sehari-hari.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Game Online Menjadi Playground Baru bagi Anak-Anak Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Dengan mengajak anak bercerita, mengajarkan cara menghadapi interaksi yang tidak nyaman, serta memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kebiasaan digital yang lebih bertanggung jawab. (*)